KUMPULAN ABSTRAK HASIL PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK 2010

KONSERVASI 150 JENIS DI RUMAH KACA, 30 JENIS IN VITRO TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Natalini Nova K, Siti Fatimah Sy, Wawan Haerudin, Dedi Surachman, Siti Aisyah
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Manfaat utama konseravasi adalah upaya meletarikan tanaman obat dan aromatik yang ada dirumah kaca baik pada tanaman obat yang sudah langka maupun pada yang masih dikembangkan. Kegiatan konservasi tanaman obat dan atsiri (150 jenis di rumah kaca, 30 jenis di laboraoorium secara in vitro) telah dilaksanakan sejak dari Januari sampai dengan Desember 2010 melalui kegiatan pemeliharaan, penyemaian dan perbanyakan bahan tanaman baik dari biji maupun dari setek. Perbanyakan 8 aksesi tanaman jahe memperlihatkan respon berbeda terhadap media yang sama. Untuk tanaman nilam telah berhasil ditambahkan 3 aksesi baru, mentha 1 aksesi baru, dan aksesei baru tanaman bangle serta temu mangga. Untuk tanaman lainnya, yaitu lidah buaya, tapak dara, temu mangga dan kumis kucing telah dilakukan kegiatan perakaran. Penyimpanan dilakukan pada tanaman mentha Ryokubi menggunakan media Ancymidol dan memperlihatkan respon yang sama pada semua taraf konsentrasi. Dari hasil analisa isozim menggunakan enzim peroxidase dan esterase, terlihat adanya perbedaan pola pita tanaman hasil in vitro dibandingkan dengan induknya. Pada tanaman temulawak semua komponen fitokimia terlihat sama, baik pada tanaman induk maupun pada tanaman hasil in vitro kecuali pada kandungan saponin. Pada tanaman temu jingga, kandungan saponin induk lebih rendah dibandingkan dengan saponin tanaman hasil in vitro. Pada tanaman tabat barito yang ditanam di lapang baik induk maupun hasil in vitro semua kandungan fitokimia sama. Perbedaan terlihat pada tanaman tabat barito yang ditanam di rumah kaca, kandungan alkaloid, tanin, fenolik, flavonoid dan triterpenoid tanaman hasil in vitro berbeda dengan induknya, komponen lain terlihat sama. Hasil uji lanjutan terhadap bahan aktif tanaman temulawak terlihat adanya perbedaan kadar kurkumin antara tanaman hasil in vitro dibandingkan dengan induknya; tanaman hasil perbanyakan secara in vitro lebih tinggi (2,26%), sedangkan kandungan xanthorizolnya hampir sama. Untuk tanaman tabat barito, kandungan bahan aktif quersetinnya juga terlihat hampir sama. Dengan demikian cara konservasi invitro sesuai untuk tanaman temulawak dan tabat barito.

Kata kunci : Konservasi, rumah kaca dan in vitro, TOA

ABSTRACT

The main benefit is the effort to preserve and conservation of medicinal and aromatic plants was at home a good glass of medicinal plants which are rare or on the still being developed.Conservation research activities in the greenhouse 150 types, 30 types of in vitro Medicinal and Aromatic Plants in the garden done germplasm collection, greenhouse and lab. In vitro IMACRI – Bogor from January to December 2010 through the activities of maintenance, seeding and plant propagation material either from seed or from cuttings in greenhouses and greenhouse pages, while 30 Types of Conservation Medicinal and Aromatic Plants In Vitro, propagation of plants at 8 ginger accessions showed different responses to the same media. For patchouli plants were collected 3 accessions, to the addition of 1 plant Mentha accessions while the crop-Intersection and Intersection findings bangle adding mango. Rooting activities have been conducted on Aloe vera plant, vinca and cat whiskers. Storage done on the plant Mentha Ryokubi use Ancymidol media and showed the same response at all levels of concentration. From the results of isozyme analysis using the enzyme peroxidase and esterase, visible banding pattern of differences in the results of in vitro plants compared with its parent. In ginger plants all look the same phytochemical components, both at home and host plants on the plant results in vitro except in saponin content. At the Intersection orange crop, the main saponin content is lower compared with the results of in vitro plant saponins. On the dignity of plants grown in field barito both the parent and the results of in vitro all the same phytochemical content. The differences seen in plants grown barito dignity in the greenhouse, the content of alkaloids, tannins, phenolic, flavonoid and triterpenoid plants produced in vitro differ from its parent, the other components look the same. The test results continued to be active ingredients in crop plants that seemingly ginger curcumin concentration differences between the plants produced in vitro compared with its parent, in which the plants produced in vitro was higher (2.26%). As for the content of xanthorizol at both plants look almost identical. To plant barito dignity, the active ingredient content quersetinnya also looks almost the same.

keyword : conservation in glass house, in vitro medicinal and aromatic plants

KONSERVASI IN VITRO 30 JENIS TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Natalini Nova Kristina, Sitti Fatimah Syahid, Dedi Surachman, Sitti Aisyah
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Kegiatan konservasi tanaman obat dan aromatik dilakukan untuk memelihara plasma nutfah tanaman yang telah dikoleksi secara in vitro. Konservasi meliputi pemeliharaan secara tumbuh pada media yang telah baku dari masing-masing tanaman, menambah aksesi dari jenis tanaman yang ada, nambah jenis-jenis Zingiberaceae, perakaran, aklimatisasi dan uji stabilitas genetik. Dari hasil yang dilakukan, pemeliharaan rutin tanaman telah dilakukan dan penambahan beberapa aksesi untuk jahe, nilam dan mentha. Penambahan koleksi baru bangle dan temu mangga, perakaran pada tanaman tapak dara dan nilam serta penyimpanan pada tanaman mentha. Dari hasil analisa isozim menggunakan enzim peroxidase dan esterase, terlihat adanya perbedaan pola pita tanaman hasil in vitro dibandingkan dengan induknya. Pada tanaman temulawak semua komponen fitokimia terlihat sama, baik pada tanaman induk maupun pada tanaman hasil in vitro kecuali pada kandungan saponin. Pada tanaman temu jingga, kandungan saponin induk lebih rendah dibandingkan dengan saponin tanaman hasil in vitro. Pada tanaman tabat barito yang ditanam di lapang baik induk maupun hasil in vitro semua kandungan fitokimia sama. Perbedaan terlihat pada tanaman tabat barito yang ditanam di rumah kaca, kandungan alkaloid, tanin, fenolik, flavonoid dan triterpenoid tanaman hasil in vitro berbeda dengan induknya, komponen lain terlihat sama. Hasil uji lanjutan terhadap bahan aktif tanaman yang dilakukan pada tanaman temulawak telihat adanya perbedaan kadar kurkumin antara tanaman hasil in vitro dibandingkan dengan induknya, di mana pada tanaman hasil in vitro lebih tinggi (2,26%). Sementara untuk kandungan xanthorizol pada kedua tanaman terlihat hampir sama. Untuk tanaman tabat barito, kandungan bahan aktif quersetinnya juga terlihat hampir sama.

Kata kunci : Konservasi, in vitro, 30 jenis tanaman, obat, aromatik

ABSTRACT

Conservation of medicinal plants and aromatic done to preserve plant germplasm that has been collected in vitro. Conservation includes maintenance that has been grown on standard media from each crop, add accession of existing plants, add the kinds of Zingiberaceae, rooting, acclimatization and genetic stability test. From the results carried out, plants have been carried out routine maintenance and the addition of some accessions to ginger, patchouli and Mentha. The addition of a new collection of bangle and temu mangga, rooting induction of Vinca sp., storage at patchouli and Mentha. The results of isozyme analysis using the enzyme peroxidase and esterase, was visible banding pattern of differences in the results of in vitro plants compared with its parent. In ginger plants all look the same phytochemical components, both at green house and host plants on the plant results in vitro except in saponin content. At the Intersection of temu jingga, the main saponin content is lower compared with the results of in vitro plant saponins. On the tabat barito (Ficus deltoidea) grown in field both the parent and the results of in vitro, all the same phytochemical content. The differences seen in plants grown tabat barito in the greenhouse, the content of alkaloids, tannins, phenolic, flavonoid and triterpenoid plants produced in vitro differ from its parent, the other components look the same. The test results continued to be active ingredients in crop plants that seemingly ginger curcumin concentration differences between the plants produced in vitro compared with its parent, in which the plants produced in vitro was higher (2.26%). As for the content of xanthorizol at both plants look almost identical. In tabat barito, the active ingredient content quersetinnya also looks almost the same.

Key words : Conservation, in vitro, 30 sp, plant medicine, aromatic

REJUVENASI DAN KARAKTERISASI 2 JENIS TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Nurliani Bermawie, Nur Laela W.M dan Susi Purwiyanti
Balai Penelitian Tanaman Obat

ABSTRAK

Plasma nutfah tanaman obat dan aromatik terbatas di kebun percobaan (KP) Cimanggu (332 spesies), KP. Cicurug (178 spesies, 611 aksesi), KP Manoko (283 spesies, 374 aksesi), dan KP Gunung Putri (69 spesies, 120 aksesi), in vitro (30 spesies), dan rumah kaca (246 spesies, 248 aksesi). Plasma nutfah yang disimpan secara in vitro sampai dengan tahun 2009 berjumlah 30 spesies dan di rumah kaca 127 spesies. Sebagian besar koleksi plasma nutfah TOA merupakan tanaman berbiji rekalsitran dan berkembangbiak secara vegetatif, seperti famili Zingiberaceae, tanaman ini tidak dapat disimpan dalam jangka waktu lama dan harus di rejuvinasi setiap tahun. Saat ini Balittro memiliki 30 aksesi lengkuas dan 20 aksesi sereh dapur yang perlu direjuvenasi. Aksesi lengkuas berasal dari eksplorasi berbagai daerah di Indonesia. Tujuan penelitian adalah rejuvenasi dan karakterisasi 30 aksesi lengkuas dan 20 aksesi sereh dapur sebagai usaha pelestarian dan karakterisasi produktivitas dan mutunya. Hasil rejuvenasi dan karakterisasi pada 30 aksesi tanaman Lengkuas menunjukkan bahwa aksesi 7, 13, 16, 18 dan 23 memiliki pertumbuhan yang baik dibanding dengan aksesi lengkuas lainnya. Sedangkan pada lengkuas aksesi 3 dan 30 memiliki pertumbuhan yang kurang baik dibanding aksesi lainnya. Karakter warna kulit rimpang tua, muda dan warna daging rimpang adalah ungu kemerahan dan putih orange. Warna batang bagian ujung berkisar antara hijau terang, hijau tua dan hijau coklat. Warna batang bagian pangkal yaitu hijau dan merah muda. Ukuran daun terdiri dari ukuran besar, sedang dan kecil. Bentuk daun lengkuas adalah runcing dan meruncing sedangkan bulu daun pada permukaan atas daun ada yang sedikit dan ada yang banyak. Warna daun muda adalah hijau dan hijau muda sedangkan warna daun tua adalah hijau dan hijau tua. Rata-rata kadar abu tak larut asam, sari larut air, sari larut alkohol, panen ke dua (9 BST) lebih tinggi dibandingkan panen pertama (7 BST), hal tersebut disebabkan karena rimpang telah matang sedangkan rata-rata kadar serat pada panen kedua lebih rendah dibandingkan pada panen pertama. Hasil analisa kandungan bahan aktif pada 30 aksesi lengkuas baik pada panen muda maupun pada panen tua komponen utama penyusun ekstrak lengkuas yaitu Benzoic acid, 2,4-dimetyl-,me; Benzoic acid, 2,6-dimethyl-, (C; Hexadecanoic acid (CAS) $$ Palm.; Indenol; Benzaldehyde, ethenyl- (CAS) $$.; Quinoline, 1, 2, 3, 4 – tetrahydro-. Komponen bahan aktif penyusun lengkuas dimana pada pengamatan umur 7 bulan berkisar antara 11-47 komponen, sedangkan pada panen tua berjumlah antara 31-74 komponen.
Hasil yang dicapai pada kegiatan karakterisasi 20 Aksesi plasma nutfah Sereh Dapur menunjukkan dari 20 aksesi sereh dapur yang penampilan pertumbuhan dan produksinya lebih baik dibanding aksesi lain adalah aksesi Cyci 0003 (57,98 ton/ha/tahun) dan Cyci 0004 (60,18 ton/ha/tahun), sedangkan kandungan sitral tertinggi di tampilkan aksesi Cyci 0005 (83,74% ±1,31), diikuti 7 aksesi lainnya yang memiliki kandungan sitralnya lebih dari 80% yaitu (Cyci 0001, Cyci 0002, Cyci 0003, Cyci 0006, Cyci 0008, Cyci 0009, Cyci 0010), serta beberapa aksesi lain memiliki kadar sitral antara 71,68 – 80%., walaupun demikian kadar sitral yang dimiliki 20 aksesi sereh dapur menunjukan kadar sitral yang lebih tinggi dari 70%.

Kata kunci : rejuvenasi, karakterisasi, lengkuas, serai dapur, plasma nutfah TOA

ABSTRACT

Germplasm of medicinal and aromatik plants (TOA) was limited in the Cimanggu experiment garden (332 species), Cicurug experiment garden (178 species, 611 accessions), Manoko experiment garden (283 species, 374 accessions), and Gunung Putri experiment garden (69 species, 120 accessions), in vitro (30 species), and greenhouse (246 species, 248 accessions). Most of the germplasm collections in the medicinal and aromatic plants were recalcitrant seeds and reproduce vegetatively, such as Zingiberaceae family, this plant can not be stored for a long time and should be rejuvination every year. Balittro currently has 30 accessions galanga and 20 accessions lemongrass should be the rejuvenation. Galanga from the exploration of various areas in Indonesia Accession. The research objective were to rejuvenation and characterization of 30 accessions galanga and 20 accessions lemon grass as conservation and characterization of productivity and quality. The results of rejuvenation and characterization of 30 accessions demonstrated that accessions Galanga plant 7, 13, 16, 18 and 23 have good growth compared with other accession galanga. While accession galanga 3 and 30 had growth less well than the other accessions. Character of the old rhizome color, flesh color and young rhizome reddish purple and orange and white. The color of the rod tip ranging from light green, dark green, brown and green. Stem color is green and pink. The size of the leaf consists of large, medium and small. Galangal leaf shape is tapered and tapered while the feather leaves on the upper leaf surface a little and there a lot. The color of young leaves are green and light green color while the older leaves are green and dark green. The average level of acid insoluble ash, water soluble extract, alcohol-soluble extract, harvest into two is higher than the first harvest, it is because the roots have matured while the average content of fiber in the second harvest is lower than the first harvest.
The average content of acid insoluble ash, water soluble extract, alcohol-soluble extract, harvest to harvest two higher than the first, most likely caused by roots have matured while the average fiber content in the second harvest was lower than in the first harvest . Result analysis of the active ingredient content in 30 accessions of both the harvest galanga young and old to harvest the main components making up the galanga extract Benzoic acid, 2,4-dimetyl-, me; Benzoic acid, 2,6-dimethyl-, (CA .; Hexadecanoic acid (CAS) $ $ Palm .; Indenol; Benzaldehyde, ethenyl-(CAS) $$.; quinoline, 1, 2, 3, 4 – tetrahydro-. Components of the active ingredient constituent galanga where at age 7 months of observation ranged between 11-47 components, whereas in the old harvest amounted to between 31-74 components. The results achieved in the characterization of germplasm Accessions 20 Lemongrass shows off the lemongrass 20 accessions of growth and production performance is better than the other accessions are accession Cyci 0003 ( 57.98 tons/ha/year) and Cyci 0004 (60.18tons/ha/year), while the highest content in the show accession sitral Cyci 0005 (83.74% ± 1.31), followed by seven other accessions that contain sitral more than 80% ie (Cyci 0001, Cyci 0002, Cyci 0003, Cyci 0006, Cyci 0008, Cyci 0009, Cyci 0010), as well as several other accessions had higher levels of sitral between 71.68 to 80%., although the levels sitral owned 20 accessions lemongrass sitral shows a higher level than 70%.

Keyword : Rejuvenation, characterization, galanga, lemongrass Medicinal and Aromatic Plants

DOKUMENTASI DUA RIBU REKAM DATA TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Cheppy Syukur, Ermiati, Rudiana, Jajad Darajat, Tini Nurcahya, Hendra Cipta, Hendi, Herman, Encep Racmat Kabul
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Keberadaan koleksi-koleksi plasma nutfah yang ada di Balittro, di konservasi di kebun-kebun koleksi plasma nutfah Balittro, sebagai usaha penyelamatan agar tidak punah, pembaharuan dan pengumpulan karakter agar informasi karakter dari koleksi-koleksi tersebut tetap terperbaharui. Sebagai tindak lanjut dari terkonservasinya koleksi-koleksi tersebut, keberadaan koleksi dan informasi data yang diperoleh direkam ke dalam bentuk database secara komputerisasi yang diperbaharui setiap tahunnya.Kegiatan dokumentasi plasma nutfah telah dilakukan melalui pengumpulan data koleksi dan karakter dari jenis dan aksesi yang ada di masing-masing kebun. Setiap kebun diminta untuk melakukan updating dokumentasi database plasma nutfah bersama-sama dengan peneliti sesuai dengan data terakhir yang dimiliki kebun setiap tahunnya melalui karakterisasi langsung di lapang pada koleksi tanaman potensial seperti jahe, kunyit, temulawak, kencur, dll. Dari data yang sudah terkumpul telah dilakukan klarifikasi data dan validasi data sehingga data yang sudah terkumpul sesuai dengan koleksi yang ada di lapangan kemudian direkam dalam database kebun atau buku induk. Rekapitulasi data koleksi dari seluruh kebun lingkup Balittro telah disusun menjadi katalog koleksi plasma nutfah yang kemudian dapat digunakan sebagai bahan pembaharuan data pada tahun selanjutnya sesuai dengan penambahan jumlah koleksi yang masuk kekebun-kebun koleksi plasma nutfah. Data koleksi yang telah memiliki data karakter dan dari hasil evaluasi dari tiap –tiap aksesinya telah direkam kedalam database Balai yang kemudian disusun menjadi kelompok jenis yang lengkap dengan karakternya. Dari kegiatan Dokumentasi telah terekam data koleksi plasma nutfah dari 5 kebun koleksi plasma nutfah TOA sebanyak 2502 data. Data-data tersebut diperoleh melalui penambahan data baru dari kegiatan pembaharuan (update) dan perbaikan (validasi) data yang dilakukan berdasarkan data terkini. Rekapitulasi data koleksi sampai akhir tahun 2010 tercatat sebanyak 682 jenis dengan 2502 aksesi (data terlampir). Untuk masing-masing kebun telah dilakukan pembaharuan data baik dilapangan maupun dalam buku induk kebun seperti di KP. Cimanggu (170 spesies, 326 aksesi), KP. Cicurug (183 spesies, 846 aksesi), KP Manoko (133 spesies, 305 aksesi), KP. Gunung Putri (67 spesies, 201 aksesi), KP. Sukamulya (2 spesies, 404 aksesi), in vitro (30 spesies, 81 aksesi), dan rumah kaca (127 spesies, 420 aksesi). Entry data dilakukan juga terhadap informasi karakter dari komoditas garut (20 aksesi), jahe (15 aksesi), kencur (40 aksesi), kunyit 70 akses, temulawak (22 aksesi), pegagan (30 aksesi), mengkudu (60 aksesi) dan ylang-ylang (132). Berdasarkan rekaman data base, informasi data koleksi – koleksi yang terekam tumbuh baik dapat diinformasikan kepada pengguna untuk dimanfaatkan sebagai sumber genetik dalam perakitan varietas unggul baru dan kepentingan penelitian lainnya.

