Kumpulan Abstrak Hasil Penelitian Tahun 2005

Abstrak Penelitian 2005

STUDI PEMANFAATAN N–ISOTOP PADA PEMBENTUKAN  METABOLIT SEKUNDER SAMBILOTO

 

Rosita SMD, M. Januwati, M. Djazuli, Haryanto, H. Nurhayati,  Kosasih, S. Nursyamsiah

 

ABSTRAK

 

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam standarisasi obat fitokimia Indonesia adalah budidaya karena mempunyai kolerasi dengan kandungan zat berkhasiat. Nitrogen merupakan unsur hara makro yang diperlukan tanaman. Dengan menggunakan unsur nitrogen bertanda (15N), maka perilaku biologi maupun kimia dapat diikuti, diamati dan dipelajari pada setiap tanaman. Untuk itu   dilakukan penelitian pemberian 15N dengan konsentrasi yang berbeda.   Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola distribusi N–isotop pada pembentukan metabolit sekunder sambiloto. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap 15 ulangan. Konsentrasi N yang digunakan adalah 15 ppm dan 30 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan 30 ppm N memberikan pertumbuhan dan akumulasi biomas yang lebih baik dibanding perlakuan 15 ppm N. Berdasarkan hasil analisis, kandungan N total tertinggi terdapat pada daun diikuti akar dan batang. Perlakuan 30 ppm N memberikan kandungan N total yang lebih tinggi dibanding perlakuan 15 ppm. Pemanfaatan N–isotop untuk mengetahui pembentukan metabolit sekunder belum diketahui hasilnya karena analisis belum selesai dilakukan.

 

Kata kunci : N-isotop, Metabolit sekunder, Sambiloto.

 

ABSTRACT

 

Cultivation technology is one of the factors that need more attention in developing phytochemical medicine standardization in Indonesia because it is related with active ingredient content. Nitrogen is one of the macro nutrients needed by plant. The use of N isotope (15N) is to learn the biological and chemical behavior on plant. Therefore the research was conducted using two different level of (15N) concentration. The objective of this research was to get the N isotope distribution pattern on secondary metabolite biosynthesis of King bitter. The Complete Randomized Design with 15 replications was used. The treatments consisted of two level of (15N) concentration 15 and 30 ppm. The result showed that 30 ppm N gave better growth and biomass accumulation than 15 ppm N. The analysis result showed that the highest total N content found in leaves followed by root and stem. Total N content in 30 ppm N was higher than 15 ppm N. The role of N isotope on secondary metabolite production has not known yet because the analysis of N isotope is still done at laboratory.

 

Keywords: N-isotope, secondary metabolite, Andrographis paniculata

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGARUH TINGKAT PEMUPUKAN TERHADAP MUTU DAN  PRODUKSI SAMBILOTO

 

M. Yusron, Gusmaini dan M. Januwati

 

ABSTRAK

 

Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) termasuk salah satu tanaman obat yang diprioritaskan oleh Badan POM untuk dikembangkan. Berbagai khasiat tanaman ini untuk pengobatan telah diteliti dengan baik di dalam negeri maupun di manca negara, dan didukung dengan hasil uji khasiat dan keamanan serta efektivitas terhadap beberapa penyakit. Mutu simplisia daun akan dipengaruhi oleh karakter genetik (varietas) dan ekologi termasuk di dalamnya teknologi budidayanya, kondisi lahan dan faktor ekofisiologi serta penanganan pasca panen. Sedangkan untuk menghasilkan simplisia sambiloto bermutu standar perlu dukungan teknik budidaya yang tepat guna. Beberapa penelitian komponen teknik budidaya telah dilakukan oleh berbagai institusi, namun pada umumnya belum dikaitkan dengan mutu simplisia yang dihasilkan. Penelitian dilaksanakan di KP Cicurug. Ukuran plot 3 mx4 m dengan jarak tanam 30 cmx40 cm (1 tan/lubang tanam), ditanam dengan sistim bedengan. Pemupukan dasar adalah 10 ton pupuk kandang/ha dan 150 kg SP-36. Pupuk KCL diberikan sesuai perlakuan. Pupuk urea diberikan masing-masing sepertiga bagian pada umur 0, 4 dan 8 BST, untuk masing-masing dosis perlakuan. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Petak Terbagi. Sebagai petak utama adalah pola tanam, terdiri dari:(1) P0=monokultur, (2) P1=pola tanam dengan jagung, jarak tanam jagung antar baris 150 cm dan dalam baris 20 cm, dan (3) P2=pola tanam dengan jagung,jarak tanam jagung antar baris 120 cm dan dalam baris 20 cm. Sedangkan sebagai anak petak adalah dosis pupuk, terdiri dari (a) D1=150 kg urea+100 kg KCl;(b) D4=200 kg urea+100 kg KCl;(c) D2=150 kg urea+150 kg KCl;(d) D5=200 kg urea+150 kg KCl;(e) D3=150 kg urea+200 kg KCl;dan D6=200 kg urea+200 kg KCl. Hasil penelitian menujukkan bahwa pertumbuhan tanaman sambiloto secara nyata dipengaruhi oleh pola tanam dan dosis pupuk N dan K. Produksi dan mutu simplisia juga dipengaruhi oleh pola tanam dan dosis pipuk N dan K. Dari segi produksi biomas dan mutu sambiloto, produksi tertinggi diperoleh pada pola monokultur dan dosis 200 kg urea+200 kg KCl/ha. Namun dari segi pendapatan usahatani sambiloto lebih menguntungkan ditanam secara tumpang sari dengan jagung jarak tanam 150 cm. Hasil sambiloto 8,5% lebih rendah dibandingkan pola monokultur, tetapi penurunan tersebut secara ekonomis dapat diganti dari hasil jagung. Mutu semua simplisia memenuhi standar MMI.

 

Kata kunci : Andrographis paniculata, pemupukan, produksi, mutu

 

ABSTRACT

 

The quality of herbal symplicia is determined by genetic characteristic, variety, ecological conditions, cultivation technology, and post harvest process. Therefore, in order to produce a good quality of symplicia, it should be supported by good agricultural practices. Some research institutions have been carried out various experiments, but research activities dealing with technology to produce good quality symplicia is still limited. The research was conducted at KP. Cicurug. Plot size was 3 mx4 m with planting distance was 30 cmx40 cm   (1 plant/planting hole), and planted in beds. 10 ton manure and 150 kg SP-36/ha were applied at planting time as basal fertilizers, while urea was applied three times at 0,4 and 8 MAP, one third each, and KCI was applied at planting time. The research was carried out using split plot design, where main plot was planting system, consisted of  (1) P0=monoculture;(2) P1=intercropped with corn, planting distance of corn was 150 cmx20 cm, and (3) P2=intercropped with corn, planting distance of corn was 120 cmx20 cm. The sub plot was urea and KCI dosage, consisted of (a) D1=150 kg urea+100kg KCI;(b) D4=200 kg urea+100 kg KCI;(d) D5 =200 kg urea+150 kg KCI,(e) D3=150 kg urea+200 kg Kiang (f) D=200 kg urea +200kg kCl The research result shows that plan growth is significantly affected by cropping system and dosage of urea and KCI. The treatments also influence yield     and quality of Andrographis symplicia. The highest biomass yield (656.84 kg symplicia/ha) and quality of Andrographis (15,80%) was achieved at monoculture and 200 kg urea+200 kg KCI/ha. However, intercropping system with corn was more profitable than monoculture. In this intercropping system, andrographis yield was 8,5% lower than that of monoculture system, however this decrease may be substituted by corn yield. The quality of symplicia was meet MMI standard.

 

Keywords: Andrographis paniculata, fertilization, yield, quality

 

 

 

 

 

 

UJI MULTI LOKASI NOMOR-NOMOR HARAPAN TEMULAWAK PADA BERBAGAI KONDISI AGROEKOLOGI

 

I Made Tasma, Nur Ajijah, Rudi T. Setiyono, Nurliani Bermawie, Rosita SMD, Rodiah Balfas,

E. Rini Pribadi

 

ABSTRAK

Pembentukan dan pelepasan varietas unggul merupakan langkah awal untuk mendukung keberhasilan pengembangan pertanaman temu lawak nasional. Untuk mendukung usaha itu pada tahun anggaran 2005 telah dimulai pelaksanaan penelitian uji multilokasi enam nomor harapan temulawak hasil karakterisasi dan evaluasi 20 nomor plasma nutfah koleksi Balittro. Penelitian telah dilakukan di tiga lokasi sentra produksi temu lawak di Jawa Barat dan Jawa Tengah yang mewakili kondisi agroekologi yang berbeda. Dari tiga lokasi yang dipilih dua berada di Provinsi Jawa Barat yaitu terletak di Desa Cipenjo, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor yang mewakili dataran rendah (200 m di atas permukaan laut/dpl) dan di Desa Ganjar Resik, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang yang mewakili dataran tinggi (800 m dpl). Satu lokasi berada di Jawa Tengah yaitu   di Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali yang mewakili dataran sedang (450 m dpl). Sampel tanah di tiap lokasi penelitian dianalisa di laboratorium Tanah Balittro. Penelitian dirancang menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Perlakuan terdiri dari enam nomor harapan temulawak hasil karakterisasi Balittro pada tahun-tahun sebelumnya disertai satu varietas lokal. Sehingga di tiap lokasi penelitian terdiri dari tujuh perlakuan genotipe. Setiap unit percobaan terdiri dari petak yang berukuran 4×3.75 m. Jarak tanam yang digunakan 0.75×0.50 m sehingga setiap petak terdiri dari 40 tanaman. Jarak antar petak 1 m dan jarak antar ulangan 1.5 m. Secara keseluruhan di tiap lokasi penelitian diperlukan lahan seluas 1000 m2. Bahan tanaman terdiri dari rimpang samping ditanam satu rimpang per lubang tanam. Semua perlakuan dipupuk 20 ton/ha pupuk kandang, 200 kg/ha Urea, 200 kg/ha SP36 dan 200 kg/ha KCl. Pupuk kandang, SP36 dan KCl diberikan pada saat tanam. Pupuk Urea diberikan 3 kali yaitu pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanam (BST) masing-masing sepertiga agihan (67 kg/ha/agihan). Data pertumbuhan 2 BST menunjukkan bahwa nomor-nomor harapan A, D, dan E beradaptasi luas di dataran rendah dan sedang sedangkan nomor harapan F beradaptasi spesifik di dataran sedang. Nomor harapan C pertumbuhannya nyata paling lambat. Variasi pertumbuhan ini memberi indikasi ada perbedaan respons dari genotipe-genotipe yang diuji terhadap variasi lingkungan yang merupakan indikasi positif untuk mendapatkan varietas yang berdaya adaptasi luas maupun spesifik.

Kata kunci: Curcuma xanthorhiza Roxb, uji multilokasi, agroekologi.

 

ABSTRACT

 

The discovery and release of superior varieties both in term of productivity and yield quality are the first important step to support the success of the national Javanese turmeric plantation development. To achieve the goal a multi location test on six promising Javanese turmeric numbers together with a landrace was conducted in the fiscal year of 2005. Studies were carried out in three locations of Javanese turmeric central production in West and Central Java Provinces. Among the sites used for the study two were located at the West Java Province, i.e., Cipenjo Village located in the Cileungsi Sub District and within the Bogor District that represents the lowest altitude (200 m above sea level, asl) and the Ganjarresik Village located within the Wado Sub District and the Sumedang District representing the highest altitude (800 asl). Another location was located in Central Java Province which was in Kragilan Village of the Mojosongo Sub District and the Boyolali District. This last test site represents the medium altitude (450 asl). Soil sample of each test site was analyzed at the Balittro’s soil Laboratory. The experiments were arranged in a randomized complete block design using four replications. Treatments consisted of six promising numbers and one landrace making of seven treatments per location. Unit experiments were plots of size 4×3.75 m each. Plant spacing was 0.75×0.50 m and within each plot can accommodate 40 plants. The inter plot spacing was 1 m and the inter replication spacing was 1.5 m. Thus a total of 1 000 m2 land was needed per location to carry out the experiments. The plant materials used were the lateral rhizome which is the ones originated from the mother rhizome, the homogenous ones were selected and planted only one rhizome per hill. Plants were fertilized with dung manure (20 ton/ha) and 200 kg/ha Urea, 200 kg/ha SP36 and 200 kg/ha KCl. The dung manure, SP36 and KCl fertilizers were given at the same time as planting the rhizomes while Urea was given three times one-third dosage each at one, two, and three months after planting the rhizomes. The growth data of two months old plants indicated that the promising genotypes A, D, and E have broad adaptation ability and were able to grow well both in the land of low and medium altitude, and showed medium growth when grown in the land of high altitude. Genotype F seems to adapt specifically in the land with medium altitude. The growth of genotype C was significantly much slower in all three locations. A combined statistical analysis of all three locations also showed that there is a genotype by environment interaction in most growth parameters observed, a positive indication on the chance of success to obtain varieties with broad or specific adaptation.

 

Key words: Curcuma xanthorhiza Roxb, multilocation test, agroecology

EKSPLORASI PLASMA NUTFAH TANAMAN REMPAH DAN OBAT  DI PAPUA

 

Nurliani Bermawie, M. Djazuli, Budi Martono, N. Nova Kristina   dan W. Lukman

 

RINGKASAN

 

Eksplorasi plasma nutfah TRO dilakukan untuk mengumpulkan jenis-jenis TRO endemik Papua dan untuk menambah ragam genetik plasma nutfah. Kegiatan eksplorasi telah dilaksanakan pada bulan Agustus tahun 2005 di hutan di tiga tipe ekosistim, yaitu ekosistim pesisir pantai desa Yoonnoni dan Assai, ekosistim dataran rendah Snaimboy, Gunung Meja dan Amban dan ekosistim dataran tinggi  Anggra dan Miyambouw di Kabupaten Manokwari, Papua Barat.  Pengumpulan data dilakukan dengan cara menggali data sekunder dari kantor pemerintahan daerah setempat, sedangkan data primer dilakukan dengan mewawancarai penduduk, tetua adat dan pengobat tradisional setempat. Pengumpulan jenis-jenis TRO yang bermanfaat dilakukan setelah mewawancarai penduduk dan dibantu oleh petugas daerah. Dari kegiatan tersebut diperoleh 130 jenis tanaman obat dengan data etnobotani dari penduduk pesisir pantai, dataran rendah dan dataran tinggi. Dari hasil aklimatisasi sampai bulan Desember, 93 jenis tanaman yang berhasil  hidup. Tanaman yang mati umumnya dari pinggiran pantai dan dataran tinggi yang kemungkinan berkaitan dengan kondisi agroekologi yang kurang sesuai dengan Bogor, seperti  kelembaban udara, keadaan fisik tanah, pH dan tekstur tanah. Hasil penggalian pengetahuan tradisional, diketahui bahwa pada umumnya pewarisan pengetahuan tradisional dalam bentuk transformasi informasi tidak dibayar baik dari dalam sistim kekerabatan maupun dari luar sistem kekerabatan untuk jenis penyakit yang umum maupun yang khusus. Tetapi tidak demikian halnya dengan suku Serui di desa Assai, dengan pengetahuan-pengetahuan yang khusus. Leluhur  akan memilih personal yang layak untuk diwariskan ilmu tersebut dan sangat disimpan rapat dari kekerabatan yang lain. Ada kalanya ilmu tersebut diberitahukan pada orang dari luar sistem kekerabatan    maka orang tersebut harus menebus dalam bentuk uang atau benda tertentu sesuai dengan kesepakatan. Pemanfaatan tumbuhan obat dikelompokkan ke dalam pengobatan yang mengandalkan komponen fitokimia bagian tumbuhan dan pengobatan bantuan alam (supranatural). Hasil eksplorasi ini diharapkan dapat membantu mendapatkan jenis-jenis TRO baru yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai untuk pengembangan obat-obatan dan rempah baru.

 

Kata kunci :           Eksplorasi, tanaman rempah, tanaman obat, pengetahuan tradisional, Manokwari, Papua

 

 

ABSTRACT

                                                                                                                                   

Exploration of spices and medicinal plants were undertaken in order to obtain endemic crops and to increase genetic variability of spices and medicinal plants. The exploration was conducted in August 2005 in forests and villages from three different ecosystems in Manokwari-Papua, i.e. in the seashore of Yoonnoni and Assai, lowland in Amban, Snaimboy and Gunung Meja, and in the plateua of Miyambouw and Anggra. Secondary data collected from local governmental offices, primary information was collected by questioning local people, traditional heals and head of villages.  Plants were collected after being informed on the usage by the local people and helped by local governmental employees. From this exploration activities 130 species of spices and medicinal plant were obtained and indigenous knowledge on the use of those plants. After acclimatisation in the greenhouse until end of December 2005, only 93 species survived and while the others died, probably due to differences in temperature, soil pH, physical and texture of soil. In most of ethnics, ethno botanical information and knowledge was passed onto the younger generation from their own relatives. But in Serui ethnic from Assai village, the ancestors choose the person to whom the knowledge will be passed on; and the descendents must keep the knowledge secret just to her/himself. Sometimes the knowledge was given to another person from extra family, and to receive that information, they must be pay some money or barter with things depend on the deal. Generally in Manokwari ethnics the plant used was grouped in two groups, based on the phytochemical compound and on the magic power. Results from these activities are expected to be beneficial and may be used as raw material in developing novel spices and medicinal plant’s products.

 

Key words :          Exploration, spices, medicinal plants, traditional know ledge, Manokwari, Papua.

 

 

 

 

 

 

 

KONSERVASI PLASMA NUTFAH TANAMAN REMPAH DAN OBAT DI LAPANG DAN IN VITRO

 

Hobir, Nurliani Bermawie, Hadad EA, Endang HP, Sri Wahyuni,  Budi Martono, Laba Udarno, Natalini Nova K, Meynarti SDI,

Siti Fatimah Syahid, Amalia, Nursalam, Miftahurohmah,  Susi Purwiyanti

 

ABSTRAK

 

Konservasi plasma nutfah tanaman rempah dan obat (TRO) dilakukan untuk melestarikan koleksi plasma nutfah tanaman rempah dan obat. Konservasi dilakukan di lapang dalam bentuk koleksi hidup, dan di laboratorium, dalam bentuk kultur in vitro. Kegiatan konservasi di lapang meliputi pemeliharaan koleksi yang telah ada, memperbaharui tanaman yang telah tua atau rusak, serta mengamati sifat–sifat morfologi dan komponen hasil pada beberapa spesies tanaman di masing-masing kebun. Dari kegiatan ini telah terpelihara dengan baik sebanyak 655 spesies tanaman, yang meliputi 3312 aksesi. Koleksi tersebut (termasuk duplikatnya) ditempatkan di kebun-kebun percobaan Cimanggu (161 spesies dengan 328 aksesi), Sukamulya (124 spesies, dengan 1189 aksesi), Cicurug, (123 spesies dengan 764 aksesi), Gunung Putri (47 spesies dengan 764 aksesi), Cikampek (52 spesies dengan 275 aksesi) dan Manoko (206 spesies, dengan 341 aksesi). Pembaharuan tanaman (rejuvinasi) diprioritaskan untuk tanaman temu-temuan di Cicurug dan Sukamulya, purwoceng dan pirethrum di Gunung Putri, serta nilam, mentha dan akar wangi di Manoko. Untuk Cikampek, kegiatan rejuvinasi diprioritaskan pada relokasi koleksi jambu mente dari KP. Muktiharjo. Untuk tanaman-tanaman yang selalu dibiakkan secara vegetatif atau berbiji rekalsitran,  konservasi dilakukan secara in vitro. Sampai saat ini telah dikonservasi 52 jenis tanaman secara in vitro. Beberapa tanaman yang aksesinya cukup banyak, telah diamati sifat-sifatnya, sebagai langkah awal dalam evaluasi dan seleksi  yang mengarah pada penemuan varietas unggul. 

 

Kata kunci:  Plasma nutfah, konservasi, lapang,  in vitro.

 

ABSTRACT

 

Germ plasm conservation was aimed at maintaining genetic materials of spice and medicinal plants. The conservation was conducted in the form of live collection and in vitro conservation. The activities in field collection included crop maintenance, rejuvenation and observations for some characters in certain crop species in respective experimental farm. From these activities, 655 plant species included 3312 were conserved. The species were collected in 6 experimental farms, i.e. KP. Cimanggu (161 species, with 328 accessions), KP Sukamulya (124 species with 1189 accessions), KP Cicurug (123 species with 764 accessions) KP Gunung Putri (47 species with 153 accessions) KP Cikampek (52 species with 275 accessions) he activities in the field conservation included crop maintenance and rejuvination. Rejuvenation was conducted on the species of zingiberaceae in KP Cicurug and Sukamulya, pimpinella and pyrethrum in Gunung Putri, and patchouli, Mentha sp. and vetiver in Manoko. In Cikampek, beside crop maintenance, the activities also included relocation of cashew collection from KP Muktiharjo (Middle Java), and planted new collections, including vanilla and cashew from NTB. Beside in the field, a certain crops were conserved in the laboratory. For the vegetative propagated crops or recalcitrant seeds, in some extent, they were maintained in vitro. Recently, 52 crop species have been conserved in vitro. Some species were characterized, leading to their evaluation and selection to produce new varieties. 

 

Key words: Germplasm, conservation, field, in vitro

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KARAKTERISASI DAN EVALUASI PLASMA NUTFAH CABE JAWA

 

Otih Rostiana, Wawan Haryudin, Budi Martono, Siti Aisyah

 

ABSTRAK

 

Cabe jawa merupakan tanaman yang mengandung bahan aktif berkhasiat sebagai aprodisiak. Tetapi kebenaran khasiat bahan aktif yang mempunyai efek afrodisiak dari tanaman tersebut belum terbukti secara ilmiah. Selain itu juga belum tersedia bahan tanaman unggul untuk dikembangkan lebih lanjut. Penelitian dilakukan di KP. Cikampek dengan menggunakan metode observasi langsung tanpa ulangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi 15 nomor cabe jawa dan mutu pohon induk terpilih. Parameter yang diamati meliputi karakter morfologi daun, batang dan buah. Hasil penelitian menunjukan dari 10 nomor aksesi yang dikarakterisasi berdasarkan morfologi daun, batang dan buah mempunyai karakter yang bervariasi, karakter tersebut ditunjukan pada panjang dan lebar daun baik pada daun muda maupun daun tua. Batang cabe jawa berbentuk bulat dengan arah percabangan erectus, lateral dan menggantung. Buah cabe jawa berbentuk bulat panjang, bulat pendek dan panjang pipih, warna buah muda hijau dan buah tua kuning dan merah, panjang buah berkisar antara 0,32–4,80 cm dengan diameter 0,39–2,66 cm.

