ABSTRAK PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK TAHUN 2007

EKSPLORASI PLASMA NUTFAH TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Cheppy Syukur
ABSTRAK
Eksplorasi dilakukan untuk mengumpulkan aksesi/nomor-nomor tanaman obat dan aromatik yang belum dimiliki Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balitttro) baik berupa kerabat liar, tanaman liar, varietas lokal maupun tanaman budidaya di daerah sentra keragaman. Kegiatan dimulai dari bulan Januari sampai Desember 2007. Sebelum eksplorasi dilakukan desk study untuk mengumpulkan data pendukung dan informasi mengenai keragaman tanaman obat dan aromatik di Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur pada instansi terkait seperti LIPI, Dinas Perkebunan, Dinas Kehutanan dan BPTP. Kegiatan eksplorasi di lapang meliputi pengumpulan data awal melalui cara wawancara dengan masyarakat setempat ataudinas terkait dilanjutkan dengan kunjungan langsung ke lapangan untuk mencari aksesiaksesi tanaman obat dan aromatik. Contoh tanaman dalam bentuk benih seperti biji, rimpang, setek dan stolon dikemas sesuai standar seperti menggunakan tanah asal tanaman, moss, tissue atau dibungkus koran basah (untuk menjaga kelembaban) lalu dimasukkan kedalam kantong-kantong plastik. Hasil eksplorasi telah terkumpul 137 aksesi, terdiri atas 28 aksesi dari Jawa Tengah, dari Yogyakarta sebanyak 17 aksesi dan 92 aksesi dari Jawa Barat (72 aksesi tanaman obat dan 65 aksesi tanaman aromatik) dan Jawa Timur sebanyak 12 aksesi tanaman obat. Benih tanaman obat dan aromatik yang berupa setek, stolon dan rimpang ditanam dalam bak persemaian atau kantong-kantong polibag berisi campuran tanah dan pupuk kandang, sedangkan yang berupa biji ditanam pada bak-bak pasir. Koleksi baru hasil eksplorasi akan dikonservasi di rumah kaca Balittro Bogor, kemudian dipindahkan ke kebun-kebun koleksi Plasma Nutfah Lingkup Balittro sesuai dengan sebaran tempat tumbuhnya.

KONSERVASI PLASMA NUTFAH TANAMAN CABE JAWA DI KEBUN PERCOBAAN CIKAMPEK
Wawan Haryudin

ABSTRAK
Konservasi plasma nutfah tanaman cabe jawa dilakukan untuk melestarikan koleksi plasma nutfah cabe jawa di Kebun Percobaan (KP) Cikampek. Cabe jawamerupakan tanaman yang mengandung bahan aktif berkhasiat sebagai aprodisiak. Tetapi kebenaran khasiat bahan aktif yang mempunyai efek afrodisiak dari tanamantersebut belum terbukti secara ilmiah. Selain itu juga belum tersedia bahan tanaman unggul untuk dikembangkan lebih lanjut. Penelitian dilakukan di KP. Cikampek denganmenggunakan metode observasi langsung tanpa ulangan. Penelitian ini bertujuan untuk konservasi 15 nomor cabe jawa. Konservasi Plasma Nutfah Cabe Jawa di KP. Cikampek meliputi perbanyakan bahan tanaman, pemeliharaan dan pengamatan. Hasil pengamatan menunjukan karakter daun muda dan daun dewasa tidak begitu bervariasi bila dilihat dari panjang dan lebar daun. Batang dan cabang cabe jawa pada umumnya berbentuk bulat dengan panjang ruas yang bervariasi. Bentuk buah terdiri dari bulat panjang ( Conical), bulat pendek ( Globular) dan panjang pipih ( Foliform).