Kata kunci : dokumentasi plasma nutfah TOA

ABSTRACT

The existence of germplasm collections that exist in IMACRI, in conservation in gardens IMACRI germplasm collection, as the rescue effort with extinction, renewal and collection of character for character information from its collections remain renewable. As a follow-up of conservation tar his collections, the existence of data collection and information obtained is recorded into a computerized database that was updated every year. Germplasm documentation activities have been conducted through the collection of data collection and character of the species and accessions in each garden. Each garden was asked to perform updating the database documentation germplasm together with researchers in accordance with recent data owned gardens each year through direct characterization in the field of potential plant collections such as ginger, turmeric, ginger, kencur, etc.. From the data already collected has been clarification of data and validation data so that data is already collected in accordance with the existing collection in the field and then recorded in the database of the garden or the parent book. Complete data collection from all over the garden IMACRI scope has been organized into catalogs germplasm collection that can then be used as raw data renewal in subsequent years in accordance with the addition of the number of collections that go into the garden – garden germplasm collection. Data collection has character data and the results of the evaluation of each accession have been recorded into the database Hall who later compiled into a comprehensive group of species with character. Documentation of activities have been recorded germplasm collection of data from 5 garden TOA germplasm collection of 2502 data. These data obtained through the addition of new data from the activities of renewal (update) and repair (validation) data is based on current data. Complete data collection until the end of 2010 there were 682 species with 2502 accessions (data attached). For each of the gardens have been updating both the field and in the garden as the parent book in the KP. Cimanggu (170 species, 326 accessions), KP. Cicurug (183 species, 846 accessions), KP Manoko (133 species, 305 accessions), KP. Gunung Putri (67 species, 201 accessions), KP. Sukamulya (2 species, 404 accessions), in vitro (30 species, 81 accessions), and greenhouse (127 species, 420 accessions). Entry data were also against the character of the commodity information arrowroot (20 accessions), ginger (15 accessions), kencur (40 accessions), 70 access turmeric, ginger (22 accessions), Centella asiatica (30 accessions), Noni (60 accessions) and ylang -ylang (132). Based on the record data base, data information collection – a collection of recorded good growth can inform the user to be used as a genetic resource in the assembly of new varieties and other research purposes.

Keywords: germplasm documentation TOA

UJI ADAPTASI SEMBILAN AKSESI KUNYIT DI BAWAH NAUNGAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS > 20 TON/HA
Sitti Fatimah Syahid, Chepy Syukur, Natalini Nova.K, Joko Pitono,Dono Wahyuno, Rodiah Balfas, Mahrita Idris, Ermiati, Wawan Lukman, Pujo Hasapto
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Untuk dapat dilepas sebagai varietas unggul kunyit toleran naungan, diperlukan kegiatan uji adapatsi di sentra lokasi pengembangan kunyit dengan kondisi agroklimat berbeda pada dua kali musim tanam. Penelitian uji adaptasi sembilan aksesi kunyit toleran naungan untuk meningkatkan produktivitas > 20 ton/ha telah dilakukan di tiga lokasi pengujian di Jawa Tengah (Bringin, Semarang, Nogosari dan Simo, Boyolali) mulai Januari sampai Desember 2010. Sembilan aksesi kunyit ditanam di bawah tegakan jati berumur 7 tahun dengan jarak tanam 50 x 50 cm. Populasi tanaman per petak sebanyak 48 tanaman. Rancangan yang digunakan adalah Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati adalah karakter morfologi, komponen pertumbuhan, produksi dan kandungan kurkumin. Hasil yang diperoleh adalah karakter morfologi sembilan aksesi kunyit seperti bentuk daun, bentuk batang, warna daun, warna bunga dan umur berbunga relatif sama di ketiga lokasi. Komponen pertumbuhan untuk tinggi tanaman, jumlah daun, panjang dan lebar daun serta diameter batang tidak berbeda nyata di ketiga lokasi penelitian namun nyata untuk jumlah anakan. Serangan hama dan penyakit sangat sedikit di ketiga lokasi. Secara keseluruhan pertumbuhan semua aksesi sangat baik di lokasi Nogosari dan Simo Boyolali namun kurang optimal di lokasi Bringin Semarang.Produksi rimpang maksimal di Nogosari dan Simo namun di Bringin Semarang lebih rendah. Kandungan kurkumin tertinggi dari analisis gabungan di ketiga lokasi pengujian diperoleh pada akses 05 yaitu 7.32% lebih tinggi dari standar MMI. Kandungan minyak atsiri tertinggi di Bringin Semarang ditunjukkan oleh aksesi 04 (5.06%) , di Nogosari oleh aksesi 02 (4.59 %), dan di Simo oleh aksesi 07 (4.01 %). Kandungan pati tertinggi di ketiga lokasi ditujukkan oleh aksesi 06.

Kata kunci : Kunyit (Curcuma domestica), uji adaptasi, karakter morfologi, komponen pertumbuhan, produksi, kurkumin, minyak atsiri, pati.

ABSTARCT

In order to release the superior variety of turmeric toleran of shading, adaptation test in different agroecosystem is one of the requirements. Research on adaptation test of nine turmeric accessions toleran on shading to increase to productivity > 20ton/ha have been conducted in three locations on Middle Java (Bringin, Nogosari and Simo) from January to December 2010. Nine accessions of turmeric toleran on shading were planted under teak plantation with 50 x 50cm plant spacing. Population per plot are 48 plants. The experiment were arranged with randomized block Design with three replications. The parameter observed were morphological characters, growth component, yield, curcumin content, essential oil and starch content, pest and desease attact and social economic aspect. Result showed that morphological characters are relatively same at three locations. Number of shoots was significantly different between accessions but not on plant high, stem diameter, number of leaves, length and width of leaf. The highest yield from combined analysis was performed by Cudo 02 (434.8gr/plant). The highest curcumin content was performed by Cudo 05 (7.32%).Essential oil content in Bringin (Semarang) was showed by Cudo 04 (5.06%), in Nogosari by Cudo 02 (4.59 %) and in Simo by cudo 07 ( 4.01%). The highest starch at three locations was performed by Cudo 06.

Key words : Curcuma domestica Vahl , adaptation test , morphological characters, growth components, yield, curcumin content , essential oil, starch

EVALUASI 15 AKSESI TEMULAWAK BERDASARKAN INDIKATOR GEOGRAFIS UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI >20%

Natalini Nova Kristina, Nurliani Bermawie, Mono Rahardjo, Ireng Darwati, Susi Purwiyanti, Wawan Lukman, Totong Sugandi, Suryatna, Hendra, Ramdhan
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Kegiatan evaluasi 15 aksesi temulawak merupakan kegiatan baru yang dilaksanakan dengan cara mengumpulkan 15 aksesi dari 6 Propinsi yang selanjutnya dievaluasi di Kebun Percobaan Cicurug. Kegiatan meliputi pengumpulan data pertumbuhan tanaman, data kondisi geografis dari lokasi, analisa proximat, analisa GCMS dan analisa DNA serta penanaman koleksi di kebun percobaan. Dari hasil kegiatan sampai dengan bulan Desember dapat disampaikan dari kegiatan temulawak ini adalah telah dikumpulkan 26 aksesi dari 6 Propinsi, tetapi hanya 15 aksesi yang dapat dibudidayakan secara ex situ di kebun percobaan Cicurug, karena bahan tanaman tidak mencukupi untuk dilakukannya serangkaian pengamatan (analisa proximat, GC dan HPLC, warna rimpang, analisa DNA dan penanaman). Di samping itu ada 5 aksesi yang berasal dari NTT diragukan kemurniannya sebagai temulawak, tetapi masyarakat setempat menyakini tanaman tersebut adalah temulawak. Dari hasil analisa proximat diketahui bahwa aksesi yang berasal dari Desa Fatumnutun NTT memiliki kadar minyak atsiri tertinggi (7, 97%), sementara untuk kadar pati tertinggi (53,61%), berasal dari Kp. Sido Makmur Desa Podorejo Jawa Tengah, Untuk kandungan xanthorizol tertinggi (2, 94%) berasal dari Desa Katogan Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta, dan untuk kandungan kurkumin tertinggi (2,24%) berasal dari desa Bajuin Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan. Dari hasil analisa GCMS, terlihat beberapa komponen kimia yang sama antar semua aksesi, kecuali aksesi NTT, mengandung satu komponen kimia yang cukup tinggi, yakni 1-H-3a,7-Methanoazulene dengan kadar 19,37% dalam 5 µm ekstrak. Dari hasil analisa DNA, kekerabatan temulawak dari 15 aksesi ini dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok 1 terdiri dari satu sampel yaitu sampel Madiun, kelompok 2 terdiri dari 12 sampel dan kelompok 3 terdiri dari dua sampel (sampel Gunungkidul dan Ngaliyah, Semarang). Pada kelompok 2, terlihat similaritas 100% yaitu antara sampel Kalimantan Selatan-Subang, NTT-Jabung Semarang, Gunungkidul 2-Imogiri dan Purworejo-Cileungsi. Pertumbuhan tanaman di lokasi baru (kebun), terlihat aksesi 5 lebih menonjol dibandingkan yang lainnya dan aksesi 9 pertumbuhannya cukup lambat.

Kata kunci : Evaluasi, 15 aksesi, temulawak, lingkungan tumbuh, analisa DNA

ABSTRACT

Evaluation 15 accessions of java turmeric is an activity carried out by means collect 15 accessions of the 6 provinces that subsequently evaluated at the experimental Cicurug. Activities include collecting data of plant growth, geographical conditions of the location data, analysis proximat, GCMS analysis and DNA analysis and then the gingers was collected in the garden KP. Cicurug. The results sawed, from this activities until December, first step, ginger can be delivered from this activity is already collected 26 accessions from six provinces, but only 15 accessions that can be cultivated ex situ in the KP. Cicurug. The rhizome was separated to other experiment to do a series of observations (proximat analysis, GC and HPLC, GCMS, rhizome color, DNA analysis and cultivation). In addition there are 5 accessions originating from NTT questionable purity as wild ginger, but local people believe it is a ginger plant. From the analysis proximat known that accessions originating from NTT Fatumnutun Village has the highest essential oil content (7, 97%), while for the highest starch content (53.61%), derived from Kp. Sido Makmur Village Podorejo Central Java, to the highest xanthorizol content (2, 94%) came from the Village Katogan Gunung Kidul Regency, Yogyakarta and to the highest curcumin content (2.24%) came from the village Bajuin Tanah Laut regency of South Kalimantan. From the results of GCMS analysis, seen some of the same chemical components among all accessions, except for accession NTT, containing a chemical component that is high enough, ie, 1-H-3a 0.7-Methanoazulene with levels of 19.37% in 5 μm extract. From the results of DNA analysis, kinship ginger from 15 accessions were divided into 3 groups.Group 1 consisted of single samples such as Madison, group 2 consisted of 12 samples and group 3 consisted of two samples (samples Gunungkidul and Ngaliyah, Semarang). In group 2, ie 100% visible similarity between the samples in South Kalimantan-Subang, NTT-Jabung Semarang, ,Gunungkidul 2-Imogiri and Purworejo-Cileungsi. Plant growth in the new location (the garden), looks accession 5 more prominent than others and the accession 9 growing quite slowly.

Key Word : Evaluation, 15 accessions, java turmeric, DNA analysis, geographical conditions,

EVALUASI 15 AKSESI LEMPUYANG UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSTIVITAS >20%

Sri Wahyuni, Nurliani Bermawie
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Lempuyang banyak digunakan oleh masyarakat untuk obat/jamu sebagai peningkat stamina, anti kanker dan obat anti infeksi. Kebenaran bahan mengurangi effek samping penggunaan obat tradisional. Balittro memiliki koleksi plasma nutfah lempuyang yang dikumpulkan dari berbagai daerah, yang belum diketahui potensi sifat-sifatnya dan kandungan zat aktif-nya untuk mengetahui keunggulan tanaman dan sebagai bahan baku obat. Oleh karena itu karakterisasi perlu dilakukan untuk lebih mengetahui karakter potensial plasma nutfah tanaman lempuyang tersebut. Sebanyak 15 aksesi lempuyang telah ditanam di KP. Cicurug–Sukabumi Jawa Barat tahun 2009 sehingga tahun 2010 merupakan lanjutan dengan kegiatan pengamatan pertumbuhan, morfologi tanaman dan produksi dan rimpang serta penanaman kembali. Pertumbuhan tanaman lempuyang mencapai maksimum umur 6-7 bulan setelah tanam yang ditandai dengan tidak terbentuknya daun lagi pada ujung batang. Setelah itu daun tanaman mulai menua, kuning coklat dan mengering. Variasi tinggi tanaman berkisar 65–110cm, jumlah daun per batang 11-25 helai, lingkar batang 9–17mm dan jumlah anakan 5-20 buah. Morfologi tanaman dan morfologi daun tanaman lempuyang bervariasi. Habitus tanaman kompak (aksesi 3) atau menyebar, helaian daun tegak atau melipat ke belakang, warna hijau batang hijau muda, hijau atau hijau keunguan dan warna lidah daun putih atau putih keunguan. Tanaman lempuyang umumnya berbunga, berbuah dan bijinya dapat tumbuh. Buah dalam satu cone masak bertahap mulai dari pangkal cone. Buah masak berwarna kemerahan, sedang biji masak bewarna kehitaman. Produksi rimpang lempuyang wangi umumnya lebih dari 15 ton/ha, rimpang banyak berakar, kisaran kadar minyak atsiri 1.34-4.61%, kadar sari larut dalam air 16.22–23.5%, kadar sari larut ethanol 7.9–13.8%, kadar serat 5.47–8.87% dan kadar pati 40-50%. Hasil analisa ekstrak rimpang lempuyang dengan GC-MS diperoleh hasil komponen utama lempuyang baik lempuyang gajah, lempuyang wangi dan lempuyang emprit adalah Zerumbon yaitu sebesar 36–49%. Komponen utama lainnya diantaranya adalah Acetic acid, alpha humulene, humulene oxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo, Caryophilene oxide, 3-octadecyne, Hexadecanoic acid, 3-octyne 5-methyl. Komposisi komponen utama antar aksesi berbeda senada dengan aroma wangi lempuyang yang berbeda. Klaster analisis berdasarkan RAPD, aksesi lempuyang mengelompok ke dalam lima sub klaster dan lempuyang ungu asal Cicurug mempunyai jarak genetik paling jauh dengan aksesi lainnya.

Kata kunci : plasma nutfah, lempuyang, Zingiber aromaticum.

ABSTRACT

Lempuyang (wild ginger, aromatic ginger) is ones of Zingiberaceae family, people use of this plant as stamina improvement, anti cancer and anti infection medicine. Side effect of using traditional medicine, can be decreasing by using the true plant material. Balittro have been collected wild ginger from several area, but have not been observed the character both in morphological, active-content of rhizome and the yield potential. Observation of collected material is needed to know the good potential characters for further plant development. Seed rhizome of fifteen accession of wild have been planted at Cicurug Garden, Sukabumi – West Java on year 2009. The folowing years, observation for morphological characters, and yield potential was done then replanting for next experiment. Growth of lempuyang is maksimum at 6-7 months after planting and it can be seen by no other young shoot formed anymore at the top branch. After maksimum growing, the leaves getting yellow-brown then dry and senescent. Height variation of wild ginger is 65-110 cm, the numbers of leaves are 11-25, stem girth size is 9-17 and numbers of tillers are 5-20. There are variation in morphological and leaves of wild ginger. The plant habitus is massive or spreading, the leaves are erect or tent to back direction, the colour of stem green to purple green and the ligula is white or white purple. Wild mostly formed flower, and produce fruit with seed. Fruit was arrange in a cone and maturity of fruits are not in the same time. Fruit maturity started from basal area. Mature fruit have reddish colour with seed inside with black colour.
Wild ginger rhizome yield more than 15 t/ha, the rhizome have plenty of roots. Proximate quality analisis showed that essential oil range from7.9-13.8%, extract soluble water 16.22–23.5%, extract soluble in ethanol extract soluble water, fiber content 5.47–8.87%, carbohydrat content 40-50%. GS-MS of wild ginger rhizome ekstract revealed a major constituent of lempuyang gajah, lempuyang wangi dan lempuyang emprit is zerumbone with approximately 36–49%. Other lesser major constituent are Acetic acid, alpha humulene, humulene oxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo, Caryophilene oxide, 3-octadecyne, Hexadecanoic acid, 3-octyne 5-methyl. The composition of major constituent among collection numbers is different and reflected the differences of the flavour of the flesh rhizome. Cluster analysis based on RAPD, wild ginger accession clustered into five group and wild ginger violet from Cicurug has the most far genetic distance to other accession.

Key word : Germ plasm, lempuyang, Zingiber aromaticum

UJI ADAPTASI CALON VARIETAS UNGGUL AKAR WANGI PRODUKSI TINGGI (≥ 40 KG/HA MINYAK) DAN MUTU TINGGI (KADAR VETIVEROL >50 %)PADA TIGA AGROKLIMAT

Deliah Seswita, Cheppy Syukur, Endang Hadipoentyanti, Repianyo, Suryatna dan T. Sugandi
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Balittro telah memiliki beberapa nomor harapan akarwangi hasil seleksi yang perlu diuji multi lokasi untuk persiapan pelepasan varietas. Penelitian uji adaptasi dilakukan pada tiga agroklimat berbeda. Kegiatan tahun 2010 merupakan pengamatan terhadap pertanaman kedua yang ditanam tahun 2009. Penelitian dilaksanakan mulai Januari sampai Desember 2010. Penelitian dilakukan di Kabupaten Garut pada tiga lokasi dengan kondisi agroekologi berbeda, yaitu di Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang; Desa Pada Awas, Kecamatan Pasir Wangi; dan Desa Cinta Negara, Kecamatan Cigedug. Di setiap lokasi ditanam lima nomor calon varietas unggul akarwangi, yaitu nomor M1, M2, M3, M4 dan PW, serta varietas lokal (L) sebagai pembanding. Jarak tanam 70 x 50 cm, populasi per petak 50 tanaman masing-maisng dengan 3 anakan. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang diulang 5 kali. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah anakan, rendemen minyak dan kualitas minyak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur 7 bulan, daun tanaman akarwangi mulai kuning ± 30%, dan pada saat panen (umur 11 bulan 20 hari) kondisi tanaman terlihat sehat dan kuat. Secara umum pertumbuhan tanaman di desa Cigedug Cinta Negara terlihat lebih baik, sementara produksi akar basah dan kering pada percobaan di Desa Sukakarya Samarang lebih berat dibandingkan dengan di dua lokasi lainnya, yaitu Pada Awas Pasir Wangi dan Desar Cigeduk Cinta Negara yaitu 592,5 gram basah pada tanaman M1 dan keringnya 285 garam pada nomor M4.Hasil analisis kadar minyak tertinggi yaitu pada M2 di Samarang yaitu 1,74 % M4 di desa Pasir wangi yaitu 2,75 % dan PW di desa Cinta Negara yaitu 1,39 % dan kadar Vetiverol tertinggi pada calon varietas unggul M4 di desa Samarang yaitu 57,14 %, PW di Pasir wangi yaitu 58,85 % dan di Cinta Negara 59,66 % juga pada nomor unggulan PW. Berdasarkan pengamatan terhadap beberapa karakteristik morfologi dan produksi mutu minyak aksesi M4 lebih baik dari yang lain. M4 dengan produksi minyak 1,682 %, kadar vetiverol 57,478 %. Rata – rata ketiga lokasi akarwangi nomor M4 memperlihatkan karakter yang paling unggul dan berpotensi untuk dilepas sebagai varietas unggul.

