ABSTRAK HASIL PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK TAHUN 2006

PROGRAM TANAMAN OBAT, Tanaman Atsiri, Aromatik dll

A. Eksplorasi, Konservasi, Koleksi, Karakterisasi, Evaluasi dan Dokumentasi Plasma Nutfah Tanaman Obat dan Aromatik

1. Eksplorasi Tanaman Obat dan Aromatik di Kalimantan Selatan
Indonesia memiliki keanekaan hayati tumbuhan terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Zaire, yakni 40.000 spesies tumbuhan berbunga. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.070 spesies merupakan tanaman obat. Untuk meningkatkan peran sumber daya hayati TOA bagi pembangunan ekonomi nasional, kekayaan alam ini perlu digali, dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Meskipun kaya akan keanekaragaman hayati, namun Indonesia miskin dalam keragaman genetik plasma nutfah. Kegiatan eksplorasi telah dilakukan di hutan sekunder Kalimantan Selatan pada bulan Agustus 2006, dengan mengumpulkan dan mengambil 50-100 jenis tanaman baru dan 50-100 aksesi tanaman obat dan aromatik dan yang spesifik lokasi, dengan metode survei dan wawancara dengan tetua adat dan penduduk setempat yang mengetahui kegunaan tanaman serta pengambilan contoh/sampel tanaman ke hutan di sekitar Kalimantan Selatan. Dilakukan juga analisa kandungan kimia dari beberapa tanaman hasil eksplorasi. Dari hasil survei lokasi ditentukan lokasi eksplorasi di: 1) hutan sekitar Desa Mandi Angin dan hutan pendidikan Universitas Lambung Mangkurat yang juga berlokasi di desa Mandi Angin, 2) hutan di sekitar HPH Aya Yayang Indonesia dengan Desa binaan Misim, Dambung, Panaan; 3) desa Hikun-Kabupaten Tabalong, 4) Desa Martadah-Kabupaten Pleihari dan ke pasar-pasar di sekitar Kabupaten Tabalong, Banjarbaru. Dari hasil eksplorasi di peroleh sebanyak 143 jenis tanaman dengan 180 aksesi tanaman obat dan aromatik. Terjadi penambahan jenis baru sekitar 55 jenis. Dari 3 suku yang ada di Kalimantan Selatan yakni Banjar, Dayak Mahayan, Dayak Lawangan dan suku pendatang yang ada di sekitar areal HPH AYI, umumnya masyarakat menggunakan fasilitas PUSKESMAS untuk merawat kesehatan. Namun bila penyakit yang diderita tidak kunjung sembuh, penduduk beralih pada pengobatan secara tradisional. Tetapi untuk beberapa penyakit ringan seperti batuk, masuk angin dan demam, masyarakat menggunakan ramuan tradisional yang telah dimiliki secara turun temurun. Adapun penyakit yang sulit disembuhkan menurut penduduk adalah lever dan kanker, untuk itu penduduk menggunakan tanaman akar kuning, kundun; sedangkan untuk penyakit kanker penduduk menggunakan cakar ayam, ceguk, temu mangga, sarang semut. Pria setempat masih menggunakan pasak bumi sebagai obat afrodisiak, karena bahan tanaman masih mudah ditemukan. Kaum wanita tidak lagi menggunakan tabat barito dari hutan, mereka lebih menggunakan produk hasil pabrik atau menggantikannya dengan yang lain. Dari hasil aklimatisasi di rumah kaca, 90 jenis tanaman yang berhasil hidup dan diperbanyak. Hasil analisa kimia terhadap tanaman akway (Drymis sp), mengandung senyawa tertinggi 7,11-epoksi isogomakron yakni 16,72; rumput keybar mengandung stigmasterol 37,5%, dan pasak bumi mengandung senyawa piperin 11,73%. Dari hasil analisa kimia pada kencur, mengandung kadar air 11,63%, serta kadar minyak atsiri 3,08%. Sementara sarang semut mengandung kadar air 9,91%, dan kadar sari dalam air 20,84%.

2. Konservasi Plasma Nutfah Tanaman Obat dan Aromatik Secara In Vitro dan Lapang

2.1. Konservasi Plasma Nutfah Obat dan Aromatik di Lapang
Konservasi plasma nutfah tanaman obat dan aromatik (TOA) dilakukan untuk melestarikan koleksi plasma nutfah tanaman obat dan aromatik. Konservasi dilakukan di lapang dalam bentuk koleksi hidup. Kegiatan konservasi di lapang meliputi pemeliharaan koleksi yang telah ada, memperbarui tanaman yang tua atau rusak, serta mengamati sifat-sifat morfologi dan komponen hasil pada beberapa spesies tanaman di masing-masing kebun. Konservasi plasma nutfah pada tahun 2006 telah dilakukan di lima kebun percobaan, yaitu KP. Cimanggu, KP. Cicurug, KP. Sukamulya, KP. Manoko dan KP. Gunung putri. Jumlah koleksi tanaman obat dan aromatik yang terdapat di kebun percobaan Balittro mencapai 392 jenis (termasuk duplikatnya) yang terbagi atas 73 jenis di KP. Cimanggu, 93 jenis di KP. Cicurug, 60 jenis di KP. Gunung Putri, 166 jenis di KP. Manoko serta 8 jenis di KP. Sukamulya. Sehubungan dengan reorganisasi Balittro, mandat beberapa kebun berubah, oleh karena itu tanaman-tanaman obat dan aromatik setahun yang berada di KP. Sukamulya dan KP. Cikampek (Balittri) direlokasikan ke KP. Cicurug dan KP. Cimanggu. Pemeliharaan berjalan dengan baik, namun keadaan tanaman di kebun pada umumnya merana karena adanya kemarau yang agak panjang yang berakibat pada rejuvenasi tanaman pada tahap kedua belum dapat dilakukan. Tanaman Phyrethrum yang dipindahkan dari KP. Gunung Putri ke KP. Manoko tidak berhasil karena semua tanaman mati, begitu juga dengan tanaman zodia yang tidak dapat tumbuh di KP. Manoko. Tanaman-tanaman semusim hampir semuanya telah dipanen (terutama temu-temuan) dan sifat-sifat yang penting telah diamati. Begitu juga spesies yang aksesinya cukup banyak.

2.2. Konservasi Tanaman Obat dan Aromatik Secara In Vitro
Pemeliharaan tanaman obat dan aromatik secara in vitro dilakukan pada 53 jenis dan penambahan 10 jenis tanaman baru di Laboratorium Kultur Jaringan. Koleksi tersebut dipelihara dengan menggunakan media perbanyakan MS yang diperkaya dengan BA pada berbagai taraf konsentrasi. Penyimpanan dilakukan juga dengan menggunakan media MS yang diaplikasi dengan paclobutrazol, ABA, manitol dan stres media. Pembentukan akar dilakukan dengan menggunakan media MS yang diperkaya dengn IAA, IBA dan NAA serta diaklimatisasi menggunakan media tanah+pupuk kandang atau tanah+kompos dan sekam. Dari hasil yang telah dilakukan terpelihara sebanyak 53 jenis tanaman dengan penambahan 7 jenis yaitu geranium, serai wangi, temu giring, bunga pukul delapan, nilam aceh merah, kalus sandrego dan aksesi yang berasal dari Papua. Penyimpanan pada media perbanyakan MS yang diperkaya BA menghasilkan periode kultur 4-8 bulan. Penyimpanan telah dilakukan pada 11 tanaman yakni sambang colok, lidah buaya, temu putih, tempuyung, legetan, daruju, stevia, terong belanda, ciplukan, sambung nyawa dan temu lawak. Terjadi peningkatan periode simpan pada tanaman temu lawak, bila pada media perbanyakan periode subkultur 2-4 bulan, dengan perlakuan paclobutrazol, masa simpan dapat diperpanjang menjadi 7 bulan. Perakaran telah dilakukan pada 6 jenis tanaman dan aklimatisasi telah dilakukan pada 7 jenis tanaman.

3. Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Tanaman Obat

3.1. Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Meniran
Karakterisasi dan evaluasi dilakukan untuk mendapatkan data karakter morfologi, hasil dan mutu plasma nutfah tanaman meniran. Delapan nomor meniran yang diperoleh dari hasil eksplorasi ditanam di KP. Cicurug, Sukabumi pada ketinggian 550 m dpl. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tiga ulangan. Meniran ditanam bulan Agustus pada petakan berukuran 1x 4 m dengan jarak tanam 20×20 cm sehingga dalam satu petakan berisi 100 tanaman. Sebelum tanam diberi pupuk kandang dengan dosis 0,25 kg/tanaman (10 ton/ha). Pada saat tanam diberikan Urea, SP-36 dan KCl masing-masing sebanyak 100 kg/ha. Pengamatan dilakukan terhadap sifat morfologi kuantitatif, antara lain tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun maupun sifat kualitatif, antara lain warna batang, cabang, daun, bunga dan buah. Perbedaan antar aksesi dianalisis menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Hasil pengamatan menunjukkan nomor yang dikarakterisasi mempunyai keragaman tinggi pada tinggi tanaman, diameter batang, jumlah bunga per tangkai daun, jumlah helaian daun per tangkai daun, panjang daun dan lebar daun, sedangkan pada parameter berat segar dan berat kering tanaman tidak menunjukkan adanya variasi pada aksesi. Aksesi H merupakan aksesi yang memiliki kenampakan terbesar, jika dilihat dari jumlah cabang yang dihasilkannya, tinggi tanaman, diamater batang, panjang daun dan lebar daun. Tidak terdapat perbedaan antar aksesi dalam bobot segar dan bobot kering per tanaman. Aksesi E menghasilkan hasil herba segar dan kering tertinggi, namun tidak berbeda nyata dengan aksesi lainnya. Analisa mutu belum selesai dilakukan sehingga belum dapat ditampilkan dalam laporan ini. Namun demikian, informasi yang dihasilkan dari karakterisasi tanaman meniran ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih bahan pemuliaan yang memiliki kontribusi dalam menghasilkan nomor-nomor unggul meniran terutama untuk sifat daya hasil tinggi.

3.2. Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Pegagan
Karakterisasi dan evaluasi dilakukan untuk mendapatkan data karakter morfologi, hasil dan mutu plasma nutfah tanaman pegagan. 18 nomor aksesi pegagan yang berasal dari hasil berbagai daerah di Indonesia yaitu dari Cibodas, Cianjur, Banjaran, Cicurug, Bali, Bengkulu, Manoko, Malaysia, Ciwidey, Sumedang, Majalengka, Gunung Putri, Ungaran, Smukren, Boyolali, Karang Anyar, Cilember dan Smugkim ditanam di KP. Cicurug, Sukabumi pada ketinggian 550 m dpl. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tiga ulangan. Pegagan ditanam bulan Agustus pada petakan berukuran 4×1 m dengan jarak tanam 20×20 cm sehingga dalam satu petakan berisi 100 tanaman. Sebelum tanam diberi pupuk kandang dengan dosis 0,50 kg/tanaman (20 ton/ha). Pada saat tanam diberikan Urea 200 kg/ha, SP-36 dan KCl masing-masing sebanyak 200 kg/ha. Pengamatan dilakukan terhadap sifat morfologi kuantitatif, antara lain tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah daun. Perbedaan antar aksesi dianalisis menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD). Dari hasil analisis sidik ragam yang dilanjutkan dengan UJBD terdapat beberapa sifat morfologi tanaman yang menunjukkan keragaman yaitu pada tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, diameter tangkai daun, tebal daun, panjang tangkai bunga, jumlah runner, panjang runner terpanjang, diameter runner, panjang buku terpanjang, jumlah bunga per runner, berat segar dan berat kering. Sedangkan untuk parameter jumlah vena, jumlah daun induk, jumlah daun pada anakan pertama dan kedua serta jumlah bunga per runner, tidak menunjukkan perbedaan yang nyata antar aksesi. Sifat morfologi kuantitatif aksesi yang berasal dari Bengkulu menunjukkan panjang daun terpanjang, lebar daun terlebar dan diameter tangkai daun terbesar jika dibandingkan dengan aksesi yang lain sedangkan jika diamati dari segi bobot basah aksesi yang berasal dari Cianjur dan Boyolali adalah yang tertinggi. Informasi yang dihasilkan dari karakterisasi dan evaluasi tanaman pegagan diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam memilih bahan pemuliaan yang memiliki kontribusi dalam menghasilkan nomor-nomor unggul.

3.3. Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Cabe Jawa
Cabe jawa merupakan tanaman yang mengandung bahan aktif berkhasiat afrodisiak. Tetapi kebenaran khasiat bahan aktif yang mempunyai efek afrodisiak dari tanaman tersebut belum terbukti secara ilmiah. Selain itu juga belum tersedia bahan tanaman unggul untuk dikembangkan lebih lanjut. Penelitian dilakukan di KP. Cikampek dengan menggunakan metode observasi langsung tanpa ulangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter morfologi 15 nomor cabe jawa dan mutu pohon induk terpilih. Parameter yang diamati meliputi karakter morfologi daun, batang dan buah. Hasil penelitian menunjukkan dari 10 nomor aksesi yang di karakterisasi berdasarkan morfologi daun terhadap daun muda dan daun dewasa karakter tersebut tidak begitu bervariasi bila dilihat dari panjang daun, lebar daun, tetapi batang dan buahnya bervariasi. Batang cabe jawa berbentuk bulat dengan panjang batang berkisar antara 1,35-5,20 cm, arah percabangan erek (tegak), lateral dan menggantung. Buah cabe jawa mempunyai bentuk bulat panjang, bulat pendek dan panjang pipih, warna buah muda hijau muda dan hijau sedangkan buah tua kuning dan merah. Panjang buah berkisar antara 1,11-4,16 cm dan jumlah buah per tangkai 0,42-2,36.

3.4. Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Mengkudu
Telah dilakukan karakterisasi dan evaluasi terhadap daun, bunga, buah, biji, dan pertumbuhan plasma nutfah mengkudu di KP. Sukamulya. Hasil karakterisasi menunjukkan adanya variasi pada diameter batang, warna tepi daun, permukaan atas daun, ujung daun, warna kuncup bunga, warna benangsari, tipe bunga, warna buah matang, bentuk buah, bobot/buah, jumlah biji/buah, dan bentuk biji. Produksi buah bervariasi antara 0,28-2,56 kg, produksi tertinggi ditunjukkan oleh Moci 4 (2,56 kg). Hasil analisa mutu menunjukkan adanya variasi dari nomor-nomor koleksi yang ada, keragaman nilai rendemen jus diantara aksesi cukup tinggi dibanding analisis mutu lainnya. Rendemen jus dari koleksi mengkudu berkisar 15,02% pada Moci 12 sampai dengan 54,67% pada Moci 9.