Kata kunci: Konservasi, plasma nutfah, cabe jawa

KONSERVASI TANAMAN OBAT DAN AROMATIK DI KEBUN PERCOBAAN SUKAMULYA
Hobir, Rudi TS dan Susi Purwiyanti

ABSTRAK

Konservasi plasma nutfah ylang-ylang, kenanga dan mengkudu di Kebun Percobaan (KP) Sukamulya diperlukan untuk mempertahankan koleksi PN. Kegiatan konservasi tanaman ylang-ylang, kenanga dan mengkudu bertujuan untuk mengkonservasi plasma nutfah 2 populasi ylang-ylang, 1 populasi kenanga dan 11 aksesi mengkudu dari kegiatan yang dilaksanakan di Sukamulya dari Januari sampai Desember 2007 di KP. Sukamulya (Sukabumi). Areal pertamanan konservasi ylangylang 2,5 ha, kenanga 0,25 ha dan mengkudu ± 0,25 ha kegiatan konservasi yang dilakukan adalah pemeliharaan tanaman (menyiang, memupuk dan mengendalikan hama dan penyakit), serta pengamatan produksi bunga ylang-ylang dan produksi buah mengkudu. Hasil kegiatan adalah sebagai berikut. Pemeliharaan tanaman berjalandengan baik, namun karena jumlah biaya sangat terbatas penyiangan ylang-ylang hanya dapat 2 kali dalam setahun, sehingga pada akhir tahun pertanaman dipenuhi alang-alang. Hal ini terjadi karena, jarak tanam ylang-ylang cukup lebar (10 x 10 m), sehingga sampai umur 3-4 tahun lahan belum tertutup. Akibatnya alang-alang sangatcepat tumbuhnya. Tanaman kenanga tidak terpelihara dengan baik, karena keterbatasan dana. Penyiangan hanya dapat dilakukan satu kali dalam setahun, sehingga pada akhir tahun, kebun ditumbuhi semak-semak. Tanaman mengkudu terpelihara dengan baik, karena tanaman ini tajuknya sudah memenuhi lahan sehingga pertumbuhan gulma tidak begitu banyak. Gangguan hama/penyakit hanya terdapat pada tanaman mengkudu. Daun-daun yang terserang mengkerut, berwarna kuning bertitik-titik coklat. Penyakit tersebut hilang setelah mengalami penyemprotan dengan pestisida. Hasil pengamatan produksi selama 1 tahun pada ylang-ylang hasilnya menunjukkan bahwa produksi bunga bervariasi antar nomor (populasi). Dari 5 nomor yang ditanam, terdapat 2 nomor yang produksinya paling tinggi, yaitu no. 1 dan 3. Sedangkan mengkudu, yang produksinya paling tinggi adalah M4 dan M5. Tanaman asal biji umumnya berproduksi lebih tinggi dari tanaman asal setek. Kata kunci : Canangium odoratum f. genuinea, C. odoratum, f. macrophylla, Morinda sitripolia.

KONSERVASI PLASMA NUTFAH TANAMAN OBAT DAN AROMATIK SECARA IN VITRO
Natalini Nova Kristina, S.F. Syahid, Dedi Surachman dan Siti Aisyah

ABSTRAK

Konservasi in vitro dilakukan untuk memelihara tanaman obat yang dilakukan di laboratorium, untuk mendapatkan koleksi baru, pemeliharaan secara rutin (dengan melakukan subkultur pada media sederhana), dan penyimpanan pada media pertumbuhan minimal. Kegiatan konservasi in vitro bertujuan untuk memelihara koleksi tanaman obat dan memperbanyak tanaman. Untuk tanaman koleksi dipelihara denganmenggunakan media yang telah didapatkan untuk masing-masing tanaman. Sementara perbanyakan koleksi dilakukan dengan melakukan sterilisasi tanaman baru dari luar. Disamping itu dilakukan penyimpanan pada tanaman nilam, cincau hitam dan stevia, masing-masing menggunakan media: 1) pengenceran unsur makro MS (1, ¾, ½ dan ¼)nya untuk nilam; 2)pengurangan sumber karbohidrat MS + gula (0, 10, 20, 30) g/l dan MS + gula 30 g/l + BA 0,1 (sebagai kontrol) dan 3) pemakaian ancymidol (0; 0,5; 1; 1,5) g/l pada tanaman cincau. Hasil konservasi untuk tahun ini, berkurang dari target, karena adanya kontaminasi akibat dari rehabilitasi gedung, dan hanya memelihara 22 jenis koleksi lama, yang berhasil dipertahankan. Penambahan baru untuk mendapatkan koleksi kembali, baru berhasil pada 18 jenis tanaman, sehingga koleksi tahun ini hanya berjumlah 40 jenis. Pada sub kegiatan mencari media perbanyakan in vitro, yang dilakukan pada tanaman St. John’s Wort, media terbaik MS + BA 0,1 mg/l. Penyimpanan pada tanaman stevia sampai dengan akhir tahun, penampilan tunas adalah MS + gula 0,10 g/l, 10, 20 dan 30 serta pembanding MS + BA 0,1 + gula 30 g/l, terlihat berbeda. Untuk cincau hitam media terbaik adalah MS + .Ancymidol 1 mg/l, kandungan ancymidol yang lebih tinggi dari konsentrasi tersebut mengakibatkan eksplan roset. Pada nilam, pengenceran media terbaik adalah ¾ MS.
Kata kunci : Konservasi in vitro, plasma nutfah, tanaman obat dan aromatik,