Kata kunci : Vetiveria zizamiodes Stapf, uji adaptasi, karakter morfologi, pertumbuhan, produksi, kadar minyak

ABSTRACT

IMACRI have had a few number of selected vetiver expectations that need to be tested in preparation for the release of multi-location variety. The study of adaptation trials conducted at three different agro-climatic. Activities in 2010 is the observation of the second crop planted in 2009. The experiment was conducted from January to December 2010. The study was conducted in Garut regency in three locations with different agro-ecological conditions, namely in the Village Sukakarya, District Samarang; Village On Watch, Pasir Wangi District; and Love Country Village, District Cigedug. At each location planted five varieties vetiver number of candidates, namely the number of M1, M2, M3, M4 and PW, as well as local varieties (L) as a comparison. Spacing 70 x 50 cm, the population of 50 plants per plot each of these with 3 chicks. The study used a randomized block design which was repeated 5 times. Growth parameters observed were plant height, number of tillers, yield of oil and oil quality. The results showed that at age 7 months, vetiver plant leaves begin to yellow ± 30%, and at harvest (age 11 months, 20 days) condition of the plant looks healthy and strong. In general, plant growth in the village Cigedug Country Love look better, while the production of wet and dry roots in an experiment in the village of Sukakarya Samarang heavier than in two other locations, namely the Sand Watch Cigeduk Love Perfume and Country Village is 592.5 grams wet on M1 plants and 285 dry salt on the number M4.Hasil highest oil content analysis on the M2 in Samarang namely 1.74% M4 in the village of Sand fragrance that is 2.75% and PW in the village of Love State of 1.39% and grade Vetiverol The highest yielding varieties candidate Samarang M4 in the village that is 57.14%, the PW in the Sand fragrance that is 58.85% and 59.66% State of Love is also on the winning number PW.Based on the observations of some morphological characteristics and production of oil quality accession M4 better than the other. M4 with oil production of 1.682%, 57.478% vetiverol levels. – Average number M4 vetiver three sites showed the most excellent character and potential for release as varieties.

Key words: Vetiveria zizamiodes Stapf, test adaptation, morphological characters, growth, yield, oil content

RESPON NOMOR HARAPAN AKAR WANGI TERHADAP PEMUPUKAN N, P DAN K

Rosihan R, O. Trisilawati, Setiawan, Makmun, T. Santoso dan Zainudin
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Akar wangi (Vetiveria zizanioides Stapf.) merupakan tanaman introduksi dari India, Asia Tenggara dan Afrika. Tanaman ini sebagai penyumbang devisa negara, dan minyak akar wangi dari Indonesia, dalam dunia perdagangan dikenal dengan nama Java vetiver oil. Untuk mendukung pelepasan varietas akar wangi, perlu diketahui dosis pupuk yang tepat. Penelitian pemupukan N, P dan K yang berimbang diharapkan dapat meningkatkan produksi minyak akar wangi. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan 1-2 dosis dan komposisi pupuk N, P dan K optimal yang dapat meningkatkan produktivitas akar wangi >40kg minyak/ha, kadar minyak >2,5% dan vetiverol >50% di daerah Garut. Penelitian dilaksanakan di lahan petani di desa Sukakarya, Garut (1000m dpl.) dari bulan Januari sampai Desember 2010 (tiga kali panen). Rancangan yang digunakan adalah Acak Kelompok, 3 ulangan. Perlakuan meliputi 9 kombinasi pupuk N, P dan K yang terdiri dari: 1). Kontrol, 2). 100kg SP-36 + 75kg KCl, 3). 100kg ZA + 75kg KCl, 4). 100 kg ZA + 50kg SP-36 + 75kg KCl, 5). 100kg ZA + 100kg SP-36 + 75kg KCl, 6). 100kg ZA + 100kg SP-36 + 150kg KCl, 7). 100kg ZA + 100kg SP-36, 8). 200 kg ZA + 100kg SP-36 + 75kgKCl, 9). 200kg ZA + 100kg SP-36 + 150kg KCl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pemupukan nyata terhadap jumlah anakan untuk panen pertama dan ketiga, serta panjang akar pada panen ketiga. Pada kondisi agroklimat di Garut, yang merupakan sentra produksi akar wangi, pemupukan dengan dosis 100 kg ZA + 75kg KCl dan 200 kg ZA + 100kg SP-36 + 75kg KCl, menghasilkan minyak >40kg minyak/ha, yaitu 60 kg dan 57kg minyak/ha dengan kadar vetiverol >50%. pada panen umur 12, 14 maupun 16 bulan.

Kata kunci : Vetiveria zizanioides Stapf, pemupukan, produksi minyak

ABSTRACT

Vetiver (Vetiveria zizanioides Stapf.) is a plant introduced from India, Southeast Asia and Africa. This plant as a contributor to foreign exchange, and vetiver oil from Indonesia, in the world trade known as the Java vetiver oil. To support the release of vetiver varieties, the proper dose of fertilizer should be prepared. The study of N, P and K balance is expected to increase production of vetiverol. The aim of the research was to obtain a 1-2 dose and composition of optimum N, P, K fertilizer that can increase productivity of vetiver > 40 kg oil/ha, oil content > 2,5% and vetiverol > 50% in Garut district. Research conducted in the farmer field in Sukaraja village, Garut (1000 m asl) from January to December 2010 (three times harvested). A Randomized Block Design with 3 replications was used. N, P, K fertilizer consisted of 9 (nine) combination treatments, included : 1). control, 2). 100 kg SP-36 + 75 kg KCl, 3). 100 kg ZA + 75 kg KCl, 4). 100 kg ZA + 50 kg SP-36 + 75 kg KCl, 5). 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl, 6). 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl, 7). 100 kg ZA + 100 kg SP-36, 8). 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl, 9). 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl. Result showed that fertilizer treatments significantly effected the number of tillers at the first and third harvest, and root length at third harvest. In the agroclimatic condition in Garut as central production of vetiver, application of 100 kg ZA + 75 kg KCl and 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl per ha resulted vetiver oil of > 40 kg/ha, ie 60 kg and 57 kg oil/ha with vetiverol content >50% at three times harvested (12, 14 and 16 months after planting).

Keywords: Vetiveria zizanioides Stapf, fertilizer, oil production

MINYAK ATSIRI SEBAGAI BIO ADITIF UNTUK PENGHEMATAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM)

Ma’mun, Sriyadi, S. Suhirman, H. Mulyana, D. Suyatno dan D. Kustiwa
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Penggunaan bahan aditif dalam BBM, terutama bensin dan solar dimaksudkan untuk menyempurnakan proses pembakaran BBM didalam mesin. Dengan pembakaran yang lebih baik akan menghasilkan tenaga mesin yang lebih besar, membersihkan deposit karbon didalam mesin, mengurangi emisi gas yang dibuang ke udara dan rangkaian proses seperti itu, konsumsi BBM yang diperlukan dalam proses pembakaran dapat diturunkan.
Bahan aditif yang dimaksud dibuat dari beberapa jenis minyak atsiri. Formulasi aditif berbahan baku minyak atsiri tersebut merupakan campuran beberapa minyak dengan komposisi tertentu yang didasarkan pada sifat-sifat kimiawi dari komponen-komponen dalam minyak atsiri yang digunakan.
Pengujian yang dilakukan meliputi karakter-karakter berat jenis, titik didih, titik nyala, viscositas, komposisi kimia, kadar sulfur, konsumsi bahan bakar, uji jalan dan emisi gas buang. Hasil uji parameter-parameter yang dilakukan menunjukkan tingkat efisiensi atau penurunan konsumsi BBM mencapai 20 persen.

Kata kunci: Minyak atsiri, aditif, bahan bakar minyak, pembakaran.

ABSTRACT

The use of additives in fuels, particularly gasoline and diesel are intended to improve the fuel combustion process inside the engine. With the better combustion will result in greater engine power, cleans carbon deposits inside the engine, reducing emissions of gases which are discharged into the air and a series of such processes, the necessary fuel consumption in the combustion process can be derived.
Additive material is made of several kinds of essential oils. Formulation additives made from raw essential oil is a mixture of several oils with certain compositions which are based on the chemical properties of the components in the essential oils used.
Tests conducted include characters specific gravity, boiling point, flash point, viscosity, chemical composition, sulfur content, fuel consumption, road tests and exhaust emissions. Parameters test results conducted indicate the level of efficiency or decrease in fuel consumption reached 20 percent.

Key words: essential oils, additives, fuel oil, combustion.

Perbanyakan Somaklon Jahe Tahan Suspensi R. solanacearum Dan Fusi Protoplas Jahe Putih Besar Dengan Jahe Merah

Sitti Fatimah Syahid., Otih Rostiana., Wawan Haryudin., Siti Aisyah dan Dedi Surachman
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

RINGKASAN

Serangan bakteri layu pada jahe yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum, sampai saat ini masih merupakan kendala besar yang belum dapat diatasi. Beberapa usaha pengendalian masih belum efektif, terutama karena belum ada nomor-nomor jahe yang tahan terhadap R. solanacearum. Peluang memperoleh varian baru jahe tahan terhadap R. solanacearum dapat dilakukan dengan hibridisasi somatik antara jahe putih besar produksi tinggi rentan layu bakteri dengan jahe merah toleran. Selain itu, peningkatan keragaman genetik melalui induksi ketahanan secara in vitro menggunakan medium selektif filtrat bakteri patogen dan elisitor kimia Acibenzolar-S-methyl, telah dilakukan pada stadia kalus. Kalus jahe tahan media seleksi (filtrat R. Solanacearum dan elisitor Acibenzolar S-methyl), yang berhasil diregenerasi, menunjukkan penampilan morfologi planlet yang lebih tegar dari tanaman kontrol. Diduga sifat ketahanan pada sel tanaman hasil seleksi in vitro (somaklon) telah terinduksi. Hasil perbanyakan somaklon jahe tahan suspensiR. solanacearum di rumah kaca menunjukkan bahwa respon somaklon yang ditanam pada pertanaman seri pertama lebih tinggi dibandingkan seri kedua. Pertumbuhan dan produksi rimpang somaklon jahe pertanaman seri pertama lebih baik dibandingkan seri kedua. Bobot rimpang umur sembilan bulan bervariasi diantara somaklon yang diuji. Somaklon AC1-39.3 menghasilkan bobot rimpang terbesar (450 g/rumpun, dengan presentasi kesehatan benih 75% diikuti oleh somaklon AC1-39.1 dengan bobot rimpang 350 g/rumpun dan kesehatan benih 100%, AC1-19.2 dengan bobot rimpang 350 g/rumpun dan kesehatan benih 75%. Dua individu somaklon FA, dengan kesehatan benih 100%, bobot rimpang masing-masing FA 1.2 300 g/rumpun dan FA 1.1 290 g/rumpun. Somaklon FB dari 12 individu, FB 40.1 menampilkan bobot rimpang paling tinggi (290 grrumpun) dengan kesehatan benih 100%. Somaklon Fipla 8.2 menghasilkan bobot rimpang terbesar (250 g/rumpun) dengan kesehatan benih 100 %. Pada seri kedua, diperoleh 3 nomor somaklon yang benihnya sehat 100% yaitu FB-33, FB-25 dan FB-17. Protoplast dapat diisolasi dari kalus embriogenik jahe merah dan putih besar, menggunakan kombinasi ensim mecerozim, pektoliase dan cellulase. Fusi dapat dilakukan dengan menggunakan kombinasi fusogen kimia PEG dan CaCl2, masing-masing selama 30 menit.

Kata kunci : Zingiber officinale Rosc., somaklon, fusi protoplas, toleran bakteri layu

SUMMARY

Bacterial wilt caused by R. solanacearum is a main constraint in ginger cultivation. Various experiments had been carried out to eliminate the economic losses. To date, an effective method for controlling the disease has not been appropriately established, due to the unavailability of resistant variety. Ginger variety resistant to bacterial wilts could be developed through somatic hybridization between high yield line-Big white ginger x tolerant lines-Red ginger. Besides that, increasing genetic variability through in vitro callus culture on selective medium, has been performed by using pathogen bacterial-filtrate and chemical elicitor (ASM). Regenerated plants-derived from resistant callus lines to those selective medium shown better growth and vigor as compared to untreated planlets. Suggesting that resistant characteristic has been induced on the regenerated plants derived from in vitro selection (somaclones). Growth and vigor of propagated-somaclones in the green house were variables according to their serial planting numbers. The first serial-planted out somaclones, performed better growth dan yield compared to the seconds one. Somaclone AC1-39.3, yielded the highest rhizome weight (450 g/plant), followed by somaclone AC1-39.1 and AC1-19.2 with the same rhizome weight of 350 g/plant, FA-1.2 of 300 gr/plant, FA-1.1 of 290 g/plant, FB-40.1 of 290 g/plant and Fipla-8.2 of 250 g/plant. At the second series, there are three somaclones with the healthy seedsi.e. FB 33, 25 andf 17. Ginger protoplasts, white and red lines, could be isolated from embriogenic calli by using three kinds of enzymes combination i.e. Macerozyme, Pectolyase and Cellulase. Protoplast fusion of big-white and red ginger could be conducted by using chemical fusogen PEGand CaCl2, for about 30 minutes of each step.

Key Words : Zingiber officinale Rosc., somaclone, protoplast fusion, bacterial wilts tolerant.

Isolasi dan Karakterisai Gen Penyandi Sifat Tahan Terhadap Bakteri Layu pada Jahe

Otih Rostiana, Tetty Chaidamsari, Siti Fatimah Syahid, Wawan Haryudin, Siti Aisyah
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

RINGKASAN

Teknologi rekayasa genetik memberikan wahana baru bagi pemulia tanaman untuk memperoleh kelompok gen baru yang lebih luas. DNA sekuen, yang ditransfer ke dalam genom suatu tanaman untuk membentuk tanaman transgenik bisa berasal dari spesies tanaman, bakteri, atau virus. Penemuan gen penyandi sifat ketahanan terhadap R. solanacearum (RRS1-R) pada tanaman Arabidopsis thaliana, dengan pendekatan bioinformatika yang dikombinasikan dengan beberapa teknik biologi molekuler, memungkinkan untuk mengisolasi gen tersebut pada tanaman jahe atau kerabat lainnya yang toleran dan dirancang homologinya, kemudian dikonstruk dan ditransformasikan untuk membentuk varietas jahe baru tahan layu bakteri. Pada penelitian ini jahe merah dan lempuyang emprit toleran R.solanacearum digunakan sebagai materi genetik untuk mengisolasi gen RRS1-R yang menyandi sifat tahan terhadap R.solanacearum. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental murni dengan mengaplikasikan metode molekular terstandar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen RRS1-R, sebagai penyandi sifat tahan terhadap Ralstonia solanacearum, tidak teramplifikasi dari total RNA daun jahe merah dan lempuyang emprit yang terisolasi, karena RNA sangat spesifik. Gen penyandi sifat tahan terhadap R.solanacearum pada jahe, tidak terekspresi dalam daun, karena ekspresi terjadi setelah adanya induksi terlebih dahulu. Gen RRS1-R, sebagai penyandi sifat tahan terhadap Ralstonia solanacearum, tidak teramplifikasi dari total RNA daun jahe merah dan lempuyang emprit yang terisolasi, karena RNA sangat spesifik. Gen penyandi sifat tahan terhadap R.solanacearum pada jahe, tidak terekspresi dalam daun, karena ekspresi terjadi setelah adanya induksi terlebih dahulu. DNA yang diisolasi dari daun JM dan LE, teramplifikasi dengan primer spesifik tetapi full length sekuens DNA terklon tersebut homolog terhadap Cacao swollen shoot virus dengan E Value 2e-38 (Max Identity 62%). Sedang dialkukan amplifikasi RNA asal jaringan JM dan LE hasil induksi dengan suspensi patogen, dengan primer spesifik hasil perancangan baru pada bagian less conserve, untuk memperoleh sekuen DNA terklon homolog gen RRS1-R, penyandi sifat tahan terhadap R.solanacearum.

Kata Kunci: Zingiber officinale Rosc., Z. zerumbet var.Americans, ketahananan, isolasi gen, karakterisasi gen, RT-PCR, Kloning, Sekuensing, gen RRS1-R

SUMMARY

Genetic engeneering has given a broad spectrum in plant breeding in order to obtain a newly gene for a broad purpose. Transferring DNA sequence into plant genome in term of constructing transgenic crops could be derived from various organism such as, different crops species, bacteria or virus. New finding on resistance gene to Ralstonia solanaceraum rom Arabidopsis thaliana (RRS1-R-gene) combined with bioinformatic approach and molecular technique make the possibility to isolate those resistance gene from different crop species, such as ginger or other related species tolerance to R. solanacearum. Then, the homology of those gene could be design and construct and then transform for generating newly ginger species tolerance to R.solanacearum. In thisresearch, red-ginger variety and Zingiber zerumber var. American.were used as genetic material subjected to gene isolation by using laboratory experimental with standardized molecular technique. Results showed that, RRS1-R gene as a resistance gene against R.solanacearum, could not be amplified by using total RNA either from red ginger nor Zingiber zerumbet isolated RNAs, due to a specify characteristic of RNAs. Those gene was not expressed on the leaves without any induction from the pathogens (R.solanacearum). DNA isolated from JM and LE leaves could be amplified by using specific primer, nevertheless cloned DNA sequens were homolog to Cacao swollen shoot virus with E Value 2e-38 (Max Identity 62%).Therefore, the next steps amplification will be performed by using isolated RNA from JM and LE tissues, after pathogen induction, by uisng newly specific primer designed (at less conserve region) for obtaining full length DNA sekuens homolog to RRS1-R gene.

Keywords: Zingiber officinale Rosc., Z. zerumbet var.Americans, resistance, gene isolation, gene characterisation, RT-PCR, cloning, Sequensing

PENGGUNAAN BIOFUMIGAN UNTUK MENEKAN POPULASI R. SOLANACEARUM

Rosita SMD, Otih Rostiana, Supriadi, Sri Yuni Hartati, M. Yusron, Kosasih dan Nuri Karyani
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

RINGKASAN

Serangan bakteri layu pada jahe, baik sebagai penyakit tular benih maupun infeksi di lapangan, sampai saat ini masih merupakan kendala besar yang belum dapat diatasi. Berbagai teknik pengendalian telah dilakukan, namun belum mampu mengatasi kendala tersebut secara optimal. Oleh karena itu, peluang untuk mendapatkan teknologi pengendalian yang efisien perlu terus di gali. Keberhasilan menekan populasi organisme pengganggu tanaman tular tanah khususnya bakteri layu pada jahe, di negara Asia Pasifik, dengan menggunakan tanaman penghasil glukosinolat dari famili Brassicaceae yang berfungsi sebagai biofumigan merupakan suatu peluang. Oleh karena itu, pada tahap awal perlu dilakukan identifikasi tanaman bersifat supressif, dari famili Brassicaceae yang ada di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan metode survey di beberapa daerah pengembangan jahe di Jawa Barat, untuk mengumpulkan jenis-jenis Brassicaceae yang berpotensi sebagai biofumigan. Pada tahap selanjutnya, kandungan bahan aktif (melalui unsur penyusun utama N dan S) dari setiap tanaman yang terkumpul dianalisis dan diuji efikasi terhadap bakteri layu, secara in vitro, dengan metode observasi langsung. Untuk mengetahui efektivitas biofumigan yang dihasilkan dari tanaman Brassicaceae terhadap populasi bakteri layu di dalam tanah, enam jenis tanaman Brassicaceae diuji terhadap tanaman jahe di dalam polibag, pada kondisi lapang, di kamar kaca. Penelitian disusun dalam RAK dengan 8 perlakuan, diulang 4 kali. Dilakukan pula pengujian in vitro anti bakteri dari ekstrak tanaman Brassicaceae. Hasil survey di lapangan (Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang dan Sukabumi) telah diperoleh 9 aksesi sawi (Brassica juncea), 2 aksesi lobak (Raphanus sativus), 2 aksesi selada air (Nasturtium officinale) dan 3 aksesi sawi tanah (Nasturtium indicum). 2 aksesi brokoli (Brassica oleracea var. Italica), 2 aksesi caisin (Brassica parachinensis), 3 aksesi kubis (Brassica oleracea var. Capitata Lf. Alba). Pemberian 6 jenis Brassicaceae (sawi tanah, selada air, caisin, kubis, brokoli, lobak) sebagai biofumigan memberikan pertumbuhan dan hasil rimpang lebih baik dibanding kontrol. Efek biofumigan terbaik yang mampu menurunkan populasi R.solanacearum tertinggi (6,5 : 32 x 104 cfu/g tanah) pada 14 hari setelah aplikasi, ditunjukkan oleh sawi tanah, pada 28 hari selada air (1 : 2 x 104 cfu/g tanah). Ekstrak brokoli dan caisin memberikan zona hambatan pertumbuhan R solanacearum yang lebih tinggi dibanding ekstrak tanaman yang lainnya.

Kata kunci : Zingiber officinalle Rosc., R. solanacearum, Brassicaceae, biofumigan, glukosinolat.