4. Dokumentasi Plasma Nutfah Tanaman Obat dan Aromatik
Dokumentasi dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data koleksi dan konservasi plasma nutfah tanaman obat dan aromatik yang tersebar di 5 kebun percobaan (Cimanggu, Cicurug, Sukamulya, Gunung Putri dan Manoko); data koleksi in vitro, data paspor hasil eksplorasi di Kalimantan Tengah, Jawa, dan Irian Jaya Barat, serta data paspor, karakterisasi dan evaluasi (Descriptor list) dari beberapa tanaman obat. Penyusunan sistem database plasma nutfah tanaman obat dan aromatik dikelola dengan menggunakan Microsoft Access 2000. Sampai akhir Desember 2006, database tanaman obat dan aromatik telah menampung sebanyak 2.654 records/aksesi dengan 592 species. Jumlah koleksi plasma nutfah yang sudah didokumentasikan untuk KP Cimanggu meliputi 285 spesies dan 346 aksesi, KP. Cicurug (129 spesies, 739 aksesi), KP. Sukamulya (98 spesies, 397 aksesi), KP. Manoko (224 spesies, 336 aksesi), KP. Gunung Putri (48 spesies, 167 aksesi), in vitro (59 spesies, 84 aksesi), eksplorasi di Kalimantan Tengah dan Jawa (123 spesies, 431 aksesi), eksplorasi di Irian Jaya Barat (134 spesies, 154 aksesi), dan data paspor, karakterisasi, serta evaluasi (descriptor list) dari beberapa tanaman obat (temulawak, kunyit, jahe merah, salam, jati belanda, pegagan, mengkudu, sambiloto, jambu biji, cabe jawa, dll). Dokumentasi lebih lanjut perlu dilakukan untuk melengkapi data yang sudah ada.

B. Perbaikan Produktivitas dan Mutu Sambiloto untuk Produksi Ekstra Terstandar

1. Uji Adaptasi Nomor-nomor Sambiloto
Sambiloto merupakan salah satu tanaman obat yang banyak digunakan masyarakat. Kebutuhan sambiloto untuk obat tradisional baik untuk IOT maupun IKOT per tahunnya adalah 33,47 ton simplisia kering atau setara, dengan 709,60 ton terna basah. Penggunaan terbesar ada di daerah Jawa Tengah. Untuk mendukung pengembangan sambiloto sebagai obat tradisional dan fitofarmaka diperlukan bahan tanaman unggul yang terjamin mutu dan khasiatnya. Kendala pengembangan sambiloto di antaranya adalah keragaman tanaman yang rendah. Keragaman timbul karena intervensi manusia dengan melakukan domestikasi sehingga berkembang variasi dan keanekaragaman di dalam spesies. Sementara sambiloto merupakan tanaman yang belum banyak dibudidayakan. Pengumpulan sambiloto dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat telah diperoleh 11 nomor aksesi, yang secara morfologi hampir sama, namun bervariasi dalam hal produksi dan mutu terna. Karakter morfologi tanaman sambiloto yang berkaitan dengan sifat kualitatif seperti warna daun, batang, bunga dan buah serta bentuk batang dari 11 nomor aksesi hampir sama, sehingga berdasarkan karakter tersebut antar nomor aksesi tidak dapat digunakan sebagai pembeda. Berdasarkan produksi dan mutu terna tersebut dipilih lima nomor koleksi terbaik untuk dilakukan pengujian di berbagai tempat dan diharapkan diperoleh nomor yang unggul. Di Lokasi KP Cimanggu terdapat variasi pertumbuhan (tinggi tanaman dan jumlah cabang) antar nomor-nomor terseleksi pada awal pertumbuhan, namun pada karakter panjang ruas dan diameter batang antar nomor tersebut tidak ada perbedaan. Tingkat produksi dan mutu terna nomor-nomor terseleksi tersebut di berbagai lokasi belum dapat disajikan, karena panen dan analisa belum dapat dilakukan akibat keterlambatan tanam akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

2. Pengaruh Cara Produksi dan Penanganan Benih Sambiloto
Selain penyimpanan, salah satu permasalahan dalam perbanyakan dengan benih adalah perkecambahan benih yang tidak seragam dan membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu 5-6 bulan (dormansi). Untuk mengantisipasi hal tersebut telah dilaksanakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui daya simpan benih sambiloto, dan mutu benih terbaik. Penelitian dilakukan di KP. Cimanggu-Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini terdiri dari 2 kegiatan yaitu: (1.) Peningkatan Viabilitas Benih Sambiloto (baru) dan (2.) Penyimpanan benih (lanjutan). Untuk kegiatan Peningkatan viabilitas benih sambiloto, disusun berdasarkan rancangan acak lengkap dengan 4 ulangan, faktor yang diuji adalah perlakuan: (1) Kontrol, (2) Perendaman dalam larutan KNO3 0,2% (30 menit), (3) Pengujian dengan media KNO3 0,2%, (4) Perendaman dalam air panas (suhu 70C) sampai suhu normal, (5) Pengeringan dengan oven (40C) selama 24 jam kemudian didinginkan dengan air biasa selama 24 jam dan dikeringkan lagi dalam oven (40C) selama 24 jam, (6) Perendaman dalam air biasa selama 24 jam kemudian dikeringkan dengan oven (40C) selama 24 jam kemudian direndam lagi dalam air biasa selama 24 jam, (7) Pengeringan dengan matahari selama 3 hari, dan (8) Pengeringan dengan oven (35C) selama 3 hari. Untuk kegiatan penyimpanan benih, kegiatan disusun berdasarkan rancangan acak lengkap (RAL), petak terbagi dengan 3 ulangan. Faktor yang diuji yaitu: (1) Kondisi simpan benih sebagai petak utama (Kondisi suhu ruang dan kondisi ruang dingin (10ºC, RH 40-50%). Kemasan benih sebagai anak petak yaitu menggunakan plastik aluminium foil dan kertas. Parameter yang diamati yaitu daya berkecambah, kecepatan tumbuh, kadar air, dan berat kering kecambah. Hasil yang diperoleh yaitu: (1.) Perlakuan pemecahan dormansi berpengaruh terhadap daya berkecambah, kecepatan tumbuh, keserempakan tumbuh dan berat kering sambiloto. Akan tetapi perlakuan pemecahan dormansi baik secara fisik maupun kimiawi belum mampu mencapai nilai daya berkecambah >80%, (2.) Perlakuan pemecahan dormansi yang terbaik yaitu pengeringan benih dengan cahaya matahari selama 3 hari dan pemberian larutan KNO3 0,2% pada media perkecambahan (daya berkecambah 28 dan 27,5%), (3.) Penyimpanan pada suhu ruang memberikan daya berkecambah, kecepatan tumbuh dan keserempakan tumbuh yang lebih baik dibanding penyimpanan pada suhu refrigerator, dengan kadar air simpan yang lebih rendah, (4) Penyimpanan dengan kantong aluminium memberikan daya berkecambah, kecepatan tumbuh, dan keserempakan tumbuh yang lebih baik dibanding kemasan plastik dan kemasan kertas, dengan kadar air simpan yang lebih rendah, (5) Daya berkecambah, kecepatan tumbuh, dan keserempakan tumbuh benih sambiloto tertinggi, dicapai pada umur simpan 4 sampai 6 bulan. Setelah 6 bulan simpan mutu benih sambiloto menurun, dan (6) Penyimpanan pada suhu refrigerator menyebabkan bertambahnya dormansi benih sambiloto.

3. Pengaruh Pemupukan Organik dan Alam Terhadap Mutu dan Produksi Sambiloto
Penelitian dilaksanakan di KP Cicurug. Ukuran plot 3×4 m dengan jarak tanam 30×40 cm (1 tanaman/lubang tanam), ditanam dengan sistem bedengan. Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk organik dan pola tanam optimum pada hasil dan mutu terbaik telah dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Sebagai faktor pertama adalah pola tanam, terdiri dari: (1) monokultur, dan (2) pola tanam dengan jagung, jarak tanam jagung antar baris 150 cm dan dalam baris 20 cm. Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Sebagai Faktor pertama adalah pola tanam, terdiri dari: (1) monokultur; (2) polatanam dengan jagung, jarak tanam jagung antar baris 150 cm dan dalam baris 20 cm. Sedangkan sebagai faktor kedua adalah dosis pupuk, terdiri dari (a) 10 ton kompos+300 kg fosfat alam+60 kg pupuk bio, (b) 10 ton kompos+300 kg fosfat alam+60 kg pupuk bio+300 kg zeolit, (c) 10 ton kompos+500 kg fosfat alam+60 kg pupuk bio, (d) 10 ton kompos+500 kg fosfat alam+60 kg pupuk bio+300 kg zeolit, (e) 20 ton kompos+300 kg fosfat alam+60 kg pupuk bio, (f) 20 ton kompos+300 kg fosfat alam+60 kg pupuk bio+300 kg zeolit, (g) 20 ton kompos+500 kg fosfat alam+60 kg pupuk bio, (h) 20 ton kompos+500 kg fosfat alam+60 kg pupuk bio+300 kg zeolit, (i) 10 ton pupuk kandang+200 kg Urea+200 kg SP36+100 kg KCl/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cabang dipengaruhi oleh perlakuan pola tanam dan dosis pupuk organik dan pupuk alam. Pola tanam monokultur menghasilkan jumlah cabang lebih tinggi dibanding pola tumpangsari dengan jagung. Jumlah cabang primer terbanyak (32,92) dicapai pada perlakuan 10 ton kompos+500 kg fosfat alam+60 kg pupuk bio. Produksi simplisia sambiloto pada pola monokultur (terbuka) adalah 507,57 kg/ha, lebih tinggi sekitar 18% dibanding produksi simplisia pada pola monokultur dengan jagung. Produksi simplisia sambiloto tertinggi diperoleh dari perlakuan dosis pupuk rekomendasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa penggunaan pupuk anorganik masih menjadi cara terbaik untuk memperoleh produksi tertinggi, yakni 614,87 kg/ha. Dari dosis pupuk organik dan pupuk alam, dosis pupuk 20 ton kompos+500 kg fosfat alam+60 kg pupuk bio+300 kg zeolit memberikan hasil tertinggi, yakni 555,13 kg/ha, atau turun sekitar 10% dibanding dosis pupuk rekomendasi. Dosis pupuk organik dan pupuk alam mampu menghasilkan mutu simplisia lebih baik dibandingkan dosis pupuk anorganik rekomendasi. Semua perlakuan menghasilkan mutu simplisia sambiloto yang memenuhi standar MMI.

4. Pengaruh Tingkat Pemberian Air pada Beberapa Nomor Sambiloto Terhadap Mutu dan Produksi Simplisia
Penelitian untuk mempelajari pengaruh pemberian air dan jumlah aksesi sambiloto (Andrographis paniculata) untuk meningkatkan produktivitas dan mutu simplisia dilaksanakan di rumah kaca Balittro, Bogor. Rancangan yang digunakan adalah Split plot desain, perlakuan diulangi tiga kali. Faktor utama adalah 3 nomor aksesi yaitu Cmg-1, Cmg 2, dan Bali-1, dan sub faktor adalah pemberian air yaitu 3 mm, 4, mm, 5 mm, 6 mm, dan 7 mm/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi yang nyata antar perlakuan, kecuali produksi berat segar pada 2 bulan setelah tanam (BST) dan produksi berat kering pada 4 BST. Perlakuan Cmg-2 dikombinasi dengan pemberian air 5 mm/hari menghasilkan berat segar dan kering A. paniculata yang paling tinggi. Dengan perlakuan pemberian air 3-7 mm/hari tanaman ini dapat menghasilkan simplisia yang memenuhi standar Materia Medica Indonesia (MMI) baik kadar air, kadar debu, dan kadar sari. Mutu Bali-1 pada perlakuan pemberian air 3 mm/hari menunjukkan kadar sari larut alkohol tertinggi (22,28%) dan Cmg-2 pada perlakuan pemberian air 4 mm/hari menunjukkan kadar sari larut air paling tinggi (28,14%).

5. Ekobiologi dan Pengendalian Ramah Lingkungan Penyakit dan Hama Utama Sambiloto
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan tahun 2005, bertujuan untuk mendapatkan teknik pengendalian Sclerotium sp. dan nematoda Aphelenchoides sp. serta mengetahui jenis-jenis hama penting tanaman sambiloto. Penelitian dilakukan di KP Cicurug dan KP Cimanggu. Tanaman sambiloto ditanam menjelang akhir musim hujan. Pada tahun 2006 musim kemarau cukup panjang sampai dengan bulan Oktober 2006 sehingga kemunculan penyakit dan hama pada pertanaman sambiloto sangat sedikit. Namun demikian, dari beberapa kegiatan lapang yang dilakukan diperoleh informasi bahwa pengaruh perlakuan jenis dan frekwensi aplikasi substrat Trichoderma sp. masih lebih baik dalam mengendalikan Sclerotium sp. Dibanding tanpa perlakuan (kontrol). Sedangkan kegiatan penelitian pengendalian nematoda hawar daun Aphelenchoides sp. menunjukkan bahwa sanitasi kebun sangat penting karena nematoda ini dapat menyerang beberapa jenis gulma seperti Ageratum conyzoides, Achalypa sp., Oxalis sevium dan Borreria laevis yang sering ditemukan di pertanaman sambiloto. Selain itu, pemusnahan daun sambiloto yang gugur terserang nematoda perlu dilakukan karena dapat membantu menyebarkan patogen. Sedangkan untuk mengendalikan nematoda patogen ini, pemakaian pestisida nabati seperti cashew nut shell liquid (CNSL) 1,0%, ekstrak mimba 0,1%, dan carbofuran 2g/tanaman cukup efektif menekan serangan nematoda Aphelenchoides sp. Aplikasi harus dilakukan sejak awal (pada saat tanam) pada saat terlihat adanya gejala penyakit, dan diulang setiap 4 minggu. Selanjutnya, hasil penelitian tentang jenis-jenis hama pada tanaman sambiloto menemukan beberapa jenis serangga yang hidup pada tanaman sambiloto. Kutu tempurung (P. nigra) yang sebelumnya merupakan masalah yang serius di lapang, pada saat penelitian dilakukan tidak merupakan masalah serius karena populasi dan tingkat kerusakannya kecil.