KONSERVASI PLASMA NUTFAH TANAMAN OBAT DAN AROMATIK DI RUMAH KACA
Natalini Nova Kristina, Hobir, Suryatna dan Totong S.

ABSTRAK
Konservasi merupakan kegiatan rutin memelihara dan memperbanyak plasma nutfah tanaman, dan konservasi rumah kaca diperlukan karena merupakan masa transisi tanaman yang diambil dari habitat alami sehingga tanaman perlu penanganan khusus. Kegiatan ini bertujuan untuk memelihara dan memperbanyak tanamantanaman hasil eksplorasi ataupun koleksi peneliti. Tanaman dalam bentuk biji disemai pada bak semai, sementara dalam bentuk setek, dan anakan diperlihara pada polibag dalam bentuk rumpun atau rimpang dipelihara pada petak-petak penanaman di luar rumah kaca. Dari hasil kegiatan yang telah dilakukan, telah berhasil dirawat di rumah kaca sekitar 172 jenis dan 482 aksesi. Penyebaran tanaman ke kebun-kebun lingkup Balittro telah dilakukan sebanyak 96 jenis dan 203 aksesi, dan juga sebagai bahan pameran serta penelitian.
Kata kunci: konservasi plasma nutfah, tanaman obat dan aromatik, rumah kaca

EVALUASI PRODUKSI DAN KURKUMIN PADA NOMOR-NOMOR KUNYIT DI BAWAH NAUNGAN
Cheppy Syukur, Joko Pitono, Sitti Fatimah Syahid, Natalini Nova Kristina,Wawan Haryudin, Wawan Lukman, Mardiana dan Rudiana
ABSTRAK

Kunyit merupakan salah satu tanaman obat unggulan Balittro dan banyak digunakan dalam industri obat asli Indonesia, disamping sebagai bahan untuk kosmetika, makanan, minuman, bumbu dapur dan zat pewarna alami. Kunyit umumnya ditanam di bawah tegakan hutan untuk meningkatkan nilai tambah usahatani. Dalam mendukung pengembangan kunyit di bawah tegakan, maka diperlukan kajian awal kemampuan beradaptasi di bawah naungan dari beberapa nomor kunyit hasil seleksi. Kegiatan ini diharapkan dapat diketahui nomor-nomor kunyit yang dapat beradaptasi di bawah naungan dan menghasilkan rimpang serta kandungan kurkumin yang tinggi. Penelitian dilakukan pada kondisi lingkungan di bawah naungan di Kebun Percobaan(KP.) Cicurug Sukabumi. Penelitian dilaksanakan mulai Januari sampai Desember 2007 Bahan tanaman yang diuji adalah 70 nomor kunyit. Kunyit ditanam pada dua kondisi lingkungan berbeda, yaitu dengan naungan dan tanpa naungan, dengan jarak tanam 50 x 50 cm, dan jumlah tanaman per petak sebanyak sepuluh. Rancangan yang digunakan adalah Petak Terbagi, dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati adalah komponen pertumbuhan dan produksi, serta kandungan kurkumin yang diukur pada umur 6 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 70 nomor kunyit yang dievaluasi dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok berdasarkan respon pertumbuhan vegetatif tanaman terhadap naungan. Keempat kelompok tersebut adalah kelompok pertama terdiri atas 41 nomor yang memperlihatkan respon pertumbuhan lebih tinggi, lebih banyak dan lebih lebar pada kondisi naungan. Kelompok kedua terdiri atas 4 nomor dengan ciri memperlihatkan respon pertumbuhan yang lebih tinggi, lebih banyak dan lebih lebar pada pertanaman dengan kondisi tanpa naungan. Kelompokketiga hanya terdiri atas 1 nomor, yaitu yang memberikan respon hampir sama baik pada kondisi naungan dan tanpa naungan. Kelompok keempat terdiri atas 24 nomor, dicirikan dengan respon yang bervariasi, baik pada kondisi dinaungi maupun tanpa dinaungi. Berdasarkan hasil analisis kurkumin pada umur enam bulan, diperolehdelapan aksesi yang memiliki kandungan kurkumin diatas 7% yaitu, aksesi 3, aksesi 5, aksesi 7, aksesi 14, aksesi 24, aksesi 38, aksesi 42, aksesi 64 dengan kandungan kurkumin antara 7,01% sampai dengan 7,70%. Diantara delapan aksesi tersebut, satu aksesi memiliki kandungan kurkumin yang relatif stabil baik di lahan yang ternaungi maupun lahan terbuka yaitu aksesi 42 dengan kurkumin (naungan 7,52% dan tanpa naungan 7,59%), sedangkan aksesi yang kurkuminnya tinggi di naungan saja hanya ditampilkan oleh aksesi 24 dengan kurkumin 7,70%.
Kata kunci : Kunyit ( Curcuma domestica Vahl.), pertumbuhan, produksi, kurkumin, nomor-nomor koleksi