SUMMARY

Bacterial wilts still be a main problem in ginger cultivation. Various methods in controlling these disease has been done. However, good results has not been optimally acquired. Therefore, it is necessary to find out different methods in controlling bacterial wilts. The success on supressing ginger-soil born pathogen by using plant-producing glucosinolate such as Brassicaceae family as a biofumigant, in Asian-Pacific countries, would be a good challange to be performed. Hence, identification of Indonesian Brassicaceae plants having supressive character to soil born pathogen should be performed, firstly. To collect the potential Brassicaceae plants as biofumigant, experiments were conducted by using survey method at the production center of ginger in West Java. Then, the collected materials were subjected to active compound analysis (through main element analysis i.e. N and S) and their efication to bacterial wilts in vitro, by using observation methods. To evaluate the effectivity of resulted biofumigant to bacterial wilts population in the soil, six species of collected Barssicaceae plants were tested to ginger which were planted in polybag at field condition, in the green house. Experiments were arranged in randomized block design with 8 treatments and 4 replications. Results showed that, survey from ginger production center in West Java (Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang and Sukabumi), 9 accession of Brassica juncea), 2 accession of Raphanus sativus, 2 accessions of Nasturtium officinale and 3 accessions of Nasturtium indicum have been collected. Application of six species of Brassicaceae family (Nasturtium indicum, Nasturtium officinalle, Brassica parachinensis, Brassica oleraceae var. capitata, Brassica oleraceae var. ithalica and Raphanus sativus) as biofumigant, resulted in better growth performance and higher rhizome yield of ginger, as compared to untreated plants. Further, biofumigant effect of Nasturtium indicum showed highest capability in suppressing R.solanacearum population (6.5 : 32 x 104 cfu/g soil), 14 days after application. Meanwhile, after 28 days of application, the highest biofumigant effects was shown by Nasturtium officinalle (1 : 2 104 cfu/g soil). Brocoli and mustard extracts gave the widest restricted zone of R.solanacearum as compared to others application.

Keywords: Zingiber officinalle Rosc., R. solanacearum, Brassicaceae, biofumigant, glucosinolate.

Identifikasi jenis-jenis tanaman berpotensi sebagai elisitor untuk meningkatkan ketahanan jahe terhadap penyakit layu bakteri.

Supriadi, Sri Yuni Hartati, Sri Rahayuningsih, Nuri Karyani, dan Sugianto
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Penyakit layu bakteri pada tanaman jahe yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan penyakit yang sangat sulit dikendalikan, terutama karena tidak adanya varietas jahe yang tahan. Fenomena induksi ketahanan merupakan salah satu strategi untuk mengendalikan penyakit ini. Beberapa jenis elisitor, termasuk acibenzolar-S-methyl (ASM) terbukti efektif meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan R. solanacearum. Di samping itu, beberapa jenis ekstrak tanaman juga berpotensi sebgai elisitor ketahanan. Tujuan penelitian adalah mendapatkan jenis tanaman berpotensi sebagai elisitor penginduksi ketahanan jahe terhadap R. solanacearum. Penelitian dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Digunakan 5 jenis tanaman yang berpotensi sebagai penginduksi ketahanan, yaitu akar kucing (Acalypha indica), bayam duri (Spinosa oleracea), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), sambiloto (Andrographis paniculata) dan pegagan (Centella asiatica). Ekstrak dibuat dengan cara maserasi dalam alkohol 95% mengikuti prosedur standar Badan POM. Ekstrak kental dilarutkan dalam alkohol 70% (5 gram eksrak dalam 3 ml alkohol 70%), kemudian diformulasikan dengan bahan pengemulsi supaya mudah dalam aplikasinya (disemprotkan dan disiramkan) pada tanaman jahe. Tanaman jahe yang sudah diberi perlakuaneksrak (3 kali) kemudian diinokulasi dengan suspensi R. solnacearum, kemudian diperlakukan dengan ekstrak lagi. Pengamatan adalah perkembanga gejala penyakit dan analisis asam salisilat dalam tanaman yang menunjukkan ketahanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak dengan cara semprot hasilnya tidak konsisten karena populasi tanaman jahe yang mati tidak seragam. Namun, perlakuan ekstrak dengan cara disiramkan menunjukan hasil yang nyata bahwa 3 jenis ekstrak, yaitu sambiloto, temulawak dan akar kucing dapat menekan perkembangan layu bakteri sebesar 80% setelah inokulasi, sebanding dengan perlakuan asam salisilat. Hasil analisis kandungan asam salisilat dari tanaman yang masih hidup setelah diperlakukan dengan ketiga ekstrak potensial penginduksi ketahanan (temulawak, akar kucing, dan sambiloto) lalu diinokulasi dengan R. solanacearum adalah masing-masing sebesar 231,45 ppm, 227, 13 ppm dan 216,81 ppm) lebih besar dibandingkan perlakuan asam salisilat (206,47ppm) dan kontrol tanpa inokulasi (198,90 ppm). Hasil penelitian berindikasi adanya respon postitf dari ketiga ekstrak tersebut dalam meningkatan ketahanan tanaman jahe terhadap inokulasi R. solanacearum.

Kata kunci: Bakteri layu jahe, Ralstonia solanacearum, lelisitor

SUMMARY
Identification of plant extracts potentially induced resistance against bacterial wilt disease of ginger

Bacterial wilt on ginger causes by Ralstonia solanacearum is one of the most destructive diseses which is difficult to be eradicated, mainly because there is no ginger resistance available so far Systemic plant resisant induction is a strategic approach to control the disease. Various elisitors, including acibenzolar-S-methyl (ASM) is ffective to induce tomato resistance against inoculation of R. solanacearum. Besides, there are plant extracts which have potential as plant resistant elisitor. This study was aimed to identify plant resistant elisitor to induction R. Solanacearum in ginger. Th study was conducted in laboratory and green house of the Indonesian Meicinal and Aromatic Crop Research Institute. Fve plant extracts were tested, including akar kucing (Acalypha indica), bayam duri (Spinosa oleracea), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), sambiloto (Andrographis paniculata) and centella (Centella asiatica). Plant extracts were prepared using meceration method in ethanol according to the method of Badan POM. Plant extracts were diluted in ethanol 70% and formulated by adding adjuvant to ease their application (spraying and drenching). Ginger plants grown in polybags were sprayed or drenched with the solution of plant extracts 3 times before challenged with R. solanacearum inoculation and one time after inoculation. Parameters observed disease development and salicylic acid content in the survived plants. Study showed that application of the plant extracts by spraying varied and inconclusive to bacterial wilt development. However, drench application with plant extracts of akar kucing (Acalypha indica), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), and sambiloto (Andrographis paniculata) significantly reduced bacterial wilt disease development by 80% compared with the control-pathogen inoculation. Disease supression by thse three plant extracts is comparable with salicylic acid treatment. Analysis of salicylic acid in the survived ginger plants following the inoculation with R. solanacearum revealed that salycilic acid in the plants treated with plant extracts of temulawak, akar kucing and sambiloto were 231,45 ppm, 227, 13 ppm and 216,81 ppm) higher than that tretaed with salycilic acid (206,47ppm) and untreated control (198,90 ppm). This result indicated that these three plant extracts i.e. akar kucing (Acalypha indica), temulawak (Curcuma xanthorrhiza), and sambiloto (Andrographis maculatus) contain plant resistant elisitors to R. solanacearum in ginger.

Keywords: Ginger bacterial wilt, Ralstonia solanacearum, elisitor

Pemupukan Berimbang Untuk Meningkatkan Produksi (30 Ton/Ha) dan Ketahanan Tanaman Jahe Terhadap Ralstonia solanacearum (≥ 30%)

Agus Ruhnayat, Sri Yuni Hartati, Wawan Lukman dan Mardiana
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

RINGKASAN

Penelitian dilakukan di Laboratorium, Bogor dan Kebun Percobaan Cicurug Sukabumi, Jawa Barat, dari bulan Januari – Desember 2010. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan formula pupuk an-organik berimbang yang dapat meningkatkan produksi (30 ton/ha) dan ketahanan tanaman jahe (≥ 30%). Tahap pertama adalah pembuatan formulasi pupuk an-organik berimbang, dilakukan di Laboratorium, Bogor dari bulan Januari – Mei 2010. Ada 6 formulasi pupuk an-organik yang dibuat berdasarkan imbangan kandungan hara makro NK + Ca dan S, yaitu : a) NK (1:1), b) NK (1:1) + Ca dan S, c) NK(2:3), d) NK (2:3) + Ca dan S, e) NK (1:2), dan f) NK (1:2) + Ca dan S. Keenam formula tersebut kemudian ditambah dengan hara P, Mg dan mikro esensial (Fe, Zn, Mo, B, Bo, Cl) sebagai pupuk dasar. Tahap kedua adalah pengujian respon tanaman jahe terhadap pemberian formula pupuk an-organik berimbang. Penelitian dilakukan di KP Cicurug, Sukabumi Jawa Barat, dari bulan Juni – Desember 2010. Media tanam yang digunakan adalah tanah Inceptisols pada polybag. Bahan tanaman yang digunakan adalah jahe putih besar varietas Cimanggu-1. Rancangan penelitian menggunakan petak terbagi (split plot), diulang 3 kali. Sebagai petak utama adalah inokulasi bakteri R. solanacearum (tanpa inokulasi dan inokulasi sebanyak 107 cfu/ml). Sedangkan sebagai anak petak adalah formula pupuk an-organik (formula 1, formula 2, formula 3, formula 4, formula 5 dan formula 6). Pupuk kandang sebanyak 20 ton/ha diberikan sebagai pupuk dasar. Inokulasi bakteri R. solanacearum diberikan 2 bulan setelah tanam dengan cara disiramkan pada tanah disekitar perakaran tanaman sebanyak 200 ml/tan. Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, bobot biomas (batang dan daun), kandungan hara tanah dan tanaman, bobot basah rimpang muda (umur 4 bulan), awal munculnya gejala layu, jumlah tanaman yang tidak terserang peyakit layu (persentase tanaman hidup), populasi bakteri R. solanacearum dalam tanah dan kandungan hara tanah dan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keenam formula imbangan hara yang diuji sama baiknya terhadap pertumbuhan dan produksi rimpang muda pada tanaman jahe yang tidak diinokulasi R. Solanacearum. Formula pupuk dengan imbangan unsur hara N:K (1:2) dapat mempertahankan persentase tanaman jahe hidup sebesar 18,67 % pada tanaman jahe yang diinokulasi R. Solanacearum.

Kata kunci : Zingiber officinalle Rosc., Ralstonia solanacearum, imbangan hara

Balanced Fertilization to Increase Production (30 tons / ha) and Ginger Plant Resistance Against Ralstonia solanacearum (≥ 30%)

SUMMARY
Research conducted at the Laboratory, Bogor, and Cicurug Experimental Garden, Sukabumi, West Java, from January – December 2010. The research objective was to obtain the formula of balanced inorganic fertilizer which can increase ginger production (30 tones/ha) and plant resistance (≥ 30%). The first stage is producing balanced formula inorganic fertilizer, conducted at the Laboratory, in Bogor, from January – May 2010. There are 6 inorganic fertilizer formulations based on macro nutrient balance of NK + Ca and S, namely: a) NK (1:1), b) NK (1:1) + Ca and S, c) NK (2: 3), d) NK (2:3) + Ca and S, e) NK (1:2), and f) NK (1:2) + Ca and S. The six formulas are then added to P, Mg and micro-essential (Fe, Zn, Mo, B, Bo, Cl) nutrients as basal fertilizer. The second stage is to test the response of ginger plant to formula of balanced inorganic fertilizer application. The study was conducted in Cicurug, Sukabumi, West Java, from June – December 2010. Planting medium used was Inceptisols soil in polybags. The plant material used was a big white ginger variety Cimanggu-1. Research designs using split plots, repeated 3 times. As the main plot is the inoculation of R. solanacearum (without inoculation and inoculation at 107 cfu /ml). While the subplot is inorganic fertilizer formulas (formula 1, formula 2, formula 3, formula 4, formula 5 and formula 6). Manure as much as 20 tons/ha is given as basal fertilizer. R. solanacearum inoculations given 2 months after planting, by pouring the bacterial solution on the soil around plant roots, as much as 200 ml /plant. The parameters observed were plant height, leaf number, number of tillers, weight of biomass (stems and leaves), soil and plant nutrient content, fresh weight of the young rhizome (age 4 months), the early appearance of wilt symptoms, number of plants without wilting symptoms (percentage of plant life), populations of R. solanacearum in soil and nutrient content of soil and plants. The results showed that all six tested nutrient balance formula affected the same to the growth and production of ginger young rhizome without R. solanacearum inoculation. Fertilizer formula with a balance of nutrients N: K (1:2) capable to maintain the percentage of ginger plant life of 18.67% in plants inoculated by R. solanacearum.

Key words: Zingiber officinalle Rosc., Ralstonia solanacearum, nutrient balance

Pengujian Pemupukan dan Fungisida untuk Menekan Serangan Bercak Daun

Dyah Manohara, Dono Wahyuno, Nur Maslahah, Miftakhurohmah
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Diantara kelompok tanaman obat, jahe merupakan salah satu komoditas yang paling banyak dibutuhkan karena dapat digunakan sebagai bahan baku obat maupun rempah. Di lapang, selain penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum, juga banyak dijumpai penyakit bercak daun. Kerugian yang ditimbulkan oleh bercak daun belum pernah dievaluasi, tetapi bercak daun sudah menyebar luas pada pertanaman jahe di Indonesia. Salah satu cara pengendalian penyakit bercak daun yaitu dengan cara budidaya yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan kombinasi pemupukan dan perlakuan fungisida untuk mendapatkan teknologi pengendalian bercak daun yang efisien. Cara yang digunakan adalah menguji kombinasi pemupukan dan fungisida pada tanaman jahe di daerah endemik. Prosentase serangan penyakit, intensitas serangan penyakit, pertumbuhan tanaman diamati setiap bulan, sedang parameter produksi dan mutu rimpang dilakukan pada akhir pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk K dan Mg berpengaruh terhadap tebal daun tapi tidak berpengaruh terhadap tinggi dan jumlah anakan tanaman jahe. Produksi rimpang tertinggi (436,50g/rumpun) diperoleh dari perlakuan pupuk K 400kg/ha dan Mg 500kg/ha tidak berbeda nyata dengan perlekuan pupuk K 100kg/ha dan Mg 500kg/ha yaitu sebesar 435,50g/rumpun. Kombinasi pupuk tersebut belum dapat menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap penekanan serangan bercak daun. Perlakuan aplikasi fungisida sintetik (mancozeb) lebih dapat menekan serangan bercak daun dibandingkan fungisida nabati (CEES).

ABSTRACT

Among medicinal crops, product of ginger is one of the most needed commodities in market, due to it’s as source of medicinal purposes and as spice for cooking flavor. On the field, besides limitation of high quality of rhizome as planting material, pest and diseases are important constraint in ginger cultivation, besides Ginger wilt caused by Ralstonia solanacearum, leaf spot diseases is reported occurs in many ginger centre areas in Indonesia. The disease impact on yield of ginger has not been evaluated yet. To delimit the leaf spot diseases on ginger, appropriate cultivation have to be implement. The objective of the study is to find the best combination of fungicide and fertilizer application to get the efficient. The method was planting ginger in endemic area of leaf spot disease and treated with fertilizer and fungicide. The parameters observation consisted of disease severity, disease intensity, and vegetative growth that were observed monthly interval. The result shown that application potassium (K) and magnesium (Mg) effected to the thickness of leaves but did not affect to plant height and the number of ginger tillers. The higher production (436,50 g/grove) was obtained from the fertilizer application of K (400kg/ha) and Mg (500kg/ha), but not significant with the fertilizer application of K (100kg/ha) and Mg (500kg/ha) that is 435,50g/grove. That fertilizer combination had not been affected significantly against controlling the infection of leaf spot. The treatment of synthetic fungicide (mancozeb) was better than botanic fungicide (CEES) in controlling leaf spot disease.

Kata Kunci : Jahe, fungisida, pemupukan, pengendalian

Varietas Unggul Jahe Produktivitas Tinggi Toleran terhadap Bercak Daun dan Teknologi Pengendalian Bercak Daun Efektif (70 %)

RINGKASAN

Jahe merupakan tanaman introduksi dan selalu diperbanyak secara vegetatif sehingga diduga keragaman genetiknya sempit, namun secara morfologi terdapat variabilitas fenotip pada beberapa karakter. Keberhasilan perakitan varietas unggul melalui pemuliaan, sangat ditentukan oleh tersedianya keragaman genetik yang luas. Salah satu cara untuk meningkatkan keragaman jahe yaitu dengan teknik irradiasi. Keragaman genetik yang dihasilkan dari proses irradiasi dapat dideteksi dengan menggunakan penanda morfologi dan molekuler RAPD. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keragaman aksesi jahe dengan menggunakan teknik irradiasi sinar gamma. Penelitian dilakukan di laboratorium pemuliaan Balittro dan KP. Cicurug, Sukabumi sejak bulan Juni – Desember 2010. Percobaan disusun berdasarkan rancangan split plot dengan petak utama yaitu aksesi 1 dan aksesi 2 serta anak petak adalah 10 dosis irradiasi (0, 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45 dan 50 Gy). Perlakuan diulang sebanyak 3 kali, setiap perlakuan menggunakan 25 benih (ukuran ± 50 g/benih). Hasil yang diperoleh adalah semakin tinggi dosis irradiasi yang diberikan maka jumlah tanaman yang tumbuh dan pertumbuhan tanaman semakin terhambat kecuali pada A2D10 yang mengalami abnormalitas.Pertumbuhan jahe putih kecil aksesi A1 terjadi pada dosis irradiasi 0, 10 dan 15 Gy sedangkan pada aksesi A2 terjadi pada dosis 0, 5, 10 , 15 dan 50 Gy.Pertumbuhan aksesi A2 yang diiradiasi dengan dosis 50 Gy menunjukkan abnormalitas karena ukurannya yang lebih besar dibandingkan yang lain.Pada perlakuan dosis rendah (5 gray) ternyata tanaman jahe sudah dapat menunjukkan adanya perbedaan genetik.

Kata Kunci: Zingiber officinale, jahe, radiasi, karakter, keragaman, RAPD

OPTIMALISASI POPULASI TANAMAN NILAM UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI BENIH BERVIABILITAS TINGGI≥ 80 %

Sukarman, Mono Rahardjo, Repianyo, Dadang Rukmana dan Sarwanda
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

RINGKASAN

Sampai saat ini belum banyak informasi tentang pengaruh populasi tanaman terhadap produktivitas, dan kualitas benih nilam (Pogostemon cablin Benth). Untuk itu penelitian optimalisasi populasi tanaman nilam untuk meningkatkan produtivitas, dan viabilitas benih nilam dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan benih nilam berviabilitas tinggi > 80%. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan (KP.). Sukamulia, Balai Penelitian Tnaman Rempah dan Industri (Balittri), Pakuwon, Parungkuda, Sukabumi, dan Rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro), Bogor, dari Januari 2010. Percobaan Faktorial dengan tiga faktor, dan 3 ulangan disusun dalam Rancangan Petak-Petak Terbagi (RPPT). Petak utama adalah dua varietas nilam yaitu: 1). Sidikalang, dan 2). Lhoksemawe. Anak Petak adalah tiga populasi tanaman nilam yaitu: a). 20.000 tanaman/ha (jarak tanam 1m x 0,5m), b).15.000 tanaman/ha ( jarak tanam 1 x 0,7m), dan c).10.000 tanaman/ha, jarak tanam ( jarak tanam 1 x 1m) . Anak-anak petak adalah dua dosis Pemupukan yaitu :1). 30 ton pu puk kandang, 300kg Urea, 150 kg SP36, dan 300 kg KCl /tahun, dan 2). 45 ton pu puk kandang, 450kg Urea, 225kg SP36, dan 450kg KCl /tahun. Ukuran plot 8,4mx 5m. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan tanaman (Tinggi tanaman, jumlah cabang, primer, dan sekunder), produksi benih pertanaman, diameter bagian pangkal, tengah, dan pucuk dari cabang primer, dan sekunder, kadar karbohidrat/ serat benih, viabilitas , dan daya tahan simpan benih. Pertumbuhan tanaman dilakukan setiap bulan sekali, yang dimulai dari 1 bulan setelah tanam (1BST). Produksi benih, pertanaman, diameter, viabilitas , dan daya tahan simpan benih diamati pada saat panen pertama, dan kedua ( umur 6 BST, dan 10 BST). Kadar karbohidrat/ serat diamati pada saat panen ke dua dari setiap perlakuan. Data yang diperoleh akan dianalisis dengan ANOVA , bila berbeda nyata diteruskan dengan uji lanjut menggunakan uji LSD taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut:1).Vairetas Sidikalang, dengan dosis pemupukan 45 ton pukan,450kg Urea,225 kgSP36, dan 450kg KCl /tahun,menghasilkan jumlah cabang primer lebih tinggi yaitu 14,29, 2). Populasi tanaman 20.000/ha menghasilkan benih tertinggi(73.555,063). Rata-rata diameter benih yang berasal dari pangkal a ≥5mm, sedangkan rata-rata diameter benih yang berasal dari pucuk ≥4mm, 4).Viabilitas benih pada 0, dan 4 hari setelah penyimpanan masih ≥80%.