6. Pembuatan Ekstrak Kering Sambiloto dan Penyimpanan
Tanaman sambiloto dapat digunakan dalam bentuk segar, simplisia, serbuk, ekstrak kental dan ekstrak kering. Sambiloto dalam bentuk ekstrak kering penggunaannya sebagai bahan baku obat fitofarmaka lebih praktis serta lebih tahan disimpan sebelum diolah lebih lanjut. Penelitian ini terdiri dari dua sub kegiatan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bahan pengisi dan jenis pengering terhadap mutu ekstrak sambiloto serta pengaruh iradiasi dan ruang penyimpanan terhadap mutu ekstrak. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengujian Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Laboratorium Toxikologi Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor dan Laboratorium Tenaga Nuklir Nasional Pasar Jumat Jakarta. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Split Plot yang terbagi dalam dua petak dengan dua ulangan. Sub kegiatan pertama sebagai petak utama adalah konsentrasi bahan pengisi (A) yang terdiri dari 6 level yaitu 0%, 10%, 20%, 30%, 40% dan 50%, sedangkan anak petak yaitu jenis pengering (B) yang terdiri dari oven dan freeze dryer. Untuk sub kegiatan kedua sebagai petak utama adalah dosis iradisi (A) yang terdiri dari 5 level yaitu 0 kGy, 2,5 kGy, 5 kGy, 7,5 kGy dan 10 kGy dan anak petak adalah ruang penyimpanan (B) yang terdiri dari dua level yaitu ruang ber AC dan ruang suhu kamar. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa konsentrasi bahan pengisi berpengaruh terhadap mutu ekstrak kering sambiloto. Pengeringan ekstrak sambiloto dapat menggunakan alat pengering beku (freeze dryer), baik dengan penambahan bahan pengisi maupun tanpa bahan pengisi. Sedangkan pengeringan ekstrak dengan oven harus dengan penambahan bahan pengisi. Penambahan bahan pengisi pada konsentrasi 50% baik yang dikeringkan dengan oven maupun freeze dryer menghasilkan ekstrak kering sambiloto dengan mutu yang baik. Hal ini dilihat dari warna, tekstur, kadar air dan kadar andrografolidnya hampir sama dan merupakan hasil yang terbaik. Kadar andrografolid yang dihasilkan berkisar antara 2,39-6,72%. Demikian juga dengan penyimpanan ekstrak, semakin tinggi dosis iradiasi yang digunakan, semakin baik mutu ekstrak yang dihasilkan karena kemungkinan ekstrak untuk tercemar oleh patogen semakin kecil. Untuk kadar air dan kadar andrografolid ekstrak, pengaruh ruang penyimpanan sampai penyimpanan umur 6 bulan perbedaannya tidak nyata, karena sampai penyimpanan umur 6 bulan, ekstrak sama sekali belum tercemar oleh patogen sehingga mutu ekstrak masih tetap baik semua.

C. Penyiapan Teknologi Mendukung Pengembangan Temu lawak (Curcuma xanthorrhiza)

1. Uji Multilokasi Nomor-nomor Harapan Temu Lawak pada Berbagai Kondisi Agroekologi
Pembentukan dan pelepasan varietas unggul merupakan langkah awal untuk mendukung keberhasilan pengembangan pertanaman temu lawak nasional. Untuk mendukung usaha itu pada tahun anggaran 2005 telah dimulai pelaksanaan penelitian uji multilokasi enam nomor harapan temulawak hasil karakterisasi dan evaluasi 20 nomor plasma nutfah koleksi Balittro. Penelitian dilakukan di tiga lokasi sentra produksi temu lawak di jawa Barat dan Jawa Tengah yang mewakili kondisi agroekologi yang berbeda. Dari tiga lokasi yang dipilih dua berada di Jawa Barat yang terletak di Desa Cipenjo, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor yang mewakili dataran rendah (200 m dpl ) dan desa Ganjar Resik, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang yang mewakili dataran tinggi (800 m dpl). Satu lokasi berada di Jawa Tengah yaitu di desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali yang mewakili dataran sedang (450 m dpl). Sampel tanah di tiap lokasi penelitian dianalisa di Laboratorium Tanah Balittro. Penelitian tahun pertama dirancang menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Perlakuan terdiri dari enam nomor harapan temulawak hasil karakterisasi Balittro pada tahun-tahun sebelumnya disertai satu varietas lokal. Setiap unit percobaan terdiri dari petak berukuran 4×3,75 m. Jarak tanam yang digunakan 0,75×0,50 m sehingga setiap petak terdiri dari 40 tanaman. Jarak antar petak 1 m dan jarak antar ulangan 1,5 m. Total lahan di setiap lokasi adalah 1.000 m2. Bahan tanaman terdiri dari rimpang samping, di tanam satu rimpang per lubang tanam. Semua perlakuan dipupuk dengan pupuk kandang 20 ton/ha, 200 kg /ha urea, 200 kg/ha SP-36 dan 200 kg/ha KCL. Pupuk kandang, SP-36 dan KCL diberikan saat tanam. Pupuk Urea diberikan 3 kali aplikasi yaitu umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanam, masing-masing 1/3 agihan (67 kg/ha/agihan). Penelitian tahun kedua 2006/2007 dari saran Monev Balittro, rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan empat ulangan. Perlakuan terdiri dari enam nomor harapan temu lawak dan dua varietas lokal. Sehingga tiap lokasi terdiri dari delapan perlakuan genotipe. Setiap unit percobaan terdiri dari petak berukuran 5×6 m. Jarak tanam yang digunakan 0,75×0,50 m sehingga tiap petak terdiri dari 80 tanaman. Jarak antar petak 1 m dan jarak antar ulangan 1,5 m. Total lahan di setiap lokasi adalah 2000 m2. Bahan tanaman terdiri dari rimpang primer ditanam satu rimpang per lubang tanam dengan dosis yang sama seperti tahun pertama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nomor harapan A memiliki produksi rata-rata rimpang/ha di tiga lokasi tertinggi yaitu 28,199 ton/ha atau 35,9% lebih tinggi dibanding temu lawak lokal 1 yaitu 20,755 ton/ha. Nomor harapan B, D dan E masing-masing memberikan hasil rimpang/ha 25,465 ton/ha, 25,816 ton/ha dan 25,996 ton/ha. Sedangkan nomor harapan F memberikan hasil rimpang 23,576 ton/ha. Nomor harapan D memiliki kandungan minyak atsiri terbaik di tiga lokasi pengujian, kemudian diikuti nomor harapan B, F dan E. Nomor harapan F memiliki kandungan xanthorizol lebih baik dibanding nomor lokal di tiga lokasi pengujian yaitu di Cileungsi 0,52% (lokal 0,50%), di Sumedang 0,97% (lokal 0,89%) dan di Boyolali 0,56% (lokalnya 0,21%).

2. Respon Nomor Harapan Temu Lawak Terhadap Kombinasi Pemupukan Nitrogen, Fospat dan Kalium
Temu lawak (Curcuma xanthorhiza Roxb) merupakan tanaman obat asli Indonesia, disebut juga Curcuma javanica, dan merupakan salah satu tanaman obat yang banyak dimanfaatkan oleh industri obat tradisional. Produksi rata-rata nasional rimpang temu lawak masih rendah dan mutunya sangat bervariasi. Pemupukan yang seimbang terutama hara makro N, P dan K dapat meningkatkan produksi dan mutu rimpang temu lawak, oleh karena itu dilakukan penelitan kearah ini. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh dosis kombinasi pupuk nitrogen, fosfat dan kalium yang seimbang sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan, produksi dan mutu rimpang temu lawak terutama kurkuminoid dan xanthorhixol. Kegiatan penelitian dilakukan di KP. Sukamulya, dilakukan secara bertahap. Penelitian tahap pertama pada tahun 2006 yaitu pelaksanaan tanam sampai memperoleh data pertumbuhan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan pola faktorial, diulang tiga kali. Perlakuan yang diuji adalah satu nomor harapan temu lawak dan kombinasi pupuk Urea, SP36 dan KCL masing-masing terdiri dari tiga dosis: 100, 200, dan 300 kg/ha. Jarak tanam 75×50 cm, populasi sebanyak 40 tanaman/petak, dengan ukuran petak 3,75×4 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman terbaik dicapai oleh kombinasi perlakuan 300 kg/ha Urea, 300 kg/ha SP36 dan 200 kg KCl. Semakin tinggi dosis pupuk N dan P yang diberikan semakin tinggi komponen pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah anak, jumlah daun, panjang daun, dan lebar daun.

D. Penelitian Komponen Teknologi Budidaya untuk Mendukung Pengembangan Tanaman Purwoceng

1. Karakterisasi Nomor-nomor Koleksi Purwoceng
Penelitian karakterisasi nomor-nomor koleksi purwoceng di KP. Gn. Putri Cipanas, bertujuan untuk mengetahui karakter kualitatif dan kuantitatif enam nomor koleksi purwoceng. Perlakuan yang diuji adalah enam nomor koleksi purwoeng yaitu Pipru 1, 2, 3, 4, 5 dan 6, ditanam dengan jarak tanam 30×40 cm, di dalam petak berukuran 6×4 m², populasi per petak 100 tanaman. Rancangan yang digunakan adalah Acak kelompok dengan lima ulangan. Hasil menunjukkan bahwa keenam aksesi purwoceng dapat dibedakan secara morfologi berdasarkan karakter warna daun dan tangkai daun. Sifat pembeda dengan proporsi yang jelas adalah warna tulang daun bagian bawah Pipru-01 dan -02 (hijau) berbeda dengan Pipru-03, -04 dan -05 (merah), warna daun dewasa bagian bawah Pipru-01, 02, 03, 04, dan 05 (hijau) berbeda dengan Pipru-06 (merah), serta warna tangkai daun muda bagian atas Pipru-03 (hijau) berbeda dengan lima aksesi lainnya (merah). Namun masih perlu dilakukan pemurnian untuk setiap aksesi tersebut. Komponen hasil dan produksi keenam aksesi tidak berbeda nyata pada umur 6 BST. Selain itu, kondisi lingkungan yang kurang optimal mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu sehingga produksi terna keenam aksesi yang diuji sangat rendah.

2. Penelitian Pemupukan Organik untuk Meningkatkan Produksi dan Mutu Simplisia Purwoceng
Akibat terbatasnya teknologi budidaya purwoceng dan meningkatnya kebutuhan bahan baku simplisia purwoceng untuk keperluan industri jamu dan obat tradisional, maka eksplorasi di hutan dan hasil panen dari budidaya masyarakat di sekitar Dieng sangatlah tidak mencukupi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan taraf dan jenis pupuk organik yang optimal untuk peningkatkan produksi dan mutu simplisia purwoceng. Penelitian dilaksanakan di KP Gunung Putri, Cianjur. Rancangan yang digunakan adalah Petak terpisah dengan 4 ulangan. Petak utama adalah 4 jenis pupuk organik, yaitu pupuk ayam, kambing, sapi dan kompos dan anak petak adalah 3 taraf pemupukan yaitu 20 ton, 30 ton, 40 ton/ha. Dari hasil pengamatan, terlihat bahwa secara umum pertumbuhan tanaman purwoceng sampai umur 3 BST pada kondisi agroklimat KP Gunung Putri terlihat cukup baik dan seragam. Jenis dan taraf pemupukan organik tampak berpengaruh baik terhadap komponen pertumbuhan (diameter daun, panjang akar, volume akar, panjang dan diameter umbi serta produksi biomas tanaman (bobot basah, bobot kering daun dan akar). Pemberian pupuk organik yang berupa pupuk kandang (kotoran ayam) menunjukkan pengaruh yang paling baik terhadap pertumbuhan dan produksi purwoceng, kemudian diikuti oleh pupuk kandang (kotoran kambing, sapi dan kompos). Perbedaan pengaruh perlakuan tersebut mungkin disebabkan oleh adanya perbedaan kandungan hara yang terdapat di dalam masing-masing pupuk dan tingkat ketersediaan hara tersebut dapat diserap oleh tanaman. Perlakuan taraf pemupukan organik yang tinggi tampak tidak berbeda nyata dengan perlakuan taraf pemupukan sedang dan rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh relatif tingginya kandungan hara N dan P di dalam tanah. Kadar stigmasterol dan steroid total di dalam akar cenderung lebih tinggi dibandingkan di dalam daun purwoceng. Sebaliknya kadar sitosterol di dalam daun cenderung lebih besar dibandingkan di dalam jaringan akar purwoceng sendiri. Kadar sitosterol tertinggi dijumpai pada perlakuan pupuk kotoran ayam, sedangkan kadar terendah dijumpai pada perlakuan jenis pupuk kompos.