 

Kata kunci: karakterisasi, evaluasi, cabe jawa

 

ABSTRACT

 

Long pepper is considered as plants producing active compounds-having aphrodisiac effects. However, there isn’t any scientific proved concerning an aphrodisiac effect of those plants. Beside that, there are no superior varieties of both crops to be further developed yet. The research was conducted in Cikampek Research Installation using observation method. The aim of this research was to know the morphology character and quality of 15 collection number of long pepper. The parameter observed were morphological character of leaves, stem and fruit. The result showed that there were variations among 10 collection number of long pepper characterized. The variations were seen on leaf length and leaf width both young and old leaf. Stem of long pepper with erect branches, lateral and hanging. The fruits were s conical, globular and filiform, the young fruits were green and the old fruits were yellow red in color. The fruits were 0.32–4.80 in length, and diametrical 0.39–2.66 cm.

 

Keywords: characterization, evaluation, long pepper

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KARAKTERISASI PLASMA NUTFAH TANAMAN MENIRAN

 

Nurliani Bermawie, Meynarti SDI, Susi Purwiyanti

 

ABSTRAK

Karakterisasi dilakukan untuk mendapatkan data karakter morfologi, hasil dan mutu plasma nutfah tanaman meniran. Tujuh nomor meniran yang diperoleh dari hasil eksplorasi ditanam di KP. Cicurug, Sukabumi pada ketinggian 550 m dpl. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tiga ulangan. Meniran ditanam bulan Agustus pada petakan berukuran 1 mx4 m dengan  jarak tanam 20 cmx20 cm sehingga dalam satu petakan berisi 100 tanaman. Sebelum tanam diberi pupuk kandang dengan dosis 0.25 kg/tanaman (10 ton/ha). Pada saat tanam diberikan Urea, SP-36 dan KCl masing-masing sebanyak 100 kg/ha. Pengamatan dilakukan terhadap sifat morfologi kuantitatif, antara lain tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun maupun sifat kualitatif, antara lain warna batang, cabang, daun, bunga dan buah. Perbedaan antar aksesi dianalisis menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT). Hasil pengamatan menunjukkan nomor yang dikarakterisasi mempunyai keragaman tinggi. Nomor yang berasal dari Wanayasa memiliki perbedaan  mencolok pada jumlah cabang, jumlah daun per cabang, panjang daun, diameter batang, berat basah dan kering juga tertinggi dan berbeda nyata dengan aksesi lainnya. Namun untuk karakter mutunya belum diketahui, sehingga diperlukan analisa mutu untuk mengetahui mutu dan kandungan zat berkhasiat. Informasi yang dihasilkan dari karakterisasi tanaman meniran ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih bahan pemuliaan yang memiliki kontribusi dalam menghasilkan nomor-nomor unggul.

 

Kata kunci: Meniran ( Phyllanthus sp), karakterisasi, morfologi.

 

ABSTRACT

 

Characterization and evaluation were undertaken to obtain morphological characteristics, yield and quality of Phyllanthus accessions. Seven accessions obtained from exploration in Jawa were planted in Cicurug experimental garden, Sukabumi at 550 m above sea level (as), using randomized block design with four replications.  Each plant is planted at 20 cmx20 cm plant spacing at 4 mx1 m plots, so that each plot contains 100 plants. Parameters observed are qualitative characters such as plant height, number of branch, number of leaves, and qualitative characters such as color of stem, leaf, flower and fruits. Results from the experiment indicated that all accessions showed high variation in almost all parameters observed.  Accession from Wanayasa showed differences from other accessions in number of branch, number of leaf per branch, leaf length, stem diameter, fresh and dry weight. The quality and active principles of the accessions have not yet been evaluated; these parameters are needed to determine accessions with good performance in medicinal plants.  Information on yield potential, quality and the contents of active principles are expected and may be used in determining breeding material which has high contribution to the achievement of superior varieties.

 

Key words: Phyllanthus sp.,characterization, morphology.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KARAKTERISASI DAN EVALUASI PLASMA NUTFAH PEGAGAN

 

Nurliani Bermawie, Meynarti SDI, Susi Purwiyanti dan Suryatna

 

RINGKASAN

Karakterisasi dilakukan untuk mendapatkan data karakter morfologi, hasil dan mutu plasma nutfah tanaman pegagan. Dua belas nomor pegagan yang diperoleh dari hasil eksplorasi di Jawa, Sumatra dan Bali, ditanam di KP. Cicurug, Sukabumi pada ketinggian 550 m dpl. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tiga ulangan. Pegagan ditanam bulan Agustus pada petakan berukuran 4 mx1 m dengan jarak tanam 20 cmx20 cm sehingga dalam satu petakan berisi 100 tanaman. Sebelum tanam diberi pupuk kandang dengan dosis 0.50 kg/tanaman (20 ton/ha). Pada saat tanam diberikan Urea 200 kg/ha, SP-36 dan KCl masing-masing sebanyak 100 kg/ha. Pengamatan dilakukan terhadap sifat morfologi kuantitatif, antara lain tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun maupun sifat kualitatif, antara lain bentuk daun, warna batang, cabang, daun, bunga dan buah. Perbedaan antar aksesi dianalisis menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Dari hasil analisis sidik ragam yang dilanjutkan dengan UJBD terdapat beberapa sifat morfologi tanaman yang menunjukkan keragaman antara lain pada tinggi tanaman, jumlah vena, jumlah daun induk, jumlah daun anakan, jumlah akar pada anakan, panjang daun, lebar daun, panjang ruas terpanjang, panjang runner, jumlah runner, diameter tangkai daun, diameter runner, jumlah anakan yang berbunga, jumlah bunga per runner, panjang tangkai bunga, berat segar dan berat kering, tetapi tidak berbeda nyata untuk parameter tebal daun, jumlah buku dan jumlah akar induk. Pegagan yang berasal dari Malaysia berbeda dengan nomor lainnya pada jumlah cabang, jumlah daun per cabang, diameter batang, berat  basah dan berat kering. Aksesi ini memiliki bobot basah yang tinggi (86.1 g/tan) namun bobot keringnya paling rendah (1.67 g/tan) dan berbeda nyata dengan nomor lainnya. Perbedaan pada karakter kualitatif antar aksesi terlihat nyata pada bentuk daun, tepi daun dan permukaan daun. Aksesi Aksesi Bali memiliki tepi daun runcing, sementara aksesi lainnya tumpul, aksesi Malaysia permukaan daunnya licin, sementara yang lainnya kasar. Karakter mutu aksesi yang diamati belum diketahui, analisa mutu untuk mengetahui mutu dan kandungan zat berkhasiat sangat diperlukan. Informasi yang dihasilkan dari karakterisasi tanaman pegagan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih bahan pemuliaan yang memiliki kontribusi dalam menghasilkan nomor-nomor unggul.

 

Kata kunci: Pegagan (Centella asiatica L), karakterisasi, morfologi.

 

ABSTRACT

 

Characterization and evaluation were undertaken to obtain morphological characteristics, yield and quality of Asiatic pennywort accessions. Twelve accessions obtained from exploration in Jawa, Sumatra and Bali were planted in Cicurug experimental garden, Sukabumi at 550 m above sea level (as), using randomized block design with three replications. Each accession is planted at 20 cm x 20 cm plant spacing at 4 mx1 m plots, so that each plot contains 100 plants. Cow dung manure 20t/ha were applied two weeks before planting, urea 200 kg/ha, SP-36 and KCl 100 kg/ha each were applied at the time of planting. Parameters observed are qualitative characters such as plant height, number of runner, number of leaf, and qualitative characters such as leaf shape, leaf margin, leaf surface, colour of stem, leaf, and flower. Analysis of variance followed by DMRT indicated variation on a number of characters such as plant height, number of vena, number of leaf on main branch, number of leaf on young branch, number of roots, leaf length, leaf width, runner length, fresh and dry weight. No variation in leaf thickness, number of node, and number of root per node. Accession from Malaysia differs from the other accessions in number of branch, number of leaf per branch, stem diameter, fresh and dry weights. The highest fresh weight (86.11 g/plant) and the lowest dry weight (1.67 g/tan) were obtained from accession Malaysia, which was significantly different from the other accessions. Variation on qualitative characters such as leaf shape, leaf margin and leaf surface were observed. Leaf margin in accession from Bali was dentate, while in the other accessions were undulate. Leaf surface in Malaysian accessions was smooth compared to rough surface in the other accessions. The quality and active principles of the accessions have not yet been evaluated; these parameters are needed to determine accessions with good performance in medicinal plants. Information on yield potential, quality and the contents of the active principles are needed and may be used in determining breeding material which has high contribution to the achievement of superior varieties.

 

Key words:           Asiatic pennywort (Centella asiatica L), characterization, morphology.

 

 

KARAKTERISASI DAN EVALUASI TANAMAN OBAT MENGKUDU

 

Endjo Djauhariya, Rudi Tejo Setiyono, Iim Rohimat, Sarwenda

 

ABSTRAK

 

Kegiatan karaktrisasi dan evaluasi dilakukan terhadap 11 nomor aksesi mengkudu hasil eksplorasi dari daerah-daerah produksi mengkudu di Pulau jawa. Ke 11 nomor aksesi tersebut adalam Moci 1 asal Jasinga, Moci 2 asal Ciampea dan Moci 5 dari Cipaku, Bogor, Moci 4 dari Cikeusik, Moci 6 dan Moci 7 dari pantai Binuangeun, Pandeglang, Banten, Moci 9 dari Tasik Malaya, Moci 12 dari Keraton Surakarta, Moci 19 dari Semarang dan Moci 20 dari Kendal, Jawa tengah dan Moci 21 asal Sukabumi. Setiao nomor aksesi ditanam sebanyak 10 pohon, terdiri dari 5 pohon asal biji dan 5 pohon asal setek. Tujuan karaktrisasi adalah untuk mengetahui sifat kuantitatif dan kualitatif plasmanutfah mengkudu. Data yang diamati berupa sifat morfologi dan produksi buah dari masing-masing aksesi. Sampai  bulan Desember 2005 tanaman baru berumur 16 bulan, sehingga pengamatan terhadap mutu buah belum bias dilakukan karena sebagian besar aksesi buahnya belum matang. Hasil karaktrisasi menunjukkan adanya variasi pada beberapa sifat kuantitatif dan kualitatif yang diamati, serta terdapat perbedaan sifat pada beberapa parameter untuk tanaman asal biji dan asal setek. Tanaman asal biji pertumbuhannya cenderung kearah atas dengan bentuk kanopi silinder, sedangkan tanaman asal setek cenderung kesamping dengan bentuk kanopi kerucut. Untuk parameter hasil, Moci 9  menunjukkan produksi dan bobot buah yang tinggi (2-3 kg per pohon), dengan bobot buah 143 g per buah pada tanaman asal biji dan 158 g asal setek. Variasi juga terlihat pada parameter fisiologi buah, enam aksesi memiliki rasa buah asam manis (Moci 1, 2, 4, 5, 8, 9, 20 dan 21), 2 aksesi rasa manis (Moci 12 dan 19) dan dua aksesi rasa pahit   (Moci 6 dan 7). Perbedaan pada rasa buah berkaitan erat dengan komposisi kimia buah, khasiat dan cara pemanfaatannya, serta menentukan mutu dari setiap nomor aksesi. Untuk itu perlu penelitian lebih lanjut untuk mengklarifikasi komponen dan khasiat dari variasi tersebut.

 

Kata kunci: Karaktrisasi, evaluasi, mengkudu.

 

ABSTRACTS

 

The research was carried out at Sukamulya Experimental Station, Sukabumi, West Java. Noni collections were mostly collected from Java island. A total of 11 accessions i.e.: Morinda citrifolia number 1 (Moci 1) from Jasinga area, Moci 2 from Ciampea and Moci 5 from Cipaku, Bogor district, Moci 4 from Cikeusik, Moci 6 and Moci 7 from Binuangeun lake side, Pandeglang district, Moci 9 from Tasikmalaya, West java, Moci 12 from Surakarta, Moci 19 from Semarang, and Moci 20 from Kendal district, Central Java and Moci 21 from Sukabumi district, West Java. There was planted using 4×4 m square in 2003.  Each number of accession are consist of 10 tries, the five plants from seedling and five plants other are from stem. Until December 2005 the plants were 16 months old. The data gathered in this study included: morphology and yield characteristics, but quality of the yield can not be observed, because the fruits were not done. The result of the research indicated there were different on morphology and yield characteristics.  The morinda planted with seedling was grown on top direct and cylindrical, but the morinda planted with stem was grows laterally and cone shaped. Moci 9 is the higher yield i.e 2-9 kg fruits per plant and 143-158 g per one of fruit. Six number of the morinda collections i.e Moci 1. 2. 4. 5. 8. 9. 20 and 21 are sweet-sour tastes of fruits, Moci 12 and19 are sweet and Moci 6 and 7 are bitter. The different of fruit taste is related with pregnancy chemist content, efficacies, to use and quality of them. The scientific research much be continued to quality and chemist content clarified

 

Key Words: Morinda citrifiloa, charactrization, evaluation

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGEMBANGAN DATA BASE PLASMA NUTFAH TRO

 

Budi Martono, Nurliani Bermawie, Susi Purwiyanti, Ermiati, Rudiana Bakti

 

ABSTRAK

 

Dokumentasi dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data koleksi dan konservasi plasma nutfah tanaman rempah dan obat yang tersebar di 6 kebun percobaan lingkup Balittro (Cikampek, Cimanggu, Cicurug, Sukamulya, Gunung Putri dan Manoko); data konservasi plasma nutfah secara in vitro, data paspor hasil eksplorasi tahun 2004 di Kalimantan Tengah dan Jawa, serta data paspor, karakterisasi dan evaluasi (Descriptor list) dari 10 tanaman obat: temulawak, kunyit, jahe merah, salam, jati belanda, pegagan, mengkudu, sambiloto, jambu biji, dan cabe jawa. Penyusunan sistem database plasma nutfah tanaman rempah dan obat dikelola dengan menggunakan Microsoft Access 2000. Sampai dengan Desember 2005, database tanaman rempah dan obat telah menampung sebanyak 3312 records/aksesi yang meliputi 655 species. Jumlah koleksi plasma nutfah yang sudah didokumentasikan untuk KP Cikampek meliputi 52 spesies dan 275 aksesi, KP. Cimanggu (161 spesies, 328 aksesi), KP. Cicurug (123 spesies, 764 aksesi), KP. Sukamulya (124 spesies, 1189 aksesi), KP. Manoko (206 spesies, 341 aksesi), KP. Gunung Putri (47 spesies, 153 aksesi), in vitro (52 spesies, 81 aksesi), eksplorasi tahun 2004  (88 spesies, 336 aksesi), dan data paspor, karakterisasi, serta evaluasi (descriptor list) dari 10 tanaman obat (temulawak, kunyit, jahe merah, salam, jati belanda, pegagan, mengkudu, sambiloto, jambu biji, dan cabe jawa). Selain itu, di setiap kebun telah dibuat  sistem pengelolaan database untuk data paspor yang berbasis Microsoft Access 2000. Dokumentasi lebih lanjut perlu dilakukan untuk melengkapi data yang sudah ada.

 

Kata kunci: Database, plasma nutfah, tanaman rempah dan obat.

 

ABSTRACT

 

The goals of documentation were to collect data from the conserved germ plasma distributed in six experimental garden of Indonesian Spice and Medicinal Crops Research Institute (ISMECRI) Experimental Gardens i.e. Cikampek, Cimanggu, Cicurug, Sukabumi, Gunung Putri, and Manoko; and conserved in vitro, passport exploration result from central Kalimantan and Java Island on 2004; and descriptor list on 10 medicinal plant species (curcuma, turmeric, red ginger, bay leaf, jati belanda, Asiatic pennywort, javanony, king of bitter, guava, and tailed pepper). The Microsoft Access 2000-based system has been developed for managing spice and medicinal crops germplasm data. Until December 2005, database has reached 3312 records/accessions from 655 species. The number of collections in Cikampek EG which had been computerized included 52 species (275 accessions), Cimanggu 161 species (328 accessions), Cicurug 123 species (764 accessions), Sukamulya 124 species (1189 accessions), Manoko 206 species (341 accessions), in Gunung Putri 47 species(153 accessions); in vitro 52 species,  81 accessions and from 2004 exploration in 88 species with 336 accessions; While descriptor list has been applied on 10 medicinal plant species (curcuma, turmeric, red ginger, bay leaf, jati belanda, Asiatic pennywort, javanony, king of bitter, guava, and tailed pepper). Furthermore, database has also been developed for each experimental garden consisting of passport data on the collections in each garden based on Microsoft Access 2000.

 

Key words: Database, germplasm, spice and medicinal crops.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGKAJIAN BUDIDAYA TANAMAN TEMU-TEMUAN  PADA MODEL USAHATANI TANAMAN TERNAK PADA  ZONE AGROEKOLOGI JAWA TIMUR SELATAN

 

M. Januwati, MS, M. Yusron, Mphil, E. Rini Pribadi, MSc.

 

ABSTRAK

 

Kunyit, temulawak, jahe, kencur dan lengkuas tergolong kelompok famili Zingiberaceae, termasuk tanaman yang toleran terhadap naungan (shading plant) sehingga dalam pengembangan ini dapat ditanam secara tumpangsari dengan tanaman holtikultura, perkebunan atau tanaman pangan. Dari pola tanam ini diharapkan memberikan peningkatan pendapatan petani dan meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Tujuan percobaan ini adalah mendapatkan pola tanam ideal dari temu-temuan yang mendukung sistem usahatani temu-temuan pada zone agroekologi Jawa Timur Selatan. Penelitian lapang ini dilaksanakan di desa Mojorejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar pada tanah latosol dengan tektus pasir berlempung, dengan ketinggian tempat 200 m dpl, pada tipe iklim C menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Pemupukan terdiri dari 14 ton pupuk kandang (bokasih), 250 kg Urea, 300 kg SP-36 dan 300 kg KCl per hektar. Jarak tanam digunakan kencur (20 cmx20 cm), kunyit (50 cmx50 cm, lengkuas (50 cmx50 cm), kacang tanah (20 cmx20 cm). dan padi (15 cm 20 cm). Perlakuannya terdiri dari tumpangsari temu-temuan (kunyit, jahe, kencur dan lengkuas) dengan tanaman pangan (padi dan kacang tanah) yang ditanam dibawah tegakan tanaman jati umur setahun. Sampai saat ini belum diketahui hasil penelitian dari penanaman temu-temuan di antara tegakan tanaman jati muda berumur setahun, karena penelitian baru dilakukan. Data agronomis sebulan sesudah tanama yang dapat disampaikan hanya persentase tumbuh dari kunyit 95%, kencur 90% dan lengkuas berkisar 70%. Petani merespon dengan baik terhadap polatanam temu-temuan dengan tanaman pangan diantara tanaman jati muda, dan jenis temu-temuan dapat diterima kecuali temulawak.

 

Kata kunci : temu-temuan, pola tanam, zone agroekologi.

 

ABSTRACT

 

Zingiberaceae is such as turmeric, curcuma, and ginger. East India galanggal and galanga, were known as shading plant. Based on their characteristic, zingiberaceae could be intercropped with other crops such as horticulture, estate or food crops to improve farmer income and land use efficiency. The aim of this research is to find out ideal  mix cropping system for upland agro ecological zone of East Java. The treatment consist of several mix cropping system between Zingiberaceae and food crops (rice and ground nut), under shading conditions in one year teak plantation. The experiment located in Mojorejo, Kecamatan Wates, Blitar on Latosol soil, on altitude 200 m above sea level, type of C climate refers to Schimdt and Ferguson. Fertilizer application per hectare was 14 ton of compost (bokasih), urea 250 kg, SP-36 300 kg and KCl 300 kg. Planting distance were  (20 cmx20 cm) for east India galangal, (50 cmx50 cm) for turmeric (40 cmx60 cm) for galanga, (20 cmx20 cm) for ground nut, (15 cmx20 cm) for rice. The activities consists of several mix cropping pattern for plant production technique in order to promote better income farmer has not been known yet since field experiment just started at the moment. The agronomic data from 1 month after planting showed that growth percentage were 95% for turmeric, 90% for East Indian galanggal and 70% for galanga. The farmers prefer to cultivate Zingiberaceae intercrop with food crop intercropping with young teak plantation except curcuma.

 

Keywords: Zingiberaceae, cropping system, agro ecological zone.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGKAJIAN TEKNOLOGI BUDIDAYA TEMU-TEMUAN DILAHAN PASANG SURUT

SUMATERA SELATAN

 

Muchamad Yusron, JT. Yuhono, Nurliani Bermawie, M. Januwati.

 

ABSTRAK

 

Selama 10 tahun terakhir telah dilakukan evaluasi dan karakterisasi beberapa jenis tanaman temu-temuan,dan diperoleh beberapa nomor harapan dengan potensi produksi tinggi. Agar teknologi tersebut bisa diterapkan pada kondisi yang lebih spesifik, dan untuk mempercepat transfer teknologi, mulai tahun 2005 telah dilakukan kegiatan penelitian dan pengkajian antara Balittro dengan BPTP Sumatera Selatan. Kegiatan lapang dilaksanakan di kebun percobaan BPTP Sumatera Selatan yang berada di Karang Agung. Lokasi tersebut berada pada lahan pasang surut yang merupakan lahan cukup potensial untuk dimanfaatkan usaha tani temu-temuan. Teknologi budidaya tanaman temu-temuan yang akan dikaji, meliputi:teknik penataan lahan, dan pengenalan jenis dan teknologi budidaya temu-temuan, yakni kunyit, temu lawak, dan jahe emprit. Sampai dengan umur satu bulan setelah tanam, kondisi pertanaman cukup bagus, terlihat bahwa jumlah tanaman yang tumbuh rata-rata di atas 75%. Untuk jahe emprit, persentase tumbuh dan pertumbuhan tanaman dari tiga nomor Balittro lebih baik dibandingkan dengan nomor lokal. Dari ketiga nomor kunyit yang diuji, nomor K2 mempunyai persentase pertumbuhan lebih rendah dibandingkan nomor lokal, sedang ketiga nomor temulawak yang diuji kesemuanya lebih rendah dibandingkan nomor lokal. Sampai akhir desember kondisi pertumbuhan cukup baik dengan kisaran tinggi tanaman berturut-turut untuk jahe, kunyit dan temulawak adalah tanaman 20-40 cm, 25-45 cm, dan 60-70 cm.