Kata kunci: Pogostemon cablin Benth,populasi tanaman, viabilitas benih

SUMMARY

Recently information effect of plant population/density on the viability of seed/cutting of patchouli is still limited. Based on the problem an experiment optimization of plant population to improve productivity, and quality of seed/cutting of patchouli has been conducted. The main objective of this research is to find out highly viability of patchouli seed. The experiment has been conducted in agriculture experiment Sukamulia Indonesian Spice and Industrial Crop Research Institute ( ISICRI), Pakuwon, Sukabumi and green house of Indonesian Medicinal and Aromatic Crop Research Institute ( ISMACRI), Bogor since January, 2010. Factorial experiment consist 3 factors and replicate 3 times arranged in split –split- plot design. The main plot is 2 varieties of patchouli they are Sidikalang, and Lhokseumawe. Sub plot is 3 different plant populations. They are 1) 20.000, 15.000, and 10.000 plants/ha .Sub- Sub plot is 2 levels fertilizer. They are 1). 30 t0n dung manure, 450 kg Urea, 225 kgSP36, 450 kg KCL , and 2) 45 ton dung manure, 300 kg Urea, 150 kg SP36, 450 kg KCL. Variable observed are plant growth (plant height, number of primary, secondary, and tertiary branches), seed productivity viability, diameter of bottom, medium, and upper of cutting. The result of experiment indicated as followed: ).Sidikalang variety by dossage fertlilization 45 ton pukan,450kg Urea,225 kgSP36, dan 450kg KCl /tonproduced the highest primay branches,compatered to other treatments.,2).Population 20.00plants/ha produced the highest patchouli seeds/cutting. (73.555,063)/1000m2,3).The average diameter of seeds/cutting from bottom are ≥5mm, while from upper are≥4mm,4). Seeds viability, at 0 and 4 days after haerversting/storage are ≥80%. Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut:1).Vairetas Sidikalang, dengan dosis pemupukan 45 ton pukan,450kg Urea,225 kgSP36, dan 450kg KCl /tahun,menghasilkan jumlah cabang primer lebih tinggi yaitu 14,29, 3).Populasi tanaman 20.000 /ha menghasilkan benih tertinggi(73.555,063), 4). Rata-rata diameter benih yang berasal dari pangkal ≥5mm, sedangkan rata-rata diameter benih yang berasal dari pucuk ≥4mm, 5).Viabilitas benih pada 0, dan 4 hari setelah penyimpanan masih ≥80%. 1).Sidikalang variety by dossage fertlilization 45 ton pukan,450kg Urea,225 kgSP36, dan 450kg KCl /tonproduced the highest primay branches,compatered to other treatments., 2).Population 20.00plants/ha produced thehighest patchouli seeds/cutting. (73.555,063), 3).the average diameter of seeds/cutting from base are ≥5mm, while from peak are≥4mm, S eeds viability, at 0 and 4 days after haerversting/storage are ≥80%.

Key words: Pogostemon cablin Benth, plant population, seed viability.

Evaluasi Hibrida Somatik Nilam Produktivitas ≥250kg Toleran (60%) Terhadap Penyakit Layu Bakteri di Daerah Endemik
Nasrun, Nurmansyah dan Burhanudin
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABATRAK

Penelitian evaluasi hibrida somatik nilam produktivitas ≥ 250 kg toleran (60%) terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum ) di daerah endemik di dataran mengah dan rendah di Pasaman Barat Sumatera Barat dilaksanakan dari bulan Januari s/d Desember 2010. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan nomor hibrida somatik nilam yang toleran terhadap penyakit layu bakteri dan produksi tinggi dan dapat beradaptasi pada beberapa dataran tinggi. Penelitian ini menggunakan beberapa nomor nilam hibrida somatik sebagai perlakuan yang ditanam di lapangan yang terinfeksi penyakit layu bakteri pada dataran menengah dan rendah. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Sebagai parameter pengamatan adalah masa inkubasi menunjukkan gejala penyakit dan kematian tanaman nilam serta intensitas penyakit, pertumbuhan tanaman dan produksi daun basah dan kering tanaman. Hasil penelitian evaluasi ketahanan dari lima hibrida somatik nilam (2IV/4; 2IV/5; 2IV/9; 9II/21 dan 9IV/3) yang dievaluasi pada daerah endemik penyakit layu bakteri di dataran rendah dan menengah menunjukkan empat hibrida somatik nilam (2IV/4; 2IV/5; 9II/21; dan 9IV/3) pada daerah dataran rendah tidak terinfeksi penyakit layu bakteri. Sebaliknya hibrida somatik nilam 2IV/9 dan vareitas sidikalang telah menunjukkan gejala penyakit dengan masa inkubasi menunjukan gejala penyakit 165 dan 125 hari setelah tanam “HST”) dan tidak menunjukkan kematian tanaman, kecuali varietas sidikalang menunjukan kematian pada 166 HST. Hibrida somatik 9II/21 dan varietas sidikalang tersebut menunjukkan intensitas penyakit 16,0 dan 38,0%. Selanjutnya semua hibrida somatik nilam pada daerah endemik dataran menengah menunjukkan masa inkubasi gejala penyakit cukup panjang yaitu 134 – 196 HST dengan intensitas penyakit cukup rendah yaitu 14,5 – 29,0% dan tidak mengalami kematian tanaman kecuali hibrida somati 2 IV/9 mengalami kematian tanaman dengan masa inkubasi kematian 196 HST. Sebaliknya varietas sidikalang menunjukkan intensitas cukup tinggi yaitu 58,5% dengan masa inkubasi kematian 158 HST. Pertumbuhan tanaman dari kelima hibrida somatik tersebut lebih baik dari pada varietas sidikalang untuk dataran rendah dan menengah dengan tinggi tanaman 35,00-69,25 cm pada dataran rendah dan 20,50-49,25 cm pada dataran menengah, jumlah cabang primer 18,8-38,8 cabang/tanaman pada dataran rendah dan 5,50-27,88 cabang/tanaman pada dataran menengah, jumlah cabang sekunder 25,85-55,75 cabang/tanaman pada dataran rendah dan 9,38-35,25 cabang/tanaman, dan diameter tajuk tanaman 42,31-84,88 cm pada dataran rendah dan 28,88-67,31 cm pada dataran menengah. Selanjutnya varietas sidikalang menunjukan pertumbuhan tanaman lebih rendah yaitu tinggi tanaman 30,3 cm pada dataran rendah dan 27,13 cm pada dataran menengah, jumlah cabang primer 13,50 cabang/tanaman pada dataran rendah dan 4,25 cabang/tanaman pada dataran menengah, dan jumlah cabang sekunder 16,17 cabang/tanaman pada dataran rendah dan 6,50 cabang/tanaman pada dataran menengah, dan diameter tajuk tanaman yaitu 40,0 cm pada dataran rendah dan 27,06 cm pada dataran menengah. Selanjutnya hibrida somatik tersebut menunjukkan produksi daun lebih tinggi dibandingkan varietas sidikalang. hibrida somatik menghasilkan berat basah daun 36,00- 94,00 kg/petak dan berat kering daun 13,32-34,78 kg/petak pada dataran rendah dan berat basah 4,40 -28,44 kg/tanaman dan berat kering daun 1,63-10,52 kg/petak pada dataran menengah. Hibrida somatik 2 IV/4 dan 9 IV/3 menunjukkan pertumbuhan dan produksi tanaman lebih tinggi dibandingkan hibrida somatik lainnya pada daerah dataran rendah dan menengah. Sebaliknya varietas sidikalang menunjukkan produksi daun lebih rendah dibandingkan hibridia somatik nilam yaitu berat basah daun 16,00 kg/tanaman dan berat kering daun 5,92 kg/tanaman pada dataran rendah dan berat basah daun 4,20 kg/tanaman dan berat kering daun 1,55kg/tanaman pada dataran menengah. Hasil evaluasi ini menunjukan hibrida somatik nilam 2IV/4; 2IV/5; 9II/21 dan 9IV/3 lebih toleran terhadap penyakit layu bakteri dan mempunyai pertumbuhan dan produksi tanaman lebih baik dibandingkan hibrida somatik 2IV/9 dan vareitas sidikalang. Begitu pula perkembangan penyakit layu bakteri nilam pada dataran menengah lebih tinggi dibandingkan dataran rendah.

ABSTRACT

The study of the resistance evaluation of hybrid somatic of patchouli plant to bacterial wilt disease (Ralstonia solanacearum) in endemic areal on low and medium altitude has been conducted in West Pasaman, West Sumatera from January to December 2010. Objectives this study is to find the hybrid somatic numbers of patchouli plant that tolerance to bacterial wilt disease and they has hight production and can adapted in some high altitude. The studied use some hybrid somatic of patchouli plant as treatments that planted in field that infected by bacterial wilt disease in low and medium altitude. Treatments were arranged in randomized block design (RBD) with three replications. The assessment parameters were incubation period of plant disease and died, disease intensity, plant growth and production of wet and dry leaves. The results evaluation of resistance of five hybrid somatic of patchouli plant (2IV/4; 2IV/5; 2IV/9; 9II/21 and 9IV/3) that evaluated on areal endemic of bacterial wilt disease on low and medium altitude showed that hybrid somatic 2IV/4; 2IV/5; 9 II/21; and 9IV/3 on low altitude area were not diseased infection. However, hybrid somatic 2IV/9 and sidikalang variety have showed the disease symptom with incubated period of disease symptom 165 and 125 DAP and has not showed died plant actually sidikalang variety showed the died plant in 166 DAP. Hybrid somatic 2IV/9 and sidikalang variety showed disease intensity were 16,0 and 38,0%. In addition, the five hybrid somatic of patchouli plant on medium altitude showed long incubated period of disease symptom were 134-196 DAP with lo disease intensity were 14,5-29,0% and they were died, actually hybrid somatic 2IV/9 was died with died period was 196 DAP. However, sidikalang variety showed high disease intensity was 58,5% with incubated period of plant died was 158 DAP. Plant growth of the five hybrid somatic were better than sidikalang variety for low and medium altitude with plant high were 35,00 – 69,25cm on low altitude and 20,50 – 49,25 cm on medium altitude, twig primer number were 18,8-38,8 twig/plant on low altitude and 5,50-27,88 twig/plant on medium altitude, twig seconder number were 25,85-55,75 twig/plant on low altitude and 9,38-35,25 twig/plant and diameter of plant canopy were 42,31-84,88 cm on low altitude and 28,88-67,31 cm on medium altitude. In addition, sidikalang variety showed that plant growth was lower i.e. plant high was 30,3 cm on low altitude and 27,13 cm on medium altitude; twig primer number was 13,50 twig/plant on low altitude and 4,25 twig/plant on medium altitude, and twig sconder number was 16,17 twig/plant on low altitude and 6,50 twig/plant on medium altitude, and diameter of plant canopy was 40,0 cm on low altitude and 27,06 cm on medium altitude. In addition the hybrid somatic showed leaf production were higher than sidikalang variety, hybrid somatic produced wet weight of leaves were 36,00-94,00kg/plot and dry weight of leaves were 13,32-34,78 kg/plot on low altitude and wet weight of leaves were 4,40-28,44 kg/plot and dry weight of leaves were1,63-10,52 kg/plot on medium altitude. Hybrid somatic 2 IV/4 dan 9 IV/3 showed higher plant growth and production than the other hybrid somatic on low and medium altitude. However, sidikalang variety showed that leave production was lower than hybrid somatic i.e. wet weight of leaves was 16,00 kg/plot and dry weight of leaves was 5,92kg/plot on low altitude and wet weight of leaves was 4,20kg/plot and dry weight of leaves was 1,55kg/plot on medium altitude. This evaluated results showed hybrid somatic of patchouli plant 2IV/4; 2IV/5; 9II/21 and 9IV/3 more tolerance on bacterial wilt disease and have better plant growth and production than hibride somatic 2 IV/9 and sidikalang variety. In adition, development of bacterial wilt disease of patchouli plant on the low altitude was higher than the medium altitude

UJI KETAHANAN SOMAKLON NILAM TOLERAN (60%) TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI DI DAERAH ENDEMIK

Endang Hadipoentyanti, Sri Suhesti, Amalia, Nursalam dan Sri Yuni Hartati
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Masalah utama yang dihadapi budidaya nilam (Pogostemon cablin Benth) di Indonesia adalah penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Kerugian yang ditimbulkan sebesar 60 – 95%. Sampai saat ini belum ada varietas yang tahan terhadap penyakit layu bakteri. Varietas Sidikalang diindikasikan mempunyai sifat agak toleran terhadap penyakit tersebut. Keterbatasan sumber genetik merupakan faktor pembatas dalam pemuliaan tanaman nilam karena tanaman nilam tidak berbunga/berbiji dan selalu diperbanyak secara vegetatif dengan setek. Salah satu upaya yang efektif untuk menambah keragaman genetik adalah dengan cara induksi mutasi, in vitro dan irradiasi dengan memanfaatkan variasi somaklonal Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi 9 somaklon toleran (60%) penyakit layu bakteri di daerah endemik. Penelitian dilaksanakan di daerah endemik penyakit layu bakteri Kecamatan Pameungpeuk, kabupaten Garut. Perlakuan ada 10 yaitu 9 somaklon (A, B, C, D, E, F, G, H dan J) dan 1 varietas Sidikalang sebagai pembanding (I). Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Parameter yang diamati (a) perkembangan penyakit (intensitas penyakit dan masa inkubasi); (b) pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang dan jumlah daun); (c) produksi terna dan minyak (berat basah terna, berat kering angin terna, produksi minyak, rendemen minyak); (d) kadar patchouli alkohol/ mutu minyak. Hasil sementara menunjukkan bahwa somaklon C, D dan G mempunyai intensitas serangan layu bakteri terendah <60% dibanding somaklon lainnya; Bobot segar dan kering angin tertinggi terdapat pada somaklon D sebesar 813,33g per tanaman dan 302,67 g per tanaman serta somaklon G sebesar 632 g per tanaman dan 260,67 g per tanaman. Pada panen I kadar minyak tertinggi pada somaklon A (2,54%) diikuti oleh somaklon D(2,06%) dan C (2,05%), pada panen ke II tertinggi pada somaklon A (2,42%). Kadar PA tertinggi pada panen I dan II pada somaklon J (53,89% dan 44,05%).

Kata kunci : Pogostemon cablin, somaklon, ketahanan, penyakit layu bakteri, R. solanacearum

SUMMARY

The main problems of Patchouli (Pogostemon cablin Benth). cultivation in Indonesia is bacterial wilt disease caused Ralstonia solanacearum, and lost 60%- 95%, Until now superior variety has not found yet. Sidikalang variety indicated tolerant to bacterial wilt disease. The genetic source caused limited factor of Patchouli breeding program, because Indonesia Patchouli plant can not flowering/ no seed and multiplication always by cutting. One of efforts to increase genetic variability are in vitro induction mutation and irradiation used somaclonal variation. The objectivity of this research is to evaluate 9 somaclones resistant (60%) to bacterial wilt disease at endemic area. The research conducted at endemic disease area in Pameungpeuk, Garut. The treatment were 10 i.e.: 9 somaclones (A, B, C, D, E, F, G, H and J) and one Sidikalang variety as control (I). The treatment were arranged in Block Randomized Design with 3 replications. Parameters observed were development of disease (intensity of disease and incubated period of symptom disease), plant growth (plant high, plant diameter, branch numbers and leaves numbers), herb production, oil production (fresh and dry production), rendement and quality oil (patchouli alcohol, etc). The results showed that Somaclone C, D and G have intensity of wilt disease attack lower 70% PADA TANAMAN NILAM

Sukamto, D. Wahyuno dan Zulhisnain
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Tanaman nilam merupakan tanaman tropik yang banyak dibudidayakan di Indonesia, dan lebih dari 80% dari produksi minyak dunia di pasok dari Indonesia. Masalah utama dalam budidaya nilam di Indonesia adalah belum ada varietas tahan terhadap penyakit, adanya serangan hama dan penyakit, dan terjadi alelopati. Beberapa penyakit telah dilaporkan dan menjadi masalah di Indonesia antara lain penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum), nematoda dan penyakit budok. Sampai saat ini varietas tahan terhadap penyakit layu bakteri dan budok belum ditemukan. Masalah penyakit, terjadinya alelopati dan belum tersedianya varietas yang tahan penyakit akan berpengaruh terhadap produksi nilam baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk meningkatkan dan pengembangan agribisnis nilam diperlukan beberapa program khususnya yang dapat meningkatkan produktivitas dengan varietas yang berproduksi tinggi dan tahan penyakit, teknologi pengendalian OPT, dan teknik mereduksi pengaruh negatif dari alelopati. Tujuan penelitian adalah 1) untuk mendapatkan 5-10 galur transgenik WRKY sebagai kandidat yang tahan perhadap penyakit nilam (penyakit layu bakteri dan budok). 2. Untuk mengendalian penyakit budok pada tanaman Nilam dengan efisiensi 70%. 3). untuk mendapatkan paket teknologi pembenah tanah dan pemupukan yang mampu menekan tingkat serangan OPT pada tanaman nilam. Penelitian dilakukan dengan 3 kegiatan yaitu :
1. Transformasi faktor transkripsi WKRY asal tanaman padi, dan analisis transforman untuk ketahanan terhadap penyakit nilam. Penelitian dilakukan dilaboratorium penyakit tanaman, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, dan Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB-Biogen). Hasil penelitian menunjukkan bahwa OsWRKY76 gene dari tanaman padi dapat ditranformasi dengan menggunakan Agrobacterium tumefaciens ke tanaman nilam (varietas sidikalang). Tranformasi OsWRKY76 dengan perendaman 5 hari lebih efisien dibandingkan dengan 7 hari, dalam menghasilkan kalus terseleksi higromisin. Tranformasi OsWRKY76 asal tanaman padi dapat menghasilkan 187 kalus independent nilam
2. Pengendalian penyakit budok dengan menggunakan agensia hayati. Penelitian teknik pengendalian penyakit budok dengan menggunakan beberapa komponen dilakukan di desa Sumurwiru, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan yang merupakan daerah endemik penyakit budok. Perlakuan terdiri dari 1) Agensia hayati Micrococcus sp. 2). Agensia hayati Pseudomonas sp., 3). Agensia hayati Trichoderma sp. 4). Micrococcus sp. + Trichoderma sp., 5). Pseudomonas sp. + Trichoderma sp., 6). Terusi + Kapur Tohor, 7). Minyak cengkeh dan seraiwangi, dan 8) Fungisida (bahan aktif benomil). 9) Kontrol. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan fungisida (bahan aktif benomil), persentase penekanan 57,33 %. Agensia hayati Micrococcus sp (AKT-7) dapat menekan penyakit budok lebih baik dibandingkan agensia hayati lainnya dengan persentase penekanan 47,00%. Penyakit budok menyerang/berkembang dengan baik saat musim hujan, dan serangan banyak terjadi pada daun muda/tunas baik pada bagian bawah maupun atas tanaman.
3. Pengendalian penyakit budok melalui aplikasi pembenah tanah dan pemupukan. Penelitian dilaksanakan di lahan petani Kabupaten Kuningan Jawa barat yang merupakan daerah endemik penyakit nilam terutama penyakit budok. Perlakuan terdiri dari (1) Pukan, (2) SiO2 (3) Pukan + SiO2 (4) Pukan + Zeolit (5) Pukan + Dolomit (6) Pukan + K2SO4 (7) Pukan + SiO2+ Zeolit (8) Pukan + SiO2 + Dolomit (9) Pukan + SiO2 + K2SO4. Penelitian dilakukan dengan rancangan acak kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi SiO2 dan K2SO4 terlihat mempunyai potensi yang cukup baik untuk meningkatkan tingkat ketahanan tanaman nilam terhadap serangan jenis jamur budok yang disebabkan oleh satu jenis jamur Synchytrium sp. Kombinasi perlakuan pemupukan dengan pupuk kandang, SiO2 dan K2SO4 mempunyai skoring ketahanan terhadap penyakit budok yang paling baik dibanding ke delapan perlakuan lainnya. Pertumbuhan dan produktivitas tanaman yang teserang penyakit budok terlihat rendah, namun masih bisa dipanen untuk digunakan sebagai bahan baku penyulingan minyak nilam.