EVALUASI NOMOR-NOMOR SAMBILOTO DI BERBAGAI LOKASI
Sri Wahyuni

ABSTRAK

Sambiloto merupakan salah satu tanaman obat yang banyak digunakan masyarakat secara tradisional untuk mengatasi penyakit anti alergi, diabetes, meningkatkan stamina, dan lain lain. Keragaman tanaman tergolong rendah. Keragaman timbul karena intervensi manusia dengan melakukan domestikasi sehingga berkembang variasi dan keanekaragaman di dalam spesies. Sambiloto merupakan tanaman yang belum banyak dibudidayakan. Pengumpulan sambiloto dari Jawa Tengah dan Jawa Barat telah diperoleh 11 nomor aksesi, secara morfologi hamper sama, namun sedikit bervariasi dalam hal produksi dan mutu terna. Lima nomor telah dipilih untuk dilakukan pengujian di berbagai lokasi sebagai persiapan pelepasan varietas. Penelitian dilakukan di dua lokasi (Cimanggu dan Karanganyar) selama 2 musim tanam (MH dan MK), lima nomor aksesi sebagai perlakuan dan diulang 4 kali menggunakan rancangan acak kelompok (RAK). Hasil penelitian menunjukkan morfologi tanaman secara visual antar aksesi susah dibedakan baik pada stadia bibit maupun tanaman dewasa. Pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah cabang, dan tinggi cabang), antar aksesi pada tanaman siap panen hampir sama. Rata-rata hasil panen terna gabungan antar lokasi tertinggi adalah genotipa Cmg-2 (79,16 g/tan) dan genotipa Blali (71,16 g/tan). Produksi terna pertanaman MH (7,58-11,34 kg/100 tan) lebih tinggi dari pertanaman MK (3,42 kg/100 tan). Antar genotipa mempunyai rata-rata mutu kadar sari larut air hampir sama, tetapi pada pertanaman MK (24,46 – 32,02%) mutunya lebih baik dari pertanaman MH (25,39 – 26,39%). Kadar sari larut ethanol pertanaman MK (20,22 – 23,06%) dan MH (12,89 – 17,42%). Kadar andrographolid pertanaman MK (0,67 – 0,69%), pertanaman MH (0,97 – 1,15%). Total andrographolid tertinggi diperoleh pada genotipa Cmg-2 (30,989 g/100 tan) dan Blali (25,523 g/100 tan) pada pertanaman MH di Cimanggu.
Kata kunci : Sambiloto, produksi, mutu terna, uji adaptasi

KARAKTERISASI DAN EVALUASI PLASMA NUTFAH TANAMAN AKAR WANGI
Endang Hadipoentyanti, Hobir, Yang Nuryani, Susi Purwiyanti, Ma’mun dan Ermiati