 

Kata kunci: budidaya, temu-temuan, pasang surut.

 

ABSTRACT

 

Since the last 10 years ISMECRI has been evaluated and characterized some zingberaceae families and has found some high yielding clones, which supported by its cultivation technologies. In order to accelerate technology transfer, since 2005 a research and assessment of zingiberaceae cultivation technologies in swamp areas has been conducted collaborate between ISMECRI and AIAT of South Sumatera. This activity was planted in three years to get an appropriate technology to the swamp areas. The activity was carried out at AIAT experimental station at Karang Agung, South Sumatera The cultivation technology tested consist of land management technique and cultivation technologies of three ginger, curcuma and turmeric. At one month after plating, plant grow well, and the percentage of growth were more than 75%  Three clone of little ginger showed better growth than local clone. The growth percentage of curcuma clone (K2) was lower than local clone. The growth of percentage of three turmeric number was lower than local clone. Plant grew well with the range of plant height of zingiberaceae; curcuma and turmeric are 20-40 cm, 25-45 cm, and 60-70 cm. 

 

Key words: cultivation, zingiberaceae, swamp area.

 

 

 

 

 

 

 

 


PENGARUH TINGKAT KEBUTUHAN AIR TERHADAP MUTU DAN PRODUKSI SAMBILOTO

 

M. Januwati, E. Rini Pribadi, M. Yusron, dan Nur Maslahah

 

ABSTRAK

 

Penelitian pengaruh tingkat kebutuhan air dilaksanakan di rumah kaca Cimanggu, Bogor dimulai pada Bulan September 2005. Percobaan disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan lima kali ulangan. Perlakuan terdiri dari lima taraf pemberian air 3, 4, 5, 6, dan 7 mm/hari. Hasil penelitian pada pengamatan menunjukkan bahwa pengaruh tingkat pemberian air tidak nyata terhadap pertumbuhan dan produksi simplisia. Pemberian air 4 mm/hari memberikan tinggi tanaman, luas daun pertanaman tertinggi. Sedang berdasar kadar sari larut alkohol maka mutu tertinggi 12,63% diperoleh pada pemberian air 4 mm/hari dengan produksi simplisia 6,39 g/tanaman atau taksasi 357,84 kg/ha (Panen I). Penurunan produksi sebesar 26,7 dan 30,8% dan mutu simplisia yaitu menjadi 11,9 dan 11,8% terjadi pada keadaan kekurangan dan kelebihan air pada tingkat pemberian 2 dan 6 mm/hari. Dengan demikian kebutuhan air sambiloto setara dengan palawija atau sayur-sayuran atau wilayah pengembangan optimum di daerah iklim tipe B (klasifikasi Schmidt Ferguson) dan di daerah C dengan penyiraman pada saat curah hujan kurang.

 

Kata kunci : kebutuhan air, mutu, produksi, sambiloto.

 

ABSTRACK

 

This experiment was conducted at Cimanggu Research Installation, Bogor, started in September 2005, using Randomized Completely Design with five replications. The treatment consist of five levels of water treatment 3, 4, 5, 6, and 7 mm/day. The water treatment showed that there was no significant response to the growth and simplicia production, but water treatment of 4 mm/day produced the highest plant eight, leaf area per plant and quality of simplicia. The highest quality of simplycia was of alcohol soluble extract 12,63% was produced 4 mm/day water treatment and produced 6,39 g/plant or 357,84 kg/ha of simplicia (harvesting I). The 2 and 6 mm/day water treatment suppressed the quantity and quality of simplicia production. So, that the production decreased were 26.7 and 30.8% and the quality of simplicia decreased were 11.9 and 11.8%. The water need of andrographis as high as vegetable or food crop needs or the optimum area development were B climate type (Scmitdh and Ferguson classification) and if under C type climate area used to watering if the water level of rain was not enough.

 

Keywords:            water need, quality of simplicia, production, Andrographis paniculata

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EKOBIOLOGI DAN PENGENDALIAN RAMAH LINGKUNGAN  PENYAKIT DAN HAMA UTAMA

 

Supriadi, Retno Djiwanti, Sri Yuni Hartati, Efi Taufiq, Tri Lestari  M, Nuri Karyani, Laba Udarno, Asep Suhenda, Acep Wikanda,  Kurniati, Sugiyanto, Wawan Darmawan

 

ABSTRAK

 

Salah satu kendala dalam budidaya sambiloto adalah serangan hama dan patogen. Dua patogen yang sudah diketahui menyerang tanaman sambiloto adalah jamur Sclerotium sp. dan nematoda hawar daun (Aphelenchoides sp). Tujuan penelitian adalah mempelajari faktor-faktor ekobiologi yang berpengaruh terhadap perkembangan kedua patogen, dan menguji potensi dari beberapa komponen pengendalian, serta menginventarisasi jenis-jenis hama utama.  Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan di lapangan. Hasil penelitian ekobiolgi menunjukkan bahwa Isolat Sclerotium sp. asal sambiloto tumbuh baik pada kisaran suhu 20-35 oC dan kelembaban udara (RH) 50-100%. Di samping itu Sclerotium sp. dapat menyerang beberapa inang lain seperti Cleome spinosa, Boreria leavis sp. (nanangkaan), dan meniran (Phylanthus niruri). Tanaman jagung dan kacang tanah cv. Kelinci tahan terhadap serangan Scleroium sp. sehingga dapat ditumpangsarikan dengan tanaman sambiloto. Hasil penelitian ekobiologi Aphelenchoides sp. menunjukkan bahwa berdasarkan ciri-ciri morfologinya, speseis nematoda hawar daun yang menyerang sambiloto Aphelenchoides fragariae . Nematoda hawar daun mempunyai beberapa inang alternatif, antara lain badotan leutik (Ageratum conyzoides), babadotan lalaki (Synedrella nodiflora), pulus hayam (Achalypa sp.) dan Corchorus olitorius. Untuk mengendalikan nematoda ini, aplikasi tepung biji mimba pada dosis 15 g/tanaman, larutan ekstrak tepung biji mimba pada konsentrasi 0,1%, larutan CNSL 0,1%, dan carbofuran 2 g/tanaman efektif menekan serangan dan populasi nematoda sampai 100%. Hasil penelitian inventarisasi hama menunjukkan bahwa kutu tempurung (Parasaissetia nigra) dan kepik (sejenis kumbang) merupakan dua jenis hama yang penting karena dapat menghisap cairan tanaman seperti cairan batang, buah dan bunga.

 

Kata kunci: ekobiologi, penyakit, hama utama, pengendalian OPT

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SELEKSI DAN EVALUASI SAMBILOTO UNTUK MENDAPATKAN NOMOR UNGGUL

 

Sri Wahyuni, Hobir, Devi Rusmin, Supriyadi, Evi Taufik, Wahyu Gumelar dan Soenardi

ABSTRAK

Pemanfaatan tumbuhan obat untuk pengobatan tradisional semakin banyak berkembang. Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan) telah menentukan sembilan tanaman obat yang diprioritaskan untuk dikembangkan sebagai fitofarmaka diantaranya adalah sambiloto (Andrographis paniculata). Kandungan utama sambiloto adalah andrographolide yang terdapat pada seluruh bagian tanaman, namun kandungan tertinggi adalah pada daun. Untuk mendukung pengembangan sambiloto sebagai obat tradisional dan fitofarmaka diperlukan bahan tanaman unggul yang sampai sekarang belum tersedia. Keragaman sambiloto diduga rendah, yang ada sekarang masih berupa keragaman yang dibentuk oleh alam (perbedaan lingkungan tumbuh). Pengumpulan sambiloto dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat telah diperoleh 11 nomor aksesi, yang secara morfologi hampir sama. Umumnya tanaman belum dibudidayakan kecuali aksesi yang didapat dari Sukoharjo dan Jumantono (Karang anyar) serta Cimanggu dimana tanaman telah dibudidayakan di pekarangan. Pembudidayaan dalam skala luas belum ada. Karakterisasi/evaluasi nomor-nomor sambiloto hasil pengumpulan terhadap sifat morfologi dan agronomi (produksi, mutu) dan ketahanan terhadap OPT (Sclerotium sp), perlu dilakukan untuk mengetahui kekerabatan antar nomor koleksi dan memilih nomor yang lebih unggul yang diharapkan dapat dilepas sebagai varietas nantinya. Penelitian dilakukan di KP Cimanggu Bogor. Untuk bahan karakterisasi ditanam sebanyak 100 tanaman per aksesi, diamati karakter kualitatif dan kuantitatifnya dan dihitung koeffisien keragamannya. Sebagai bahan evaluasi produksi terna digunakan perlakuan tunggal yaitu nomor-nomor aksesi dan penanaman di lapang menggunakan RAK dan diulang 3 kali. Karakter morfologi tanaman sambiloto yang berkaitan dengan sifat kualitatif seperti warna daun, batang, bunga dan buah serta bentuk batang dari 11 nomor aksesi hampir sama, sehingga berdasar karakter tersebut tidak dapat digunakan sebagai pembeda antar nomor aksesi. Hasil pengamatan karakter kuantitatif tanaman sambiloto bervariasi yang ditunjukkan oleh nilai koeffisien keragamanya (kk). Kelompok karakter yang mempunyai nilai keragaman relatif tinggi adalah tinggi tanaman, jumlah cabang, dan diameter batang walaupun nilai kk-nya tidak melebihi 40%. Berdasar karakter tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai dasar seleksi untuk memperoleh tanaman yang mempunyai produksi terna tinggi. Karakter panjang daun, lebar daun, dan panjang ruas juga agak bervariasi, namun nilai keragamannya kurang dari 20%. Kelompok karakter bobot buah, panjang dan lebar buah, jumlah biji per buah dan bobot biji 100 butir mempunyai nilai keragaman terkecil. Analisis kluster berdasar sifat kuantitatif diperoleh hasil bahwa nomor-nomor aksesi sambiloto mengelompok pada dua cluster utama. Kluster pertama terdiri dari nomor aksesi Wng-2, Kr-3, Skh dan Sms, sedang pada kluster kedua terdiri dari Blali, Kr-2, Kr-4, Wng-1, Kr-1, Cmg-3, Cmg-2 dan Cmg-1. Tidak ada pola yang jelas dari hasil pengelompokkan ini. Aksesi dari daerah asal yang sama tidak cenderung mengelompok pada kluster yang sama, kecuali nomor-nomor aksesi Cmg. Produksi terna antar nomor koleksi berkisar antara 30,433-94,67 g/tanaman dengan proporsi batang dan daun basah berkisar antara 40-50%. Rendemen dari terna basah ke kering berkisar antara 29-34% untuk keseluruhan terna (terdiri dari batang dan daun), untuk daun saja adalah 31-37%, sedang untuk batang adalah 25-32%. Mutu terna koleksi sambiloto untuk kadar sari larut alkhohol adalah 12,46%-19,40%, untuk kadar sari larut air berkisar antara 22,28-25,82%, sedangkan kadar andrographolide terna (daun dan batang) adalah 0,43-1,24%. Evaluasi tanaman terhadap penyakit yang disebabkan oleh cendawan Sclerotium sp diperoleh hasil smentara bahwa semua aksesi terserang cendawan tersebut dengan persentase serangan sekitar 40-80%, namun akhirnya semua tanaman terserang dan banyak yang mati.

Kata kunci: seleksi, evaluasi, nomor unggul, sambiloto.

 

ABSTRACT

The use of medicinal plants for traditional medicine is wider recently. POM has declared that there are nine medicinal plants as a priority for phytofarmacy industry and King bitter (Andrographis paniculata) is ones of the priorities. The major chemical contain of king bitter is andrographolide which can be found in the whole plants, but the highest one is in the leaves part. To support development of king bitter as phytofarmacy, a good variety which have higher herbage yield and andrographolide content are needed, but not available yet. Variations of king bitter are low and still based on localities. Breeding and selection has not been done. The collection activity of king bitter from West and Central Java obtained 11 accession numbers. Generally it’s found uncultivated yet, except the accession from Sukoharjo and Jumantono which is cultivated at small home garden. Characterization or evaluation of that collected numbers is needed for such morphological characters, sclerotium resistance, herbage yield and andrographilide content. The data can be used to predict the relationship among accession numbers and to select the better accession. The research was carried out at Cimanggu garden. Materials for characterization are 11 number of accession which is planted 100 plants each accession. Observation was done for qualitative and quantitative characters. Moreover, for herbage yield evaluation the plant was planted and arrange in accordance to RBD (randomized block design) with three replications. Result showed that morphological characters of 11 king bitter accessions are most similar in qualitative characters such leave color, stem, flower, and fruit. Based on that character, it can not be use to differentiate among the accessions. Observation of quantitative characters showed that variation coefficient is up to 40% for plant height, stem numbers and stem girth characters. It is more various than leaves length and leave width characters. Plant height and numbers of stem can be use for selection based for higher herbage yield. The group characters of fruit weight, fruit length and width, fruit thickness, numbers of seed per fruit and seed weight have low variation coefficient (less than 20%). Cluster analysis based on quantitative characters showed that the accessions are clustered into two groups. The first group consists of Wng-2, Kr-3, Skh and Sms. While in the second group consist of Blali, Kr-2, Kr-4, Wng-1, Kr-1, Cmg-3, Cmg-2 and Cmg-1. There is no clearly pattern in this cluster. The accession from the same localities is not clustered in the same root, except for Cmg accession. Herbage yield of the accessions range from 30.433-94.67 g each plant with the proportion of leaves and stem around 40-50%. Whole herb Rendemen from wet to dry is 29-34%, on the leaves part only is 31-37%, and stem only is 25-32%. The herb quality such extract soluble in alcohol is 12.46-19.40%, extract soluble in water 22.28-25.82%, and the andrographolide content of whole plant is 0.43–1.24%. Evaluation of Sclerotium sp disease resistance showed that in the first week after inoculation all of accession are attacked 40-80%. Longer observation was resulted all of the plant were attacked.

Keywords : selection, evaluation, accession, Andrographis paniculata.

PENGARUH CARA PRODUKSI DAN PENANGANAN BENIH SAMBILOTO

 

Maharani Hasanah, Devi Rusmin, Melati, Sri Wahyuni, Sukarman

 

ABSTRAK

 

Penelitian bertujuan untuk mengetahui saat masak fisiologis untuk menentukan waktu panen yang tepat dan untuk mengetahui daya simpan benih sampai akhir tahun 2005. Penelitian dilakukan di   KP Cimanggu (UPBS) Bogor tahun 2005. Dua kegiatan penelitian yang dilakukan:1). menentukan tingkat masak fisiologis benih dengan menentukan berat kering maksimum sehingga pada saat tersebut vigor maksimum tercapai. Berat kering benih bersama tiga parameter lainnya seperti keserempakan, kecepatan tumbuh dan daya berkecambah dipelajari kaitannya dengan kadar air benih. Hubungan semua parameter dengan kadar air dituangkan dalam grafik.  2) menentukan daya simpan benih sampai bulan ke tiga. Perlakuan yang dipergunakan adalah ruang simpan (ruang lab dan ruang dingin) dan wadah simpan (plastik, alumunium foil dan kertas sampul). Perkembangan daya berkecambah sampai bulan ke tiga diikuti juga dengan kondisi kadar air, keserempakan, kecepatan tumbuh benih setiap bulannya. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lingkungan (RAL) yang disusun secara petak terbagi (split plot design) dengan tiga ulangan. Kondisi ruang simpan sebagai petak utama dan kemasan benih sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masak fisiologis dicapai pada 26 Hari Setelah Antesis (HSA) yang berarti berat kering maksimum dan vigor benih juga maksimum. Berat kering maksimum ditandai oleh kerasnya polong dengan warna hijau keunguan. Kadar air biji 21,52% dengan berat kering biji 1 4,9×10-4 g. Hasil penyimpanan benih sampai akhir tahun 2005 menunjukkan bahwa daya berkecambah benih baru mencapai 79,33% dalam ruang simpan laboratorium sedangkan untuk 3 kemasan kantong plastik, aluminium foil serta kertas sampul, hanya kertas sampul yang menunjukkan daya berkecambah tertinggi yaitu sekitar 51%. Sesuai dengan pernyataan Global (2002) bahwa dormansi benih sambiloto mencapai 5 sampai 6 bulan. Dari penelitian ini dapat dikatakan bahwa setelah diketahui saat masak fisiologis benih dapat segera dipanen. Setelah diketahui berapa lama dormansinya pecah, waktu tanam dapat segera ditentukan, dengan terlebih dahulu menyimpan benih dalam suhu ruang sebelum pecah dormansinya.

 

Kata kunci: Cara produksi, benih, sambiloto.

 

ABSTRACT

 

Research was conducted to determine physiological maturity and harvest time of the seed and to evaluate the storability of the seed up to the end of the 2005. The observation was conducted in Cimanggu Experimental Garden (Seed Production Unit). Two research activities were done:1) determining physiological maturity of the seed by evaluating maximum dry weight or maximum vigour of the seed was reached. Maximum dry weight together with germination percentage, speed of germination, uniformity of seed were evaluated with moisture content of the seed presented in charts and 2) determining the storability of the seed up to 3 months storage. There are two treatment for storage condition was applied i.e. storage room condition and material for seed packing. Two storage rooms were used (laboratory room and cool storage room) and three packaging materials (plastic bag, aluminium foil and paper). The development of germination percentage up to 3 months were evaluated together with the condition of moisture content, uniformity of the seed and speed of the germination each month. Result indicated that physiological maturity was reached at 26 days after anthesis where the maximum dry weight and maximum vigour were reached. Maximum dry weight indicated by hard capsule and purple green color. Moisture content of the seed was 21,52% and seed dry weight was 14,9×10-4 g. Up to 3 months germination percentage incline every month up to 79,33% in when seed storage at laboratory room. Among three packaging materials such plastic, aluminium foil and paper, only paper bag showed the highest germination percentage (51%). As Global (2002) indicated that the great king of bitters seed remains dormant for 5-6 months.

 

Keywords: germination method, seed, Andrographis paniculata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERBAIKAN METODE EKSTRAKSI DAN PENYIMPANAN EKSTRAK TERSTANDAR SAMBILOTO

 

Ma’mun, Bagem S., Feri Manoi, Shinta Suhirman, Tritianingsih,  Eni Hayani, May Sukmasari, Abdul Gani,

Tjitjah Fatimah

 

ABSTRAK

 

Tanaman sambiloto dapat diolah menjadi bentuk ekstrak sehingga lebih praktis pemakaiannya terutama penggunaan sebagai bahan obat-obatan. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari pengaruh kehalusan bahan, nisbah bahan dengan pelarut dan lama ekstraksi terhadap mutu ekstrak sambiloto serta pengaruh penyimpanan terhadap mutu ekstrak. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hasil, Balittro dari bulan Januari sampai Desember 2005. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan tiga faktor. Faktor pertama adalah kehalusan bahan, yaitu 40 dan 60 mesh. Faktor kedua adalah nisbah bahan dengan pelarut, yaitu 1:6, 1:8, 1:10 dan 1:12. Faktor ketiga adalah lama ekstraksi, yaitu 4, 6 dan 8 jam dan setiap perlakuan diulang 2 kali. Pada percobaan penyimpanan, ekstrak sambiloto dikemas dalam  2 jenis kemasan, yaitu botol gelas dan botol plastik. Ekstrak dalam kemasan disimpan pada ruangan AC dan non AC selama 2, 4 dan  6 bulan. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap kadar sisa pelarut, kandungan bahan aktif andrografolida dan identifikasi kontaminasi jamur dalam ekstrak setiap 2, 4 dan 6 bulan. Hasil penelitian menunjukkan mutu simplisia yang digunakan memenuhi standar. Perlakuan kehalusan bahan, nisbah bahan dengan pelarut, lama ekstraksi dan interaksi dari ketiganya tidak berpengaruh nyata terhadap rendemen maupun sisa pelarut ekstrak. Rendemen ekstrak berkisar antara 25,25-37,44% dan sisa pelarut 5,59-21,50%. Nilai Rf dari semua perlakuan berkisa antara 0,23-0,95 dan nilai Rf standar 0,82. Mutu ekstrak sambiloto (andrografolid) tertinggi adalah 6,86% yang dihasilkan dari perlakuan kehalusan bahan 60 mesh, nisbah bahan dengan pelarut 1:10 dan lama ekstraksi 6 jam, sedangkan untuk bahan ukuran 40 mesh menghasilkan kadar andrografolid sebesar 5,16%. Dengan demikian maka kombinasi perlakuan yang optimal dalam ekstraksi sambiloto adalah kehalusan bahan 60 mesh, nisbah bahan dengan pelarut (1:10) dan lama ekstraksi 6 jam. Sementara penyimpanan tidak mempengaruhi karakteristik mutu ekstrak baik pada ruangan AC dan non AC, botol gelas maupun plastik selama 2, 4 dan 6 bulan penyimpanan. Disamping itu selama penyimpanan tidak terjadi kontaminasi jamur terhadap ekstrak sambiloto.

 

Kata kunci: Metode ekstraksi, penyimpanan ekstrak, Sambiloto

 

ABSTRACT

 

Extracts were concentrated form of natural substances obtained by treating crude materials with a solvent and removing the solvent completely or partially from the preparations. Andrographis paniculata extract is one of natural ingredient that commonly used in traditional medicine industries. The aim of experiment was to determine extraction method and the influence of storage to extract quality. Experiment was divided into two activities, extraction method and extract storage. The experiment was design as Randomized completely design with three replicates. The treatments of first experiment activity were particle size, ratio of amount of materials and solvent and duration of extraction process. The treatment of second experiment activity were room condition, packaging and duration of storage. The size of particles used was 40 and 60 meshes. The ratio of material and solvent were 1:6, 1:8, 1:10, and 1:12. Extraction carried out for 4, 6 and 8 hour. Meanwhile, extract storage carried out at room temperature (28°C) and air condition room (20°C). Extracts were packed in glass and plastic bottle and were store for 2, 4 and 6 months. Parameter assessed were extract yield, residue of solvent, chemical component, andrografolide compound content and pathogen contaminant at extract storage. The result showed that particle size, ratio between materials and solvent and duration of extract process were not affected to extract yield and residue of solvent. Analysis by KLT showed the same number of chemical component in extract. The highest andrografolide content was 6.86 percent obtained of 60 mesh particle size with 1:10 ratio of material and solvent and 6 hour of extraction process. Storage extract 2 to 6 month was not affected to the residue of solvent in extract and andrografolide content. Meanwhile, pathogen contaminant was negative of all time storage.