Kata kunci : Penyakit, Pogostemon cablin, transformasi, Synchytrium sp. pengendaliaan, pembenah tanah, pemupukan

ABSTRACT

The patchouli plant is a tropical crop and areas of commercial cultivation are located mainly in Indonesia, which accounts for over 80% of world patchouli oil production. The main problem in patchouli crop cultivated in Indonesia are lacking in good varities, the present of pest dan diseases, and occurence of allelopathy. Patchouli crops in Indonesia has been reported to be affected by wilt disease (Ralstonia solanacearum), nematode and “budok” disease (Synchytrium sp.). Up to present, resistant varieties of patchouli against wilt disease and budok disease is not available yet in Indonesia. Those problems affect the sustainability of production quantity and also the quality of the patchouli oil produced. To develop the agribusines of the patchouli oil with considering the all problems faced some programs need to be developed especially to increase the productivity with high yielding variety, resistant variety, pest management and to control negatif effect of allelophaty. The objectivity of research were 1) to obtain 5-10 line of patchouli plants with OsWRKY76 tranformations for disease resistance (wilt bacterial and budok disease). 2) to control of budok disease by several component technology with efficiency 70% (2) 3) to obtain a package of soil amelioration and fertilizer for control disease on patchouli plants. The research conducted by 3 activities i.a.;
1. Transformation of WKRY from rice transcription factor, and analysis of transformants for resistance to diseases of patchouli. The research was conducted in laboratorium of plant pathologi research institute for medicinal and aromatic crops, and Indonesian Centre for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD). The research showed that OsWRKY76 transcription factor from rice (Oriza sativa) plants can ditransformasi by using Agrobacterium tumefaciens to Pogostemon cablin (Sidikalang varieties). Transformation OsWRKY76 with 5 days of immersion is more efficient compared with 7 days, in hygromycin selected to produce callus. OsWRKY76 franscripsion factor transformation from rice plants has produce 187 callus independent patchouli plants.
2. The control of budok disease by biological agents (Rhizobacteri). The research was conducted in Sumurwiru village, Cibeureum district, Kuningan Regency as an endemic area for budok disease, and Laboratory of Phytotaphology Indonesia Medicinal and Aromatic Research Institute. The treatment of activities were (1) Mirococcus sp. (2) Pseudomonas sp. (3). Trichoderma sp. (4) Mirococcus sp. + Trichoderma sp. (5) Pseudomonas sp. + Trichoderma sp. (6) copper(II) sulfate + calcium oxide, (7) botanical pesticide (clove oil and Citronella oil), (8) fungicide (benomil active ingredients), (9). Control. The treatment were arranged in in Block Randomiced Design with 3 replications. The parameters observed were incubated period showed the symptom disease and plant died also diseases intensity. The results showed that fungicides (active ingredients benomil) can suppress the disease intensity of budok with 57.33%. Biological agents Micrococcus sp (Akt-7) to suppress budok disease more better than other biological agents with a percentage of 47.00% suppression. The disease control techniques should be followed budok diseases epidemiology pathogen that causes more attention during the rainy season.
3. The use of soil amelioration and fertilizer for control disease on patchouli plants. The research was conducted in Sumur wiru village, Cibeureum district, Kuningan Regency as an endemic area for budok disease. The treatment of activities were (1) manure fertilizer, (2) SiO2 (3) manure fertilizer + SiO2 (4) manure fertilizer + Zeolit (5) manure fertlizer + Dolomit (6) manure fertilizer + K2SO4 (7) manure fertilizer + SiO2+ Zeolit (8) manure fertlizer + SiO2 + Dolomit (9) manure fertilizer + SiO2 + K2SO4. The treatment were arranged in in Block Randomiced Design with 3 replications. It was considered that application of SiO4 and K2SO4 fertilizer have a good prospect for increasing resistant level to synchritium disease. Furthermore, it was found that the combination of manure, SiO4 and K2SO4 treatment promoted the highest scoring of resistant level to budok disease comparing the other soil ameliorant treatments applied. Even though patchouli production attacked by budok disease was low, but those patchouli could be harvested as a raw material for patcholui oil production

Key words: Disease, Pogostemon cablin, control, tranformation Synchytrium sp., allelopathy, soil amelioration, fertilizer.

Pengendalian Penyakit Budok Melalui Aplikasi Pembenah Tanah dan Pemupukan

M. Djazuli dan Setiawan
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK
Produktivitas tanaman nilam masih tergolong rendah dan beragam antar sentra produksi dengan kisaran produksi nasional sekitar 97.5 kg minyak/ha/tahun jauh di bawah potensi varietas unggul nilam yang mampu menghasilkan minyak nilam di atas 300 kg minyak/ha/tahun. Selain rendahnya kesuburan lahan, adanya serangan penyakit menyebabkan rendahnya produksi tanaman nilam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan paket teknologi pembenah tanah dan pemupukan yang mampu menekan tingkat serangan OPT pada tanaman nilam. Untuk memenuhi tujuan tersebut, dilaksanakan sebuah penelitian lapang untuk menguji efektivitas sembilan kombinasi pembenah tanah dan pemupukan terhadap penurunan persentase serangan penyakit budok pada tanaman nilam. Penelitian dilaksanakan di lahan petani Kabupaten Kuningan yang merupakan daerah endemik penyakit nilam terutama penyakit budok. Selain adanya daerah endemik penyakit budok yang disebabkan oleh jamur Synchitrium sp, varietas unggul Sidikalang yang digunakan sebagai tanaman indikator tergolong sangat rentan terhadap serangan penyakit tersebut. Aplikasi SiO2, dolomit, dan K2SO4 terlihat mempunyai potensi yang cukup baik untuk meningkatkan tingkat ketahanan tanaman nilam terhadap serangan jenis jamur budok yang disebabkan oleh satu jenis jamur Synchytrium sp. Kombinasi perlakuan pemupukan dengan pupuk kandang, SiO2 dan K2SO4 mempunyai skoring ketahanan terhadap penyakit budok yang paling baik dibanding ke delapan perlakuan lainnya. Pertumbuhan dan produktivitas tanaman yang teserang penyakit budok terlihat rendah, namun masih bisa dipanen untuk digunakan sebagai bahan baku penyulingan minyak nilam.

Kata kunci : Pogostemon cablin Benth, pembenah tanah, pupuk, pertumbuhan, serangan penyakit.

ABSTRACT

Patchouli plant productivity is still relatively low andvaried between the centers of production with a range of national production of about 97.5kg oil/ha/year is far below the potential of high yielding varieties capable of producing oil patchouli oil above 300kg/ha/year. In addition tothe low fertility of the land, the disease attacksresulting in low production of patchouli. The purpose of this research is to obtain technologypackage soil and fertilizer that can suppress the level of pest attack on crops patchouli. To meetthese goals, conducted a field study to test theeffectiveness of the nine combinations of soil andfertilization to decrease the percentage of attackson patchouli budok disease. Research carried outin Kuningan regency farmers’ land, which isendemic diseases, especially diseases budokpatchouli. In addition to endemic areas budokdisease caused by fungus Synchitrium sp,Sidikalang yielding varieties that are used asindicator plants are very susceptible to diseaseattack. Application of SiO2, dolomite, and K2SO4seen to have good potential to increase the level ofresistance against the attack of patchouli budokspecies of fungi caused by one type
of fungusSynchytrium sp. Combination treatment withmanure fertilization, SiO2 and K2SO4 scoringdisease resistance has thebest budok comparedto eight other treatments. Growth and productivity of plants that teserang budok disease appear to be low, but can still be harvested for use as raw material for distillation of patchouli oil.

Key words: Pogostemon cablin Benth, soil,fertilizer, growth, disease attack.

PEMANFATAN 6 JENIS PESTISIDA NABATI UNTUK MENURUNKAN SERANGAN HAMA SIMPLISIA DAN SITOPHILUS ORYZAE (50%)

Molide Rizal, Agus Kardinan, Tri L. Mardiningsih, Michelia Darwis, Endang Sugandi dan Cucu Sukmana
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Penelitian Pemanfatan 6 Jenis Pestisida Nabati untuk Menurunkan Serangan Hama Simplisia dan Sitophilus oryzae (50%) telah dilaksanakan di Laboratorium Hama Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik di Bogor, pasar simplisia di DKI Jakarta dan Jawa Tengah pada bulan Januari sampai dengan Desember 2010. Penelitian dimulai dengan inventarisasi serangga hama yang menyerang simplisia tanaman obat di tempat penyimpanan di Pasar Senen (DKI Jakarta) dan Pasar Nguter (Sukoharjo, Jawa Tengah) pada bulan Januari sampai dengan Desember 2010. Contoh simplisia tanaman obat dari kedua lokasi tersebut dibawa ke laboratorium untuk diamati jenis dan jumlah serangga hama yang menyerang masing-masing jenis simplisia. Hasil dua kali survey menunjukkan bahwa sedikitnya terdapat 10 jenis hama yang menyerang 14 jenis simplisia yang diperdagangkan di Pasar Senen (DKI) dan Pasar Nguter (Jateng). Jenis hama yang ditemukan menyerang simplisia antara lain: Rhyzopertha sp., Oryzaephilus sp., Lasioderma serricorne, Stegobium paniceum, Tribolium sp., Sitophilus sp., Carpophilus sp., Araecerus sp., Cryptolestes sp., Lyctidae, sedangkan jenis-jenis simplisia yang terserang antara lain: Jahe putih (Zingiber officinale), Kedawung (Parkia roxburghii), Kunyit (Curcuma domestica), Temu kunci (Curcuma sp), Peka (Illicium verum), Kembang pala (Myristica fragrans), Temu putih (Curcuma zedoaria), Biji Mahoni (Swietenia mahagoni), Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum), Umbi dewa (Gynura segetum), Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus), Kayumanis (Cinnamomum burmanii), Temu mangga (Curcuma mangga), dan Purwoceng (Pimpinella pruatjan). Total jumlah serangga hama yang ditemukan adalah 807 ekor yang terdiri dari 456 ekor (56.50%) dari DKI, sedikit lebih banyak dari pada Jawa Tengah yang jumlahnya 351 ekor (43.49%). Sementara itu jenis simplisia yang terserang serangga hama Jawa Tengah lebih banyak yaitu 9 dari 14 jenis (64.28%) dari simplisia yang terserang hama, sementara di DKI hanya 8 jenis (57%) dari 14 jenis simplisia yang terserang hama. Serangga hama yang dominan di DKI Jakarta adalah kumbang Oryzaephilus spp., sedangkan di Jawa Tengah adalah kumbang L. serricorne. Secara agregat, populasi kumbang Oryzaephilus sp, merupakan 52.79 persen dari jumlah serangga yang dikumpulkan dari kedua lokasi survey tersebut sehingga dianggap sebagai hama utama simplisia. Hasil uji potensi 6 jenis pestisida nabati (nilam, seraiwangi, kayumanis, cengkeh, kunyit dan temulawak) dengan metoda kontak film residu terhadap hama beras Sitophilus oryzae dan Oryzaephilus sp menunjukkan bahwa tidak ada formula yang efektif membunuh kedua jenis hama tersebut. Pengujian dengan metoda fumigasi terhadap Sitophilus sp menunjukkan hasil yang tidak konsisten dengan mortalitas 25.55 – 47.78 persen. Mengingat potensi pencemaran yang dapat ditimbulkan terhadap komoditas yang dilindungi maka penelitian fumigasi dengan cara semprot terhadap karung beras tidak dilanjutkan.

Kata Kunci: Tanaman obat, simplisia, serangga, hama gudang, inventarisasi, insektisida nabati, efikasi ,fumigasi.

ABSTRACTS

Research on Utilization of Six Botanical Pesticides to Reduce Infestation of Simplisia Pests and Rice Weevil Sitophilus oryzae (50%) was conducted at Entomological Laboratory of Indonesian Medicinal and Aromatic Plants Research Institute in Bogor, simplicia market in Jakarta and Central Java from January through December 2010. The study began with an inventory of insect pests that attack medicinal plant simplisia in a storage area in Pasar Senen (DKI Jakarta) and Market Nguter (Sukoharjo, Central Java) in January through December 2010. Samples of simplisia from both locations were collected and taken to the laboratory to be observed the number and type of insect pests that attack each type of simplisia. The sample were taken twice from each of market places. Result of surveys show that there are at least 10 species of pests which attacked the 14 types of simplisia, which was traded at Pasar Senen (DKI) and Pasar Nguter (Central Java). Insect pests found attacking simplisia include: Rhyzopertha sp., sp Oryzaephilus sp., Lasioderma serricorne, Stegobium paniceum, Tribolium sp., Sitophilus sp., Carpophilus sp., Araecerus sp., Cryptolestes sp., Lyctidae, while kind of simplisia sample, which was attacked by, among others: White Ginger (Zingiber officinale), Kedawung (Parkia roxburghii), Turmeric (Curcuma domestica), Temukunci (Curcuma sp), Star anise (Illicium verum), Nutmeg’s Flower (Myristica fragrans), Temu putih (Curcuma zedoaria), Mahogany Seeds (Swietenia mahagoni), Lempuyang wangi (Zingiber aromaticum), Umbi dewa (Gynura segetum), Winged bean (Psophocarpus tetragonolobus), Cinnamon (Cinnamomum burmanii), Temu mangga (Curcuma mangga), and Purwoceng (Pimpinella pruatjan). The total number of insect pests found was 807, consisting of 456 individuals (56.50%) from Jakarta, a bit more than the Central Java number 351 (43.49%). While total sample, which was attacked by insect pests over much of Central Java were 9 of 14 species (64.28%) observed, while in Jakarta only 8 species (57%) out of 14 species of sample, which was attacked by pests. The dominant insect pests in Jakarta is Oryzaephilus sp, whereas in Central Java is L. serricorne In aggregate, the population of beetles Oryzaephilus sp was 52.79 percent of the total insects collected from both locations surveyed and stated as main pest of stored simplisia. Results for 6 types of botanical pesticide (patchouli, citronella,cassiavera, clove, turmeric and temulawak) tested against Sitophilus sp and Oryzaephilus sp by residual film contact method showed that none of the formula tested were effecfive to control these pests species. Testing with fumigation of Sitophilus sp methods showed inconsistent results with a mortality of 25.55 – 47.78 percent. Given the potential for contamination that can be inflicted on the protected commodity fumigation experiment by means of spray against the sack of rice was not continued.

Keywords: Medicinal plants, simplisia, insect, storage pest, inventarization botanical pesticide, efficacy, fumigation,

PENGUJIAN ENAM JENIS INSEKTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN Thrips palmi > 50% PADA TANAMAN KENTANG

Warsi Rahmat Atmadja, I.W. Laba, Mahrita, W., T. Sutarjo dan Ahyar
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Bogor.

ABSTRAK

Penelitian pengujian enam jenis insektisida nabati untuk mengendalikan Thrips palmi >50% pada tanaman kentang dilakukan di Laboratorium Kelompok Peneliti Hama dan Penyakit, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Bogor, dan disawah petani Pacet Jawa Barat, sejak bulan Mei sampai Desember 2010. peneltian terdiri dari 2 unit percobaan 1) Pengujian toksisitas tanaman aromatik di laboratorium terhadap Thrips palmi, 2) Pengujian insektisida nabati untuk mengendalikan Thrips palmi >50% pada tanaman kentang. Penelitian bertujuan untuk memperoleh 1 jenis insektisida nabati berbasis tanaman atsiri yang efektif mengendalikan Thrips pada tanaman kentang >50%. 1). Pengujian toksisitas minyak tanaman aromatik di laboratorium. Minyak nabati yang digunakan cengkeh, serai wangi, kayu manis, formula cengkeh dan serai wangi (cees dan cespleng), cekam (formula cengkeh dan kayu manis). Sebelum diuji minyak dilarutkan dalam pelarut organik (Xylen dan Tween 20) masing-masing konsentrasi 0,5%. Aplikasi dilakukan ke tanaman yang sudah di infestasi dengan T. palmi, masing-masing 10 ekor. Selanjutnya dikurung dengan kain kasa. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung mortalitas T. palmi pada hari 1, 2, 3 dan 4 setelah aplikasi. 2). Pengujian insektisida nabati untuk mengendalikan T. palmi >50% pada tanaman kentang. Insektisida yang dugunakan adalah cees, cekam, cengkeh, serai wangi dan kayu manis serta menggunakan insektisida pembanding yang berbahan aktif karbofuran 50 EC, insektisida nabati masing-masing konsentrasi 2ml/l air dan karbofuran 50 EC 1ml/l air. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan. Ukuran petak 5 x 8m2 , jarak tanam 40 x 50cm, populasi tanaman perpetak 20 tanaman. Metode pengambilan tanaman contoh secara sistematis berbentuk huruf U atau diagonal. Pengamatan populasi T. palmi dilakukan sebelum dan sesudah aplikasi pada setiap petak perlakuan. Aplikasi pertama dilakukan satu hari setelah pengamatan pendahuluan apabila telah ditemukan hama sasaran atau gejala serangan hama sasaran pada setiap petak. Interval aplikasi satu minggu, apliksi terakhir 2 minggu sebelum panen. Volume semprot adalah 500 liter/ha. Hasil penelitian menunjukan bahwa insektisida nabati cees, cespleng, cekam, cengkeh, serai wangi dan kayu manis masing-masing konsentrasi 2ml/l air efektif mengendalikan T. palmi sebesar 82%.

kata kunci : Pengujian, Insektisida nabati, Thrips palmi, Kentang

ABSTRACT

Research testing of six types of plant-based insecticide for controlling Thrips palmi> 50% on potato conducted at the Laboratory of Pest and Disease Research Group, Research Institute for Medicinal and Aromatic Plants Bogor, and paddy fields of farmers Pacet West Java, since May to December 2010. course of a study consisting of 2 units of the experiment: 1) Testing the toxicity of aromatic plants in the laboratory against Thrips palmi, 2) test vegetable insecticides to control Thrips palmi> 50% in potato plants. The research aims to gain a kind of essential plant-based botanical insecticide is effective in controlling thrips on potato> 50%. 1). Testing the toxicity of aromatic plant oils in the laboratory. The vegetable oil used clove, citronella, cinnamon, clove and citronella formula (Cees and cespleng), dibble (formula cloves and cinnamon). Before the oil tested was dissolved in an organic solvent (Xylen and Tween 20) of each concentration of 0.5%.Applications made to plants that have been on the infestation with T. palmi, each with 10 cows.Subsequently locked up with gauze. Research using a completely randomized design (CRD) with 7 treatments and 4 replications. The observation is done by calculating mortality T. palmi on days 1, 2, 3 and 4 after application. 2). Testing vegetable insecticides to control T. palmi>50% in potato plants. Insecticides are dugunakan is Cees, dibble, clove, citronella and cinnamon and use of insecticides that contain active comparator carbofuran 50 EC, botanical insecticides each concentration of 2ml/l of water and carbofuran 50 EC 1ml/lwater. The study used a randomized block design (RAK) with 7 treatments and 4 replications. Size 5 x 8m2 plot, spacing of 40 x 50cm, 20 plants perpetak plant population. Method of making plant in a systematic sample U-shaped or diagonally. Observations population T. palmi performed before and after application of each treatment plot. The first application is one day after the preliminary observations have been found if the target pest or symptoms of pest attack targets on each plot. Interval applications a week, same practice last 2 weeks before harvest. Spray volume is 500 liters/ha. The results showed that vegetable insecticides Cees, cespleng, dibble, clove, citronella and cinnamon each concentration of 2ml/l of water effective to control T. palmi was 82%.