3. Studi Viabilitas Benih Purwoceng
Informasi tentang perbenihan purwoceng belum banyak diketahui, terutama tentang teknik produksi dan pengelolaan benih purwoceng. Berdasarkan permasalahan tersebut perlu dilakukan penelitian tentang: 1). Penentuan masak fisiologis benih purwoceng dan, 2). Pengaruh pemupukan N dan P terhadap produksi dan mutu benih purwoceng. Penelitian bertujuan: 1). untuk mengetahui masak fisiologis benih purwoceng yang tepat, 2). mempelajari dosis pupuk N dan P yang tepat untuk meningkatkan produksi dan mutu benih purwoceng. Penelitian dilakukan di K.P. Gunung Putri, (Jawa Barat) dan Laboratorium Benih Kelti Plasma Nutfah dan Pemuliaan. 1). Penentuan Masak Fisiologis benih purwoceng, disusun berdasarkan rancangan acak kelompok dengan pola faktorial (dua faktor), dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah 2 jenis tanaman purwoceng: 1) merah, dan 2) hijau, faktor ke dua adalah 5 tingkat umur panen benih yaitu: 1). 3 minggu, 2). 4 minggu, 3).5 minggu, 4).6 minggu dan 5).7 minggu setelah inisiasi bunga. Parameter yang diamati meliputi berat basah benih, viabilitas benih, dan kecepatan tumbuh benih. 2). Pengaruh pemupukan N dan P terhadap produksi dan mutu benih purwoceng, merupakan percobaan faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan, yang disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK). Faktor pertama 3 taraf pupuk N (ZA) yaitu: tanpa pupuk, 0,42 N (2 g ZA/pot), dan 0,84 N (4 g ZA/pot). Faktor kedua 3 taraf pemberian pupuk P: tanpa pupuk, 0,36 P (1 g SP36/pot), dan 0,72 P (2 g SP 36/pot). Hasil percobaan menunjukkan bahwa: 1). Tanaman purwoceng jenis hijau cenderung mempunyai komponen pertumbuhan vegetatif maupun generatif yang lebih baik dibanding tanaman purwoceng jenis merah. Hasil pengamatan terhadap daya tumbuh benih purwoceng menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan daya tumbuh antara jenis purwoceng merah dan hijau. Benih yang dipanen 7 minggu setelah inisiasi bunga mempunyai daya tumbuh teringgi yaitu 23%. 2). Pemberian pupuk N dengan dosis 0,84 g ZA/pot nyata meningkatkan pertumbuhan vegetatif (jumlah daun, diameter tajuk, panjang pelepah dan jumlah pelepah) tanaman purwoceng. Pemberian pupuk P tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman purwoceng. Pengujian terhadap mutu benih belum dapat dilakukan, karena mundurnya waktu panen, akibat musim kemarau yang panjang.

4. Teknik Pembuatan Simplisia dan Ekstrak Purwoceng Terstandar
Penelitian bertujuan mempelajari cara pengeringan simplisia, pembuatan ekstrak dan evaluasi terhadap simplisia purwoceng yang dihasilkan/terdapat di daerah sentral produksi. Bahan baku untuk pengeringan, ekstraksi dan simplisia diperoleh dari daerah Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah. Percobaan pengeringan menggunakan 3 cara, yaitu pengeringan dengan sinar matahari langsung, pengeringan dengan alat (oven) dan pengeringan dengan aliran udara (kering angin). Proses ekstraksi menggunakan cara maserasi-perkolasi dengan pelarut alkohol 60%, 75% dan 90%. Analisis mutu pada simplisia, simplisia hasil pengeringan dan ekstrak meliputi warna (organoleptik), kadar air, kadar abu dan abu tak larut asam, sari dalam air dan sari dalam alkohol, kandungan bahan aktif serta logam mineral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simplisia dari daerah Batur, Banjarnegara, masih perlu diperbaiki terutama penampilan organoleptiknya (warna) serta kebersihannya. Hasil pengeringan menunjukkan bahwa pengeringan dengan aliran udara (kering angin) menghasilkan simplisia yang lebih baik dibandingkan cara pengeringan matahari dan pengeringan oven serta lebih baik dari pada simplisia dari Banjarnegara. Warna simplisia lebih segar, kadar sari dan kandungan bahan aktifnya lebih tinggi. Hasil ekstraksi dengan alkohol 90 % menggunakan metode maserasi-perkolasi menghasilkan rendemen ekstrak yang lebih tinggi dibandingkan alkohol 60% dan 75%. Kandungan bahan aktif dalam ekstrak alkohol 90% juga lebih tinggi. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa simplisia maupun ekstrak mengandung alkaloid, saponin, tanin, glikosida, triter penoid-steroid, plavonoid dan fenolik.

E. Penyiapan Teknologi Mendukung Pengembangan Artemisia Sebagai Obat Anti Malaria

1. Uji Adaptasi Tanaman Artemisia annua
Malaria merupakan penyakit yang cukup serius untuk segera diatasi di Indonesia. Penggunaan pil kina pada pengobatan malaria secara terus menerus selama lebih dari 20 tahun telah menyebabkan Plasmodium falciparum (penyebab penyakit malaria) menjadi resisten. Salah satu alternatif untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menggunakan tanaman Artemisia annua L. Tanaman ini mampu mengatasi penyakit malaria karena mengandung bahan aktif artemisinin yang telah terbukti efektif mengatasi penyebab penyakit malaria tersebut. A. annua merupakan tanaman introduksi dari daerah sub tropis, karena itu terdapat beberapa permasalahan apabila akan dikembangkan di daerah tropis antara lain kadar artemisinin yang rendah dan lingkungan tumbuh yang berbeda dari daerah asalnya. Untuk mendukung pengembangan A. annua L di Indonesia diperlukan penelitian awal yaitu menguji daya adaptasi A. annua pada beberapa agroklimat yang berbeda. Dengan tujuan untuk memperoleh informasi baik jenis maupun lingkungan yang paling sesuai untuk pertumbuhan, sehingga diharapkan tanaman A. annua mampu menghasikan produksi herba dengan kandungan artemisinin tinggi pada lingkungan yang sesuai tersebut. Penelitian dilaksanakan di dua lokasi yaitu KP Gunung Putri (1500 m dpl) dan KP Manoko (1200 m dpl). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok 6 ulangan, perlakuan yang diuji adalah empat jenis populasi artemisia. Hasil persemaian di dua lokasi tersebut menunjukkan adanya perbedaan baik populasi/jenis tanaman yang hidup maupun persentase hidupnya. Kondisi tanaman di persemaian pada lokasi Gunung Putri sebagian besar tumbuh dengan baik. Empat populasi yang disemai dapat tumbuh dengan baik (Ad3, Ad4, Ad5, Ad6) > 80%. Sedangkan di Manoko, hanya 3 populasi yang dapat tumbuh dengan baik yaitu Ad 3, Ad 4, dan Ad6 berkisar 70-80%. Sebaliknya 1 populasi lainnya (Ad 5), persentase tumbuhnya kurang baik hanya < 40%. Hasil sementara pertumbuhan di lapang pada lokasi Gunung Putri menunjukkan belum adanya respon yang nyata dari keempat populasi yang meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang dan diameter batang.

2. Perbaikan Mutu Genetik Tanaman Artemisia Annua
Perbaikan genetik tanaman artemisia dimaksudkan untuk peningkatan kadar artemisinin. Pada tahun 2006 kegiatan utama adalah meningkatkan keragaman genetik melalui mutasi induksi dengan radiasi sinar gamma. Bahan tanaman yang digunakan adalah 4 populasi Artemisia annua yang diperoleh dari BPTO Tawangmangu dan PT Kimia Farma. Penelitian dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama adalah penentuan dosis LD 50, dengan dosis 0, 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 Gy dan tahap kedua adalah radiasi benih yaitu kontrol, dosis Ld 50 dan di atas Ld 50. Benih yang telah diradiasi ditanam di KP. Manoko (1200 mdpl) dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan susunan faktorial. Faktor pertama adalah benih dan faktor kedua adalah dosis radiasi. Parameter yang digunakan untuk menentukan LD 50 adalah daya berkecambah benih pada umur 10 hari setelah semai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LD 50 dicapai pada dosis radiasi 30-40 Gy. Benih yang telah diradiasi ditanam di KP. Manoko.

F. Potensi Pembudidayaan Tanaman Buah Merah

1. Konservasi Ex Situ Tanaman Buah Merah di KP Nagasari
Kegiatan konservasi ex situ tanaman buah merah yang dilaksanakan di KP Nagasari bertujuan mengkonservasi koleksi 35 calon aksesi (300-500 batang) tanaman buah merah yang terpelihara dengan baik. Kegiatan dilakukan dengan menanam sebanyak 20-40 calon aksesi sebanyak 300-500 batang tanaman buah merah. Jarak tanam yang dipilih sesuai kontur tanah yaitu 3×3 m, 3×4 m dan 4×4 m pada lahan seluas 0,75 ha. Bibit yang telah berukuran 0,50 m dengan pertumbuhan yang baik di polibag dipindahkan ke dalam kebun yang telah disiapkan lubang tanamnya dan telah berisi kompos/pupuk kandang secukupnya. Pengamatan pertumbuhan dengan mengamati sebagian dari karakter morfologi tanaman (tinggi batang,panjang akar tunggang, panjang dan lebar daun). Hasil konservasi koleksi plasma nutfah tanaman buah merah adalah sudah tertanam 39 calon aksesi dengan 322 pohon. Bibit yang belum siap tanam di lapang masih dipelihara di rumah kaca, menunggu tanaman lebih kuat dan besar agar bila ditanam di kebun cepat beradaptasi. Penampilan pertumbuhan sebagian besar tanaman buah merah terlihat baik dengan tinggi tanaman berkisar antara 12-70 cm, jumlah daun antara 11-40 helai, panjang daun sekitar 20-80cm. Perbedaan pertumbuhan diantara tanaman mungkin karena dalam fase adaptasi dan pengaruh perbedaan lingkungan agroklimat tempat tumbuh. Tanaman buah merah yang masih muda nampaknya sensitif ternaungi, pertumbuhannya kurus dan menguning dibanding yang ditanam di bawah naungan tanaman kayu manis, lebih hijau, cepat besar dan tinggi.

2. Pengaruh Jenis Setek dan Media Tumbuh Terhadap Pertumbuhan Bibit Buah Merah
Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendapatkan teknologi perbanyakan bahan tanaman (jenis setek dan media tumbuh) terhadap pertumbuhan setek buah merah. Penelitian dilaksanakan di rumah atap PTP Papua, di Sentani Jayapura. Rancangan yang digunakan adalah Acak Kelompok dengan pola faktorial, 2 faktor. Faktor pertama adalah tiga jenis sumber bahan tanaman (setek anakan, batang dan tunas) dari jenis buah (jenis Ferry) dari pertanaman buah merah di daerah bukit Cylop. Faktor ke-dua adalah jenis media tumbuh yaitu a) tanah, b) tanah+pupuk kandang (2:1), c) tanah+kompos (2:1), d) tanah+mikoriza arbuskula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis setek berpengaruh nyata terhadap pertambahan jumlah daun pada 3 dan 4 BST, jumlah akar (4-6 BST) dan panjang akar. Setek dari tunas dan anakan menghasilkan pertumbuhan bibit, jumlah dan panjang akar terbaik. Sedangkan perbedaan media tanam berpengaruh nyata terhadap pertambahan jumlah daun pada 3 BST. Media tanam tanah+pupuk kandang menghasilkan jumlah daun bibit buah merah tertinggi. Media tanam tanah+kompos dan tanah+MA berpengaruh positif terhadap jumlah dan panjang akar.

3. Status Pengusahaan Buah Merah
Buah merah merupakan salah satu jenis pandan-pandanan yang tumbuh di pulau Irian dan merupakan salah satu sumber minyak nabati. Minyak buah merah berasal dari buah merah melalui proses pengolahan dengan cara dimasak/dikukus. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui profil pengusahaan, harga riil yang terjadi pada industri minyak buah merah dan sistim pemasarannya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2006, dengan mengambil lokasi penelitian pada sentra-sentra industri minyak buah merah di Kabupaten Jayapura dan Jayawijaya propinsi Papua. Penelitian menggunakan metode survey dengan mengambil sampel industri minyak buah merah, ditentukan secara purposive (ditentukan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil industri buah merah merupakan industri sendiri atau pola usaha keluarga dengan pola produksi secara musiman. Harga minyak buah merah yang terjadi di pasaran bukan merupakan bentukan harga dari harga pokok proses ditambah keuntungan yang wajar. Harga yang terjadi di pasar berkisar dari Rp. 300.000,- sampai dengan Rp. 1.040.000,-/l, tetapi harga yang wajar hanya sekitar Rp. 166.998,-/l. Rantai pemasarannya masih sangat sederhana dan belum efisien, pernah terjadi penipuan kualitas dan terdapat perbedaan perlakuan pada fungsi-fungsi pemasaran .

2. PROGRAM TANAMAN AROMATIK

A. Peningkatan Produktivitas Tanaman seraiwangi Melalui Perbaikan Potensi Genetik, dan Teknik Budidaya

1. Pengaruh Pertumbuhan dan Produksi 3 Klon Harapan Seraiwangi pada Lokasi Berbeda
Penelitian dilaksanakan di tiga lokasi yang berbeda yaitu: Pariaman (20 m/dataran rendah), KP Laing (460 m/dataran sedang), dan Alahan Panjang (1100 m/dataran tinggi), masing-masing tanaman seluas 0,15 Ha. Metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 3 perlakuan: Klon G115, G127 dan G132, 4 ulangan (kelompok). Ukuran plot 100 rumpun, jumlah populasi keseluruhan adalah 1.200 rumpun, dan jarak tanam 1×1 m. Hasil pengamatan pertumbuhan sampai dengan panen kedua menunjukkan bahwa pada lokasi dataran rendah dan dataran sedang pertumbuhan dan hasil produksinya lebih baik dibanding pertanaman di dataran tinggi. Selain itu, klon G132 menunjukkan pertumbuhan dan produksi terbaik di ketiga lokasi penanaman dibanding klon G115 maupun G127, sedangkan klon G115 rendemen dan mutu minyaknya lebih baik dibanding klon G127 dan G132.

2. Pengaruh Pemupukan dan Periode Panen Terhadap Produksi Seraiwangi
Untuk mendukung pengembangan tanaman seraiwangi di Indonesia, tindakan pemupukan, minimal pemberian pupuk organik, dan penentuan jarak panen yang tepat diharapkan mampu meningkatkan produksi daun segar dan minyak yang tinggi. Penelitian dilaksanakan di KP. Laing Solok (450 m dpl dengan jenis tanah Podsolik Merah Kuning) pada lahan seluas 1,2 ha. Rancangan yang digunakan adalah faktorial dalam RAK. Percobaan A terdiri atas 2 faktor teknik budidaya dengan 3 ulangan, yaitu. Faktor I. adalah 5 taraf pemupukan: 1) tanpa pupuk, 2) kapur, 3) pupuk kandang, 4) kompos, dan 5) pupuk kandang+kapur. Faktor II adalah 3 taraf periode panen: 1) sekali 2 bulan, 2) 3 bulan dan 3) 4 bulan. Ukuran plot 100 rumpun, jumlah populasi keseluruhan adalah 4.500 rumpun. Percobaan B, faktor I adalah 5 taraf pemupukan: 1) tanpa pupuk, 2) kapur, 3) pupuk kandang, 4) kompos, dan 5) pupuk kandang+kapur, faktor II adalah klon harapan seraiwangi, yaitu G 115 dan G 127. Ukuran plot 50 rumpun, jumlah populasi keseluruhan adalah 1.500 rumpun. Hasil penelitian sampai akhir tahun kedua terlihat bahwa pemberian 2 kg pupuk kandang+0,5 kg kapur sekali 6 bulan dengan periode panen sekali 2 atau 3 bulan menghasilkan pertumbuhan dan produksi daun segar serta minyak seraiwangi terbaik. Mutu minyak seraiwangi yang dihasilkan sangat bagus dan melebihi standar mutu ekspor. Klon terbaik dan yang paling respon terhadap pemupukan adalah klon G 115. Jumlah batang dan produksi minyak tertinggi saat panen pertama diperoleh dari klon G 115 yang diberi 0,5 kg kompos/rumpun sekali 6 bulan.