 

Keywords: method and storage of extraction, Andrographis paniculata


Tanaman Rempah

SELEKSI LADA HIBRIDA TERHADAP PENYAKIT BPB DI DAERAH ENDEMIK

 

Rudi T Setiyono, Dyah Manohara, Budi M, Nursalam, Jajat Darajat

 

ABSTRAK

 

Seleksi lada hibrida terhadap penyakit BPB di daerah endemik. Penelitian dilaksanakan di KP Cahaya Negeri, Lampung Utara dan Lampung Timur, pada bulan Januari sampai Desember 2005. Penelitian terdiri dari dua kegiatan yaitu (1) Di Kebun Percobaan Cahaya Negeri (Lampung Utara) seleksi sebanyak 20 nomor lada hibrida dan 2 varietas lada pembanding, menggunakan Rancangan Acak Kelompok, ditanam dengan tiga ulangan. Masing–masing plot terdiri dari 9 tanaman dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m, plot berukuran 2,5 m x 22,5 m. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan tahun 2003, (2) Di Lampung Timur seleksi sebanyak 20 nomor lada hibrida dan 2 varietas lada pembanding, menggunakan Rancangan Acak Kelompok, ditanam dengan tiga ulangan. Masing–masing plot terdiri dari 9 tanaman dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 m, plot berukuran          2,5 m x 22,5 m. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan tahun 2004. Hasil seleksi di KP Cahaya negeri, sampai umur 25 bulan ada   8 nomor lada hibrida yang belum terserang  penyakit BPB yaitu LH 8 – 4; LH 13 – 6; LH 14 – 10; LH 20 – 4; LH 20 – 7; LH N2 x BK (1), LH 56 – 70; LH 67 – 1; dan LH 44 – 9. Hasil seleksi di Lampung Timur sampai umur 13 bulan ada 11 nomor lada hibrida yang belum terserang penyakit BPB yaitu LH 36 – 37; LH 35 – 22; LH 36 – 38; LH 37 – 17;     LH 36 – 1; LH 20 – 4 (1); LH 37 – 18; LH 4 – 4; LH 36 – 41; LH 35 – 32; dan LH 24 – 1 (1).

 

Kata kunci: Piper nigrum L., seleksi, lada hibrida, penyakit BPB

 

ABSTRACT

 

Selection of some hybrids pepper for resistance to foot rot disease. The expriment was conducted in Cahaya Negeri Experiment farm, ISMECRI (Indonesian Spices and Medicinal Crops Research Institute) in North Lampung and East Lampung from January to December 2005. The experiment consist of two activities i.e. (1). Selection of some hybrids pepper for resistance to foot rot desease in Cahaya Negeri Experiment Farm. Selection of 20 hybrids pepper and  2 varieties as check, using by Randomize Block Design (RBD), plot size 2,5 x 22,5 m, consist of 9 plant, plant distance 2,5 x 2,5 m, with 3 replication. This experiment represent research of continuation from year 2003. (2) Selection of some hybrids pepper for resistance to foot rot disease in East Lampung. Selection of 20 hybrids pepper and  2 varieties as check, were arranged in Randomize Block Design (RBD), plot size 2,5 x 22,5 m, consist of 9 plant, plant distance  2,5 x 2,5 m, with 3 replication. This experiment represent research of ontinuation from year 2004. Result showed in Cahaya Negeri Experiment Farm until 25 months old plant there is 8 hybrids pepper promising no attack of foot rot disease, i.e. LH 8 – 4; LH 13 – 6; LH 14 – 10; LH 20 – 4; LH 20 – 7; LH N2 x BK (1)/LH 56 – 70; LH 67 – 1; and LH 44 – 9. In North Lampung with 13 months plant age there are 11 hybrids pepper no attack of foot rot disease, i.e. LH 36 – 37; LH 35 – 22; LH 36 – 38; LH 37 – 17; LH 36 – 1; LH 20 – 4 (1); LH 37 – 18; LH 4 – 4; LH 36 – 41; LH 35 – 32; and LH 24 – 1 (1).

 

Key Words: Piper nigrum L., selection, hybrids pepper, foot rot disease

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HIBRIDISASI DAN SELEKSI LADA HASIL PERSILANGAN

 

Rudi T. Setiyono, Dyah M, Budi M, Nova Natalia, Ermiati,

Nursalam dan Jajat Darajat

 

ABSTRAK

 

Hibridisasi dan seleksi lada dilaksanakan di Kamar Kaca, Balittro, Bogor pada bulan Januari sampai Desember 2005. Hibridisasi antara lada budidaya dengan lada liar. Varietas LDL, LDK, Natar1, Natar 2, dan Petaling 2 sebagai tetua betina disilangkan dengan P collubrinum, P hirsutum dan Piper spp. sebagai tetua jantan. Seleksi tingkat ketahanan lada hibrida hasil persilangan baru terhadap penyakit    BPB di rumah kaca. Sebayak 20 nomor lada hibrida diseleksi menggunakan metode seleksi in vitro melalui pangkal akar yaitu dengan menyiramkan 50 ml suspensi zoospore pathogen P. capsici pada tiap tanaman dengan konsentrasi 6 x 107 / ml. Disekeliling media tanam dikorek sampai pangkal akar terlihat, kemudian disiram dengan suspensi pathogen P. capsici pada pangkal akar dan ditutup kembali. Observasi dengan mencatat nomor lada hibrida yang mati mulai minggu pertama sampai minggu ke delapan setelah inokulasi. Konservasi nomor-nomor lada hibrida adalah mempertahankan nomor lada hibrida dengan cara memperbanyak dengan setek satu ruas yang disemaikan di bak-bak pasir, kemudian dipindahkan ke dalam polybag berukuran 15 x 20 cm. Sebanyak 300 nomor lada hibrida diperbanyak dengan cara setek satu ruas. Hasil penelitian telah di peroleh 10 kombinasi persilangan antara lada budidaya dengan lada liar masing-masing 4 biji F1 sampai 10 biji F1. Seleksi 20 nomor lada hibrida terhadap penyakit BPB di rumah kaca semua lada hibrida yang diseleksi peka terhadap penyakit BPB. Konservasi nomor lada telah dilakukan sebanyak 300 nomor.

 

Kata kunci:            Piper nigrum L., hibridisasi, seleksi, konservasi, penyakit BPB.

 

ABSTRACT

 

Number of hybrids pepper conservation conducted in green house, of ISMECRI, Bogor. Number of hybrids pepper conservation is to maintain hybrids pepper number of counted 300 number by multiply with stek one planted by in sand box, is later then carried over in plastic polybag size 15 x 20 xm. Selection of hybrids pepper for resistance to foot rot disease at green house, The selection used method selection in vitro, through upper root by 50 ml suspension pathogen Phytophthora capsici on each plant with consentrasion 6 x 10 7/ml. Plant’s  medium around upper root until we could see the root, then sprey pathogen P capsici on root and closed the medium again. Observation by recorded plant number of hybrid which had died since first week until eight weeks after inoculation. The result showed have been multiplied by until eight weeks after inoculation. The result showed have been multiplied by hybrids pepper counted 300 hybrids pepper number. Selection 20 hybrids of pepper number to foot rot disease at green house all hybrids of pepper attack to foot rot disease.

 

Key Words:           Piper nigrum L., Hibridisation, selection, foot rot disease, conservation.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UJI MULTILOKASI NOMOR-NOMOR LADA HIBRIDA TAHAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG

 

Yang Nuryani, Rudi T.S., D. Manohara, I. Mustika dan O. Trisilawati

 

ABSTRAK

 

Telah dilakukan uji multilokasi 10 nomor lada hibridisasi dan 2 varietas pembanding (P1, N1) di tiga lokasi yaitu Sukamulya (Jabar), Cahaya Negeri (Lampung) dan Bangka (Bangka-Belitung) dari bulan Januari 2005 sampai dengan Desember 2005. Penanaman telah dilakukan pada musim hujan (Nopember), sedangkan pengamatan dilakukan pada waktu tanaman berumur 1 bulan. Karakter yang diamati adalah: tinggi tanaman, jumlah daun panjang daun, lebar daun dan warna daun. Hasil pengamatan menunjukkan pertumbuhan terbaik adalah di Bangka, sedangkan nomor yang terbaik pertumbuhannya dilihat dari tinggi tanaman dan jumlah daun adalah LH 22-1. Nomor yang mempunyai daun dengan ukuran terkecil ditiga lokasi adalah     LH 63 – 5. Terdapat beberapa variasi pada warna daun pucuk yaitu ungu muda, kuning muda, kuning keunguan dan hijau muda. Karakter yang lain (jumlah cabang, panjang cabang dll) belum dapat diamati karena hanya pada sebagian kecil tanaman yang sudah bercabang.

 

Kata kunci : Lada hibrida, ketahanan terhadap BPB, uji multilokasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EVALUASI NOMOR-NOMOR LADA HIBRIDA TERHADAP Phytophthora capsici

 

Dono Wahyuno , Dyah Manohara, Rudi Tejo Setiyono, Sutrasman

 

ABSTRAK

 

Salah satu kendala dalam budidaya lada di Indonesia adalah serangan cendawan P. capsici yang menyebabkan penyakit busuk pangkal batang, yang menyebakan kematian tanaman secara cepat dan dalam waktu singkat dapat mencapai hamparan yang luas. Beberapa usaha pengendalian telah dikembangakan, antara lain: memanfaatkan agen hayati, teknik budidaya dan fungisida. Usaha untuk menyertakan aspek teknologi lainnya untuk menekan serangan penyakit BPB sedang dilakukan dengan menciptakan lada-lada hasil persilangan antara lada budidaya dengan lada-lada liar maupun lada lainnya. Kegiatan persilangan telah dilakukan beberapa tahun lalu, yang menghasilkan ratusan nomor-nomor lada hibrida. Dalam uji pendahuluan untuk mengevaluasi ketahanannya, beberapa yang menunjukkan hasil bagus. Tujuan penelitian ini menguji ketahanan lada  menggunakan beberapa metode dan menggunakan beberapa isolat P. capsici yang diperoleh dari berbagai lokasi pertanaman lada di Indonesia. Penelitian dimulai dengan mengamati virulensi   20 isolat P. capsici dengan cara menginokulasi pada lada LDL. Perbedaan virulensi dari isolate-isolat P. capsici tersebut kemudian dikelompokkan, untuk selanjutnya masing-masing dipilih satu isolate guna diinokulasikan pada 20 nomor lada hasil persilangan untuk mengetahui responnya terhadap beberapa tingkat virulensi P. capsici. Hasil pengujian menunjukkan dua puluh isolat P. capsici dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok berdasarkan virulensinya terhadap lada jenis LDL. Keempat isolat P. capsici tersebut kemudian digunakan untuk menguji ketahanan 20 nomor lada hasil persilangan. Hasil pengujian in vitro menggunakan miselia menunjukkan bahwa tidak semua isolat P. capsici dapat menyerang daun lada, dan keempat isolate tersebut menunjukkan tingkat virulensi yang relative sama dengan pengujian pada LDL. Dua isolat yang virulensinya tinggi yaitu, B 18 dan J2 dapat menginfeksi semua daun dari 20 nomor lada. Sedang isolate K2 dan K36 hanya dapat menginfeksi beberapa nomor lada. Secara umum, ada empat nomor lada hibrida yang tingkat kerusakannya lebih rendah dibanding nomor-nomor lainnya, baik pengujian di laboratorium maupun hasil pengujian di rumah kaca, yaitu N2-BK, 20 – 4, 37 – 16 dan 33 – 3. Hasil ploting dengan menggunakan kombinasi tiga isolat dihasilkan tiga nomor lainnya yang menunjukkan respon berbeda yaitu, 63-5, 33-3 dan 3-6. Sehingga pengamatan lebih lanjut pada nomor-nomor tersebut di atas perlu dilakukan.

 

Kata kunci: ketahanan, virulensi, lada hibrida, Phytophthora capsici

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IDENTIFIKASI SIFAT TAHAN TANAMAN LADA TERHADAP PENYAKIT BPB DENGAN MARKA RGA

 

Sri Koerniati, Rudi T. Setiyono, Dwinita W Utami, Dyah Manohara, Masdiar Bustaman, Made Tasma dan Reflinur

 

ABSTRAK

 

Metoda seleksi bahan tanaman lada (Piper nigrum L) yang tahan penyakit busuk pangkal batang (BPB), secara cepat sangat diperlukan untuk pemuliaannya. Pengembangan marka genetik RGA (Resistance gene analog) yang berbasis PCR telah dilakukan. Bagian dari gen sifat tahan pada tanaman Arabidopsis thaliana yang memiliki motif conserved baik struktur maupun sekuen asam aminonya, telah dijadikan dasar dalam mendisain primer untuk Nucleotide Binding Site (NBS) P-loop, kinase2, GLPL dan MDHV, dan Leucine-rich repeat (LRR). Dari kegiatan penelitian ini telah diperoleh protokol untuk mengisolasi DNA dan PCR untuk mengamplifikasi fragmen RGA pada tanaman lada. Dua belas pasang primer RGA telah didisain dan dipergunakan untuk mengamplifikasi fragmen RGA (motif NBS dan LRR) pada lada. Hasil menunjukan bahwa RGA tanaman lada dikelompokan pada grupToll/Interleukin-1 Receptor homology (TNL). Sifat tahan terhadap BPB timbul ketika fragmen-fragmen RGA (NBS MDHV yang diamplifikasi dengan primer RGA8 dan LRR yang diamplifikasi dengan primer RGA7) dari kedua tetua berada pada tanaman yang sama, dan fenomena ini ditunjukkan oleh tanaman F1 24 – 2, 13 – 6 dan N2BK-1. Tanaman F1 24 – 2, F1 13-6 dan tetua betina (Lampung Daun Lebar/LDL) memiliki 2 fragmen LRR, sedangkan tetua jantan (Piper hirsutum) memiliki pola fragmen yang berbeda. Demikian pula halnya dengan fragmen MDHV, Piper hirsutum memiliki 1 fragmen spesifik yang berbeda dibandingkan dengan ketiga tanaman lainnya. Fenomena lebih jelas ditunjukan oleh tanaman F1 N2BK-1, dimana tanaman ini memiliki 2 fragmen LRR, yang tebal dan tidak tebal, yang berasal dari kedua tetuanya Natar 2 (memiliki 2 fragmen LRR yang tebal) dan Besar Kota Bumi (memiliki    2 fragmen LRR yang kurang tebal).Berdasarkan hasil tersebut, primer RGA7 dan RGA8 bisa dijadikan kandidat primer RGA untuk penelitian selanjutnya. Penelitian penurunan sifat tahan terhadap penyakit BPB pada tanaman lada harus dilakukan pada tanaman F2.

 

Kata kunci: Piper nigrum L, Resistance gene analog, marka genetik

 

ABSTRACT

 

A quick method for selecting plant material of the black pepper (Piper nigrum L) that resistant to the foot-rot disease is extremely needed for its plant breeding. Development RGA (Resistance gene analog) genetic marker based on PCR was conducted. Trait of resistant gene in Arabidopsis thaliana with conserved motif for both structural and its amino acid sequence has been used for Nucleotide Binding Site (NBS) P-loop, kinase2, GLPL and MDHV, and Leucine-rich repeat (LRR) primer basic designed. From this research activities were obtained protocols for DNA isolation and PCR to amplifying   RGA of the black pepper. Twelve pair of RGA primers was designed and applied to amplifying of RGA fragment (NBS and LRR motifs). Results indicated that RGA of the black pepper is grouped into  a Toll/Interleukin-1 Receptor homology (TNL) section. Resistant trait  to foot-rot appeared when RGA fragments (NBS MDHV amplified by primer RGA8 and LRR amplified by primer RGA7) from both parents exist in one plant, and this phenomenon was shown by F1 24 – 2, 13 – 6 and N2BK-1. F1 24 – 2, F1 13-6 and female parent (Lampung Daun Lebar/LDL) had 2 fragments of LRR, while male parent Piper hirsutum had a different pattern of fragment. Similar for MDHV fragment, Piper hirsutum had one specific fragment which was different than the other 3 plants. The phenomenon was clearer shown by F1 N2BK-1 plant, which has 2 LRR, fragments originally from both parents Natar2 (has 2 thick LRR fragments) and Besar Kota Bumi (has 2 thin LRR fragments). Based on results, RGA7 and RGA8 primers were decided to be RGA primer candidates for future research. Research on inheritance of resistant trait to the foot-rot on the black pepper must be carried out on F2 plants.

 

Keywords: Piper nigrum L, Resistance gene analog, genetic marker.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

INDUKSI KETAHANAN LADA TERHADAP BPB DENGAN MIKROBA NON PATOGENIK

 

Rita Noveriza, Dyah Manohara, Dono Wahyuno, Sutrasman, Nuri Karyani dan Zulhisnain

 

ABSTRAK

 

Telah dilakukan penelitian induksi ketahanan lada terhadap BPB dengan mikroba non patogenik di laboratorium dan rumah kaca Balittro-Bogor dari bulan Januari-Desember 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah dikoleksi dan diidentifikasi mikroba non patogenik asal rizosfer lada dari Bangka, Lampung dan Sukamulya sebanyak 120 isolat, yang terdiri dari Fusarium 100 isolat dan Pythium 20 isolat. Ada 6 isolat berpotensi sebagai penginduksi ketahanan lada, dengan penghambatan pertumbuhan di daun lada > 13% dan dapat menurunkan daya patogenesitas patogen P. capsici sebesar > 16%. Keenam isolat tersebut diidentifikasi sebagai Fusarium sp yang terdiri dari 5 isolat asal Bangka, dan 1 isolat asal Lampung. Tanaman lada yang diinduksi dengan FoNP (asal tanaman panili), Trichoderma dan Bacillus dapat menurunkan tingkat serangan penyakit BPB sebesar  30 – 50%, dibandingkan tanaman tanpa perlakuan induksi. Disamping itu juga dapat menurunkan populasi P. capsici pada tanah steril sebesar 2-2,9 x 103 cfu/g tanah dan pada tanah tidak steril sebesar 0.37 x 102 cfu/g tanah, dibandingkan tanaman tanpa perlakuan induksi. FoNP masih dapat mengkolonisasi jaringan batang bibit lada sampai bibit berumur ± 4 bulan. Hal ini sangat efektif untuk diaplikasikan pada pembibitan lada, karena telah banyak dilaporkan bahwa P. capsici merupakan patogen yang juga dapat menyerang pembibitan dan sulit dikendalikan jika telah memasuki jaringan batang tanaman.

 

Kata kunci:            Induksi ketahanan, lada, Phytophthora capsici, Fusarium oxysporum Non Patogenik, Pythium, Trichoderma, Bacillus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TANGGAP NOMOR-NOMOR LADA HIBRIDA TAHAN BPB TERHADAP PEMUPUKAN INORGANIK

 

Hermanto, Nur Maslahah, Gusmaini, Hera N

 

ABSTRAK

 

Penelitian dilakukan di Instalasi Penelitian Cahaya Negeri, Lampung, sejak Januari sampai dengan Desember 2005. Tujuan kegiatan adalah untuk mendapatkan konsentrasi unsur hara mikro   (Fe, Cu, Zn, B) dan interval penyemprotan pada tanaman lada muda (di rumah atap) dan tanaman produktif (di lapangan). Rancangan  yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok pola faktorial,     24 perlakuan, 2 ulangan, 9 tan./perlakuan. Faktor I adalah 4 nomor hibrida tahan BPB, yaitu a) L1, b) L2, c) L3, dan d) L4, faktor II adalah pemupukan yaitu 1) 1800 g/tanaman/tahun, 2) 2000 g/tanaman/tahun, 3) 2400 g, 4) 1800 g + unsur hara mikro (28 gram), 5) 2000 g + u.h. mikro, 6) 2400 g NPKMg (12 : 12 : 24 : 2) + 28 g u.h. mikro/tan./th. Hasil kegiatan menunjukkan ke-empat nomor lada hibrida tahan penyakit busuk pangkal batang pertumbuhannya beragam, urutan pertumbuhan tanaman mulai yang terbaik adalah nomor L2, menyusul L3, L1 dan L4. Ke empat nomor lada yang diuji menunjukkan sifat-sifat pertumbuhan tanaman seperti yang berasal dari sulur gantung atau sulur cacing.

 

Kata kunci : lada hibrida,nomor, pupuk makro, pupuk mikro.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERBAIKAN TEKNIK PENYAMBUNGAN LADA POTENSI PRODUKSI TINGGI DENGAN LADA TAHAN PENYAKIT

 

O. Trisilawati, E. Djauhariya, Hera N, Samsudin, M. Djazuli, Jaenudin, Kuswadi

 

ABSTRAK

 

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi iklim mikro (suhu, kelembaban, intensitas cahaya) dan zat pengatur tumbuh serta konsentrasi antioksidan untuk produksi kalus optimal dan komponen teknik  penyambungan di rumah kaca pada lada Piper colubrinum dan LDL (Lampung Daun Lebar). Penelitian terdiri dari 3 kegiatan, yaitu:   1. Pengaruh iklim mikro dan ZPT terhadap pembentukan kalus, perlakuan meliputi kondisi iklim mikro sebagai petak utama terdiri dari: a) di dalam sungkup (55% intensitas cahaya, RH>75%, suhu  27 – 32°C), b) di dalam sungkup (75% intensitas cahaya, RH<75%, suhu 27 – 36°C), dan c) diluar sungkup (>75% intensitas cahaya, RH<75%, suhu 27 – 36°C); jenis dan dosis ZPT(Anak petak) yaitu   0, 0,05%, 0,1%, 0,15%, 0,2% sitokinin, serta 25% dan 50% air kelapa, diulang 3 kali; 2. Pengaruh jenis dan konsentrasi antioksidan terhadap pembentukan kalus bibit lada, menggunakan rancangan acak lengkap, perlakuan meliputi penggunaan asam tartrat dan asam sitrat yaitu: 0,50,100,150, 200 ppm asam tartrat dan 50,100,150 dan 200 ppm asam sitrat, diulang 3 kali; 3. Pengaruh tempat (site) dan metode penyambungan terhadap mutu sambungan lada, menggunakan rancangan acak lengkap, perlakuan terdiri dari a) tempat penyambungan, yaitu sambung di tengah ruas dan pada bidang interkalari, b) metode penyambungan, yaitu metode celah (cleft graft), veneer graft, dan abut graft, diulang 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1. Waktu penyambungan yang baik sekitar pk.09.30 s/d 14.00, 2. Kondisi iklim mikro dengan menggunakan paranet 75% (intensitas cahaya matahari masuk 75%) dan pengolesan 25% air kelapa pada bidang potong batang dapat mengoptimalkan pembentukan kalus pada luka, 3. Penggunaan antioksidan 50 ppm asam tartrat dapat mempertahankan kalus yang terbentuk, 4. metode celah pada bagian interkalari menghasilkan persentase tunas tertinggi.