ABSTRAK

Tanaman akar wangi ( Vetiveria zizanioides L.) berasal dari India. Kegunaan utama untuk produksi minyak atsiri, penahan erosi atau rehabilitasi tanah. Akar wangi Indonesia termasuk tipe India Selatan yaitu steril atau fertilitasnya sangat rendah. Minyak akar wangi Indonesia seluruhnya diekspor, dikenal dengan ”Java Vetiver”. Balittro telah mengoleksi plasma nutfah akar wangi sebanyak 40 nomor. Dari 40 nomor tersebut belum diketahui potensinya, baik sifat morfologi, produksi dan mutunya. Tujuan penelitian adalah mendapatkan karakter morfologi, hasil/produksi dan mutu dari 40 nomor akar wangi. Sasarannya adalah karakter morfologi, hasil dan mutu 40 nomor akar wangi. Penelitian dilaksanakan di KP. Manoko (1.200 m dpl), dari Januari – Desember 2007. Bahan yang digunakan 40 nomor akar wangi. Alat yang digunakan antara lain cangkul, garpu, skop, kored, timbangan dll. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 2 ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah 40 nomor akar wangi. Tiap perlakuan ada 20 rumpun, jarak tanam 100 x 50 cm. Parameter yang diamati adalah parameter morfologi (tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang daun, lebar daun, panjang ruas, panjang akar, diameter akar, diameter batang, lingkar bonggol, bobot basah bonggol, bobot basah akar, bobot kering akar. Sedangkan mutu minyak (kadar minyak, total vetiverol, sifat fisika kimia) pada panen I (9 bulan),panen ke II akan dilakukan pada umur 12 bulan (Maret 2008). Hasil menunjukkan bahwa pada karakter morfologi dari 40 nomor tersebut pada umur 9 bulan tidak berbeda secara statistik tetapi pada nomor 37 tanaman tertinggi yaitu 214 cm, jumlah anakan terbanyak nomor 4 yaitu 104,50, diameter akar terbesar nomor 1 yaitu 2.452 mm, bobot akar terberat nomor 30 yaitu 430 g, bobot kering terberat nomor 3 yaitu 72,56 g. Kadar minyak yang lebih dari 3% yaitu nomor 2,5,6,7,9,27 dan 28, berkisar antara 3-3,67% dengan total vetiverol 64,99-72,68%. Kata kunci : Vetivera zizanioides L., nomor, karakter, morfologi, hasil, mutu.

EVALUASI BEBERAPA KLON SERAIWANGI
Daswir, Hobir, Ahmad Denian, Herita Idris, Sumandro, Suherdi dan Zulkarnaini

ABSTRAK

Untuk mendukung pengembangan tanaman serai wangi di Indonesia maka peningkatan produktifitas tanaman harus dilakukan. Salah satu upaya yaitu dengan menggunakan klon unggul disamping penerapan teknik budidaya yang tepat. Dari hasil beberapa klon serai wangi yang tersedia, minimal 1 atau 2 klon unggul yang diharapkan mampu meningkatkan produksi daun segar dan mutu minyak yang tinggi.Penelitian evaluasi beberapa klon serai wangi ini dilaksanakan di 3 lokasi berbeda yaitu di Kebun Percobaan (KP) Laing Solok, Pariaman dan Alahan Panjang dengan total lahan seluas 0,9 Ha. Lokasi penelitian berada pada ketinggian 20-1100 m dpl. Penelitian dilaksanakan Januari-Desember 2007. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Terbagi dalam Acak Kelompok (split plot in Space) dengan 2 faktor dan diulang 4 kali. Faktor pertama adalah 6 jenis klon serai wangi yaitu K1 (G.113); K2 (G.115); K3 (G.127); K4 (G.132); K5 (M.BLD) dan K6 (M.BBS). Faktor kedua adalah 3 lokasi penanaman yaitu Pariaman (20 m dpl). Solok (460 m dpl), dan Alahan Panjang (1100 m dpl). Ukuran plot 40 rumpun, sehingga jumlah populasi keseluruhan dengan 18 kombinasi perlakuan dan 4 ulangan adalah 980 rumpun. Jumlah sampel pengamatan 10%, atau 4 rumpun/plot. Parameter yang diamati adalah jumlah anakan, panjang daun, lebar daun, dan produksi per rumpun, rendemen minyak, kadar citronellal dan total geraniol. Dari data pengamatan yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan dan produksi tanaman serai wangi dari panen pertama atau 6 bulan setelah tanam sampai panen ke lima dari penelitian ini cukup bagus. Hasil klon terbaik yaitu klon K3 (G.127) dengan jumlah anakan 33,0–59,2 batang, dengan hasil terna 0,38–0,72 kg , serta mutu minyak dengan kadar citronelal 42,8–89,1% serta total geraniol 48,2–89,1% pada loaksi L1 (Pariaman) maupun Lokasi L2 (Solok), dan klon K4 (G.132) untuk pertumbuhan L3 (Alahan Panjang) dengan jumlah anakan 19,5–39,5 batang dan produksi terna 0,17–0,32kg, dan mutu minyak terutama kadar citronelal 47,9% dan total geraniol 86,4%.
Kata kunci: Serai wangi, karakteristik pertumbuhan dan mutu