3. Penelitian Pola Tanam Seraiwangi dengan Tanaman Atsiri Lainnya (Kayumanis Ceylon dan Klausena)
Penelitian dilaksanakan di KP. Laing pada lahan seluas 3 ha. Rancangan yang digunakan adalah RAK dengan 6 perlakuan pola tanam dan 4 ulangan (kelompok). Ukuran plot 20×50 m atau seluas 1.000 m². Perlakuan pola tanam seraiwangi yang diuji adalah: 1) Seraiwangi dengan Kayumanis Ceylon (serai 5.250 rumpun, Kayumanis Ceylon 720 pohon/ha), 2) seraiwangi dengan Kayumanis Ceylon (serai 5.250 rumpun, Kayumanis Ceylon 960 pohon/ha), 3) seraiwangi dengan Klausena (serai 4.000rumpun, klausena 1.700 pohon/ ha), 4) seraiwangi dengan Klausena (serai 4.000 rumpun, klausena 2.040 pohon/ha), 5) seraiwangi dengan kayumanis Ceylon dan klausena (serai 2.500 rumpun, Kayumanis Ceylon 540 pohon, klausena 600 pohon/ha), dan 6) seraiwangi dengan Kayumanis Ceylon dan klausena (serai 2.500 rumpun, kayumanis Ceylon 720 pohon, klausena 720 pohon/ha). Pertumbuhan terbaik dari beberapa perlakuan (pola) yang diuji menunjukkan pertumbuhan seraiwangi (panjang daun terpanjang, jumlah anakan terbanyak dan produksi daun tertinggi tedapat pada perlakuan (pola 3), masing-masing 173,84 cm, 81,05 batang dengan produksi daun 4,20 kg/rumpun, diikuti perlakuan (pola 4) dengan jumlah anakan 72,35 batang dengan produksi 3,59 kg/rumpun. Pertumbuhan kayumanis Ceylon sampai umur 13 bulan di lapangan belum terlihat adanya perbedaan dari setiap perlakuan yang diuji. Produksi daun Klausena tertinggi pada umur 13 bulan dicapai oleh pola 4 (154,79 g) dan pola 3 (152,48 g)/pohon.

3. PENELITIAN DAN PENGKAJIAN

1. Pengkajian Pemanfaatan Minyak Atsiri sebagai Atraktan Nabati Untuk Pengendalian Lalat Buah di Jawa Barat
Penelitian dan pengkajian penggunaan minyak atsiri sebagai atraktan (pemikat) lalat buah telah dilakukan di Sumedang pada tahun pertama dan Indramayu pada tahun kedua pada kebun mangga milik petani. Hasil menunjukkan bahwa atraktan nabati yang dibuat dari daun Melaleuca bracteata memberikan hasil lebih baik bila dibanding atraktan komersil yang telah diperdagangkan di pasaran. Tidak hanya dari segi efektifitas, namun dari segi efisiensi hargapun atraktan buatan Balittro ini lebih murah, dibandingkan atraktan komersil, yaitu sekitar Rp 400.000/l dibanding harga atraktan komersil Rp 1.200.000/l. Lalat buah yang terperangkap terdiri dari dua jenis, yaitu Bactrocera dorsalis Complex dan Bactrocera umbrosus, B.dorsalis lebih mendominasi (85%).Walaupun hanya lalat jantan yang terperangkap, namun hal ini akan menurunkan populasi lalat di lapangan karena lalat betinanya tidak dapat dibuahi. Pengaruh penggunaan atraktan terhadap penurunan tingkat kerusakan mangga tidak dapat terlihat pada musim panen pertama dan kedua, tetapi sedikitnya pada musim panen ke tiga atau keempat. Dampak dari kegiatan ini di Indramayu belum nampak, namun dampaknya dapat dilihat di Sumedang (kegiatan tahun sebelumnya pada tahun pertama). Petani di Sumedang sudah mampu memproduksi sendiri atraktan dengan teknologi sederhana yaitu dengan alat yang mereka buat sendiri dan sudah diaplikasikan di kebun masing-masing sehingga dapat menekan serangan lalat buah.

2. Pengkajian Budidaya Tanaman Temu-temuan pada Model Usahatani Dibawah Tegakan Jati pada Zone Agroekologi Jawa Timur Selatan
Kunyit, temulawak, jahe, kencur dan lengkuas tergolong kelompok famili Zingiberaceae, termasuk tanaman yang toleran terhadap naungan (shading plant) sehingga dalam pengembangan ini dapat ditanam secara tumpangsari dengan tanaman holtikultura, perkebunan, kehutanan atau tanaman pangan. Dari pola tanam ini diharapkan memberikan peningkatan pendapatan petani dan meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Tujuan percobaan ini adalah mendapatkan pola tanam ideal dari temu-temuan yang mendukung sistem usahatani temu-temuan pada zone agroekologi Jawa Timur Selatan. Penelitian dilaksanakan di desa Ringinrejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar pada tanah latosol dengan tektur pasir berlempung, dengan ketinggian tempat 200 m dpl., tipe iklim C (Schmidt dan Ferguson). Pemupukan terdiri dari 14 ton pupuk kandang (bokasih), 250 kg Urea, 300 kg SP-36 dan 300 kg KCl/ha. Jarak tanam yang digunakan pada: kencur (20×20 cm), kunyit (50×50 cm), lengkuas (50×50 cm), kacang tanah (20×20 cm). dan padi (15×20 cm). Perlakuannya terdiri dari tumpangsari temu-temuan (kunyit, kencur dan lengkuas) dengan tanaman pangan (padi dan kacang tanah) yang ditanam di bawah tegakan tanaman jati umur setahun. Hasil penelitian dari penanaman temu-temuan di antara tegakan tanaman jati muda berumur setahun. Data agronomis terhadap pertumbuhan temu-temuan, meliputi persentase tumbuh dari kunyit 95%, kencur 90% dan lengkuas berkisar 70%, pertumbuhan tanaman, produksi dan mutu simplisia temu-temuan. Petani merespon dengan baik terhadap pola tanam temu-temuan dengan tanaman pangan diantara tanaman jati muda, dan jenis temu-temuan dapat diterima, kecuali temulawak karena hasilnya sulit untuk dipasarkan.
3. Penelitian dan Pengkajian Budidaya Tanaman Temu-temuan di Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan
Lahan rawa pasang surut merupakan lahan yang cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Sesuai dengan kondisi fisiknya, sampai saat ini lahan rawa pasang surut lebih banyak dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman padi. Hal ini dapat dipahami mengingat air yang selalu tersedia. Untuk mendukung pengembangan ekonomi wilayah, pola pemanfaatan lahan usahatani tersebut perlu dikembangkan, tidak hanya berorientasi pada pendekatan produksi tetapi lebih mengarah pada pendekatan pendapatan. Hasil pengujian beberapa komoditas memperlihat adanya kesesuaian teknis dengan kondisi lahan rawa pasang surut. Hasil pengujian budidaya temu-temuan di lahan pasang surut menunjukkan hasil yang cukup baik. Tujuan dan kegiatan penelitian ini adalah untuk mendapatkan teknologi budidaya temu-temuan spesifik lahan pasang surut. Kegiatan tahun ini merupakan pelaksanaan tahapan lanjutan dari tahun 2005, yaitu meliputi pengamatan pada keragaan teknologi bekerjasama dengan petani, termasuk evaluasi respon petani terhadap teknologi yang sedang diuji. Pengamatan dilakukan terhadap (1) Tingkat kesesuaian teknologi yang diuji pada kondisi lingkungan setempat dan (2) Tingkat produktivitas dan mutu temu-temuan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah (1) Rata-rata produktivitas jahe, kunyit dan temulawak berturut-turut adalah 4,523, 12,896 dan 20,395 ton/ha, di bawah potensi produksi masing-masing komoditas, (2) Mutu simplisia tanaman temu-temuan memenuhi standar MMI, dan (3) Tingkat serapan masing-masing komoditas berbeda untuk masing-masing unsur mikro. Penyerapan unsur Mn dan Zn tidak dipengaruhi oleh ketersediaan unsur mikro yang ada di tanah. Serapan Fe, Cu dan Se di lahan pasang surut lebih tinggi dibandingkan di tanah mineral.

4. Pengkajian Budidaya Tiga Varietas Nilam terhadap Produktivitas dan Mutu Minyak Nilam pada Lahan Kering di Kabupaten Pidie, Propinsi NAD
Bencana gempa bumi dan gelombang Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 di Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara telah merusak tatanan sosial, perekonomian, sumberdaya lahan dan sumberdaya manusia dari tatanan kehidupan dan pertanian dalam arti luas. Salah satu akibat dari bencana tersebut adalah hancurnya sistem usaha tani dan tata niaga nilam yang menjadi salah satu andalan dan pendapatan masyarakat petani NAD. Untuk mengembangkan kembali sistem usaha tani dan tata niaga nilam telah dikaji kesesuaian tiga varietas unggul nilam baru yang berproduksi dan bermutu tinggi pada daerah eks sentra produksi nilam di dua kecamatan Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh Nanggroe Aceh Darussalam. Dari masing-masing kecamatan, litkaji nilam tersebut dilaksanakan di 2 lahan petani kooperator yang merupakan lahan kering. Pada saat penelitian di Kec. Titeu Keumala terjadi kekeringan dan kematian pada ke 3 varietas unggul yang diuji, sehingga harus dilakukan penyulaman terhadap ketiga varietas tersebut yang waktunya lebih lambat 2 bulan dibanding saat penanaman varietas lokal. Akibatnya pada saat panen, produksi biomas varietas lokal lebih tinggi dibanding varietas unggul. Secara umum terlihat bahwa jumlah cabang primer nilam maksimum terjadi pada umur 3 BST. Di Kec. Geumpang, pertumbuhan tanaman cukup baik. Bobot segar terna tertinggi dijumpai pada varietas Sidikalang kemudian diikuti oleh varieitas lokal, Lhokseumawe, dan Tapak Tuan. Namun demikian rendemen dan kandungan Patchouli Alkohol dari ketiga varietas unggul terlihat lebih tinggi dibanding varietas lokal, sehingga produksi minyak dari ke tiga varietas unggul tampak lebih baik dibanding lokal. Pada lahan milik kooperator IV di Geumpang ternyata merupakan lahan gambut yang mempunyai pH sangat rendah (3,52-4,03), sehingga pada saat panen, sebagian tanaman mengalami khlorosis akibat kurang tersedianya hara di dalam tanah bagi tanaman. Oleh karenanya, dianjurkan segera melakukan aplikasi pengapuran. Dengan adanya rencana pengembangan nilam di Kab Pidie TA 2007, ke 4 petani kooperator tersebut telah ditunjuk menjadi petani penangkar benih nilam dengan bimbingan BPTP Nanggroe Aceh Darussalam.

DISEMINASI DAN KOMERSIALISASI HASIL PENELITIAN

Diseminasi hasil penelitian TOA dilaksanakan melalui 4 kegiatan, yaitu: 1) Publikasi TOA, 2) Ekspose dan pameran, 3) Seminar Nasional, 4) Pengembangan Petak Pamer dan Kebun Wisata Ilmiah (KWI) sebagai objek wisata agro. Hasil kegiatan yang telah dicapai adalah: 1) telah dicetak Bulletin TRO 400 eksemplar, Perkembangan Teknologi TRO 400 eksemplar, Warta Balittro 400 eksemplar, buku 400 eksemplar dan Booklet 230 eksemplar 2) telah dibuat publikasi dalam bentuk elektronik sebanyak 4 buah, 3) telah diikuti dan dilaksanakan 9 kali ekspose dan pameran, 4) telah dilaksanakan Seminar Nasional Tanaman Obat, 5) telah tertata Petak Pamer dan KWI seluas 7,5 ha.
Walaupun hasil penelitian telah banyak diperoleh pada kenyataannya tidak sedikit usahatani TRO yang ada saat ini, belum memberikan hasil yang optimal bagi pelakunya.
Untuk lebih memperlancar dan mempercepat arus informasi dari penghasil ke pengguna teknologi, maka diperlukan adanya suatu upaya penyebaran informasi hasil penelitian yang mantap dan berkesinambungan dengan memperhatikan kelompok sasaran yang hendak dicapai, bentuk dan isi pesan yang hendak disampaikan serta cara dan bentuk media diseminasi yang akan digunakan. Kelompok sasaran yang hendak dicapai melalui kegiatan penyebaran informasi ini, bukan hanya pelaku agribisnis di sektor hulu tapi juga pelaku agribisnis di sektor hilir dan pengambil kebijakan di daerah maupun di pusat. Berbagai bentuk media diseminasi perlu dikembangkan sehingga cepat dan mudah diperoleh serta dimengerti oleh pengguna.