 

Kata kunci :           Piper colubrinum, LDL, penyambungan, iklim mikro, antioksidan, metode dan tempat penyambungan

 

ABSTRACT

 

The aim of the research was to find the micro climate condition (temperature, air humidity, light intencity), growth hormone and antioxidant concentration for optimal callus formation, and also grafted pepper method component in the green house between Piper colubrinum and LDL (Lampung Daun Lebar).  Research was divided into 3 activities. 1. Effect of micro climate and growth hormone for callus formation, micro climate condition as a main plot consisted of:  a) at 55% light intencity, AH>75%, temperature was 27 – 32°C), b) at 75% light intencity, AH<75%, temperature was 27 – 36°C), dan c) at >75% light intencity, AH<75%, temperature was 27 – 36°C; Sub plot was kind and dose of growth hormone: 0, 0,05%, 0,1%, 0,15%, 0,2% cytokinin, 25% and 50% coconut water, with 3 replications. 2. Effect of kind and consentration of antioxidan for callus formation, using Completelly Randomized Design, consisted of: 0,50,100,150, 200 ppm of titric acid and 50,100,150 and 200 ppm of cytric acid, replicated 3 times. 3. Effect of site and grafted method to quality of grafted pepper, using Completelly Randomized Design, 2 factors : 1. site graft, consisted of a) at the middle of stem, and b). at intercalary, 2) grafted method: cleft, veneer, and abut, 5 replications. Result showed that based on the optimal formation of carbohydrate the optimal timing for grafting was at 9.30 am to 2.00 pm.). At 75% light intencity, AH<75%, temperature 27 – 36°C combined with application of 25% coconut water on the cut site resulted optimum callus formation. Aplication of 50 ppm titric acid supported callus condition. Cleft method at intercalary had highest bud formation percentage.

 

Keywords: Piper colubrinum,  LDL, grafting, micro climate, antioxidan, method, site

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OPTIMALISASI DETEKSI VIRUS PENYAKIT KERDIL

 

Supriadi, Sukamto, Sri Yuni Hartati, Rodiah Balfas, Nuri Karyani, Gede Swastika, dan Yoyo Sulyo

 

RINGKASAN

 

Penyakit kerdil pada tanaman lada (Piper nigrum) tersebar hampir di semua sentra produksi lada di Indonesia. Dua jenis virus, yaitu CMV (cucumber mosaic virus) dan PYMV (piper yellow motle virus), telah diketahui berasosiasi sebagai penyebab penyakit kerdil. PYMV ditularkan oleh kutu putih, Planococcus sp. dan Ferrisia virgata, sedangkan CMV ditularkan secara mekanik, dan kemungkinan juga oleh vektor Aphis gossypii. Tujuan penelitian adalah mendapatkan teknik deteksi virus. Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Hama dan Penyakit Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Kegiatan deteksi virus dilakukan melalui teknik serologi dan PCR. Penularan penyakit kerdil secara mekanik dilakukan pada tanaman lada, Nicotiana bentamiana. dan tembakau. Hasil kegiatan penelitian pertama menunjukkan bahwa gejala mosaik yang berasosiasi dengan infeksi virus pada tanaman lada dapat ditularkan secara mekanik  pada tanaman tembakau. Ekstrak daun dari tanaman lada dan  N. bentamiana hasil penularan dengan virus bereaksi positif secara serologi terhadap antiserum CMV (asal cabai) dengan teknik ELISA dan tissue printing. PYMV dapat dideteksi dengan teknik PRC menggunakan pasangan primer Badna-T (5’-CAC CCC CGG GCC AAA GCT CTG ATA CCA-3’) dan SCBVR1 (5’-CTC CTT CAT CTC CTC AAG AAG-3’). Hasil-hasil penelitian mengindikasikan bahwa pemeriksaan kesehatan bibit lada terhadap virus penyakit kerdil telah dapat dimungkinkan menggunakan teknik serologi untuk CMV dan teknik PCR untuk PYMV.

 

Kata kunci: Lada, virus, penyakit kerdil, teknik deteksi

 

 

SUMMARY

 

Stunted disease has been spreaded to almost all pepper plantations through out Indonesia. Two types of viruses are found in diseased plant i.e. CMV (cucumber mosaic virus) and PYMV (piper yellow mottle virus). PYMV is transmitted by insect vector namely Planococcus sp. and Ferrisia virgata, whereas CMv is transmitted mechanically, and possibly by vector transmitted Aphis gossypii.     This study was aimed to find method for detecting the viruses. This study was conducted in laboratory and green house of the Indonesian Spices and Medicinal Research Institute in collaboration with Bogor Agricultural University. Detection method of viruses were using serology and Polymerase chanin reaction (PCR), Mechanical transmission was also carried out to indicator plants (tobacco and chenopodium) as well as to black pepper seedlings. The result CMV was transmitted mechanical from black pepper showing mosaic to healthy Nicotiana benthamiana plants. The leaf extract of black pepper and N. benthamiana plants showing mosaic symptoms in Enzyme-Linked Immuno Assay (ELISA) and tissue printing methods reacted positively with polyclonal antisera of cucumber mosaic cucumovirus (CMV)-pepper from Indonesia. PYMV DNA was amplified from black pepper plant showing chlorotic or mosaic symptoms by the primer pair Badna-T (5’-CAC CCC CGG GCC AAA GCT CTG ATA CCA-3’) and SCBVR1 (5’-CTC CTT CAT CTC CTC AAG AAG-3’). Durability of the detection methods need to be tested by using different disease symptoms associated with stunted virus. This study implies that it is possible to detect CMV and PYMV by using methods developed, i.e. serology for CMV and PCR for PYMV, which means that checking healthy black pepper plant propagation need to be implemented before they are distributed to farmers.

 

Keywords: Black pepper, stunted disease, detection technique, virus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OPTIMALISASI TEKNIK PENULARAN PENYAKIT KERDIL PADA TANAMAN LADA

 

Rodiah Balfas, Samsudin, Sukamto, Funny Soesanthy

 

ABSTRAK

 

Penyakit kerdil (keriting) merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman lada. Penyakit tersebut disebabkan oleh Piper Yellow Mottle Virus (PYMV) dan Cucumo Mosaic Virus (CMV) Planococcus minor dan Ferrisia virgata telah terbukti sebagai vektor penyakit kerdil di Indonesia, sedangkan Aphis gossypii pernah dilaporkan dapat menularkan penyakit kerdil namun penelitian peranan serangga ini masih sangat sedikit. Penelitian penularan penyakit kerdil telah dilakukan untuk mendapatkan cara penularan penyakit kerdil yang optimal oleh kutu putih dan mengetahui kemampuan A. gossypii dalam menularkan penyakit kerdil. Penelitian penyakit kerdil dilakukan dengan menggunakan tiga jenis serangga, yaitu P. minor, F. virgata dan A. gossypii, masing-masing menggunakan 1, 3, 7 dan 10 ekor serangga per tanaman serta kombinasi dua jenis serangga tersebut. Penularan penyakit kerdil secara mekanik dilakukan pada tanaman lada, chenopodium dan tembakau. Uji deteksi dilakukan pada tanaman uji untuk memastikan adanya virus yang tertular. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa penularan dengan P. minor dan F. virgata memberikan tanaman tertular hingga 100%. Penularan dengan   A. gossypii tidak menimbukan gejala pada tanaman lada. Penularan CMV secara mekanik menimbulkan gejala pada beberapa tanaman lada dan setelah dilakukan uji deteksi menunjukkan hasil yang    positif. Hasil penularan kombinasi kedua serangga menunjukkan bahwa kombinasi P. minor dan F. virgata memberikan hasil penularan tertinggi daripada penularan kombinasi antara A. gossypii dan             P. minor; F. virgata dan A. gossypii. Dari penelitian ini terungkap kutu putih dapat menularkan penyakit kerdil pada tanaman lada secara optimal.

 

Kata kunci:            lada, penyakit kerdil, Ferrisia virgata, Planococcus minor, Aphis gossypii, CMV dan PYMV

 

 

ABSTRACT

 

Stunted growth disease is one of important disease on black pepper. The disease  was caused by Piper Yellow Mottle Virus (PYMV) and Cucumo Mosaic Virus (CMV). Mealybugs, Planococcus minor and Ferrisia virgata, have been previously prooved as vectors of PYMV in Indonesia. Aphis gossypii was reported as vector of the disease, however, its transmssion research on this insect was still limited. Experiments were conducted at laboratory and green house to find out optimal transmission method by mealybugs and to examine the ability of A. gossypii in trasmitting the disease. The experiments  used three insect species, A. gossypii, P. minor, F. virgata, which were collected from black pepper plants and then reared at laboratory and green house.  Each insect was fed on diseased black pepper plant, then transferred to healthy black pepper seedlings. Each plant was treated with 1, 3, 7 and 10 insects. Mechanical transmission was also carried out to indicator plants (tobacco and chenopodium) as well as to black pepper seedlings. Transmission experiment was also conducted using two combination of the insect. Detection of virus was carried out from treated plants for comfirmation. The results showed that high transmission rate were obtained in transmission by P. minor and  F. virgata (up to 100%). However, no symptoms was shown in black pepper seedlings at transmission with A. gossypii. Disease symptoms were seen at black pepper inoculated mechanically. The disease samples have been examined by ELISA and they were positive for CMV.Transmission with two species of insect gave lower rate of transmission compared to single species. These experiments have given an optimal rate of stunted disease transmission by mealybugs.

 

Keywords:            black pepper, stunted growth disease, Ferrisia virgata, Planococcus  minor, A. gossypii, CMV, PYMV

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UJI MULTILOKASI 4 KLON HARAPAN PANILI PRODUKSI TINGGI

 

Endang Hadipoentyanti, Laba Udarno, I Nyoman Sumawa, I Nyoman Sandiyasa, Tjeppy dan Yuyu

 

RINGKASAN

 

Tanaman panili (Vanilla planifolia, Andrews) merupakan salah satu komoditas ekspor yang berpotensi besar untuk dikembangkan. Volume ekspor panili tahun 2003 sebesar 6.636.127 ton dengan nilai ekspor US $ 19.275.235. Volume dan nilai ekspor naik bila dibanding tahun sebelumnya. Untuk mempertahankan posisi Indonesia sebagai penghasil panili, diperlukan upaya untuk meningkatkan keunggulan kompetitif termasuk meningkatkan produksi. Walaupun panili sudah banyak dibudidayakan di Indonesia, namun sampai saat ini belum ada varietas atau klon panili yang dilepas. Hasil evaluasi plasma nutfah, ada 4 klon harapan panili berproduksi tinggi yang perlu diuji multilokasi untuk mendapatkan varietas unggul spesifik lokasi maupun nasional. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakter pertumbuhan dari 4 klon harapan panili dan 1 kultivar lokal di 3 lokasi yaitu Serang, Banten (umur 4.2 tahun), Negara, Bali (umur 3.2 tahun) dan Sumedang-Jabar (umur 2.2 tahun). Bahan yang digunakan adalah 4 klon harapan panili yaitu klon 1, klon 2, klon 3 dan klon 4 serta 1 kultivar lokal. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang  6 kali. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman atau panjang sulur; diameter batang; panjang, lebar dan tebal daun; panjang ruas, panjang dan daya lekat akar. Hasil menunjukkan untuk di Serang-Banten klon 1 lebih baik pertumbuhannya dibanding klon lainnya. Panjang sulur 5 kali putaran, panjang dan lebar daun adalah 7. 80    dan 6.79 cm lebih tinggi dari klon lain maupun klon lokal begitu  pula panjang ruasnya mencapai 6.98 cm dan tebal daun 1.90 mm.     Di Negara-Bali klon 1 dan 4 pertumbuhannya lebih baik dari klon lainnya dengan panjang sulur mencapai 5 kali putaran, diameter batang 1.20 dan 1.25 mm, panjang dan lebar daun 17.53 dan 7 cm, tebal daun 2.32 mm berbeda dengan klon 2, 3 dan 4 sedang lokal 2.00 mm. Untuk di Sumedang bibit ditanam ke lapang bulan Nopember 2002 sehingga saat ini telah berumur 2.4 tahun. Tinggi tanaman berkisar 1.5 – 3 putaran, panjang dan lebar daun masing-masing berkisar 14.25 – 15.58 cm dan 4.90-5.58 cm. Di Serang terjadi pencurian dan pengrusakan tanaman (70 – 80%), sehingga data tidak dapat lagi digunakan untuk uji statistik, sedang di lokasi Sumedang tanaman tidak seragam dan ada serangan penyakit BBP 20 – 30%. Hasil evaluasi Tim Monev Puslibangbun menyarankan penelitian harus diulang lagi di 2 lokasi baru yang aman dengan menggunakan benih atau bibit yang seragam.

 

Kata kunci: Vanilla planifolia, klon harapan, uji multilokasi

 

ABSTRACT

 

Vanilla (Vanilla planifolia Andrews) is one of export commodities that is potential to be developed. Vanilla export value in 2003 was 6.363.127 ton or equal to US $ 19.275.235. The export volume is decreased significantly due to the low productivity and quality of the cultivated vanilla. To be exist as a main vanilla producing country, we need to develope new varieties having higher productivities. Up to now there is no new varieties of vanilla being released in Indonesia. Therefore, multilocation test of the promising vanilla clones is worthy to be implemented. Multilocation tests of 4 vanilla clones (clone 1 to 4) were conducted at 3 locations (i.e; Serang-Banten, Negara-Bali  and Sumedang-West Java). The research was conducted using a Radomized Block Design, with 6 replications. Parameters observed were plant height, stem diameter, leaf length, leaf width, and thickness, internode length, root length and root holding ability. Results at Serang-Banten, showed that clone 1 gave a better growth rate than other, with stem length of 5 times rolls, leaf length and leaf width of 17.80, and 6.98 cm, respectively, internode length of 6.98 cm and thickness of 1.90. At Negara-Bali, clone 1 and 4 showed a better growth rates than others with stem length of 5 times rolls, stem diameter of 1.20 and 1.25 mm respectively, leaf length and width of 17.53 and 7 cm respectively, leaf  thickness of 2.32 mm. The leaf thickmess is significantly different from clones 2, 3 and 4, while the leaf tickness of the local clone (from Negara-Bali) ws only 2.00 mm.  At Sumedang-West java, the plants were planted on November 2002, and now is 2.4 years old in the garden. The average of plant   height was 5 times rolls, lenglh and leaf width were 14.25 – 15.28 cm and 4.90-5.58 cm, respectively. At Serang, almost all plants ware lost, because the plants were stolen and destroyed (70 – 80%) by unresponsible people. Therefore the data a obtained from Serang cannot be used for analysis. At Sumedang the plants growth not uniform and appeared to bad attacked by stem rot disease  (about 20 – 30% disease). Evaluation result the Central Research and Development for Estate Crops Monitoring and Evaluation Team recommended the research location must be moved to 2 new locations, which is safer and using more uniform plant materials.

 

Key word: Vanilla planifolia, promising clone, multilocation test

 

 

 

PERBAIKAN TEKNOLOGI PENYEDIAAN BAHAN TANAMAN

 

Sukarman, Melati, Yulius Ferry, Sukamto, Emmyzar, Zaenal Mahmud

 

ABSTRAK

 

Salah satu permasalahan untuk pengembangan panili adalah kurang tersedianya benih dari varietas unggul dan kurang seragamnya pertumbuhan panili di lapangan. Untuk itu penelitian perbaikan teknologi perbanyakan panili dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan teknologi perbanyakan vegetatif, sebagai landasan penetapan standar operasional prosedure (SOP) perbanyakan benih panili. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan (KP) Natar, BPTP Lampung  dan K.P. Sukamulia, dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) dari bulan Januari sampai Desember 2005. Percobaan faktorial dengan 2 faktor, 3 ulangan, disusun dalam rancangan petak terbagi (RPT). Petak utama adalah  2 umur fisiologis sulur, yaitu: (1) 12 dan (2) 6 bulan setelah pemangkasan. Anak petak adalah 10 perlakuan dari kombinasi 2 klon dan 5 posisi ruas yaitu; 1).klon 1 + setek dari ruas 1, 2).klon 1 + setek dari ruas kedua, 3). klon 1 + setek dari ruas ketiga , 4) klon 1 + setek dari  ke empat dan 5).klon 1 + setek dari ruas ke lima, 6).klon 2 + setek dari ruas 1, 7).klon 2 + setek dari ruas kedua, 8). klon 2 + setek dari ruas ketiga , 9). klon 2 + setek dari ke empat dan 10).klon 2 + setek dari ruas ke lima. Posisi ruas dihitung dari bagian atas sulur, setelah   2 ruas dari pucuk tidak digunakan (dibuang). Variabel yang diamati meliputi persentase benih yang tumbuh, waktu munculnya tunas, pertumbuhan tunas. Untuk kegiatan lapang, variable yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah ruas dan tingkat keseragaman tumbuh). Pada tahun 2005 kegiatan yang  dilakukan adalah pemangkasan sulur di kebun induk K.P. Natar untuk menghasilkan umur fisiologis sulur 12 dan 6 bulan setelah pemangkasan dan persiapan lahan di lapang di KP Sukamulia. Variabel yang diamati adalah pertumbuhan sulur (persentase sulur yang bertunas, jumlah ruas, dan panjang sulur) pada tanaman induk yang dipangkas yang dilakukan setiap bulan sejak 1 bulan setelah pemangkasan. Hasil sementara menunjukkan bahwa sampai akhir Desember 2005, sulur yang akan digunakan sebagai sulur berumur fisiologis 12 bulan, dan 6 bulan, masing-masing baru berumur 8 dan    2 bulan. Sulur berumur fisiologis 8 bulan mempunyai persentase tumbuh 86,0 – 92,0%, dengan panjang sulur 225,5- 245,6 cm dan jumlah ruas 32,3 – 35,0. Sulur berumur fisiologis 2 bulan mempunyai persentase tumbuh 80,33 – 88,67%, panjang sulur 48,86 – 50,69 cm dan jumlah ruas 6,53 – 7,79. Klon 1, mempunyai persentase tumbuh yang lebih tinggi dibandingkan Klon 2, tetapi panjang sulur dan jumlah rusnya lebih rendah dibandingkan Klon 2.

 

Kata kunci:            Vanilla planifolia, perbaikan teknologi, perbanyakan vegetatif

 

ABSTRACT

One constraint in developing of vanilla is inadequate seed from high yielding variety and uniformity of vanilla growth in the field. Therefore, an experiment in improving technology for plant propagation has been conducted with special aim to find out technology for vegetative propagation as basic for determined standard operational procedure (SOP) vegetative propagation. The experiment has been conducted both in green house and field at Natar (Lampung), Bogor and Sukamulia agricultural experiment.  Plant material will be taken from vanilla mother plants at Natar (Lampung). The activities is started by nursery in green house, and then continued by field experiment.  Factorial experiment with 2 factors and 3 replications arranged in split-plot design. The main plot is 2 different kinds of age physiology bud, i.e., (1) 6 months and (2) 12 months after cutting theirs main stem, while the sub-plots are combination of 2 clones and 5 internodes position. There are: (1) clone 1 + 1st internodes, (2) clone 1 + 2nd  internodes, (3) clone 1 + 3rd internodes , (4) clone 1 + 4th internodes, (5) clone 1 + 5th internodes, (6) clone 2 + 1st internodes, (7) clone  2 + 2nd internodes, (8) clone 2 + 3rd internodes, (9) clone 2 + 4th internodes, (10) clone 2 + 5th internodes. Cutting of vanilla from different treatments are planted in nursery, then after 3 – 4 months later will be planted in Sukamulia agricultural experiment. Observed variables are budding periods, growth of bud (number of leaf and length of bud). In 2005, the activity was focused on topping of vanilla plants in order to produce 2 different physiological ages of new bud    (6 and 12 months after topping) from mother plant garden in Natar experiment garden. Land preparation and planting of the live supports (Glirisidia) in Sukamulia experiment garden was also conducted. Variables were observed percentage of budding, number of internodes and length of new budding. The results of experiment indicated that growth of the buds with 8 months from 86.0 to 92.0%, the length from 225.5 to 245.6 cm and internodes number ranged from 32.3 – 35.0. Bud with 2 months old had growth percentage 80.33 – 88.67%, length of bud 48.86 – 50.69 cm and number of internodes 6.53 – 7.79. Clone 1 had the higher of growth percentage than clone 2, however, length of bud and number of internodes were lower than those of clone 2.

 

Key words:           Vanilla planifolia, improvement technology, vegetative propagation


TANGGAP DUA KLON HARAPAN PANILI TERHADAP  PEMUPUKAN ORGANIK

 

Agus Ruhnayat dan M. Djazuli

 

ABSTRAK

 

Penelitian dilakukan di KP. Sukamulya, Sukabumi mulai bulan Januari–Desember 2005. Pohon panjat yang digunakan adalah glirisidia dan bibit panili yang dipakai adalah Klon 1 dan Klon  2. Bibit panili yang digunakan berumur ± 5 bulan dan telah diinduksi dengan Fusarium oxysporum non patogenik (Panili Bio-FOB). Tujuan penelitian adalah memperoleh jenis pupuk organik alternatif dan dosis biodekomposer Bio-TRIBA yang tepat untuk mendukung pelepasan varietas panili. Rancangan penelitian yang digunakan adalah  Petak Terbagi (Split Plot) diulang 3 kali, sebagai petak utama adalah  2 klon harapan panili (Klon 1 dan Klon 2) dan sebagai anak petak adalah jenis pupuk organik (pupuk kandang 10 kg/pohon/tahun,  daun glirisidia kering 250 g/pohon/tahun dan serasah daun bambu  250 g/pohon/tahun) dan pemberian Bio-TRIBA (0, 5 dan 10 ml/lt air). Parameter yang diamati meliputi panjang dan diameter sulur,  jumlah, panjang dan lebar daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur tanaman 2 bulan  pemupukan organik belum berpengaruh nyata terhadap semua parameter yang diamati. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh pemberian pupuk kandang 10 kg/pohon ditambah dengan Bio-TRIBA 10 ml/pohon baik untuk Klon 1 maupun Klon 2 tapi tidak berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan pupuk organik alternatif (daun glirisidia dan  serasah daun bambu).