Key words: Testing, botanical insecticides, Thrips palmi, Potato

PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI CENGKEH DAN SERAIWANGI UNTUK MENEKAN SERANGAN NEMATODA Meloidogyne sp. (> 50%) PADA JAHE

Setyowati Retno Djiwanti, Supriadi dan Kurniati
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Penelitian “pemanfaatan pestisida nabati cengkeh dan seraiwangi untuk menekan serangan nematoda Meloidogyne sp. (>50%) pada jahe” pada tahun 2010 merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya. Penelitian dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Balittro di Cimanggu, Bogor. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektifitas beberapa produk formula pestisida nabati dan limbah berbahan dasar tanaman cengkeh dan seraiwangi dalam pengendalian nematoda parasit jahe. Bibit jahe putih besar berumur 2 bulan dalam pot berisi media tanah (tanah: pasir: pupuk kandang = 2:1:1), diinokulasi dengan larva nematoda buncak akar Meloidogyne sp.. Selanjutnya perakaran tanaman di beri perlakuan (disiramkan) 7 formula pestisida nabati (2% larutan formula sebanyak 100 ml per tanaman). Lima bulan setelah aplikasi pestisida nabati, tanaman dibongkar dan bobot rimpang serta populasi nematoda per g akar di analisa. Formula eugenol+citronellal, formula eugenol+citronellal+asam salisilat dan formula citronellal+asam salisilat menekan serangan nematoda berturut-turut sebesar 96,79%, 95,47% dan 65,72%; dengan keefektifan yang sama dengan pestisida kimia carbofuran yang menekan serangan nematoda sebesar 69,50%. Terjadi penurunan bobot rimpang pada formula eugenol+citronellal dan formula eugenol+citronellal+asam salisilat. Ketiga jenis formula tersebut akan diuji lebih lanjut di lapang dengan mengevaluasi pula metoda aplikasi (dosis dan interval aplikasi) untuk mencegah penurunan bobot rimpang.

Kata kunci: jahe, Zingiber officinale, pestisida nabati, minyak atsiri, nematoda buncak akar, Meloidogyne sp.

ABSTRACT

The experiment of “the usage of botanical pesticide of clove and lemon grass in suppression the root-knot nematode Meloidogyne sp. infection (>50%) on ginger” was conducted in the laboratory and research station of IMACRI in Cimanggu, Bogor. The experiment was aimed to evaluate the effectivity of some botanical pesticide formula of clove and citronella grass in controlling ginger root-knot nematode. Seedlings of big ginger aged 2 months in polybags contained soil (soil: sand : cow dunk= 2:1:1), were inoculated with larva of Meloidogyne sp.. The seedlings then were drenched with 7 botanical pesticides formula of clove and citronella grass on roots area (100 ml of 2% formula solution per plant). Five months after pesticide application, the plants were uprooted, the ginger rhizome weight and nematode population per g root were analized. Eugenol+citronellal formula, eugenol+citronellal+salicilic acid formula and citronellal+salicilic acid formula suppressed the nematode population in roots up to 96,79%, 95,47% and 65,72% respectively; as effective as chemical carbofuran (69,50%). The suppression of ginger rhizome weight were evidenced in the application of formula eugenol+citronellal and formula eugenol+citronellal+ salicilic acid. Three kinds of those formulas will be evaluated further in the field with evaluation of the application method (dosage and application interval) to prevent the suppression of the rhizome weight.

Key words: ginger, Zingiber officinale, botanical pesticide, essential oil, root-knot nematode, Meloidogyne sp..

PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI MINYAK SERAIWANGI UNTUK MENURUNKAN POPULASI (80%) HAMA PENGISAP BUAH HELOPELTIS ANTONII PADA KAKAO

Nurmansyah, Jamalius, Nasrun, Zulkarnain, Bastian, dan Hasnawati
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Penelitian pemanfaatan pestisida nabati minyak seraiwangi (Cymbopogon nardus. L) untuk menurunkan populasi hama pengisap buah Helopeltis antonii pada kakao telah dilakukan dari Januari s/d Desember 2010 di kebun kakao PT Inang SariK kabupaten Agam Sumatera Barat. Percobaan disusun dalam bentuk Rancangan Acak Kelompok (RAK) dalam faktorial. Sebagai faktor I adalah interval aplikasi setiap minggu (1×1 minggu), setiap dua minggu (1×2 minggu) dan setiap tiga minggu (1x 3 minggu). Faktor II adalah waktu aplikasi, yaitu pagi hari jam 08 s/d 9.30 dan sore hari jam 16 s/d 17.30. Masing-masing perlakuan diulang 4 kali. Pengamatan dilakukan 2 minggu sekali terhadap populasi nimfa dan imago Helopeltis antonii dan skor gelaja serangan penyakit (skala 0-4) pada 25% tanaman sampel (10 pohon per plot). Hasil penelitian menunjukan bahwa penyemprotan dengan interval aplikasi 1×1 minggu dapat menekanan populasi nimfa dan imago tertinggi dibanding waktu aplikasi 1×2 minggu dan 1×3 minggu dengan tingkat penekanan pada minggu ke 4 sebesar 87,37% nimfa dan 64,86% imago pada perlakuan interval aplikasi setiap minggu; penekanan 78,68% nimfa dan 61,64% imago pada perlakuan interval aplikasi setiap 2 minggu; dan penekanan 69,90% nimfa dan 41,89% imago pada perlakuan interval aplikasi setiap 3 minggu. Penekanan populasi nimfa dan imago tertinggi (100%) terlihat pada minggu ke 12 (MSA 12) untuk perlakuan interval waktu setiap minggu, sedangkan pada perlakuan interval aplikasi setiap 2 dan 3 minggu penekanannya sedikit lebih rendah (90%). Waktu aplikasi tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata antara aplikasi pagi maupun sore hari.

Kata kunci: pestisida nabbati, serai wangi, Helopeltis, kakao

ABSTRACT

Research of the use of pesticides seraiwangi (Cymbopogon nardus. L) oil to decrease the population sucking pests on cocoa pod Helopeltis antonii have been conducted from January to December 2010 at cocoa plantation PT Inang sari Kabupaten Agam Wrst Sumatera. The was designed in the form of a randomized block design (RAK) in factorial, the first factors interval application once a week, once every two weeks, and once every 3 weeks, whereas the second factor i.e. times of application were in the morning (08.00 – 9.30) in the afternoon (16.00 – 17.30). Treatments were replicated 4 times. Parameters observed were numbers of nymphs and imagos as well as infection percentage in 10 sample trees. The results showed that interval of spraying i.e. once a week ssuppressed the highest nymph and adult population. Four weeks following the application of every week, number of nymphs and adults reduced were 87.37% and 64,86%, respectively. Whereas for the treatment of application every two weeks and three weeks, numbers of nymphs and imago reduced were 78.68% and 61,64%; and 69.90% nymphs and 41.89% imagos. The highest suppression (100%) was achieved after 12 weeks. Time of application did not significantly different between application in the morning or afternoon.

Key words: botanical pesticide, citronella oil, Helopeltis, cacao

PEMANFATAN LIMBAH TANAMAN AROMATIK SEBAGAI REPELEN HAMA

Wiratno, Dono Wahyono, Sondang, Tri Eko Wahyono
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Penelitian bertujuan menguji keefektifan mulsa dari limbah tanam atsiri sebagai repelen hama Crocidolomia binotalis (sebesar 30%) pada tanaman brokoli dan dapat meningkatkan kadar N tanah (sebesar 2%). Penelitian dilaksanakan pada tanaman brokoli di Kebun Percobaan Gunung Putri, Cipanas, Bogor. Perlakuan diberikan dengan memanfaatkan limbah akarwangi, seraiwangi, dan nilam sebagai mulsa dengan total dosis 150 gr/tanaman. Aplikasi terdiri atas 3 cara yaitu diaplikasikan 1x (150 gr/tanaman/aplikasi), 2x (masing-masing 75 gr/ tanaman/ aplikasi), dan 3x (masing-masing 50 gr/tanaman/ aplikasi). Aplikasi pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 1 minggu dan diulang setiap 3 minggu kemudian. Perlakuan pembanding diaplikasikan dengan menyemprotkan pestisida nabati dan kimia sintetis ke pertanaman brokoli sesuai dengan kebiasaan petani dan konsentrasi anjuran. Pengamatan dilakukan terhadap tingkat kerusakan tanaman akibat serangan Crocidolomia binotalis, produksi tanaman, kadar N tanah dan populasi mikroba berguna di dalam tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi hama pada disetiap petak perlakuan berbeda nyata. Populasi C. binotalis tertinggi pada perlakuan limbah nilam 75g sebesar 50 ekor, sedangkan populasi terendah terlihat pada perlakuan tanpa mulsa rata-rata sebesar 7,6 ekor. Kadar N tertinggi terdapat pada perlakuan Limbah nilam diikuti seraiwangi, akarwangi dan control dengan nilai berturut-turut 0,53, 0.46, 0,40, dan 0,39%. Dari semua perlakuan yang diuji, perlakuan limbah nilam dengan dosis 75 gr menghasilkan bobot segar tertinggi, sedangkan perlakuan limbah seraiwangi dengan dosis 75gr menghasilkan bobot segar terendah. Populasi jamur yang rendah pada perlakuan limbah nilam disusul perlakuan limbah akarwangi dan seraiwangi. Secara umum dari ketiga jenis limbah tanaman yang diuji limbah nilam memberikan prospek terbaik untuk dikembangkan dan dimanfaatkan petani.

Kata kunci: aromatik, hama, limbah, mulsa, repelen, tanaman

ABSTRACT

The objective of the experiment was to evaluate the effectivity of mulch made from waste of vetiver, citronella, and patchouli as pest repelent of Crocidolomia binotalis (30%) on broccoli plants and as a source of soil N that can increase soil N 2%. The experiment was conducted on broccoli plants in the Gunung Putri Experimental Garden, Cipanas, Bogor. Treatment provided by utilizing waste of vetiver, citronella, and patchouli as a mulch with a total dose of 150 gr / plant. The application consists of three ways, namely applied 1x (150gr/plant/application), 2x (each 75g/plant/application), and 3x (each 50 g/plant/application). The first application made during a week-old plant and was repeated every 3 weeks later. Comparative treatment plant was applied by spraying botanical and synthetic pesticides into the broccoli plants in accordance with the of farmers’ habits. Observations was made on the level of crop damage caused by attacks of Crocidolomia binotalis, crop production, soil N levels and microbial populations in soil. The results showed that the pest population in each treatment was significantly different. Average population of C. binotalis was highest at treatment of Patchouli 75 g i.e. 50 larvae, while the lowest population seen in the treatment without mulch i.e. 7,6 larvae. The highest level of N contained in patchouli, followed by citronella, vetiver and control which respectively was 0,53, 0,46, 0,40, and 0,39%. Of all the tested treatments, patchouli with a dose of 75 g generated the highest fresh weight, whereas citronella on 75 g fresh weight generated the lowest. Fungal populations are low on patchouli followed by vetiver and citronella. In general of the three types of waste, patchouli has the best prospects to be developed.

Key words: aromatic, mulch, pest, plant, repellent, waste.

PENGEMBANGAN PANGAN FUNGSIONAL ANTIOKSIDAN

Bagem Sofianna Sembiring, Feri Manoi, Ma’mun, May Sukmasari dan Makruffiana Wijayanti
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Radikal bebas didalam tubuh setiap orang dapat terjadi apabila daya tahan tubuh lemah. Penyebabnya adalah kurangnya asupan makanan yang bergizi terutama yang mengandung zat antioksidan sehingga daya tahan tubuh lemah. Selain itu juga disebabkan oleh faktor luar seperti, polusi udara dan zat-zat kimia. Salah satu alternatif untuk mengatasinya adalah mengkonsumsi suplemen antioksidan, karena antioksidan dapat menetralisir radikal bebas sehingga kerusakan sel-sel tubuh dapat dicegah atau diperlambat. Sumber antioksidan dapat berasal dari tanaman obat seperti jahe, pegagan, asitaba dan temulawak, umumnya berasal dari golongan fenol atau polifenol. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan formula pangan fungsional antioksidan yang efektif berbasis tanaman obat. Bahan baku yang digunakan adalah pegagan diperoleh dari Kebun Percobaan Manoko dan Gunung Putri, asitaba dari Kebun Percoban Manoko, jahe merah dari Sumedang dan temulawak dari Kebun Percobaan Cicurug. Penelitian terdiri dari tiga tahap, (1) diversifikasi produk pangan fungsional antioksidan, yaitu membuat formula minuman fungsional dalam bentuk instan, sirup dan ekstrak kering masing-masing sebanyak 7 formula yaitu: F1 (pegagan: asitaba: jahe), F2 (pegagan: asitaba: temulawak), F3 (pegagan: jahe: temulawak), F4 (asitaba: jahe: temulawak), F5 (pegagan: asitaba: jahe: temulawak) ,F6 (jahe: temulawak) dan F7 (asitaba: pegagan). Metode penelitian terdiri dari empat tahap yaitu (1)penyiapan bahan baku, analisis bahan aktif dan aktivitas antioksidan masing-masing bahan. (2) Diversifikasi produk menjadi minuman dalam betuk instan,sirup dan ekstrak kering sesuai dengan perlakuan. Parameter yang diamati adalah uji organoleptik (warna, rasa, aroma), aktivitas antioksidan, bahan aktif, pH, kadar air. Tahap (3) penyimpanan produk minuman, yaitu dipilih tiga formula yang menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi baik sirup maupun instan yang kemudian disimpan pada suhu kamar selama 1, 2, 3, 4 bulan. Parameter pengamatan adalah bahan aktif, aktivitas antioksidan, jamur, aroma, tekstur secara visual, dan tahap (4) pengujian efikasi formula terbaik kearah imunomodulator. Hasil pengamatan menunjukkan aktivitas antioksidan bahan baku yang terbaik secara berurut yaitu asitaba dengan nilai Ec 50% 38,00 ppm, pegagan 44,91 ppm, temulawak 197,24 dan jahe merah 367 ppm. Kemampuan dalam menangkap radikal bebas, asitaba dan pegagan lebih baik dibandingkan dengan temulawak dan jahe merah. Selanjutnya untuk formula minuman dalam bentuk instan yang menghasilkan aktivitas antioksidan terbaik adalah F6 degan nilai Ec 50% 2104,6 ppm, F4 7962,5 ppm, dan F3 9250 ppm. Untuk formula sirup yang memiliki aktivitas antioksidan terbaik adalah F7 dengan nilai Ec 50% 2267,80 ppm, F5 5400 ppm dan F2 6071,11 ppm. Kemudian formula ekstrak kering yang terbaik adalah F7 dengan nilai Ec 50% 48,59 ppm, F5 69,88 ppm dan F3 73,17 ppm. Hasil uji organoleptik minuman instan menunjukkan formula yang paling disukai adalah F7 (asitaba:pegagan), dan formula sirup yaitu F3 (pegagan: temulawak: jahe merah). Selanjutnya penyimpanan produk baik instan maupun sirup sampai umur 3 bulan, baik aktivitas antioksidan maupun jumlah jamur masih stabil. Pengujian efikasi formula menunjukkan hasil yang aktif sebagai imunomodulator.

Kata kunci: Angelica keiskei, Centela asiatica, Curcuma xantorriza, Zingiber officinale, ekstraksi, formulasi, pangan fungsional, antioksidan, penyimpanan, imunomodulator

ABSTRACT

Free radical at deep body one any one gets happening if body resistance ran down. Its cause is its subtracted nutritive food asupan especially that contain antioxidant is substance so body resistance rans down. Besides free radical can also because of extern factor as, air pollution and chemical substance substance. One of alternative to settle that thing is with consume suplemen antioxidan, since antioxidant that menetaralisis can free radical so body damage can be prevented or is slowed. Source antioxidant can come from dill as ginger as, pegagan, asitaba and temulawak, generally comes from phenol faction or polifenol. Foods developmental research functional antioxidant aims to get functional food formula antioxidant gets dill basis with antioxidant’s activity that high enough. Raw material that is utilized is pegagan that acquired of Manoko’s attempt garden and Daughter Mountain, asitaba of percoban Manoko’s garden, red ginger from Sumedang and temulawak of Cicurug’s attempt garden. Research consisting of three phases, which is (1 ) diversified by functional food products antioksidan, which is make functional potion formula in shaped instan, sirup and dry extract each as much 7 formulas which is: F1 (pegagan: asitaba: ginger), F2 (pegagan: asitaba: temulawak), F3 (pegagan: ginger: temulawak), F4 (asitaba: ginger: temulawak), F5 (pegagan: asitaba: ginger: temulawak) ,F6 (ginger: temulawak) and F7 (asitaba: pegagan). Method that is utilized consisting of raw material preparation, analisis is antioksidan’s active and activity material from masig masing material. Raw material processing becomes potion in betuk instant,sirup and dry extract that is done corresponds to conduct. Observed parameter is test organoleptik (color, taste, aroma), antioxidant’s activity, active material, pH, water rate. Phase (2 ) potion product storages, which is is chosen three formula that result antioxidant’s activity supreme good sirup and also instan is next to be kept on room temperature up to 1, 2, 3, 4 months. Observed parameter is material active, antioxidant’s activity, xylariaceae, color, aroma, visual’s ala texture, and phase (3 ) efikasi’s examinations best formulas, which is test in vivo’s ala formula to know antioksidan’s activity. The results showed antioxidant activity from the finest raw materials namely asitaba sequentially with the value of Ec ppm, 50% 38.00 44.91 gotu kola ppm, red ginger ginger 197.24 and 367 ppm. Ability in capturing free radicals, and Centella asiatica asitaba better than ginger and red ginger. In addition to the formula in the form of instant beverages that produce the best antioxidant activity was degan Ec 50% F6 2104.6 ppm, 7962.5 ppm F4, F3 and 9250 ppm. For the syrup formula that has the best antioxidant activity is F7 to Ec 50% 2267.80 ppm, 5400 ppm and 6071.11 ppm F2 F5. Then the dried extract of the best formula is to F7 with the value of Ec 50% 48.59 ppm, 69.88 ppm and 73.17 ppm F3 F5. Organoleptic test showed that the most preferred instant beverage is a formula F7 (asitaba: Centella asiatica), and F3 formula syrup (Centella asiatica: ginger: ginger red). Furthermore, both the instant product storage and syrup until the age of 3 months, both antioxidant activity and the number of fungi are still stable. Efficacy tests show that the active formula as an immunomodulator.