1. Dokumentasi dan Jaringan Informasi

1.1. Dokumentasi

Dokumentasi yang telah dibuat dalam bentuk CD rom dan DVD.
Publikasi elektronik dalam bentuk CD rom terdiri atas: 1) CD Rom 50 Tanaman Berhasiat Obat Volume III, yang berisi foto tanaman, bagian tanaman yang digunakan, khasiat dan ramuan, 2) DVD dan VCD varietas unggul tanaman obat dan aromatik (jahe, kencur, nilam dan seraiwangi), 3) DVD dan VCD profil Balittro. CD rom, VCD dan DVD yang dibuat telah disebarluaskan kepada pengguna antara lain pada saat pameran, seminar dan kunjungan tamu ke Balittro

1.2. Jaringan Informasi

Telah dibuat jaringan informasi dalam bentuk web site Balittro.
Web site yang dibuat merupakan pengembangan dari web site sebelumnya yang telah diperbaharui baik tampilan maupun isinya. Saat ini telah tersusun Web site yang diprogram dengan menggunakan bahasa HTML (Hyper Text Markup Language) dan PHP (Personal Home Page). PHP dan HTML merupakan format dokumen yang secara dinamis dapat menghubungkan antar dokumen/database yang disimpan dalam komputer server dan dapat dibaca di tempat lain di seluruh dunia melalui jaringan internet. Informasi yang dapat diakses oleh pengguna di seluruh dunia dari web site Balittro antara lain adalah: 1) Profil Balittro (sejarah, struktur organisasi, sumber daya manusia/peneliti, fasilitas, program penelitian, jasa pelayanan dan produk unggulan), 2) Pustaka, 3) Penelitian (prioritas program dan keluaran akhir penelitian, rencana penelitian, hasil penelitian), 4) Diseminasi (publikasi, agrowisata dan kalender kegiatan), 5) Buku Tamu, dan 6) Berita terkini. Pada Menu Pustaka pengunjung dapat melihat informasi mengenai abstrak hasil-hasil penelitian tanaman rempah dan obat yang telah dipublikasi lewat media cetak Buletin dan Perkembangan Teknologi TRO. Hal tersebut dilakukan karena terbatasnya jumlah eksemplar media tercetak yang dapat diadakan sehingga tidak semua pengguna dapat memperolehnya. Abstrak-abstak tersebut dapat di copy (download) oleh pengunjung di seluruh dunia dengan bebas dalam bentuk dokumen PDF (Portable Document Format). Format dokumen dalam bentuk PDF sudah umum digunakan pada jaringan internet dan dapat dibaca dengan menggunakan program aplikasi Acrobat Reader yang dapat di download secara gratis di internet. Selain itu pengunjung dapat men-download cara budidaya beberapa tanaman obat dan aromatik. Web site ini diperbarui secara berkala dengan infomasi-informasi terbaru.Web site Balittro dapat diakses pada alamat internet: http;//www.balittro.go.id. Berdasarkan hasil penghitungan (counter) yang dipasang pada web site menunjukkan, bahwa sampai saat ini web site Balittro telah dikunjungi 1006 orang pengunjung.

2. Publikasi TOA
Publikasi yang telah diterbitkan terdiri atas 2 jenis yaitu: a) Buletin, Perkembangan Teknologi, Warta Balittro, Booklet dan 2 Buku lainnya mengenai komoditas Balittro) dan b) Publikasi Elektronik (Web site dan CD rom serta DVD.

a. Publikasi Tercetak
Hasil kegiatan ini telah tercetak yaitu: 1) 2 nomor Buletin masing-masing 200 eksemplar, 2) 2 nomor Perkembangan Teknologi masing-masing 200 eksemplar, 3), 2 buku masing-masing 200 eksemplar, 4) 2 nomor Warta Balittro masing-masing 200 eksemplar, dan 5) 230 eksemplar Booklet. Publikasi Buletin yang diterbitkan tahun 2006 ini adalah Volume XVII No. 1 dan 2, berisi hasil-hasil penelitian primer yang meliputi disiplin ilmu pemuliaan, agroekologi, hama penyakit dan sosial ekonomi dengan komoditas tanaman lempuyang, piretrum, sambiloto, cincau hitam, temulawak, serai wangi, lada, pala dan jambu mente. Publikasi Perkembangan Teknologi TRO yang diterbitkan tahun 2006 adalah Volume XVIII Nomor 1 dan 2, berisi review hasil-hasil penelitian disiplin ilmu pemuliaan, agroekologi, hama penyakit dan sosial ekonomi dengan komoditas kayumanis, nilam, seraiwangi, akarwangi, kemiri, kunyit, temulawak dan jambu mente. Publikasi dalam bentuk buku yang diterbitkan tahun 2006 ini adalah: a) Budidaya mahkota dewa, daun dewa dan meniran, dan b) Budidaya akarwangi, mentha dan purwoceng. Publikasi Warta yang diterbitkan adalah Nomor 52 dan 53. Sedangkan Booklet yang diterbitkan adalah Varietas dan Nomor Harapan Unggul Tanaman Obat dan Aromatik (jahe putih besar, jahe putih kecil, jahe merah, kencur, nilam dan seraiwangi). Saat ini sebagian besar publikasi yang telah dicetak disebarluaskan kepada pengguna.

b. Publikasi Elektronik
Telah dibuat publikasi elektronik dalam bentuk Web site, CD rom dan DVD.

3. Penyaluran Hasil Penelitian.

3.1. Ekspose dan Pameran

Kegiatan ekspose dan pameran yang diikuti/dilakukan Balittro tahun 2006 sebanyak 9 kali, yaitu:

a). Indigenous Teknologi, Peningkatan Gizi dan Pendapatan Petani
Kegiatan ini dilaksanakan di BPTP DKI Jakarta pada tanggal 13-16 April 2006. Pameran dibuka oleh Ibu Menteri Pertanian didampingi Kepala Litbang Pertanian. Materi ekspose dan pameran adalah produk obat anti demam berdarah dengue dalam bentuk herbal maupun sirup, temulawak greng, aromaterapi, leaflet, buku, panel, poster dan bursa tanaman. Jumlah pengunjung stand pameran Balittro selama 3 hari sebanyak 310 orang terdiri atas petani, pengobat herbal, pengusaha herbal kecil dan besar, karyawan perusahaan herbal, Ibu-ibu PKK, mahasiswa dan para pemerhati/peneliti/ simpatisan di bidang herbal. Selain pameran Balittro juga diminta oleh panitia sebagai salah satu nara sumber pada pelatihan pengolahan dan pemanfaatan kebun pekarangan, penyiapan makanan, sayuran dan taman obat keluarga.

b). The 28th FAO Regional Conference For Asia and the Pacific
Acara ini dilaksanakan di Ball Room Hotel Sangri-La Jakarta pada tanggal 15-19 Mei 2006 yang dihadiri oleh Kepala Badan Litbang Pertanian dengan topik “Penanganan bencana alam melalui pemberdayaan masyarakat pedesaan” Rangkaian trend produksi, konsumsi dan perdagangan komoditas pertanian di kawasan Asia Pasifik, pengelolaan pestisida, flu burung dan pengembangan bio-energy. Balittro berpartisipasi aktif dengan menampilkan hasil-hasil penelitian Biopestisida seperti mimba, Bio-FOB, Bio-TRIBA dan MITOL. Jumlah pengunjung yang datang ke stand Balittro sebanyak 230 orang yang terdiri atas petani, pengusaha, peneliti, karyawan, mahasiswa dan masyarakat umum. Selain itu stand Balittro juga memberikan layanan konsultasi mengenai hasil penelitian produk herbal kepada pengunjung, konsultasi, pemaparan (display), peragaan dan contoh-contoh produk.

c). Agro & Food Expo 2006
Acara ini diselenggarakan oleh Departemen Pertanian di Gedung Semanggi Expo Jakarta pada tanggal 18-21 Mei 2006, dengan tema “Cintai Produk Pertanian Nusantara dan Tingkatkan Ekspor”. Pameran ini mempunyai nilai yang cukup stategis karena merupakan pameran terbesar mengenai potensi investasi, industri dan perdagangan di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, makanan dan minuman, teknologi pertanian dan jasa pembiayaan. Pameran diikuti oleh lebih dari 150 peserta yang terdiri atas pemerintah daerah propinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah kota, BUMN, mitra binaan BUMN, swasta, koperasi dan UKM.
Balittro menampilkan hasil-hasil penelitian berupa bahan tanaman, produk (simplisia, makanan dan minuman kesehatan), leaflet, panel, booklet dan buku. Produk yang ditampilkan adalah temulawak greng, balsam cengkeh dan lada, simplisia sambiloto, obat anti demam berdarah dengue dan serbuk sambiloto, temulawak, kunyit dan jahe merah, minyak-minyak atsiri, aromaterapi, pengusir nyamuk dan mimba. Jumlah pengunjung yang datang ke stand Balittro sebanyak 654 orang .

d). Panorama Wisata dan Industri Kerajinan
Pameran diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Bogor di Bogor pada tanggal 8-10 Juni 2006, dalam rangka memperingati hari jadi Kota Bogor yang ke 524. Pameran diikuti oleh lebih dari 50 peserta yang terdiri atas pemerintah, mitra binaan BUMN, swasta, koperasi dan UKM.
Materi pameran yang ditampilkan Balittro sebagian besar adalah mengenai Petak Pamer Tanaman Obat dan Aromatik dan KWI baik dalam bentuk poster, leaflet dan tayangan elektronik maupun tanaman dan produk-produk herbal yang ada di kedua objek wisata agro tersebut. Selain itu Balittro menampilkan juga beberapa hasil penelitian unggulan seperti varietas unggul kencur, nilam dan serai wangi, klon-klon unggul temulawak dan tanaman obat anti demam berdarah beserta produknya. Poster yang ditampilkan antara lain adalah kelompok tanaman imunomodulator (meningkatkan daya tahan tubuh), kelompok tanaman degeneratif (mengatasi penurunan fungsi organ tubuh) dan kelompok tanaman aprodisiak (meningkatkan vitalitas tubuh). Jumlah pengunjung yang datang ke stand Balittro berjumlah 356 orang terdiri atas petani, pengusaha, peneliti, dosen, guru, mahasiswa, siswa sekolah dan masyarakat umum.

e). Promosi dan Pameran Varietas Unggul Tanaman Perkebunan
Pameran diselenggarakan 16-19 Juli 2006 di area Kampus Puslitbang Perkebunan Bogor dibuka oleh Menteri Pertanian. Penggunaan varietas unggul dan benih bermutu adalah salah satu faktor keberhasilan usaha dan pembangunan perkebunan. Walaupun varietas-varietas unggul serta teknologi untuk menghasilkan benih bermutu sudah tersedia, pada kenyataannya sebagian besar petani pekebun masih menggunakan benih asalan. Oleh sebab itu pelaksanaan kegiatan promosi benih perkebunan, selain memperkenalkan ketersediaan varietas unggul dan benih bermutu kepada pengusaha dan petani pekebun, juga dimaksudkan untuk meningkatkan mutu SDM yang berkecimpung dalam penangkaran benih, forum komunikasi antar semua stake holders perbenihan perkebunan, serta diskusi konsep dan strategi untuk mewujudkan tumbuhnya industri benih perkebunan yang berkelanjutan dan berdaya saing.
Balittro menampilkan varietas unggul jahe putih besar (Cimanggu-1), jahe putih kecil (Halina 1, 2, 3 dan 4), jahe merah (Jahira 1 dan 2), kencur (Galesia 1, 2 dan 3), kunyit (Turina 1, 2 dan 3), nilam (Sidikalang, Lhokseumawe dan Tapak Tuan), serai wangi (G1, G2 dan G3), dan beberapa tanaman obat potensial seperti mahkota dewa, pegagan, purwoceng dan tanaman obat lainnya. Selain itu ditampilkan juga produk-produk herbal dan minuman kesehatan seperti minuman dari jahe, temulawak dan kencur. Jumlah pengunjung ± 500 orang, terdiri dari kalangan petani, pengusaha benih, pengambil kebijakan, dosen dan mahasiswa.

f). Pameran Plantation Expo
Acara ini diselenggarakan di Hall B, Jakarta Convention Center pada tanggal 10-13 Agustus 2006. Balittro menampilkan beberapa komoditas unggulan seperti varietas jahe merah, varietas kencur (Galesia 1, Galesia 2 dan Galesia 3), verietas unggul nilam (Sidikalang, Lhokseumawe dan Tapak Tuan), seraiwangi (G1, G2 dan G3) serta beberapa tanaman obat yang mempunyai prospek yang baik. Selain itu dipamerkan produk-produk obat dan aromatik, publikasi-publikasi tanaman obat dan aromatik. Selama pameran berlangsung dikunjungi oleh Bapak Menteri Pertanian dan berdiskusi tentang hasil-hasil yang dicapai. Jumlah pengunjung yang datang ke stand Balittro berjumlah 452 orang.

g). Pameran Flora dan Fauna
Untuk mendukung agenda kegiatan Badan Litbang di Jakarta 4-28 Agustus 2006, Balittro diminta ikut berperan aktif dalam kegiatan tersebut. Pameran akbar ini diselenggarakan oleh Pemda DKI Jakarta dan merupakan pameran tahunan yang dilaksanakan setiap awal bulan Agustus sekaligus menyambut dan memeriahkan HUT Kota Jakarta serta HUT Kemerdekaan RI.
Balittro menampilkan keanekaragaman plasma tanaman obat dan aromatik mulai dari varietas dan klon unggul sampai tanaman obat langka (al. tabat barito dan purwoceng) serta berbagai produk herbal siap saji. Plasma nutfah tanaman obat dan aromatik banyak diminati dalam upaya pembentukan lingkungan sehat melalui desa hijau (taman obat keluarga/TOGA). Jumlah pengujung yang datang ke stand Balittro berjumlah 952 orang.

h). Ekspose dan Pameran Promosi Hortikultura
Ekspose dan Pameran yang dilaksanakan 23-25 Nopember 2006 di Museum Purna Bhakti Pertiwi, TMII, Jakarta diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Hortikultura bekejasama dengan Badan Litbang Pertanian. Acara ini dibuka oleh Ibu Wakil Presiden RI didampingi Menteri Pertanian.
Sebagian dari biofarmaka yang tumbuh di alam Indonesia merupakan tanaman hortikultura yang bernilai tinggi. Saat ini perkembangan komoditas biofarmaka melaju dengan pesat, terbukti dengan peningkatan volume produksi dan penjualan secara komersial diberbagai sentra produksi. Oleh karena itu usaha ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi yang mampu menyediakan lapangan kerja, sumber pendapatan masyarakat; dan mampu menggerakkan pertumbuhan industri barang dan jasa pendukung. Karena itu kegiatan usaha biofarmaka perlu didorong agar dapat memberi peran lebih besar terhadap pembangunan perekonomian nasional.
Melalui pameran ini diharapkan akan mendorong investasi di bidang biofarmaka. Balittro menampilkan hasil-hasil penelitian tanaman obat dan aromatik serta produk-produk herbal siap saji. Jumlah pengunjung yang datang ke stand Balittro berjumlah 324 orang dari berbagai kalangan antara lain praktisi/pengobat herbal, petani, pengusaha, dinas terkait dan para pengambil kebijakan.