 

Kata kunci: panili, pupuk organik, klon

 

ABSTRACT

 

The experiment was performed from January – December 2005,  at  Sukamulya Experiment Garden, Sukabumi. Five months age of vanilla clone 1 and clone 2 were used as plant materials with Gliricidia sp. as living-post (stand). Vanilla seeds were treated by non pathogenic Fusarium oxysporum (Bio-FOB Vanilla). The objective of the experiment was to obtain alternative organic fertilizer and an appropriate dosage of Bio-TRIBA to support the release of superior variety of vanilla. Experiment was arranged in split-plot design with three replications. The main plots were two promising clones of vanilla  (clone 1 and clone 2) and the sub plots were kinds of organic fertilizers (10 kg/tree/year of manure, 250 g/tree/year of dried leaf of glyricidia, and 250 g/tree/year of dried bamboo leaf) and applications of Bio-TRIBA (0, 5 and 10 ml/l). The observed parameters were length and diameter of stem and numbers, length and width of leaf. The results showed that there were no significant effects of organic fertilizer applied to the observed parameters, at 2 months age. Treated plot with 10 kg manure/tree/year showed the best performance than the others, but statistically the treatment did not significantly different.

 

Keywords: Organic manure, vanilla, clone

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGARUH INTENSITAS NAUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KLON HARAPAN PANILI

 

Emmyzar, Yulius Ferry, Rosihan Rosman, Elna Karmawati dan Iim Rochmat

 

ABSTRAK

 

Penelitian pengaruh tingkat naungan terhadap pertumbuhan dan produksi klon harapan panili pada tahun 2005, baru dalam tahap penanaman di lapangan. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Sukamulia dengan ketinggian tempat 450 m dpl, klasifikasi iklim B1 menurut Oldeman dengan bulan basah selama 8 bulan, dan jenis tanahnya latosol.  Perlakuan yang dicobakan adalah dua klon panili dan tingkat naungan, dengan rancangan percobaan factorial dua factor. Faktor pertama: klon 1 dan 2, dan faktor kedua tingkat naungan 5 taraf, yaitu  75, 65, 55, 45 dan 35%. Setiap perlakuan diulang tiga kali, dengan  20 tanaman per plot. Luas lahan yang digunakan 1500 m2 (jarak tanam 1,5 x 1,75 m). Hasil penelitian menunjukkan koefisien keragaman dari bibit yang dipakai cukup rendah yaitu 15%, kecuali untuk panjang sulur dan diameter batang. Secara umum pada parameter panjang sulur, jumlah ruas, diameter batang dan jumlah daun, klon 1 menunjukkan performa yang lebih baik daripada klon 2, namun ini masih dalam tahap pertumbuhan awal. Hal yang sama juga terjadi pada karakter daun seperti, panjang, lebar dan tebal daun.  Kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan tahun anggaran 2005 adalah: bibit yang digunakan cukup seragam dan memenuhi syarat.  Untuk pengamatan lebih lanjut terhadap panjang sulur akan dilakukan pemangkasan awal pada jumlah daun ke 15 untuk mendorong laju pertumbuhan vegetatif lebih baik sehingga hasil pengamatan untuk melihat pengaruh naungan dapat lebih nyata. 

 

Kata kunci:            Vanilla planifolia, tingkat naungan, klon harapan, pertumbuhan

 

ABSTRACT

 

In 2005, a study of effect of various shade levels on vanilla growth just in the early stage by starting planting vanilla seedlings in the field. The research was conducted in Sukamulia experiment garden, Sukabumi, 450 m a.s.l., B1 climate according to Oldeman classification system and latosol soil type. Tested treatments were two vanilla clones and shade levels. The experiment was seted up in factorial experiment design with vanilla clone as a first factor and 5 shade levels, i.e. 75, 65, 55, 45 and 35% as second factor. Each plot consists of 20 seedlings, with planting space 1.5 x 1.75 m and each plot was repeated three times, thus total, 600 vanilla seedlings have been planting and observing during the experiment. The results show that coevisien of variance of the seedlings was around 15%, except those of bud length and stem diameter. In general, vanilla clone 1 show better performance than clone 2 in the parameters of bud length, stem diameter, nodes number and leaf number durring the observations. The same condition also noticed in other parameters, such as long, thickness and wide of leaves. However, at the present, the research just in starting point and further observations are needed. Up to present, one conclusion can be stated that the used seedlings are relatively uniform and fulfill requirement needed for the experiment. 

 

Keywords: Vanilla planifolia, clones, shade levels, growth

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERBAIKAN SIFAT KETAHANAN TERHADAP PENYAKIT BUSUK BATANG PANILI

 

Deliah Seswita, Endang Hadipoentyanti, Laba Udarno, Mesak Tombe, Dedi Surachman, Wawan Lukman,  Zulhisnain, Suryatna dan Wawan Darmawan

 

ABSTRAK

 

Masalah utama budidaya panili di Indonesia adalah penyakit busuk batang panili (BBP) yang disebabkan oleh jamur patogen Fusarium oxysporum f.sp. vanillae, yang menyebabkan turunnya produksi. Sampai saat ini belum ada panili varietas yang dilepas unggul dalam produksi maupun ketahanannya. Upaya untuk mengatasi masalah ketahanan penyakit tersebut telah dilakukan melalui perbaikan potensi genetik aksesi yang dimiliki dengan cara persilangan, radiasi dan induksi mutasi secara in vitro. Tujuannya adalah mendapatkan varietas (hibrida, mutan dan somaklon) yang toleran tahan terhadap penyakit BBP. Pada tahun 2005 target capaian adalah (1). mendapatkan 30 hibrida, 20 mutan dan 20 somaklon di laboratorium dan aklimatisasi planlet di rumah kaca, dan (2). tingkat ketahanan 15 hibrida dan 35 somaklon terhadap penyakit BBP  di rumah kaca. Perbaikan sifat ketahanan terhadap penyakit busuk batang panili dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca Kelti Plasma Nutfah dan Pemuliaan, Balittro Bogor. Bahan yang digunakan pada penelitian pertama adalah kultur tunas dari 30 hibrida, 20 mutan dan 20 somaklon, untuk perakaran menggunakan perlakuan tunggal media MS+NAA 0,3 mg/l dengan rancangan acak lengkap. Setelah berakar diaklimatisasi ke rumah kaca dengan media tanah, pasir, pupuk kandang (1:1:1). Untuk penelitian kedua, evaluasi ketahanan di Rumah Kaca dengan cara pengamatan individu. Bahan tanaman yang digunakan 15 hibrida dan 35 somaklon. Inokulasi dengan F. oxysporum strain F117 menggunakan metode Dipping. Parameter yang diamati yaitu tingkat ketahanan dengan metode skoring. Hasil menunjukkan pada tunas hibrida, mutan dan somaklon setelah diperakarkan ke media MS+NAA 0,3 mg/l, diperoleh 30 nomor hibrida, 20 nomor mutan, 20 nomor somaklon di rumah kaca. Dari evaluasi, seleksi dengan F. oxysporum f. sp. vanillae strain F117 di rumah kaca diperoleh 6 nomor panili tahan (1 nomor hibrida dan  5 nomor somaklon).

 

Kata kunci :           Vanilla planifolia, hibrida, mutan, somaklon, ketahanan, Fusarium oxysporum, penyakit busuk batang.

 

ABSTRACT

 

The main problem of vanilla cultivation in Indonesia is stem rot disease caused by Fusarium oxysporum f.sp. vanillae, the pathogen decreased vanilla yield (productivity). Up to present there is no variety of vanilla being released as a superior variety neither in yield nor resistance to stem root disease. For supporting to find of superior variety or resistance through vanilla genetic improvement, research activities such as selection of resistancy, hybridization, mutation (irradiation) and induced in vitro mutation. Were conducted General objectivity of research is creating vanilla varieties that resistant to stem rot disease. In 2005 the research activities were focused (1) to obtain plantlets that consist of 30 hybrids, 20 mutants and 20 soma clones at laboratory, and then acclimated at green house for further research;  (2) To evaluate the resistancy of 15 hybrids and 35 soma clones obtained from the previous research at green house condition.  The researches were conducted at Tissue Culture Laboratory and Green House of Plant Genetic Resources and Plant Breeding Division. At laboratory, plant materials used were 30 hybrids, 20 mutants and  20 soma clones. MS with NAA 0.3 mg/l media used for rooted, the experiment was arranged in completely randomized designed. When the plantlets were rooting, they were moved to green house for acclimatization by transplanting them in media with composition of soil, sand and manure (1:1:1). At green house, the resistancy of each tested plant materials was evaluated by observing individual vanilla stem of each treatment. Plant materials tested were 15 hybrids and 35 soma clones. The tested plant materials were inoculated by mean dipping the plants into conidial suspension of Fusarium oxysporum f.sp. vanillae strain F117 for 30 minutes, then the occurrence of necrotic tissue on tested plants were observed, and scored to determine resistance level of the tested hybrids or soma clones.  Result of the first experiment in the laboratory showed, 30 hybrids, 20 mutants and 20 soma clones were obtained after they were planted in MS + NAA 0.3 mg/l media for rooting, and then transplanted for acclimatization. At green house the second experiment showed, from evaluation of 15 hybrids and 35 soma clones for stem rot resistance at green house, 1 number of hybrids and 5 number of soma clones that resistant to stem rot disease, were obtained.

 

Key words :          Vanilla planifolia, hybrid, mutant, somaclone, resistance, Fusarium oxysporum, resistance, stem rot disease.

 

 

 

 

 

UJI KETAHANAN BBP DAN DAYA HASIL HIBRIDA, MUTAN DAN SOMAKLON

 

Endang Hadipoentyanti, Deliah Seswita, Laba Udarno, Mesak Tombe, Wawan Lukman, Suryatna dan Kusnadi

 

ABSTRAK

 

Masalah utama budidaya panili di Indonesia adalah penyakit busuk batang panili (BBP) yang disebabkan oleh jamur patogen Fusarium oxysporum f.sp. vanillae, yang menyebabkan turunnya produksi. Sampai saat ini belum ada panili yang dilepas sebagai varietas unggul dalam produksi maupun ketahanannya. Upaya untuk mengatasi masalah ketahanan penyakit tersebut telah dilakukan perbaikan potensi genetik yang dimiliki dengan cara persilangan, radiasi dan induksi mutasi secara in vitro. Untuk memecahkan masalah tersebut dilakukan penelitian yang dituangkan dalam kegiatan Uji ketahanan BBP dan daya hasil hibrida, mutan dan somaklon. Tujuan jangka panjang adalah mendapatkan varietas (hibrida, mutan dan somaklon) yang toleran-tahan terhadap penyakit BBP. Tujuan tahun 2005 adalah mendapatkan data pertumbuhan dan daya hasil serta persentase ketahanan 9 hibrida, 4 mutan dan 34 somaklon di lapang (Sumedang). Penelitian dilakukan di Sumedang menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan 9 nomor hibrida, 4 nomor mutan dan 34 nomor somaklon. Parameter yang diamati persentase ketahanan dan pertumbuhan tanaman. Hasil menunjukkan sampai umur 3 tahun di lapang, tanaman panili yang tahan yaitu yang tidak menunjukkan gejala serangan penyakit BBP pada panili hibrida 24,16%, panili mutan 40,80% dan panili somaklon 49,29%. Kandungan patogen pada tanah mencapai 2,73×103/g tanah. Pertumbuhan terbaik pada panili hibrida adalah PH 3, PH 1 dan PH 5. Panili mutan adalah PM 1 dan PM 4, sedangkan panili somaklon adalah PS 24 dan PS 11. Parameter pertumbuhan yang diamati sangat bervariasi.

 

Kata kunci:            Vanilla planifolia, hibrida, mutan, somaklon, Fusarium oxysporum, ketahanan, busuk batang.

 

 

ABSTRACT

 

The main problem of vanilla cultivation in Indonesia is stem rot disease caused by Fusarium oxysporum f.sp. vanilla, the pathogen cause decreased in yield (productivity). Up to now, there is no variety of vanilla being released as superior variety neither in yield or resistance to stem root disease. For supporting to get of superior variety or resistance through vanilla genetic improvement, a research activity has been conducted which including selection of resistancy, hybridization, mutation (irradiation) and induced in vitro mutation.    The objective of research was to obtain the vanilla variety resistant to stem rot disease. In 2005, the research activities were emphasized to evaluate the resistance of 9 hybrids, 4 mutants and 34 soma clones obtained from the previous research to stem rot disease, and evaluated their yield potency in the field condition. Field experiment conducted in Sumedang, West Java, and arranged in a randomized block designed with 9 numbers of hybrids, 4 numbers of mutants and 34 numbers of soma clones as treatment. The parameter observed were percentage of resistance and plant growth. The results showed, at field condition (Sumedang, the plants were 3 years old), the resistant percentage of hybrids (24.16%), mutants (40.80%) and soma clones (49.29%), while the pathogen population in soil 2.73×103 propagules/g soil. The hybrids PH 3, PH 1 and PH 5, the mutants PM 1 and PM 4, and the soma clones PS 24 and PS 11 showed a better growth than the others. The vegetative growth of observed tested vanillas in the field was varying.

 

Key words:           Vanilla planifolia, hybrid, mutant, soma clone, Fusarium oxysporum, resistance, stem rot disease.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DETEKSI KETAHANAN PANILI TERHADAP BUSUK BATANG PANILI DENGAN INDUKSI FoNP

 

Rita Noveriza, Mesak Tombe, Efi Taufik, Nuri Karyani, Zulhisnain

 

RINGKASAN

 

Telah dilakukan penelitian deteksi ketahanan panili terhadap BBP dengan induksi menggunakan Fusarium oxysporum non patogenik (FoNP) di laboratorium dan rumah kaca Balittro Bogor dari bulan Januari-Desember 2005. (1) Mendeteksi adanya akumulasi enzim dan tingkat serangan BBP pada panili yang telah diinduksi ketahanannya dengan FoNP, dipelajari dengan cara menginokulasi setek panili dengan kombinasi Bio-FOB EC, Bio-FOB WP dan Organik-FOB, dengan menggunakan pembanding perlakuan fungisida dan air sebagai kontrol. (2) Pengujian hipersensitif dilakukan dengan menghitung sel jaringan batang yang mati setelah diinokulasi dengan cara merendam dalam (a) Bio-FOB, (b) Bio-FOB kemudian dilanjutkan dengan suspensi konidia isolat yang patogen (F117), dan (c) direndam dalam isolat yang patogenik saja. (3) Pengujian efek eksudat panili sebagai anti jamur dilakukan dengan mengambil eksudat panili yang telah diinokulasi (a). FoNP, (b). F117, (c). FoNP+F117 dan (d). air, sebagai kontrol. Eksudat dari masing-masing perlakuan, diuji dengan mengukur persentase dan panjang tabung kecambah konidia Fusarium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat serangan yang paling tinggi terjadi pada panili klon 2 dan aktivitas enzim peroksidase meningkat setelah diberi perlakuan Bio-FOB dibandingkan kontrol. Persentase sel jaringan batang panili yang mati menurun setelah  diberi perlakuan FoNP dibandingkan perlakuan patogen F117 Eksudat batang panili setelah perlakuan FoNP menurunkan persentase penghambatan perkecambahan konidia patogen F117 sebesar  4 – 21%. Deteksi mekanisme induksi ketahanan panili terhadap BBP dengan FoNP dapat berupa peningkatan enzim peroksidase dan akumulasi phytoalexin pada tanaman dibanding tanaman tanpa perlakuan induksi, hal ini perlu dilakukan penelitian lanjut tentang phytoalexin yang diakumulasi pada batang panili.

 

Kata kunci:            Induksi ketahanan, panili, Fusarium oxysporum f.sp. vanillae, Fusarium oxysporum Non Patogenik, Trichoderma, Bacillus, peroksidase, phytoalexin.

 

ABSTRACT

 

Studies to detect the occurrence of induced-resistance on vanilla against stem rot disease were conducted by inoculated vanilla stem with non-pathogenic isolate of Fusarium oxysporum. The study was carried out in laboratory and glass house of ISMECRI from January to December 2005. The study consists of three activities, (1). Detecting the presence of enzyme accumulation and disease intensity of induced-resistance vanilla stem clone 1 and 2. The vanilla cutting stems were inoculated with various combination of formulated non-pathogenic Fusarium (Bio-FOB): Bio-FOB EC, Bio-FOB WP then grown on Organic-FOB. Fungicide or water treatments were used as comparison and control. (2). Hypersensitive response of vanilla stem cell tested by counting number of dead cell after the stem was soaked in (a). Bio-FOB, (b). Bio-FOB, then soaked in conidial suspension of pathogenic isolates (F117) subsequently, and (c). Soaked only in conidial suspension of pathogenic isolates (F117). Around 100 cells were observed for each treated vanilla stem and number of necroses/die cell was counted. (3) The effect of induced-resistance vanilla exudates as substance of anti -fungi was tested by collecting the exudates of vanilla stems that had been treated by inoculating with (a). FoNP, (b). F117, (c). FoNP then F117, and (d). water as control. The effect vanilla exudates were tested on germination percentage and the occurrence of germ tube long of Fusarium conidia. The results indicated disease severity was higher in vanilla clone 2 than clone 1, and peroxidase enzyme activity was higher on vanilla inoculated with FoNP than the control one. Number of dead cell was lower on vanilla treated by FoNP than those of F117. The exudates of induced-resistance vanilla stem increased percentage not germinated conidia of F117 isolate from 14 to 21%. The mechanisms involved in induced-resistance vanilla against vanilla stem rot disease were reflected by increasing peroxidase enzyme activity and phytoalexin accumulation in induced-resistance vanilla stems. However, further study is still needed to prove the occurrence of phytoalexin accumulation in vanilla stems.

 

Key words:           Induce reistance, Vanilla, Fusarium oxysporum f.sp. vanillae, Fusarium oxysporum Non-Pathogenic, Trichoderma, Bacillus, peroksidase, phytoalexin.

 

 

 

 

 

 

 

TEKNIK APLIKASI FoNP UNTUK INDUKSI KETAHANAN  PADA TANAMAN VANILI DEWASA.

 

Efi Taufiq, Mesak Tombe, Sukamto, Endang Hadipoentyanti, Rosihan Rosman, Nuri Karyani, Zulhisnain

 

ABSTRAK

 

Panili merupakan komoditas yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi. Salah satu kendala utama dalam budidaya panili    adalah produktivitas per hektar yang rendah akibat serangan   penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh teknik aplikasi yang efektif dalam pengendalian penyakit BBP dengan teknologi ramah lingkungan, yaitu penggunaan agens hayati, fungisida nabati dan bahan organik, terhadap tanaman panili dewasa di lapangan. Uji lapang penggunaan formula Fo.NP, fungisida nabati, dan bahan organik untuk meningkatkan ketahanan tanaman panili dewasa terhadap penyakit BBP dilaksanakan di Ciomas, Banten. Perlakuan yang diuji adalah Pengolesan batang panili dengan formulasi FoNP WP (tepung) dan fungisida nabati cengkeh, pencelupan batang panili dengan formulasi FoNP EC (cair), dan inkubasi batang panili dengan Organik FOB. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga teknik aplikasi yang digunakan mampu mengurangi kejadian penyakit BBP pada potongan batang panili dewasa, dibandingkan kontrol, namun efeknya bersifat lokal dan tidak sistemik. Pengaruh aplikasi FoNP terhadap tanaman induk panili belum signifikan, masih cukup banyak tanaman yang terserang BBP. Aplikasi FoNP juga tidak berpengaruh terhadap perkembangan vegetatif tanaman panili seperti terhadap panjang batang, diameter batang dan jumlah daun.

 

Kata kunci:            Vanilla planifolia, Fusarium oxysporum non patogenik (FoNP), F. oxysporum f.sp. vanillae, Bio-FOB, Bio-Triba.

 

ABSTRACT

 

Vanilla is one commodity that has important role in earning foreign devisa for Indonesia in global market. The most important constraint in vanilla cultivation in Indonesia is stem rot disease, which cause low in plant productivity per hectare. The current study was aimed to obtain optimal application technique of biological control agents (Fusarium oxysporum non-pathogenic, FoNP), botanical pesticide and organic matter to reduce the occurrence of stem rot disease on the mature vanilla plant in field condition. The study was conducted in Ciomas, Banten. The tested treatments were (1) formulated as wetable powder (WP) of FoNP and botanical pesticide were aplicated on vanilla stem, (2) vanilla stems were dipped in formulated as emulsion concentrate (EC) of FoNP, and (3) vanilla stems were grown in organic FOB media. The experiment arranged in a randomized block designed with three replications for each treatment. The results indicated, the occurrence of stem rot disease on mature vanilla stems was lower on those three treatments plots than the control one. However, the involved mechanism of those treatments seems locally and not systemically.  Although application of formulated FoNP reduced the occurrence of stem rot disease, but the treatment did not give significant impact, since stem rot disease were also seen on many mature vanilla stems. Based on the observation, the application of FoNP did not give any negative effect on vanilla vegetative growth, such as number of leaf, stem diameter and long.

 

Key words:           Vanilla planifolia, Fusarium oxysporum non pathogenic (FoNP), F. oxysporum f.sp. vanillae, Bio-FOB, Bio-Triba.

 


Atsiri

UJI MULTILOKASI KLON SERAI WANGI

 

Daswir, Herwita Idris, Sumandro, Dan Zulkarnain

 

ABSTRAK

 

Penelitian ujimultilokasi klon tanaman seraiwangi dilaksanakan pada tahun anggaran 2005 pada tiga lokasi yaitu; Pariaman (20 m/dataran rendah), Kebun Percobaan (KP Laing (460 m/dataran sedang), dan Alahan Panjang (1100 m/dataran tinggi), masing-masing tanaman seluas 0,3 Ha. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari sampai Desember 2005. Metode penelitian adalah rancangan acak kelompok RAK dengan 6 perlakuan Klon tanaman dalam 4 ulangan(kelompok). Ukuran plot 100 rumpun, sehingga jumlah populasi keseluruhan dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan adalah  2.400 rumpun dengan jarak tanam serai 1 m x1 m. Parameter yang diamati meliputi jumlah anakan/rumpun, panjang daun terpanjang, ratio panjang: lebar daun, berat basah daun/rumpun, rendemen dan mutu minyaknya. Dari pengamatan sementara bahwa pengujian ujimultilokasi pada tipe lahan yang sama yaitu pada lokasi Padang Pariaman (20 m) ternyata klon G-135, G-127 dan Klon M.BBS tinggi lahan yang terbaik dalam pertumbuhan jumlah anakan, panjang daun maupun ratio panjang/lebar daun. Untuk pengujian pada berbagai tipe lahan dari 20 sampai 1100 m ternyata bahwa klon G-135 lebih tinggi adaptasinya dan pertumbuhan sangat baik dibanding klon lainnya.