Key word: Angelica keiskei, Centela asiatica, Curcuma xantorriza, Zingiber officinale, extraction, formulation, functional foods, antioxidants, storage, immunomodulatory

Formula Jamu Ternak (Xanthorrizol, Mycene, Limonen) untuk Meningkatkan Fertilitas Sapi (> 30%)

M. Januwati, Muchamad Yusron, Bagem S. Sembiring, Lukman Affandhy S, dan
Dian Ratnawati
Balai Pernelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Pemanfaatan tanaman obat untuk tujuan peningkatan fertilitas pada manusia telah lama dikenal, tetapi belum banyak dilakukan pada ternak. Dalam program nasional swa sembada daging sapi, salah satu programnya dilakukan melalui program inseminasi buatan (IB). Peningkatan keberhasilan IB dapat dilakukan melalui peningkatan kuantitas dan kualitas semen sapi. Beberapa tanaman obat diantaranya purwoceng, pasak bumi, cabe jawa, tribulus, lengkuas, temulawak telah menjadi produk aprosidiaka untuk manusia. Jenis tanaman in berpeluang untuk dimanfaatkan pada ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formula produk jamu ternak peningkat fertilitas sapi (30%). Penelitian ini terdiri dari 3 tahapan kegiatan, yaitu (1) penyiapan bahan baku, (2) formulasi jamu ternak berbasis tanaman obat peningkat fertilitas sapi, dan (3) uji in vivo feeding trial formula jamu peningkat fertilitas sapi. Tahap kegiatan 1 dimaksudkan untuk mendapatkan bahan baku dari 3 lokasi, dan mutu yang terbaik dijadikan sebagai bahan baku formula. Cara pengambilan sampel dengan metode pengambilan sampel terarah (purpossive sampling method). Pada tahap kegiatan 2, dibuat formula jamu ternak berupa jamu serbuk kering sebanyak 4 formula. Tahap kegiatan 3 adalah uji in vivo feeding trial dengan perlakuan terdiri dari 4 formula + 1 formula kontrol positif (formula komersial) + 1 formula kontrol negatif. Formula jamu diberikan setiap hari dengan dosis sesuai bobot badan sapi, dilarutkan 100-300 ml air/hari/ekor (10g formula kering setiap 60 kg bobot sapi). Rancangan yang digunakan RAK dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan baku terstandar temulawak, temu ireng, lengkuas diperoleh dari Sukabumi, sambiloto dari Sukoharjo, cabe jawa dari Pamekasan, sedang purwoceng dari Cianjur. Telah dihasilkan empat formula jamu ternak peningkat fertilitas sapi. Dari uji in vivo feeding trial formula jamu peningkat fertilitas sapi menunjukkan bahwa formula mempengaruhi motilitas (aktivitas semen), kekentalan, dan persentase semen hidup. Formula berpengaruh secara nyata setelah diberikan selama tiga minggu. Formula 3 dan formula 4 dapat diunggulkan karena pengaruhnya lebih konsisten dibandingkan formula yang lain.

Kata kunci: xanthorrizol, mycene, limonen, jamu ternak, fertilitas sapi

ABSTRACT

Some medicinal plants such as Eurycoma longifolia Jack, Pimpenella purwatjan Piper retrofractum L, Tribulus terrestris, Curcuma xanthorriza, and lengkuas have been used as a traditional medicines to improve human fertility. According to the active compounds, these plants could also be used to improve cattle fertility, by increasing the quantity and quality of cattle cement, where quality of cement is the crucial factor on artificial insemination. It is very important in order to increase support national policy on food self sufficient. The aim of this research is to formulate traditional medicine (jamu) for cattle that increase cattle fertility up to 30%. The research consists of three stages, i.e. (1) raw material preparation, (2) formulation of jamu for cattle, and (3) in vivo feeding trial test of jamu. On the first stage raw materials were collected from three growing areas using purpossive sampling method, and the best quality were used for formulation. On the second stage the raw materials were formulated with 4 different compositions. The formulas then tested on in vivo feeding trial, consisted of 4 formula + 1 positive control formula (commercial formula) + 1 negative control. The cattles were feeded with tested formulas daily, where the dose based on cattle weight, 10 g formula of 60 kg cattle weight and mixed with 100-300 ml water/head/day. The experiment was set on randomized block design with 4 replitaion. The result showed that the best quality of medicinal herbal plants are different of each plants. Temu ireng and lengkuas were taken from Sukabumi, Andrigraphide from Sukoharjo, Piper cubeba from Pamekasan, and purwoceng from Cianjur. Those plants were formulated on 4 different compositions. In vivo feeding trial of the formulas indicated that formula applications significantly affected cement acitivity, mortality, and percentage of cement life after three weeks application. Formula 3 and Formula 4 were potentially to be developed as the effect is more consistent than the other formulas.

Key word: xanthorrizol, mycene, limonene , jamu formula, cow-fertility

Produksi Benih Sumber 5 Ton Jahe, 1,5 Ton Kencur, 3 Ton Kunyit, 10 Ton Temulawak, 75.000 Setek Nilam, 100.000 Anakan Seraiwangi Dan Bimbingan 4 Penangkar Benih

Mono Rahardjo, Sri Wahyuni, Deliah Seswita, Repianyo
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

ABSTRAK

Salah satu permasalahan dalam pengembangan tanaman obat dan aromatik (TOA), adalah kurang tersedianya benih sumber yang berkualitas tinggi. Untuk mengatasi masalah tersebut sejak tahun 2002 telah dilakukan kegiatan produksi benih sumber tanaman obat dan aromatik (TOA). Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memproduksi benih sumber yang berkualitas tinggi dan sehat yang dapat memenuhi kebutuhan benih sumber tanaman obat dan aromatik yaitu benih kencur, kunyit, jahe gajah, jahe emprit, jahe merah, temu lawak, nilam, serai wangi, pegagan, mentha, dan artemisia kepada para pengguna. Produksi benih tanaman tersebut harus dilakukan setiap tahun karena sifat tanaman yang panen setahun sekali dan benihnya tidak tahan simpan. Pada tahun ini telah dilakukan produksi benih sumber kelas dasar hingga sebar, benih bersertifikat yaitu 5 ton jahe, 1,5 ton kencur, 3 ton kunyit, 10 ton temulawak, 75.000 setek nilam dan 100.000 anakan seraiwangi. Benih sumber tersebut hasil penanaman di kebun lingkup Balittro dan kebun petani dengan perincian komoditas nilam varietas Sidikalang, Lhokseumawe, Tapak Tuan di KP. Manoko, kencur (Galesia 1, 2, dan 3) di KP. Cicurug, jahe putih besar (JPB – Cimanggu 1), Jahe Putih Kecil (JPK) dan Jahe Merah di Jawa Barat (Sumedang), Kunyit (Turina 1, 2 dan 3) di KP. Cicurug, Temulawak di KP. Cibinong, Serai wangi di KP. Cibinong, pegagan di KP. Cibinong, dan artemisia di KP. Gunung Putri dan dilakukan pembibitan benih sumber TOA di Emplasement Cimanggu. Semua tanaman yang ditanam berdasarkan penampakan visual menunjukkan pertumbuhan yang optimal. Tanaman nilam pada fase vegetatif tumbuh secara optimal di KP. Manoko. Tanaman jahe, kunyit, kencur, temulawak secara visual pada fase vegetatif tumbuh optimal. Banyaknya hujan pada waktu menjelang panen khususnya untuk tanaman rimpang-rimpangan menjadi kendala, karena rimpang tumbuh kembali, sehingga kualitas benihnya kurang bagus. Menghasilkan benih sumber jahe sebanyak 1,195 ton, kencur sebanyak 350kg, kunyit sebanyak 2,5ton, temulawak sebanyak 3,990ton. Benih nilam diperkirakan 100.000 setek dan serai wangi 150.000 anakan, walaupun kedua benih ini belum dipanen karena tidak ada pemesannya. Penangkar benih binaan berjumlah 5 terdiri dari satu penangkar benih nilam (di Kuningan), satu penangkar benih kunyit dan kencur di Cileungsi, satu penangkar benih jahe putuh besar dan jahe putih kecil di Sumedang dan dua penangkar jahe merah di Sukabumi.

Kata Kunci:, Produksi benih sumber TOA, Cymbopogon nardus, Pogostemon cablin, Zingiber officinale, Kaempferia galanga, Curcuma domestica, Curcuma xanthorriza, Centella asiatica L., Mentha sp., dan Artemisia annua L.

ABSTRACT

One of the problems in the development of medicinal and aromatic plants (TOA), is the lack of available high quality seed source. To overcome this problem since 2002 seed source of medicinal plants and aromatic has been produced. The main objective of this activity is to produce high quality and healthy seed source that can meet the needs of seed sources of medicinal and aromatic plants namely: turmeric, ginger, red ginger, java turmeric, patchouli, citronella, Centella asiatica, Mentha sp, and Artemisia sp. to users. Crop seed production should be done every year because of the nature of plants and seeds that harvested once a year and can not bear to keep. In 2010 some avtivities included production of basic classroom resources to spread the seeds of certified: 5 tonnes of ginger, 1,5 tons of Kaempferia galanga, 3 tonnes of turmeric, 10 tons of ginger, 75.000 and 100.000 patchouli and cuttings of citronella. To produce the seed source planting in IMACRI garden and at farmers: patchouli Sidikalang Tapak Tuan, Lhokseumawe,varieties tread in Manoko, Kaempferia galanga (Galesia 1, 2, and 3) in Cicurug, large white ginger, small white ginger and red ginger in Sumedang, Turmeric (Turina 1, 2 and 3) in Cicurug, Cymbopogon nardus in Cibinong, Centella asiatica in Cibinong, and Artemisia annua in Gunung Putri, and carried out seed breeding of medicinal and aromatic plant resources in Cimanggu.Emplasement. All plants were grown based on visual sightings showed optimal growth. Patchouli vegetattf phase seen grow optimally at Manoko. Plant ginger, turmeric, Kaempferia galanga, ginger visually on the vegetative growth phase optimally. Patchouli vegetattf phase seen grow optimally at Manoko. Plant ginger, turmeric, Kaempferia galanga, ginger visually on the vegetative growth phase optimally. Number of rain on the eve of harvest, especially for plant rhizome a constraint, because usually rhizome grow back, so the lack of good seed quality. Produce seed source as much as 1.195 tonnes of ginger, Kaempferia galanga as much as 350 kg, as much as 2.5 tonnes of turmeric, java turmeric as much as 3.990 tonnes. Seed Patchouli estimated 100.000 citronella cuttings and 150 000 Cymbopogon nardus seedlings. The seed producer consists 5 farmes, one farmer of patchouli seed production in Kuningan, one farmer of turmeric and Kaempferia galanga seed production in Cileungsi, one farmer of ginger seed production in Sumedang, and two farmers of red ginger seed production in Sukabumi

Keywords : production of seed source Toar, Cymbopogon nardus, Pogostemon cablin, Zingiber officinale Kaempferia galanga, Curcuma domestica, Curcuma xanthorriza, Centella asiatica L., Mentha sp., and Artemisia annua L.

PENDAMPINGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA BIOFARMAKA DAN NILAM

Muchamad Yusron, Muhamad Djazuli, Molide Rizal, Dono Wahyuno, Nur Maslahah, Ekwasita Rini Pribadi, Sukamto, Nurliani Bermawi, Endang Hadi Poentyanti, JT. Yuhono
Balai PenelitianTanaman Obat dan Aromatik

RINGKASAN

Salah satu faktor yang menentukan produktivitas dan mutu komoditas obat adalah penerapan teknologi budidaya. Saat ini teknologi budidaya yang diterapkan di tingkat petani belum sesuai dengan teknologi rekomendasi. Di sisi lain, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik telah menghasilkan teknologi budidaya sesuai SOP, mulai dari benih sampai teknologi pasca panen. Untuk mengurangi kesenjangan teknologi tersebut, meningkatkan tingkat adopsi di tingkat petani, serta untuk meningkatkan produktivitas dan mutu, perlu dilakukan pendampingan teknologi secara langsung di lapang. Penyampaian dan pendampingan SOP tersebut berguna dalam penerapan praktek GAP untuk bahan baku tanaman obat biofarmaka bermutu, terdata (terrecord) dengan baik dan dapat dirunut kembali riwayat bahan baku. Upaya diseminasi teknologi sering kali masih terkendala oleh berbagai faktor. Namun demikian, kendala-kendala utama dalam diseminasi teknologi adalah kurangnya keterpaduan dan komunikasi antara penyedia dan penghasil teknologi, penyuluh, dan petani pengguna. Untuk mengurangi kendala tersebut, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik ikut berperan lansung melalui kegiatan mendukung program pengembangan Kawasan Biofarmaka. Dari kegiatan ini diperoleh bahwa petani cukup antusias untuk menerima dan menerapkan teknologi sesuai SOP budidaya, namun komponen teknologi tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi setempat agar lebih mudah diadopsi. Kendala-kendala utama berkaitan dengan diseminasi teknologi dan kurangnya keterpaduan serta komunikasi antara penyedia dan penghasil teknologi, penyuluh, dan petani pengguna dalam menyerap informasi teknologi perlu segera dapat dipecahkan dan diatasi melalui koordinasi yang intensif dan pengawalan dalam transfer teknologi.

SUMMARY

Yield and quality of crop products are affected by many factors, one of those is application of innovative technologies on agronomic practices. Up to now technologies applied at farmer level is very limited, on the other hand Balittro has been resulted a better technologies to support medicinal crops development, including high yield varieties, fertilization practices, crop pest and diseases management, and post harvest process. Most of these technologies have been disseminated to extension agencies, however, only few have been adapted and applied at the farmers level. In order to accelerate dissemination of technologies and its application at farmers level, Balittro tried to cut off technology delivery chain by giving direct training and make a better coordination with extension agencies. Balittro has been actively participated in supporting the implementation of some technical programs such as Biopharmaca zone development. These activities shows that mostly farmers enthusiastic to adopt new technologies. However, the technologies must be adapted to local conditions as well as farmer socio-economic conditions.

PENDAMPINGAN TEKNOLOGI BUDIDAYA BIOFARMAKA

M. Djazuli dan Nur Maslahah

ABSTRAK

Tanaman Nilam merupakan komoditas atsiri yang penting di Indonesia saat ini. Pengembangan kawasan dan sosialisasi teknologi budidaya tanaman nilam berbasis SOP akan meningkatkan luas area, produktivitas, dan mutu sekaligus mengurangi jumlah dan volume bahan baku yang masih impor. Pendampingan dan pengembangan teknologi budidaya nilam spesifik agro-ekosistem Sumatera Barat dan Jawa Timur yang berbasis SOP serta terbentuknya calon penangkar benih unggul bersertifikat diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas minyak nilam sekaligus pendapatan petani dan penyuling nilam di sentra produksi nilam Kabupaten Pasaman Barat dan Blitar. Tujuan diseminasi ini adalah sosialisasi dan aplikasi SOP budidaya nilam sesuai kondisi agroekosistem spesifik Pasaman Barat dan Blitar, serta untuk membentuk calon penangkar benih unggul nilam bersertifikat untuk memenuhi kebutuhan benih unggul petani nilam di Sumatera Barat dan Jawa Timur.

ABSTRACT

Patchouli essential oil crops are important commodities in Indonesia. Currently, some districts in Indonesia have been initiating to develop patchouli regions, where each district has its own consideration on particular commodities suppose to be developed. The one objective of developing patchouli regions is to drive the potential commodities of each region to be developed by following the latest cultivation technologies, including application of SOP (Standard Operational Procedure) is expected increasing cultivation areas, productivity, quality, thus reducing the number and volume of imported raw materials. Development of patchouli cultivation technology based on SOP in the West Sumatera and East Java agro-ecosystems and promoting certify seed grower of high yielding variety, hopefully will increase the productivity and quality of patchouli oil, followed by income improvement of farmers and patchouli oil distilling workers in West Pasaman and Blitar Regency. The objective of the current activity is: To socialize and application of SOP specific West Pasaman and Blitar agro-ecosystems and also to promote the certify seed grower of patchouli for West Sumateras’ farmer, especially for farmers of West Sumatera and East Java.

DISEMINASI INOVASI DAN INFORMASI HASIL PENELITIAN OBAT DAN AROMATIK

Arsil Saleh, Agus Kardinan, Ireng Darwati, Tri Eko Wahyuno, dan Rushendi
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik

RINGKASAN
Balittro telah banyak menghasilkan produk penelitian tanaman obat dan aromatik (TOA). Produk-produk tersebut belum mampu dioptimalkan untuk peningkatan produksi oleh para pelaku usahatani TOA. Salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya tingkat penyerapan teknologi hasil penelitian oleh pengguna/petani karena komunikasi yang belum lancar antara Balittro sebagai penghasil teknologi dengan pengguna. Untuk memperlancar dan mempercepat arus informasi dari penghasil ke pengguna teknologi, perlu upaya penyebaran informasi hasil penelitian dengan mempertimbangkan kelompok sasaran yang hendak dicapai, bentuk dan isi pesan yang akan disampaikan, serta cara dan bentuk media diseminasi yang digunakan. Diseminasi hasil penelitian TOA dilaksanakan melalui 7 sub kegiatan, yaitu: 1) Pameran dan Ekspose; 2) Publikasi Hasil Penelitian, 3) Kerjasama; 4) Koordinasi Alih Teknologi (KAT); 5) Perpustakaan; 6) Perpustakaan Digital, dan 7) Seminar Tanaman Obat dan Aromatik. Hasil kegiatan yang telah dicapai adalah: 1) Mengikuti dan melaksanakan 12 kali pameran dan ekspose, 2) Penerbitan Buletin Lit TRO Vol 21, Perkembangan Teknologi TRO Vol 22, dan Warta Balittro No 55; 3) Publikasi elektronik berupa pengelolaan website dan nara sumber di RPC; 4) Melaksanakan 8 kali seminar rutin dan ceramah keagamaan, 5) Terwujudnya 23 judul kegiatan penelitian kerjasama (15 RIT dan 8 KKP3T); 6) Proses MoU dengan pihak swasta sebanyak 7 buah dan 1 judul kerjasama penelitian dengan PT Pinasia untuk penanaman akar wangi di polibag; 7) 16 macam produk TOA yang telah dihasilkan/diproduksi; melaksanakan 10 kali pelatihan dan magang alih teknologi; 8) Studi banding dan sosialisasi perpustakaan; fotocopy dan penjilidan buku-buku perpustakaan, entri database perpustakaan (460 record buku, 2.100 record IPTAN, 94 record majalah), pengunjung perpustakaan sebanyak 753 orang, tambahan koleksi perpustakaan 100 judul/eksemplar buku;40 judul majalah (121 eksemplar); entri data database perpustakaan; 9) Scanning buku 500 file pdf, perbaikan call number/label punggung 3.500 buku, uploading database perpustakaan ke website Balittro.

Kata Kunci : Diseminasi, inovasi, informasi, tanaman obat dan aromatik

EXECUTIVE SUMMARY

There have been so many products and technologies produced by IMACRI related to medicinal and aromatic crops (TOA) yielded from research activities, however, they could not still be maximized by the TOA farmers to increase their income. It is caused by a.o. low level in technology adoption by the users/farmers due to communication gap between IMACRI as the producer and the users. To speed up the information flow (from the producer to the users of technology), it is needed to consider the target group to be reached, content of information, method of dissemination, and format of media to be used. Dissemination programs were carried out through 7 sub-activities or RODHPs : 1) Expose and exhibition; 2) Publication of the research results, 3) Research Collaboration; 4) Coordination of Technology Transfer; 5) Library Service; 6). Digital Library; and 7) Routine Seminar. Results achieved by the above seven sub-activities were : 1) Carried out and took part in 12 exhibition events, 2) Publication of the TRO Bulletin Volume 21 and the Technology Development of TRO Volume 22, 3) Electronic publication in the forms of management and development of website and Karedok program in RPC , 4) carried out 8 times of the routine seminar, 5) implementation of 23 titles of collaborative research; 6) Process of 7 MoUs and 1 research collaboration with private companies; 7) produced 16 types of commercial products and carried out 10 courses on technology transfer; 8) Comparative study on library management, photocopy and binding library books, library database entry (460 books, 2,100 IPTAN, and 94 magazine records), 753 library visitors, collection addition of 100 book and 40 magazine (with 121 exemplars) titles; 9) Book scanning of 500 pdf files, changing 3,500 book call numbers, and uploading library database onto IMACRI’s website.

Keywords : Dissemination, innovation, information, medicines and aromatic plants

About these ads

Tentang Perpustakaan Balittro

Pustakawan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Jl. Tentara Pelajar No. 3 Bogor 16111
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

2 Balasan ke KUMPULAN ABSTRAK HASIL PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK 2010

  1. This is truly perfect. Thanks for putting this online

  2. I do not even understand how I ended up here, but I believed
    this put up used to be good. I don’t understand who you might be however definitely you’re going to a famous blogger if you happen to aren’t already. Cheers!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s