i). Ekspose dan Pameran Mekanisasi Pertanian
Diselenggarakan di BB. Biogen Bogor 29-30 September 2006. Balittro menampilkan hasil-hasil penelitian tanaman obat antara lain: temulawak, purwoceng dan pegagan serta produk-produk herbal lainnya. Temulawak merupakan komoditas yang banyak ditanya dan diminati pada acara pameran ini sehubungan dengan telah dicanangkannya gerakan minum temulawak oleh menteri Pertanian di Yogyakarta pada tahun 2005. Balittro telah membuat produk minuman kesehatan yang diberi nama Temulawak Greng yang diformulasi dari tanaman temulawak, purwoceng dan pegagan. Selama pameran stand Balittro telah dikunjungi oleh  210 orang.
3.2. Seminar Nasional dan Pameran Pengembangan Tanaman Obat Menuju Kemandirian Masyarakat dalam Pengobatan Keluarga
Acara ini dilaksanakan pada tanggal 7 Sepetember 2006 di Hotel Bidakara Jakarta dan dibuka oleh Menteri Pertanian RI yang diwakili oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. Seminar dihadiri oleh 250 peserta dari berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta. Tujuan seminar adalah: a) Mendayagunakan hasil penelitian dalam mendukung pengembangan tanaman obat untuk penyediaan bahan baku jamu, makanan kesehatan, makanan fungsional, makanan tambahan maupun sebagai obat bahan alami, dan b) Menyusun strategi pengembangan tanaman obat meliputi pengembangan kelembagaan tanaman obat, dukungan teknologi, dan sumber daya (lahan, manusia dan infra struktur). Keluaran yang diharapkan dari seminar ini adalah: a) Saran kebijakan pengembangan tanaman obat di Indonesia untuk mendukung penyediaan bahan baku jamu, makanan kesehatan, makanan tambahan, makanan fungsional maupun sebagai obat bahan alami, dan b) Strategi pengembangan tanaman obat Indonesia menuju kemandirian masyarakat dalam pengobatan keluarga.
Tema Seminar Nasional dan Pameran Pengembangan Tanaman Obat Menuju Kemandirian Masyarakat Dalam Pengobatan Keluarga yaitu: ”Sehat dan Sejahtera Dengan Tanaman Obat”, dimaksudkan untuk mendukung pencanangan visi ”Indonesia Sehat 2010”. Hal tersebut merupakan inspirator dalam pembangunan kesehatan nasional yang misi dan sasarannya antara lain mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Indonesia memiliki ketergantungan yang besar terhadap bahan baku dan obat konvensional impor senilai 160 juta USD/tahun, sehingga perlu disubstitusi oleh produk dalam negeri. Trend global back to nature menunjukkan pertumbuhan yang pesat, termasuk di Indonesia, sehingga tanaman obat dan obat alami memiliki arti strategis dibidang kesehatan masyarakat, juga sebagai sumber pertumbuhan baru dalam program revitalisasi pertanian yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Salah satu program yang penting untuk dilaksanakan dalam mencapai sasaran tersebut adalah meningkatkan penggunaan tanaman obat yang aman dan bermanfaat, baik secara individu/keluarga maupun terpadu menuju kemandirian masyarakat. Sehingga diharapkan produk tanaman obat bisa menjadi ”tuan rumah di negara sendiri dan tamu terhormat di negara lain”, serta sejajar dengan produk herbal dari luar negeri.
Dalam seminar ini dibahas 34 makalah terdiri dari 7 makalah utama dan 27 makalah penunjang. Kegiatan lain yang dilakukan pada acara ini adalah pameran yang diikuti 15 peserta yang menampilkan berbagai produk herbal dan dialog interaktif di TVRI yang cukup mendapat respon dari beberapa pemirsa dari daerah. Dari hasil paparan makalah dan diskusi yang berlangsung selama simposium, serta arahan Menteri Pertanian RI, dapat disusun rekomendasi sebagai berikut:
•a). Departemen Pertanian memberikan perhatian serius terhadap bersungguh-sungguh dalam pengembangan biofarmaka melalui pembentukan Direktorat Biofarmaka pada Direktorat Jenderal Hortikultura dan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik di Badan Litbang Pertanian. Hal ini dimaksudkan agar sejak dari penelitian dan sampai pengembangan tanaman obat -obatan dapat dilakukan secara intensif, terencana, terkoordinasi dan terprorogram. Dengan demikian diharapkan terjadi akselerasi pengembangan tTanaman oObat di tanah air yang bermuara tidak hanya pada kemandirian masyarakat dalam pengobatan, tetapi juga berkontribusi dalam peningkatan perekonomian nasional, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
b). Pengembangan Taman Obat Keluarga (TOGA) masih relevan  ditingkatkan di masa mendatang, terutama untuk: (a) meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan, (b) mengurangi ketergantungan terhadap “Obat Kimia”, (c) mengurangi beban Pemerintah terhadap import bahan baku obat, (d) meningkatkan pemanfaatan lahan pekarangan, (e) sebagai sumber pendapatan keluarga, dan (f) meningkatkan peran perempuan dalam kesejahteraan keluarga, bangsa dan negara.
c). Menggalakkan kembali
•Kebijakan Departemen Kesehatan RI tentang pengobatan tradisional seperti yang tercantum dalam UU No. 23 tahun 1992 pasal 47 tentang pengobatan tradisional dan dalam Kepmenkes No 1076/Menkes/SK/VII/2003 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional.
d). Mengangkat satu “BRAND” yang sederhana, mudah diingat, sudah dikenal luas dan sudah membudaya di masyarakat sebagai penggati istilah yang bermacam-macam yang dapat membingungkan pengambil kebijakan maupun masyarakat yang tidak mengerti tentang tanaman obat.
e). Meningkatkan sosialisasi peran, kontribusi dan “brand” MULTIFUNGSI dari obat tradisional, baik dalam nilai produksi, kesempatan kerja, kesehatan, dan citra Indonesia.
f). Meningkatkan peranan pengusaha obat tradisional dalam menentukan arah pengembangan industri obat tradisonal ke depan.
(namun belum kondusif untuk pengembangan obat bahan alam)
a.Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan adalah melalui pengembangan dan peningkatan Taman Obat Keluarga (TOGA).

b.Meningkatkan peran perempuan dalam pengembangan dan pemanfaatan TOGA bagi kesejahteraan keluarga, bangsa dan negara.

c.Mengurangi ketergantungan terhadap “Obat Kimia” dan mengurangi beban Pemerintah dan import bahan baku obat serta memanfaatkan potensi alam Indonesia melalui pemanfaatan TOGA
•g). Mendukung pengembangan industri obat tradisional dan kosmetika alami, untuk kesehatan masyarakat, melalui pengembangan budidaya tanaman obat melalui TOGA berupa tabulapot, vertikultur dan usahatani terpadu dengan tanaman sayuran, hias dan buah di pekarangan.

•Meningkatkan kemampuan penyediaan bahan baku yang bermutu, cukup dan berkesinambungan untuk industri dalam negeri, industri rumah tangga, jamu gendong dan ekspor.

•Mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan dengan TOGA sebagai salah satu kebijakan pengembangan biofarmaka nasional.

•Meningkatkan koordinasi dan kerjasama semua pihak yang terkait mulai dari hulu sampai hilir dalam Program Nasional Pengembangan Obat Bahan Alam berbasis tanaman obat di Indonesia.
•h). Meningkatkan dukungan kebijakan pemerintah terhadap sistem dan usaha agribisnis tanaman obat yang kondusif agar pengembangan tanaman obat semakin membudaya dan memasyarakat.
•i). Mendorong program penelitian dan pengembangan tanaman obat untuk menghasilkan bahan baku bermutu/terstandar melalui penerapan SOP dan GAP budidaya yang telah dibakukan dan jaminan keamanan serta khasiatnya.
•j). Menyadarkan kembali masyarakat kita tentang manfaat tumbuhan obat, serta mengkaji kembali pola hidup sehat masyarakat tempo dulu yang merupakan warisan budaya leluhur, untuk dijadikan acuan dasar pola hidup sehat masyarakat sekarang.
k). Membentuk suatu lembaga tingkat nasional yang befungsi untuk mengkoordinasikan seluruh pemangku kepentingan yang bergerak dalam bidang tanaman obat untuk menjadikan tanaman obat sebagai tuan rumah di negara sendiri dan tamu terhormat di negara lain.

3.3. Kegiatan Pengembangan Petak Pamer dan Kebun Wisata Ilmiah TOA

a. Petak Pamer
Pada tahun 2006 telah ditambah koleksi tanaman obat sebanyak 20 species dengan total tanaman 213 tanaman. Kegiatan yang dilakukan antara lain penataan tanaman, pemeliharaan tanaman terutama penyiangan, penyulaman, pemangkasan, penyiraman, pemberantasan hama dan penyakit serta perbanyakan bahan tanaman. Luas Petak Pamer adalah 1 ha dengan jumlah petakan tanaman sebanyak 215 petakan dengan jumlah spesies 221 spesies, termasuk ke dalam 77 suku/famili. Untuk kenyamanan pengunjung telah dilakukan perbaikan jalan utama dengan cara menambah beton block sepanjang 60 m dengan lebar 1,7 m. Sepanjang jalan utama tersebut telah dibuat saluran air untuk mencegah air hujan menggenang didalam kebun. Jumlah pengunjung yang datang ke petak pamer selama tahun 2006 berjumlah 2.124 orang yang terdiri atas peneliti, petani, pengusaha, pengambil kebijakan, anggota DPRD, dosen, guru, mahasiswa, siswa dan masyarakat umum lainnya baik rombongan maupun perorangan.

b. Petak Pamer KP. Laing Solok
Luas Petak Pamer yang ada di KP. Laing Solok ± 2,5 ha. Pada tahun 2006 ini kegiatan yang dilakukan antara lain penataaan penambahan koleksi, pemupukan, pengendalain organisme pengganggu tanaman (OPT), pemangkasan dan penyiraman. Koleksi tanaman yang ditambahkan terdiri atas 200 pohon cengkeh, 50 pohon kayu putih, 200 pohon ylang-ylang dan 300 pohon cempaka.

c. Kebun Wisata Ilmiah (KWI) KP. Cimanggu
Luas Kebun Wisata Ilmiah yang ada di KP. Cimanggu adalah ± 4 ha. Kegiatan yang dilakukan pada tahun 2006 adalah pemeliharaan, pemupukan, penyiraman, memperdalam sumur, perbaikan saluran air untuk penyiraman dan penambahan koleksi tanaman. Penambahan koleksi tanaman antara lain: gaharu 10 pohon, pronojiwo 10 pohon, cempaka putih 5 pohon, nam-nam 5 pohon, jambu biji Gentas 5 pohon, binahong 5 pohon, ginseng Amerika 5 pohon dan jengkol menthol 5 pohon. Jumlah pengunjung yang datang ke KWI selama tahun 2006 berjumlah 750 orang yang terdiri atas peneliti, petani, pengusaha, pengambil kebijakan, dosen, guru, mahasiswa, siswa dan masyarakat umum lainnya baik rombongan maupun perorangan.
4. Unit Komersialisasi Teknologi (UKT)
Unit Komersialisasi Teknologi (UKT) mempunyai tugas pokok membantu Kepala Balittro (UPT) untuk melaksanakan alih teknologi tanaman obat dan aromatik melalui promosi secara komersial dan non komersial. Komoditas tanaman obat dan aromatik merupakan komoditas dagang yang banyak diusahakan oleh petani dan hanya sebagian kecil diusahakan dalam skala perkebunan oleh pihak swasta.
Adanya persaingan perdagangan komoditas tanaman obat dan aromatik (TOAR) pada era pasar bebas yang semakin meningkat dengan munculnya produsen lama atau baru dari negara lain, dan perkembangan teknologi yang berorientasi pada kebutuhan pasar menuntut terus berkembangnya penelitian untuk menghasilkan teknologi tepat guna yang bisa dikembangkan oleh para pengguna secara komersial.
Balittro melalui UKT dalam mempercepat alih teknologi dengan pihak pengguna telah melaksanakan beberapa kegiatan antara lain: 1) Mempersiapkan informasi teknologi tanaman obat dan aromatik yang siap dikomersialkan, 2) Menjalin dan meningkatkan kerjasama dengan mitra, 3) Melakukan pengurusan HKI bagi hasil-hasil penelitian Balittro dan 4) Sosialisasi alih teknologi melalui magang pada pihak pengguna.
Hasil kegiatan tahun 2006 adalah: 1) Pencetakan Leaflet Temulawak Cemerlang sebanyak 766 eksemplar, ramuan obat Demam Berdarah Dengue sebanyak 766 eksemplar dan Booklet Spesifikasi Standar Mutu Beberapa Jenis Minyak Atsiri sebanyak 500 eksemplar, 2) Penandatanganan Surat Perjanjian dengan National Cooperation Business Assosiation (NCBA). Program South East Asia dalam pengembangan tanaman nilam di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan konsep MoU sebanyak 3 buah naskah. Dari hasil kerjasama dengan pihak ketiga tahun 2005 telah disetor PNBP sebanyak Rp. 6.000.000,- (enam juta rupiah) ke Kas Negara melalui Bendahara PNBP Balittro, 3) Pengurusan biaya pemeliharaan paten ke kantor HKI Tangerang sebanyak 3 buah, pengambilan sertifikat paten 1 judul dan pengurusan perbaikan deskripsi, klaim dan gambar permohonan paten sebanyak 2 judul dengan no. permohonan S-00200200130 dan S-0020020013, 4) Pelaksanaan alih teknologi melalui magang/pelatihan pada pihak ketiga baik pemerintah maupun swasta sebanyak 15 angkatan dengan jumlah peserta 127 orang.