 

Kata kunci: Serai wangi, uji multilokasi.

 

ABSTRACT

 

In supporting citronella crops development in Indonesia, the increasing of crop productivity had been done. Propagation clonenal is giving of local crops to harvesting hope to increase of fresh leaf production and high oil yielding of citronella crops. The research of multylocation test for citronella clones was done on Padang Pariaman, Laing, and Alahan Panjang experimental garden at 0, 3 hectare land. This location is leveling at 20-460 and 1100m above sea level with kind of soil is Red Yellow Podzolic. The research was done from January to December 2005. The experimental design is factorial with Randomized Block Design (RBD) as environmental design which consists of six treatments as clones and four replications. The level clone G-113, G-115, G-127 and G-135 those clone in exiting for Solok area M.BBS M.BLD. Plot size is 100 clumps of citronella crops, so the total population with 24 treatment combinations and 4 replications are 2700 clumps. The observed factors are sum of stump, long of leaf and ratio leaf wide in one clump, production in one plot, oil content, citronella and geraniol totality content. By observed data can be conclusion about growth activity and production of citronella crops up to 2 month after planting or on the first harvesting are so good. The sum of stump in one clump are 5,5 – 4,0 stump for G-135 clone on adaptive for leveling at 20 on 1100 m above sea level, long of leaf in one clump are 42 – 56 cm to clone etc.

 

Key words: citronella, multylocation test

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGARUH PEMUPUKAN DAN PERIODE PANEN TERHADAP PRODUKSI SERAIWANGI

 

Indra Kusuma, Ansyarullah, Emmyzar, Yaya Rubaya, dan Herman

 

ABSTRAK

 

Untuk mendukung pengembangan tanaman seraiwangi di Indonesia maka peningkatan produktifitas tanaman harus dilakukan. Pemupukan, minimal pemberian pupuk organik dan penentuan jarak panen yang tepat diharapkan mampu meningkatkan produksi daun segar dan minyak yang tinggi. Penelitian pengaruh pemupukan dan periode panen terhadap produksi seraiwangi ini dilaksanakan di Kebun Percobaan (KP) Laing Solok pada lahan seluas 0,9 Ha. Lokasi ini berada pada ketinggian 450 m dpl dengan jenis tanah Podsolik Merah Kuning. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari sampai Desember tahun 2005. Rancangan yang digunakan adalah faktorial dalam RAK, yang terdiri atas 2 faktor teknik budidaya dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah pemupukan dengan 5 taraf yaitu tanpa pupuk, kapur, pupuk kandang, kompos, dan pupuk kandang ditambah kapur. Faktor kedua adalah periode panen yang terdiri atas 3 taraf yaitu sekali 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Ukuran plot 100 rumpun, sehingga jumlah populasi keseluruhan dengan 15 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan adalah 4.500 rumpun. Parameter yang diamati adalah jumlah batang, panjang daun terpanjang, dan produksi per rumpun, produksi per plot, rendemen minyak serta kadar citronellal dan total geraniol. Dari data pengamatan yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan dan produksi tanaman seraiwangi sampai panen pertama atau 5 bulan setelah tanam dari penelitian ini cukup bagus. Jumlah batang per rumpun telah mencapai 31–37 batang, produksi daun segar per rumpun 0,42–0,60 kg dan per plot 38,34–52,22 kg. Sedangkan produksi minyak per plot adalah 0,33–0,45 kg dengan rendemen minyak berkisar antara 0,786-0,986%. Meskipun sampai saat panen pertama ini pemberian pupuk belum begitu nyata mempengaruhi seluruh faktor produksi tanaman. Tetapi pemberian pupuk kandang, baik hanya pupuk kandang saja ataupun ditambah kapur telah memperlihatkan pengaruh yang positif, bahkan berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan produksi daun segar per rumpun.

 

Kata kunci: Seraiwangi, pemupukan, periode panen

 

ABSTRACT

 

In supporting the development of citronella crops in Indonesia, the increasing of crop productivities must be done. Minimal, the organic fertilizer is applied to the crops and the accurate of interval harvesting is hoped to increase the fresh leaves production and high oil yield of citronella crops. The research of fertilizing and harvesting period effects of citronella production was done in the experimental garden in Laing, Solok, at 0,9 hectare areas. The location is 450 m above the sea level with Red Yellow Podzolic as the soil type. The reasearch is done from January to December 2005. The experimental design is factorial with Randomized Block Design (RBD), as environmental designs, which consist of two factors of technical cultivation and three replications. The first factor is fertilizing with five levels; no fertilizing, lime, manure, compost, and manure plus lime. The second factor is harvesting periods with three levels; two months, three months, and four months. The plot sizes are 100 clumps of citronella crops, so the total population with 15 combination treatment and 3 replication are 4.500 clumps. The observed factors are the sum of stalks, the length largest leaves, and the production in one clump, the production in one plot, oil content, citronella and geraniol totality content. By the observing data Which is gotten, it can be concluded that growth activities and the production of citronella crops up to 5 month after planting or inn the first harvesting are good enough. The sum of stumps in one clump are 31–37 stalks, the fresh leaves production in one clump are 0,42–0,60 kg and in one plot 38,34–52,22 kg. Whereas, the oil production in one plot is 0,33–0,45 kg with the percentage of oil content is 0,786-0,986%. Although by giving fertilizer does not give the significant effect yet to the all production factors of citronella crop, but up to this first harvest, the manure giving, either the manure or the manure plus lime have been shown the positive effects. In fact, they give significant effect to the height of crops and the fresh leaves production per clump.

 

Key words: Citronella crops, fertilizer, interval harvesting.


PENELITIAN POLA TANAM SERAIWANGI DENGAN TANAMAN  ATSIRI LAINNYA

(Kayumanis Ceylon dan Klausena)

 

Masri Ramadhan, Adria, Irwandi, dan Burhanuddin

 

ABSTRAK

 

Penelitian Pola tanam seraiwangi dengan tanaman atsiri lainnya (C.zeylanicum dan Klausena anisata) dilaksanakan di daerah dataran sedang yaitu di Kebun Percobaan (KP) Laing Solok pada lahan   seluas 3 Ha. Lokasi ini berada pada ketinggian 460 m dpl dengan   jenis tanah Podsolik Merah Kuning. Penelitian dilaksanakan dari    bulan Januari sampai Desember 2005. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas 6 perlakuan dan   4 ulangan yaitu: 1. Serai dengan Kayumanis Ceylon populasi standar (serai 5.250, Ceylon 720/ha) 2. Serai dengan Kayumanis Ceylon, populasi optimal (serai 5.250 dan kayumanis ceylon 960/ha). 3. Serai dengan Klausena, populasi standar (serai 4.000 dan klausena 1.700/ha) 4. Serai dengan klausena, populasi optimal (serai 4.000 dan klausena 2.040/ha )5.Serai dengan kayumanis Ceylon dan klausena,      populasi standar (serai 2.500, kayumanis Ceylon 540 dan klausena 600 ph/ha) 6. Serai dengan kayumanis Ceylon dan klausena populasi optimal (serai 2.500, kayumanis ceylon 720 dan klausena 720 ph/ha) Parameter yang diamati meliputi jumlah batang seraiwangi per rumpun, panjang daun terpanjang seraiwangi per rumpun, produksi daun basah seraiwangi per rumpun, produksi daun basah seraiwangi per plot, tinggi tanaman kayumanis Ceylon dan klausena, jumlah cabang kayumanis Ceylon dan klausena, produksi kulit kering kayumanis Ceylon per plot, produksi daun klausena per plot, rendemen dan mutu minyak, analisa kelayakan usaha. Hasil penelitian sementara menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman dari beberapa perlakuan yang diuji cukup baik, namun belum memperlihatkan adanya perbedaan pertumbuhan, hal ini mungkin disebabkan karena tanaman baru berumur 1–1,5 bulan sejak tanam. Rata–rata panjang daun terpanjang seraiwangi adalah 95,35 cm dan jumlah anakan terbanyak 9,66 batang pada perlakuan 6 (enam). Sedangkan rata-rata tinggi kayumanis Ceylon dan Klausena hampir sama yaitu 24,90–25,65 cm. Untuk memperoleh data yang lebih lengkap, kegiatan ini perlu dilanjutkan pada tahun berikutnya, sehingga tujuan penelitian untuk mendapatkan aktifitas pertumbuhan tanaman seraiwangi, kayumanis Ceylon dan klausena dalam sistim pola tanam budidaya lorong dan rekomendasi pola tanam seraiwangi dengan tanaman kayumanis Ceylon dan Klausena yang paling menguntungkan pada tahun 2009 akan dapat dicapai.

 

Kata kunci : Seraiwangi, pola tanam.

ABSTRACK

 

The research of multiple cropping of citronella with other essential crops (C.zeylanicum and Clausena anisata)is done in the area at medium land that is in the experimental garden in Laing Solok wets Sumatera in the area of 3 ha. This area is located in the altitude of 460 above the sea level with Wed yellow Podzol as the soil type. The research is done from January up December 2005. It uses Randomized Block Design (RBD) that consists of 4 replications;  the plot size is 20×50 m or 1.000 M2. Some treatment which are examined, are: 1. citronella with C.zeylanicum population standard (citronella 5.250, zeylanicum 720/ha; 2. Citronella with zeylanicum, optimal population (citronella 5.250 and zeylanicum 960 trees/ha; 3. Citronella with Clausena, population standard (citronella 4.000 and Clausena 1.700 trees/ha); 4. Citronella with clausena optimal population (citronella (citronella 4.000 and clausena 2.040/ha); 5. Citronella with zeylanicum and clausena population standard              (citronella 2.500, zeylanicum 540 and clausena 600 trees/ha); 6. Citronella with zeylanicum and clausena population optimal (citronella 2.500, zeylanicum 720 and clausena 720 trees/ha). Parameters observed are: the sum stalk of citronella per clumps, the length of the longest citronella leaves per clumps the height of zeylanicum and clausena crops, the branches sum of citronella, clausena and zeylanicum, the production of wet leaves per clumps/trees, the production of wet leaves per plot, the zeylanicum production of dry bark per plot, the content and oil quality, the feasibility study for citronella, zeylanicum and clausena. The results which are examined is good enough, but it does not the difference of growth each others yet, it may be caused by crop age which is still 1-1,5 month after planting. This research needs to be continued in the following year to get the complete data as which are appropriate with the research purposes.

 

Key words : Citronella crops, multiple cropping.

 

 

 

 

EKSPLORASI KARAKTERISASI DAN EVALUASI TANAMAN ATSIRI

Nurmansyah, Ahmad Denian, Nurliani Bermawi, Erma Suryani, dan Jamalius

 

ABSTRAK

 

Penelitian eksplorasi, kharakterisasi dan evaluasi zelanikum (Cinnamomum zeylanicum), ylang-ylang (Canangium odoratum f guineana) and klausena (Clausena anisata), telah dilaksanakan dari bulan Januari s/d Desember 2005. di Kebun Percobaan Laing dan dikebun petani Tanah Datar. Tujuan penelitian untuk mengetahui varian plasma nutfah zelanikum, ylang-ylang dan klausena. Pengambilan sampel tanaman dilakukan dengan metode purposive sampling berdasarkan variasi-variasi phenotype dan selanjutnya di koleksi, diberi label dan dikarakterisasi. Dari hasil eksplorasi diperoleh 35 aksesi zelanikum, 30 aksesi ylang-ylang dan 31 aksesi klausena. Berdasarkan hasil karakter berbagai aksesi zelanikum didapatkan variasi yang cukup luas, terutama dari bentuk daun, dengan ratio panjang/lebar daun berkisar 1,64–2,65, luas daun berkisar 28,16–75,62 cm². Bentuk buah berkisar dari bulat telur s/d bulat panjang dengan ratio panjang/diameter buah 1,35–1,84. Tebal kulit batang berkisar dari 3,00–14,60 mm, Rendemen dan kadar minyak atsiri dari daun yang tertinggi (3,515 % dan 4,133%) didapat pada aksesi Czl 29, sebaliknya yang terendah (1,019% dan 1,185%) didapat pada aksesi Czl16. Rendemen dan kadar minyak atsiri dari kulit batang yang tertinggi (1,292% dan 1,468%) didapat pada aksesi Czl 29, sebaliknya yang terendah yaitu 0,274% dan 0,309% didapat pada aksesi Czl 35. Hasil karakter berbagai aksesi ylang-ylang, menunjukkan variasi yang sempit, terutama dari hasil karakterisasi daun dan bunga. dengan  ratio panjang/lebar daun berkisar 2,00–2,50, bobot bunga berkisar antara 31,50-45,14 g/25 kuntum bunga, ratio panjang/lebar petal berkisar antara 4,67–5,89, dengan rendemen minyak atsiri dari bunga berkisar 1,52–1,66%. Hasil karakter berbagai aksesi klausena juga menunjukkan variasi yang sempit terutama pada ratio panjang/lebar anak daun dengan kisaran 2,40–2,84, Rendemen minyak atsiri berkisar 1,78–2,27% dan kadar minyak berkisar 5,43–9,52%.

 

Kata kunci : Tanaman atsiri, eksplorasi, karakterisasi, evaluasi.

 

ABSTRACT

 

The study of exploration, characterization and evaluation on true cinnamon (Cinnamomum zeylanicum), ylang-ylang (Canangium odoratum f guineana) and klausena (Clausena anisata) were conducted from January to December 2005 in experimental field Laing and farmer field in Tanah datar. The aim of the study was to find out variance of true cinnamon, ylang-ylang and Clausena. Plants were collected using purposive sampled method based on phenotype variation, collected, labeled and characterized. The results of exploration were found 35 accessions of true cinnamon, 30 accessions of ylang-ylang and 31 accessions of clausena. Based on characterization of several true cinnamon wide variation, especially in leaf type with ratio of length and wide was 1,64–2,65. Leaf area was 28,16–75,62 cm², Fruit type ovoid to long circle with ratio of length and diameter is 1,35–1,84. Peel of stem is 3,00–14, 60 mm. The highest rendement and essential oil content from leaf was 3,515% and 4,133% on Czl 29 accession, however the lowest was 1,019% and 1,185% on Czl 16 accession. The highest rendement and essential oil from peel  of stem was 1,292% and 1,468% on Czl 29 accession, however the lowest was 0,274% and 0,309% on Czl 35 accession. The characterization of ylang-ylang accession showed narrow variation especially in leaf type and flower with ratio of length and wide leaf was 2,00–2,50, the flower weight was 31,50–45,14 g/25 flower, ratio length and wide  of petal was 4,67–5,89 with rendemen of essential oil was 1,52–1,66%. The characterization of some accessions of clausena was showed narrow variation, especially ratio of length and wide leaf was 2,40–2,84. Rendement of essential oil was 1,78–2,27% and oil content was 5,43–9,52%.

 

Key words :          essential oil crops, exploration, characterication and evaluation

 

 

 

 

 

 

 

KARAKTERISASI DAN EVALUASI PLASMA NUTFAH TANAMAN GAMBIR

 

A. Denian, E. Suryani, Mukhlis Zainuddin, Yudarfis,Y. Khotib

 

ABSTRAK

 

Karakterisasi dan evaluasi plasma nutfah gambir telah dilakukan dari bulan Januari sampai Desember 2005 di Kebun Percobaan Laing, Solok. Tujuan kegiatan ini untuk mengetahui karakter dan mengevaluasi 11 aksesi plasma nutfah gambir. Percobaan disusun menurut Rancangan Acak Kelompok dengan 11 perlakuan (aksesi) dan ulangan 4 kali. Perlakuan tersebut adalah: A. 01/HAR/ GBR/LPK/04, B. 02/HAR/GBR/LPK/04, C. 05/TGD/GBR/LPK/04, D. 07/TGD/GBR/LPK/04, E. 02/SGT/GBR/PSL/04, F. 05/SGT/GBR/ PSL/04, G. 06/SGT/GBR/PSL/04, H. 07/SGT/GBR/PSL/04, I. 02/TBG/ GBR/KPR/04, J. 03/TBG/GBR/KPR/04, dan K. 05/TBG/GBR/KPR/04. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan vegetatif meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, dan jumlah cabang masing-masing aksesi belum memperlihatkan perbedaan nyata, namun secara angka-angka aksesi C memperlihatkan pertumbuhan vegetatif lebih baik dibandingkan dengan aksesi lainnya. Aksesi C mempunyai tinggi tanaman 46,50 cm, diameter batang 4,12 mm, jumlah daun 8,84 lembar dan bobot daun 1,09 g, sebaliknya aksesi I memperlihatkan pertumbuhan vegetatif lebih lambat dibandingkan dengan aksesi lainnya dengan tinggi tanaman 19,57 cm, diameter batang 3,00 mm dan jumlah daun 7,67 lembar.

 

Kata kunci : Karakterisasi, evaluasi, plasma nutfah

 

ABSTRACT

 

The germplasm characterization and evaluation of pale catechu carried out since January December 2005 at the Laing Field Experiment, Solok. The aim of the research was to know the character   and to evaluate 11 accession of pale catechu germplasm. The trial   was arranged in randomized block design with 11 treatments (accessions) and 4 replications. The treatment consisted of : A. 01/HAR/GBR/LPK/04, B. 02/HAR/GBR/LPK/04, C. 05/TGD/ GBR/LPK/04, D. 07/TGD/ GBR/LPK/04, E. 02/SGT/GBR/PSL/04, F. 05/SGT/GBR/PSL/04, G. 06/SGT/GBR/PSL/04, H. 07/SGT/GBR/ PSL/04, I. 02/TBG/ GBR/KPR/04, J. 03/TBG/GBR/KPR/04, and K. 05/TBG/GBR/KPR/04. The result indicated that vegetative growth include plant high, stem diameter, leaves number and branches number of each accession hadn’t showed significantly differences although C accession showed the better vegetative growth than the others. The average of C accession plant height, stem diameter, leaves number and leaves weight were 46,50 cm, 4,12 mm, 8,84 pieces and 1,09 g. The I accession showed the lowest vegetative growth with average plant high, stem diameter and leaves number were 19,57 cm, 3,00 mm and 7,67 pieces only.

 

Key words : Pale catechu, characterization, evaluation.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KARAKTERISASI DAN EVALUASI PLASMA NUTFAH KAYUMANIS

 

Yudarfis, Hasnam, Ahmad Denian, Mukhlis Zainuddin, Jamaris

 

ABSTRAK

 

Karakterisasi dan Evaluasi plasma nutfah kayumanis dilakukan untuk mendapatkan aksesi kayumanis sebagai hasil ekplorasi dan seleksi dari tanaman yang telah terkarakter dan terevaluasi. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Laing, Solok, Sumatera Barat, mulai dari bulan Januari sampai Desember 2005, 36 aksesi tanaman kayumanis sebagai perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan 2 ulangan, setiap plot 6 tanaman untuk satu aksesi, dengan jarak tanam 4 m dalam aksesi dan 6 m antar aksesi dalam blok. Pengamatan dilakukan terhadap pertambahan: tinggi tanaman, lingkaran batang, jumlah cabang primer, jumlah cabang sekunder, warna pucuk, warna daun, panjang daun, lebar daun. panjang tangkai daun dan karakter morfologi lainnya. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa pertambahan tinggi tanaman tertinggi terdapat pada aksesi E10 dan S17 yaitu 4 cm sedangkan aksesi yang lain ada yang belum memperlihatkan pertambahan tinggi dan ada yang sudah mulai namun secara angka terlihat dari masing-masing aksesi pertambahan tingginya berkisar antara 0 – 3 cm, pertambahan lingkaran batang terbesar terdapat pada aksesi E10 yatu 0,4 cm, sedang aksesi yang lain ada yang belum memperlihatkan pertambahan lingkaran batang namun secara angka pertambahan lingkaran batang masing-masing aksesi berkisar antara 0 – 0,3 c. Jumlah pertambahan cabang primer terbanyak terdapat pada aksesi E10 yaitu 3,5 buah dan aksesi lain ada yang belum memperlihatkan adanya pertambahan jumlah cabang primer namun secara angka terlihat pertambahan jumlah cabang primer antara 0-2 buah. Pertambahan jumlah cabang sekunder terbanyak terdapat pada aksesi E10, S12, S13, S15 dan S17 yaitu 2 buah sedang aksesi yang lain ada yang belum dan ada yang sudah memperlihatkan pertambahan, namun secara angka dari masing–masing aksesi pertambahan jumlah cabang sekunder berkisar antara 0–1 buah. Pada pertumbuhan morfologis kwalitatif yang diamati seperti panjang tangkai daun, panjang daun, lebar daun, warna daun dan warna pucuk, belum memperlihatkan perbedaan antara satu aksesi dengan yang lainnya, dan penampilan morfologisnya sama dengan sifat karakter marfologis induknya, dari masing-masing aksesi. Hal ini disebabkan karena bibit yang ditanam berasal dari hasil perbanyakan secara vegetatif, dengan demikian sifat karakter yang ditampilkan akan sama dengan induknya. Dari angka di atas terlihat bahwa pertumbuhan tanaman dilapangan saat ini menunjukkan adanya perbedaan dimana aksesi E10 lebih baik dibanding aksesi lainnya.

 

Kata kunci : kayumanis, karakterisasi, evaluasi, plasma nutfah

 

ABSTRACT

 

Characterization and evaluation of cinnamon germ plasm were carried out to found out the cinnamon accession the yield of exploration and selection of the crop characterized and evaluated.  Research was conducted at the Laing Field Experiment, Solok West Sumatera since January to December 2005. The treatment consisted of 36 accession of cinnamon.The research arranged in randomized block design with 2 replications. Crop distance 4 m intra accession and 6 m intra accession in block. The parameters observed were increment of plant height, stem circle, primary branches number, secondary branches number, plush color, leaves color, length of leaves, length of petiole, and another morphological character. The highest increment of plant height of E10 and S17 accession was 4 cm. Other accession showed the increment of plant height between 0-3 cm. The increment of stem circle of E10 accession was 0,4 cm where as on the other accession were 0-0,3 cm. The highest increment of primary branches number was found at E10 accession (3,5 pieces). So, the highest increment of secondary branches number found out at E10, S12, S13, S15 and S17 accessions (2 pieces). The quantitative morphological growth: include length of petiole and leaves, width of leaves, leaves, and plush color were not difference among accessions. The case may caused by propagation with vegetative method.

 

Key words : cinnamon, characterization, evaluation.

 

 

 

 

 

 

 

PENGKAJIAN PENGGUNAAN FORMULA ATRAKTAN NABATI UNTUK PENGENDALIAN HAMA LALAT BUAH DI KECAMATAN TOMO, KABUPATEN SUMEDANG JAWA BARAT

 

Agus Kardinan, Momo I, Warsi R A, A. Diratmaja, H Sumantri,  Tri Ekowahyono

 

ABSTRAK

 

Kegiatan penelitian dan pengkajian formula atraktan nabati untuk mengendalikan hama lalat buah pada komoditas mangga telah dilaksanakan di Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat yang merupakan kegiatan kerjasama antara Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Balai Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat dan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat. Dalam kegiatan ini diuji dua buah atraktan nabati hasil penelitian Balittro, yaitu atraktan yang terbuat dari selasih (Ocimum minimum) dan atraktan yang terbuat dari Melaleuca bracteata yang dibandingkan dengan atraktan yang telah beredar di pasaran, yaitu Hogy. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah, jenis dan kelamin lalat terperangkap, tingkat kerusakan serta hasil mangga yang diperoleh yang dibandingkan dengan kebun petani setempat yang tidak menggunakan atraktan. Hasil menunjukkan bahwa atraktan yang terbuat dari Melaleuca bracteata merupakan atraktan terbaik (memerangkap 21.192 ekor/6 bulan), dibandingkan dengan atraktan yang terbuat dari selasih (Ocimum minimum) yang memerangkap 11.173 ekor/6 bulan dan atraktan pembanding Hogy (memerangkap 6.495 ekor/6 bulan). Walaupun tingkat kerusakan dan hasil mangga belum terlihat berbeda secara signifikan yang dikarenakan waktu penelitian yang relatif sempit, namun para petani sudah cukup puas dengan melihat hasil tangkapan lalat buah, serta memahami bahwa tingkat kerusakan dapat ditekan sejalan dengan menurunnya populasi lalat di lapangan yang pada akhirnya dapat meningkatkan produksi. Dampak dari kegiatan ini antara lain bahwa masyarakat sudah mengembangkan tanaman selasih di daerahnya dan sudah membuat alat penyuling sederhana serta sudah memproduksi atraktan dari selasih, walaupun mutunya masih rendah. Atraktan ini sudah digunakan secara meluas di daerah ini. Lokasi ini sering dikunjungi kelompok tani lainnya sebagai studi banding (model) dalam pengendalian lalat buah dan petugas lapang yang mendampingi petani sering diundang sebagai pembicara pada beberapa acara seminar dan pertemuan.

 

Kata kunci : atraktan nabati, lalat buah, mangga

ABSTRACT

 

Research and assessment of the use of botanical attractant to control fruit flies was conducted in Tomo County, Sumedang District, West java Province, as collaborative research among Indonesia Spice and Medicinal Crops Research Institute (ISMECRI), Agricultural Technology Research and Assessment Institute–West Java and Crop Protection Institute for Food and Horticultural Crops–West Java. Two botanical attractants resulted from Ismecri (attractant made from Ocimum minimum and Melaleuca bracteata) were tested in the mango field compared to other attractant which has been trading in the market (Hogy). Observations were done on the number, species and sex of fruit flies trapped, and also fruit damage and yield compared to the farmers fruit garden (without attractant). Result showed that attractant made from Melaleuca bracteata was the best attractant on trapping fruit flies (trapped about 21,192 fruit flies/6 months) compared to attractant made from Ocimum minimum (trapped about 11.173 fruit flies/6 months) and Hogy attractant (has already been trading) which trapped about 6,495 fruit flies/6 months). Even though there is no significantly different on the fruit damage and the yield among treatments and also between treatment and control (farmers garden) because of  the short of  activity period, but the farmers were satisfied enough since the number of fruit flies trapped was high enough. They realize that the fruit damage will decrease gradually following the decrease of fruit flies population in the area and finally hoped that the yield will increase too. The impacts of this activity were that the research area was often visited by other farmers group as comparative study on controlling fruit flies and also the farmers have already developed basil crops in their field as raw material on making attractant. They have also made and modified distillation tools to produce essential oil from basil and the extension worker accompanying the farmers was often invited to be a speaker in the seminar or other meeting discussing the strategy to control fruit flies.

 

Keywords: botanical attractant, fruit flies, manggo

 

 

 

 

 

 

PENGKAJIAN BUDIDAYA TIGA VARIETAS NILAM  PADA LAHAN PASCA BENCANA TSUNAMI

DI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

 

M. Djazuli, Hermanto, dan Suci Wuladari

 

ABSTRAK

 

Untuk mengkaji kesesuaian tiga varietas unggul nilam terhadap lahan marjinal pasca Bencana Tsunami dilakukan sebuah penelitian pengkajian tingkat ketahanan 3 varietas unggul baru dan satu varietas lokal di lahan yang telah mengalami bencana gelombang Tsunami,     di Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie sebagai kontrol  (non marjinal) mulai Januari sampai dengan Desember 2005. Dari hasil kegiatan tersebut, diperloleh informasi bahwa kondisi lahan bekas lumpur Tsunami telah mengalami pemulihan (recovery) setelah lebih kurang satu tahun diberakan, namun demikian ketahanan nilam terhadap cekaman kegaraman lebih rendah dibandingkan dengan rumput liar. Tingkat ketahanan tanaman nilam terhadap cekaman kegaraman tinggi terlihat rendah dan beragam antar varietas yang diuji. Persentase tumbuh dari varietas unggul nilam Sidikalang, Tapak Tuan dan Lhokseumawe berkisar antara 45,1–58,7% lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lokal Pidie yang mempunyai kemampuan tumbuh sebesar 25,9%. Pada kondisi lingkungan   tumbuh yang optimal di sentra produksi nilam Kabupaten Pidie, daya     tumbuh dari ke empat varietas yang diuji cukup tinggi di atas 90% dan tidak ada perbedaan yang nyata antar ke empat vareitas nilam yang diuji. Potensi hasil yang dindikasikan dengan jumlah cabang dari varietas unggul Sidikalang sebesar 10.33 cabang/tanaman jauh lebih tinggi dibandingkan ketiga vareitas nilam lain yang diuji. Jumlah cabang varietas Lhokseumawe, Tapak Tuan dan Lokal Pidie pada umur 2 bulan setelah tanam berturut-turut 8,33; 5,57; dan 5,57 cabang/tanaman. 

 

Kata kunci: lahan paska tsunami, Pogostemon cablin, varietas

 

ABSTRACT

 

One of the effect of Tsunami wave the disappearence of patchouli which was one of the mainstay and income source for NAD farmers. In order to find out the adaptable new patchouli varieties, a field study was conducted at marginal soil at Banda Aceh and optimal soil as the control at Pidie regency from January to December 2005. The results showed that Tsunami mud deposit has covered the previous soil under recovery process after one year fallow condition. The ability of patchouli growth, however, was lower than the grass that grew wildly. The level of tolerance of patchouli to salinity stress was low and vary among tested varieties of patchouli. Growth percentage of new varieties of Sidikalang, Tapak Tuan and Lhokseumawe were arrange from 45,1 to 58,7% higher than local variety of Pidie (25.9 %). Under optimal condition at production center at Pidie regency, viability of the fourth varieties tested were higher than 90 % and almost no difference among varieties tested. Yield potency which was represent by the branch number of var. Sidikalang was 10,33 branches/ plant, higher than other tested varieties. Branch number of var. Lhokseumawe, Tapak Tuan and Local Pidie at two month after planting were 8,33; 5,67; and 5,67 branches/plant, respectively.

 

Keywords: marginal area ex-tsunami, Pogostemon cablin, variety

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PRIMATANI TANAMAN LADA

 

Pasril Wahid, Dyah Manohara, M. Syakir, Agus Wahyudi, Dono Wahyuno,  E. Rini Pribadi dan Amrizal M. Riva’i

 

ABSTRAK

 

Primatani merupakan Program Rintisan Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan inovasi hasil Litbang kepada masyarakat dalam bentuk agribisnis di lokasi petani. Salah satu komponen teknologi usahatani tanaman rempah yang telah dihasilkan oleh Balittro adalah untuk tanaman lada. Teknologi unggul tersebut akan diperkenalkan dan diterapkan di lahan petani oleh BPTP setempat dengan didukung oleh Balit/UPT penghasil teknologi termaksud. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk sosialisasi teknologi budidaya lada. Pelaksanaan Primatani lada berlokasi           di Lampungn Utara, mendukung program Primatani BPTP setempat secara terintegrasi, berdasarkan ekosistem dan berwawasan agribisnis yang meliputi: 1) Studi ke wilayah sasaran untuk mengidentifikasi karakteristik wilayah yang mencakup aspek bio-fisik dan sosial ekonomi petani setempat, 2) Penentuan wilayah/lokasi yang akan digunakan untuk kegiatan pengkajian inovasi teknologi berdasarkan hasil studi wilayah, 3) Pembentukan tim interdisiplin atau multi disiplin, sesuai dengan permasalahan yang dihadapi, 4) Perakitan inovasi teknologi dari komponen-komponen teknologi unggul, yang  disesuaikan dengan kondisi biofisik dan sosial    ekonomi petani wilayah sasaran dan 5) Sosialisasi PRIMATANI  (teknis maupun non teknis). Hasil kegiatan pada tahun 2005 difokuskan terhadap pengendalian penyakit BPB. Selain itu juga dilakukan pelatihan untuk penyuluh di lapang berupa transfer teknologi cara budidaya lada yang baik dan benar  meliputi persiapab lahan, pengajiran, perbaikan saluran drainase, lubang tanam, penggunaan pupuk kandang,penanaman bibit, pemangkasan tanaman lada  dan tajarnya,pemupukan, penyiangan,penannggulangan hama dan penyakit, panen tepat waktu serta pengolahan lada hitam yang higienis. Hasil sementara sudah terlihat banyak petani yang mulai mengadopsi beberapa teknologi yang telah dianjurkan antara lain menanam tanaman penutup tanah dan pagar hidup, untuk mengurangi penyebaran P capsici dan juga sebagai sumber makanan ternak maupun digunakan sebagai kompos. Dari hasil analisis usahatani yang dilakukan, daya dukung 1 ha kebun lada, dengan tanaman penutup tanahnya, pagar hidup dan tanaman penegak,cukup untuk memelihara 5 ekor kambing. Hasil perhitungan dengan menggunakan data harga dan biaya Juni 2005 (sebelum BBM naik) dan apabila ternak kambing juga diintegrasikan, maka diperkirakan akan terjadi kenaikan pendapatan petani sebesar 69,5 % per hektar pada tahun yang akan datang. Dalam empat tahun mendatang diperkirakan akan terjadi kenaikan sebesar berturut-turut 98,9, 201,6 dan 411 % dari pendapatannya sekarang pada tahun kedua sampai kelima,dengan perkiraan BC ratio sebesar 1,48. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM RINTISAN DAN AKSELERASI PEMASYRAKATAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN (PRIMA TANI) NILAM

DI JAWA BARAT

 

Rosihan Rosman

 

ABSTRAK

 

Prima Tani merupakan Program Rintisan Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan inovasi hasil Litbang kepada masyarakat dalam bentuk agribisnis di lokasi petani. Saat ini pengembangan nilam di Jawa Barat masih mengalami berbagai hambatan antara lain teknologi budidaya dan penanganan pasca panen masih dirasakan kurang, sehingga perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangannya. Penyediaan dan pengawalan teknologi dilakukan bersama-sama dengan kegiatan penunjang primatani lainnya dari instansi lain. Kegiatan Primatani di Garut, Propinsi Jawa Barat ini merupakan kegiatan bersama antara BPTP, Balit (termasuk Balittro)/Puslit, Tim pakar dan Pemda. Balittro sebagai pendamping dalam upaya percepatan inovasi teknologi nilam, yang akan memberi masukan teknologi yang dapat digunakan di Garut dan tindak lanjut pengembangannya. Kegiatan ini tidak menggunakan rancangan karena merupakan kegiatan yang bersifat penerapan teknologi di lapangan. Bahan yang digunakan adalah tanaman nilam, pupuk dan alat perlengkapan pertanian. Hasil sementara PRA tahun 2005 didapatkan bahwa komoditas tanaman utama yang penting bagi masyarakat Pakenjeng Garut adalah padi, nilam, pisang, kacang tanah, cengkeh dan teh. Sedangkan komoditas ternak utama secara berurutan adalah domba, ayam dan kambing. Sesuai dengan kondisi daerahnya yang berlahan kering, permasalahan utama yang mencuat adalah ketersediaan air.  Selain itu lahan yang kering (kurang air mengakibatkan panen nilam hanya 1-2 kali saja. Hasil wawancara dengan petani, teknologi yang diharapkan adalah teknologi yang dapat mengatasi kekurangan air, agar nilam dapat dipanen lebih dari 2 kali, serta  varietas unggul dan tehnik budidaya yang dapat meningkatkan hasil. Pada tahun 2005 telah dilakukan implementasi terbatas tanaman nilam varietas unggul di pembibitan yaitu Sidikalang. Tanaman tumbuh dan saat ini sudah berumur 2 bulan.

 

Kata kunci: primatani, nilam, Jawa Barat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM RINTISAN DAN AKSELERASI PEMASYARAKATAN INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN (PRIMA TANI)

BERBASIS JAMBU METE DI SUMBAWA, NTB

 

M. Hadad EA, C. Firman, U. Rasiman, dan T. Sugandi

 

ABSTRAK

 

PRIMATANI merupakan Program Rintisan Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian untuk memperkenalkan dan memasya-rakatkan Inovasi hasil Litbang Pertanian kepada masyarakat dalam bentuk Agribisnis di Lokasi Petani. Jambu mete (Anacardium occidentale L.) dipilih sebagai basis dan prioritas utama PRIMATANI  di NTB antara lain jambu mete telah eksis dan menjadi primadona ekspor perkebunan, salah satu mata pencaaharian penting di NTB, NTT, dan dijadikan basis kebijakan dalam menangulangi busung lapar. Areal jambu mete, Indonesia sampai tahun 2003, telah mencapai    560 813 ha yang sebagian besar tersebar di Kawasan Timur Indonesia. dengan produksi 92 390 ton gelondong, dengan rataan produktivitasnya sangat rendah yaitu sekitar 250-350 kg/ha gelondong.  Tiap sentra produksi menunjukan tingkat produksi rataan produksi yang berbeda; di NTB sekitar 350–436 kg/ha/tahun gelondong dan  NTT 350-500 kg/ha/tahun gelondong. Walaupun produksi jambu   mete di NTB dan NTT termasuk masih rendah, namun tanaman ini telah menunjukan eksistensinya sebagai komoditas andalan ekspor perkebunan yang terus meningkat. Luas lahan kering di NTB sangat dominan yaitu 1.807.463 ha (84,19%) dan belum banyak dimanfaatkan. Lahan yang potensial untuk pengembangan jambu mete adalah 221.151 ha, sedangkan yang telah dimanfaatkan baru seluas 52.098 ha di tahun 1999 (23,55%), dari areal tersebut telah berproduksi seluas 12.639 ha, dengan total produksi 5.514 ton. Konsentrasi areal di kabupaten Lobar (21.013 ha), Dompu (12.480 ha) dan Lotim (3.764 ha) (BPS, 1999; Disbun NTB, 1999). Kegiatan primatani jambu mete di NTB tahun 2005, telah mencapai target; antara lain: 1. Hasil PRA telah diterima oleh semua lapisan masyarakat yang disasar, petani peserta PRIMATANI di desa Song Gajah dan Desa Jurumapin, Pemda dan instansi terkait, LSM dan Pengusaha di Kabupaten Dompu, Sumbawa dan di Provinsi Nusa Tenggara Barat; 2. Basis komooditas prioritas utama PRIMATANI di Desa Song Gajah adalah jambu mete yang telah eksis hasil penanaman tahun 1997/1998, melibatkan petani peserta PRIMATANI sebanyak 128 KK dengan luas lahan 67,15 ha dan jumlah tanaman jambu mete 5.775 pohon; 3. Prosedur penyajiannya melalui  5 tahapan yakni, Tahap I, Pengumpulan data base line PRA; Tahap II, Sosialisasi hasil PRA, masing-masing di tingkat Desa (lokasi Primatani), Kabupaten dan Provinsi; Tahap III, Pelatihan teknologi melalui pertemuan diskusi dan kunjungan ke lokasi dan praktek lapang. Tahap IV, Detasering dalam rangka pendampingan pengawalan pelaksanaan/penerapan teknollogi intensifikasi melalui diskusi, praktek, kunjungan, dan percontohan serta bimbingan langsung dengan para petani peserta dan Tahap V penyebar luasan teknologi melalui leaflet; 4. Teknologi yang diterapkan di Desa Song Gajah adalah teknologi intensifikasi jambu mete, yang terdiri atas kegiatan, pemupukan (pada piringan); pemangkasan cabang dan ranting yang tidak produktif; penjarangan pohon yang berdekatan, kerdil, tidak produktiv dan berpenyakit.; penanggulangan hama Helopeltis, pencegahan penyakit JAP dan JAC; penanaman tumpangsari dengan palawija, padi dan tanaman obat; pembibitan nomor harapan/unggul, integrasi ternak, dan pengamatan pelaporan, semua kegiatan penerapan teknologi intensifikasi telah dikawal dengan baik selama detasiring; 5. Teknologi yang diterapkan  di Desa Jurumapin adalah teknologi ekstensifikasi jambu mete yakni,  penanaman baru dan pembentukan kebun induk komposit. Kegiatannya baru taraf pembibitan. Beberapa permasalahan dan kesulitan yang ditemui selama tahun 2005, antara lain, memadukan atau koordinasi dan sinkronisasi dengan intansi terkait ditingkat Kabupaten dan Provinsi memerlukan energi kesabaran dan keuletan. Mungkin karena kegiatan tahun 2006 merupakan tahun pertama dimana kondisi setiap instansi juga memiliki prioritas dan kegiatan  rutin masing-masing. Menghilangkan kebiasaan petani untuk selalu menerima bantuan modal atau proyek minded. Pembiayaan, penyediaan bahan dan peralatan untuk menerapkan teknologi anjuran belum semua tersedia dengan lengkap dan tepat waktu, sehingga perlu ada penyesuian waktu. Hal ini perlu mendapat perhatian untuk tahun berikutnya. Manfaat dari Primatani ini cukup tinggi, yakni ada harapan akan terjadi peningkatan produksi gelondong di tahun 2006, 2007 dan selanjutnya sebagai hasil penerapan teknologi intensifikasi jambu mete yang teratur dan berkesinambungan. Dampaknya   kepada peningkatan pendapatan petani tidak hanya diperoleh dari peningkatan produksi gelondong mete saja akan tetapi diperoleh juga dari hasil usahatani lainnya yakni tumpangsari dan integrasi ternak. Peningkatan pendapatan akan terasa signipikan dan fungsional    (hasil analisisnya) bila teknologi anjuran ini diterapkan secara terus menerus sekurang-kurangnya setelah 5 tahun

 

Kata kunci: Anacardium occidentale, Primatani, intensifikasi, NTB

 

 

 

 

 

PRIMATANI TANAMAN PANILI BERBASIS TEKNOLOGI BIO-FOB  DI LUMAJANG JAWA TIMUR

 

Sukamto

 

ABSTRAK

 

Masalah utama dalam budidaya panili yang menyebabkan rendahnya produksi per hektar adalah adanya serangan penyakit dan belum tersedia varietas yang tahan di tingkat petani. Salah satu penyakit yang penting adalah busuk batang panili yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum f.sp. vanillae, yang tersebar di semua area panili di Indonesia. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan agensia hayati seperti Fusarium oxysporum non patogenic, Trichoderma lactae, and Bacillus pantotkenticus efektif untuk mengendalikan penyakit busuk batang panili. Teknologi pengendalian terpadu busuk batang panili dikenal dengan nama teknologi Bio-FOB. Primatani merupakan salah satu program departemen pertanian dengan tujuan untuk mempercepat transfer teknology dan meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan produksi dan kualitas. Model pengendalian terpadu busuk batang panili dengan menggunakan teknologi Bio-FOB dilakukan di desa Pasrujambe, kecamatan Pasrujambe, kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Pada program Primatani, pelaksanaan dan transfer teknologi Bio-FOB dilakukan dengan pembuatan demontrasi plot. Kira-kira 1.000 tanaman panili sudah ditanam di 5 lokasi di dusun Plambang, desa Pasrujambe. Teknologi Bio-FOB terdiri dari beberapa pengendalian biologi seperti Fusarium oxysporum non patogenik pada stek panili yang kemudian ditanam pada media yang dicampur dengan T. lactae dan B. Pantotkenticus yang berfungsi sebagai agensia hayati. Di lapang tanaman panili dibudidayakan juga dengan pemberian pupuk organik yang mengandung T. lactae dan B. Pantotkenticus yang dikenal dengan Bio-TRIBA

 

ABSTRACT

 

The main problem in vanilla cultivation is the low productivity per hectare by disease attack and unavailableness of resistance variety  by the farmers. One important disease is known such as vanilla stem rot disease caused by Fusarium oxysporum f. sp.vanilla which is distributed in all area vanilla plantation in Indonesia. Previous  research results showed that the use of biocontrol agents such as Fusarium oxysporum non patogenic, Trichoderma lactae, and Bacillus pantotkenticus are effective for vanilla stem rot disease. IPM of    vanilla stem rot disease is known as Bio-FOB technology. Prima Tani is the name of one program of department of agriculture which the objectives were to accelerate transfer of technology process through  demonstration of the whole available technology, and to increase farmer’s income through increasing of production and improving quality. Models of an integrated pest management of vanilla stem rot disease by using Bio-FOB technology were conducted in Pasrujambe, Lumajang, East Java. In Prima Tani program, implementation and transfer of Bio-FOB technology were conducted by demonstration plot. Approximately 1.000 vanilla plants were planted and done by local farmers in 5 location in Plambang village. Bio-FOB technology consisted of biological control by using the Fusarium  oxysporum non pathogenic agent which is applied by emerging the vanilla cuttings  and then planted it’s in the media which have been mixed with  T. lactae and B. pantotkenticus as the antagonistic agents. In the fields the vanilla plantation are cultivated by giving an organic fertilizer that containT.  lactae and B. pantotkenticus and known as Bio-TRIBA

 

 

 

 

 

 

About these ads

Tentang Perpustakaan Balittro

Pustakawan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Jl. Tentara Pelajar No. 3 Bogor 16111
Tulisan ini dipublikasikan di 2005, Kumpulan ABSTRAK Tan. Obat dan Aromatik. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s