4.1. Mempersiapkan Informasi Teknologi Tanaman Obat dan Aromatik yang Siap Dikomersialkan.
Informasi teknologi tanaman obat dan aromatik yang siap dikembangkan dan dikomersialkan berdasarkan hasil penelitian Balittro kepada pengguna adalah:
a. Tanaman obat berkhasiat imunomodulator (meningkatkan daya tahan tubuh): jahe, meniran, lidah buaya dan ciplukan.
b. Tanaman obat degeneratif (mengatasi penurunan fungsi organ tubuh): sambiloto, pegagan, mengkudu, meniran, daun dewa, temulawak dan kunyit.
c. Tanaman obat berkhasiat afrodisiak (meningkatkan vitalitas tubuh): purwoceng, cabe jawa, pasak bumi dan tabat barito.
d. Tanaman obat anti demam berdarah dengue (DBD): meniran, kunyit, temu ireng, daun pepaya dan jambu biji.
e. Varietas dan nomor harapan unggul: jahe, temulawak, kencur, nilam, kunyit dan seraiwangi.
f. Tanaman pengusir nyamuk demam berdarah: mimba, zodia, nilam, seraiwangi, geranium dan lavender.
g. Produk berupa simplisia, sirup dan lotion untuk obat demam berdarah dan afrodisiak (temulawak cemerlang)
h. Peralatan pengolahan minyak atsiri dan spesifikasi standar mutu minyak atsiri.

Pada tahun 2006 inovasi teknologi yang banyak diminati oleh pihak pengguna baik Pemda maupun Swasta adalah :
1. Tanaman obat, benih jahe unggul dan tanaman berkhasiat untuk demam berdarah dan tanaman obat berkhasiat meningkatkan vitalitas tubuh.
2. Tanaman penghasil minyak atsiri, varietas unggul nilam
3. Alat pengolah minyak atsiri dan spesifikasi standar mutu beberapa jenis minyak atsiri.

Berdasarkan hal tersebut telah disusun dan dicetak Leaflet Teknologi Temulawak Cemerlang sebanyak 766 eksemplar, ramuan obat Demam Berdarah Dengue (DBD) masing-masing sebanyak 766 eksemplar dan Booklet Spesifikasi Standar Mutu Beberapa Jenis Minyak Atsiri sebanyak 500 eksemplar.

4.2. Menjalin dan meningkatkan kerjasama dengan mitra.
Telah dilaksanakan promosi melalui seminar, temu bisnis dan temu lapang di beberapa daerah, sebagai berikut:

1. Sumatera Barat, temu bisnis dan pengembangan tanaman minyak atsiri serai wangi di KP. Laing
2. Jawa Tengah, promosi inovasi teknologi minyak atsiri melalui pameran pada Konferensi Nasional Minyak Atsiri di Solo.
3. Jawa Barat, temu lapang dan temu bisnis di Garut
4. Bali, pameran tanaman obat dan tanaman aromatik
5. DKI Jakarta: a) pameran produk-produk tanaman obat dan aromatik di BPTP Pasar Minggu, b) Semanggi Expo 2006 berupa pameran produk pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan, makanan dan minuman olahan, c) Temu Karya Sinkronisasi Pemasaran Produk Nasional dan Penerapan SNI dalam Menghadapi Pasar Global di Hotel Kartika Chandra, d) promosi inovasi teknologi tanaman obat dan seminar nasional Pengembangan Tanaman Obat Menuju Kemandirian Masyarakat dalam Pengobatan Keluarga, e) Promosi inovasi teknolgi tanaman obat dan aromatik pada acara Ekspose Teknologi Hortikultura 2006, f) Lokakarya Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Biotrop Ciawi, g) Promosi inovasi produk-produk tanaman obat dan aromatik di Puslitbangbun Bogor.

Dari hasil promosi telah dijalin kerjasama dengan penandatanganan surat perjanjian kerjasama dengan National Cooperation Business Assosiation (NCBA) dalam rangka Pengembangan Tanaman Nilam di Nangroe Aceh Darussalam di Hotel Hilton jakarta, walaupun dalam pelaksanaannya belum aktif. Selain itu pembuatan 2 buah konsep MoU untuk pengembangan tanaman jahe di Palembang dan produk-produk tanaman obat dengan PT. Silva di Jakarta. Sebagai pewaralaba vanili Bio-Fob dan alih teknologi tanaman rempah dan obat terdapat 3 perusahaan yang masih aktif yaitu UD. Mapan, CV. Meori Agro dan Bengkel Bubut dan Konstruksi Santosa Teknik.
Dari hasil kerjasama dengan pihak ketiga tahun 2005 telah disetor PNBP sebanyak Rp 6.000.000,- (enam juta rupiah) ke Kas Negara melalui Bandahara PNBP Balittro.

4.3. Pengurusan HKI bagi Hasil-hasil Penelitian Balittro
Pada tahun 2006 belum ada hasil penelitian yang diajukan patennya di kantor HKI. Kegiatan yang dilakukan hanya berupa pemeliharaan paten yang sudah bersertifikat, pengurusan sertifikat paten dari yang sudah diajukan tahun-tahun sebelumnya, sebagai berikut:
1. Pemeliharaan paten. Pengurusan biaya pemeliharaan paten ke kantor HKI Tangerang sebanyak 3 buah, meliputi:
a. Penggunaan produk bioagensia Fusarium oxysporum non patogenik sebagai bahan baku. ID.0.000.404
b. Penggunaan produk cengkeh sebagai bahan baku pestisida nabati. ID. 0.000.434
c. Perbaikan alat penyuling minyak atsiri. ID.0.000.451

2. Pengurusan sertifikat yang sudah dan belum diproses. Pengambilan sertifikat paten 1 judul dan pengurusan perbaikan deskripsi, klaim dan gambar permohonan paten sebanyak 2 judul dengan nomor permohonan S-00200200130 dan S-0020020013:
a. Sudah diterbitkan sertifikat alat pengupas jambu mente yang disempurnakan. ID.0.000.434
b. Pengurusan sertifikat yang belum diterbitkan antara lain alat perontok dan pengupas lada (masih dalam perbaikan substansi)

Pihak pemda dan swasta cukup berminat untuk mengadopsi hasil penelitian yang sudah dihasilkan Balittro terutama teknologi benih unggul, teknik budidaya dan peralatan penyulingan minyak atsiri.
Disarankan promosi alih teknologi tanaman obat dan aromatik lebih ditingkatkan lagi karena adanya perubahan satu Balai menjadi dua Balai Penelitian. Di samping itu perlu mendorong para peneliti untuk menemukan teknologi yang bernilai HKI sehingga ada pemasukan dan peningkatan income dari peneliti penemu dari hasil royalti.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 20/2005 tentang Alih Kekayaan Intelektual serta Hasil Penelitian, Peraturan Menteri Pertanian No. 53/Permentan/OT.140/10/2006 tentang Pedoman Kerjasama Penelitian dan Pengembangan Pertanian dan Keputusan Kepala Badan Litbang Pertanian No. 118/Kpts/OT.210/J/10/04 tentang Panduan Pembentukan dan Pengelolaan UKT pada lingkup Badan Litbang Pertanian, Unit Komersialisasi Teknolgi (UKT) Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik telah melakukan kegiatan alih teknologi secara komersial baik berupa lisensi alih teknologi, pelayanan jasa iptek melalui magang/pelatihan, leaflet dan booklet, seminar dan temu bisnis serta pengurusan sertifikat HKI pada hasil penelitian yang dipatenkan.

4.4. Sosialisasi Inovasi Teknologi Melalui Magang pada Pihak Pengguna
Selama tahun 2006 telah dilaksanakan 15 kali magang/pelatihan yang diikuti oleh dinas terkait dan swasta dengan jumlah peserta 127 orang. Telah disiapkan modul inovasi teknologi untuk disampaikan pada para peserta sebagai bahan pegangan oleh si pengguna. Staf instansi pemerintah dan swasta yang mengikuti magang/pelatihan adalah sebagai berikut:
1. Bimbingan petani dalam rangka pemberdayaan regu pengendali hama diikuti oleh 40 orang peserta kerjasama dengan Satuan Kerja Pembinaan dan Pengembangan Hortikultura, Dinas Pertanian dan Kehutanan DKI Jakarta.
2. Perbenihan tanaman obat diikuti oleh 1 orang peserta kerjasama dengan Balai Pengawasan Sertifikasi Benih Tanaman Hortikultura Propinsi Jawa Barat.
3. Kunjungan petani dan petugas pengelolaan tanaman obat diikuti oleh 25 orang peserta kerjasama dengan Dinas Perkebunan Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.
4. Kunjungan Pemberdayaan Masyarakat diikuti oleh 25 orang peserta kerjasama dengan Yayasan Pembangunan Pemuda Muslim Indonesia(YAPPMI) Kabupetan Gowa, Sulawesi Selatan.
5. Magang profesi teknologi vanili Bio-FOB diikuti oleh 7 orang peserta kerjasama dengan Dinas Pertanian Propinsi Maluku.
6. Magang budidaya dan pasca panen tanaman nilam diikuti oleh 2 orang peserta kerjasama dengan Dinas Perkebunan Kabupaten Kotawaringin Timur Sampit, Kalimantan Tengah.
7. Magang teknologi vanili Bio-FOB diikuti oleh 2 orang peserta guru SPP Boawae, Nusa Tenggara Timur.
8. Magang teknologi budidaya dan pasca panen tanaman obat dan pala diikuti oleh 7 orang peserta dari Dinas Perkebunan Tolitoli.
9. Magang teknologi Bio-FOB diikuti 2 orang peserta dari Kabupaten Banggai.
10. Magang budidaya tanaman obat diikuti 1 orang peserta dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Sabang, Nangroe Aceh Darussalam.
11. Magang teknologi budidaya dan pasca panen tanaman jarak, nilam, pala dan cengkeh diikuti oleh 5 orang peserta dari Dinas Perkebunan Tolitoli.
12. Magang analisis mutu gambir diikuti oleh 2 orang peserta dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Riau.
13. Magang pengujian mutu hasil dan minyak tanaman atsiri (pala, fuli dan minyak kayu putih) diikuti 2 orang peserta dari Balai Riset dan Standardisasi Ambon.
14. Magang pembuatan herbal produk diikuti 2 orang peserta dari Dinas Perkebunan Propinsi Kalimantan Timur.
15. Magang budidaya lada dan panili diikuti 4 orang peserta dari Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

5. Unit Produksi Benih Sumber (UPBS)
Kegiatan Produksi Benih Sumber Tanaman Obat dan Aromatik dibiayai oleh anggaran DIPA Balittro T.A. 2006, masuk dalam kegiatan diseminasi dan komersialisasi Balittro. Kegiatan ini terutama ditujukan untuk memelihara kebun induk nilamdan serai wangi, kebun benih kencur, serta membangun benih sumber tanaman temu-temuan, khususnya jahe, kencur dan kunyit. Hasil yang diperoleh antara lain:
1). Telah dilaksanakan pemeliharaan kebun induk dan persiapan perluasan kebun benih induk untuk: 1). Pemeliharan KI Nilam seluas 4 ha di KP. Manoko. 2). Pemeliharaan kebun induk seraiwangi seluas 1 ha di KP. Manoko. 3). Pemeliharan kebun benih kencur seluas 1 ha di KP Sukamulia. 4) Persiapan pembanguanan kebun benih jahe, kencur dan kunyit masing-masing seluas 1,5 ha, 0,75 ha dan 0,5 ha di KP Sukamulya.
2). Beberapa komoditas seperti nilam dan seraiwangi telah dapat dipanen, namun, calon pengguna belum banyak seperti yang diinformasikan sebelum pengembangan kebun induk komoditas tersebut. Kebun benih kencur di panen pada bulan Juli dan Agustus dan produksinya mencapai ± 4,5 ton.
3). Telah dilaksanakan pengembangan kebun benih jahe, kencur dan kunyit. Rimpang sudah mulai bertunas tapi belum merata sehingga rouging belum dapat dilaksanakan.

Selama tahun 2006 permintaan yang banyak hanya pada setek nilam yaitu mencapai 222.500 setek (Tabel 1). Permintaan setek nilam kebanyakan berasal dari daerah Indonesia Bagian Timur (Kalimantan, Sulawesi dan NTT). Permintaan terhadap anakan seraiwangi tidak ada sama sekali.

Tabel 1: Jumlah penjualan benih tanaman obat dan aromatik, selama tahun 2006
No. Komoditas Bentuk Jumlah
1. Nilam
Nilam Setek
polybag 222. 500
150
2. Kencur G1 rimpang 1450 kg
3. Jahe (JPK) rimpang 400 kg

6. Primatani
Primatani merupakan program untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan inovasi hasil Litbang kepada masyarakat dalam bentuk agribisnis di lokasi petani. Salah satu komponen teknologi usahatani obat dan aromatik yang dilakukan adalah teknologi nilam, yang akan diperkenalkan dan diterapkan di lahan petani.
Penyediaan dan pengawalan teknologi dilakukan bersama-sama dengan kegiatan penunjang primatani lainnya dari instansi lain. Kegiatan Primatani di Garut, Propinsi Jawa Barat ini merupakan kegiatan bersama antara BPTP, Balit (termasuk Balittro)/Puslit, Tim pakar dan Pemda. Balittro dalam hal ini sebagai pendamping dan peranannya pada inovasi teknologi nilam, memberi masukan teknologi yang dapat digunakan di Garut dan tindak lanjut pengembangannya. Kegiatan ini tidak menggunakan rancangan karena merupakan kegiatan yang bersifat penerapan teknologi di lapangan. Pada tahun 2006 tanaman nilam tersebut ditanam di lapang, dan tanaman tumbuh baik. Pertumbuhan tanaman rata-rata pada umur 5 bulan cukup baik, tinggi 53,96 cm, jumlah cabang 5,28, lebar tajuk 52,70 cm, dan jumlah daun 273,37. Hasil panen pertama sebesar 450-650 g berat basah per tanaman.

Tentang Perpustakaan Balittro

Pustakawan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Jl. Tentara Pelajar No. 3 Bogor 16111
Tulisan ini dipublikasikan di 1. Tandai permalink.

Satu Balasan ke ABSTRAK HASIL PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK TAHUN 2006

  1. cahya berkata:

    lestarikan tumbuhan HUTAN berkhasiat obat Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s