EVALUASI KETAHANAN HIBRIDA SOMATIK NILAM TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI ( Ralstonia solanacearum)
Yang Nuryani, Nasrun, Nurmansyah, Herwita Idris, Ahmad Denian, Jamalius,Yudarfis, Refianyo, Burhanudin, Zulkarnain dan Hasnawati

ABSTRAK

Penyakit layu bakteri ( Ralstonia solanacearum) merupakan salah satu masalah utama dalam pertanaman nilam yang dapat menurunkan produksi. Sampai saat ini belum ada teknologi pengendalian yang memuaskan. Penggunaan varietas tahan atau toleran adalah salah satu cara yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit tersebut dalam upaya meningkatkan produktivitas nilam. Dari hasi fusi protoplas antara nilam Jawa atau Girilaya yang tahan terhadap penyakit layu bakteri dan nilam Aceh (TT 75 dan Sidikalang) yang produktivitas kadar dan mutu minyak tinggi diperoleh beberapa nomor hibrida somatik. Untuk mendapatkan varietas tahan atau toleran terhadap R. solanacearum dan mempunyai produktivitas, kadar dan mutu minyak tinggi, maka perlu dilakukan evaluasi ketahanan beberapa nomor hibrida somatik nilam hasil fusi protoplas terhadap serangan bakteri patogen ( R.solanacearum). Tujuan penelitian untuk mendapatkan nomor hibrida somatik nilam yang tahan terhadap penyakit layu bakteri nilam. Penelitian Evaluasi Ketahanan Hibrida Somatik Nilam Terhadap Penyakit Layu Bakteri ( R.solanacearum) telah dilaksanakan di rumah kaca KP. Laing Solok Januari s/d Desember 2007. Kegiatan penelitian meliputi pengambilan sampel tanaman nilam terinfeksi penyakit layu bakteri di lapangan, diikuti isolasi dan perbanyakan isolate bakteri patogen yang dilaksanakan di laboratorium, dan uji patogensitas isolat bakteri patogen pada bibit nilam di rumah kaca. Selanjutnya perbanyakan bibit nilam hibrida somatic dan inokulasi bibit tersebut dengan bakteri somatik dan inkubasi bibit tersebut dilaksanakan di rumah kaca. Penelitian ini menggunakan beberapa nomor nilam hibrida somatik sebagai perlakuan yang disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Sebagai parameter yang diamati adalah masa inkubasi menunjukkan gejala awal penyakit untuk uji patogenisitas isolat bakteri patogen. Masa inkubasi menunjukkan gejala awal penyakit dan kematian serta intensitas penyakit. Selanjutnya juga di amati pertumbuhan tanaman dan produksi daun basah tanaman untuk pengujian ketahanan nomor hibrida somatik nilam terhadap bakteri patogen. Berdasarkan bentuk dan kestabilan koloni bakteri patogen di dapatkan 14 isolat bakteri patogen. Dari hasil uji patogensitas isolat bakteri patogen tersebut ternyata 9 isolat bakteri yang diuji mampu menginfeksi bibit nilam dengan waktu menunjukkan gejala awal penyakit layu bakteri 10,2–26,4 hsi. Berdasarkan masa inkubasi gejala awal tercepat di dapatkan satu isolat bakteri patogen yang terbaik yaitu isolat R.solanacearum RS 09. Berdasarkan pengujian ketahanan hibrida somatic nilam terhadap penyakit layu bakteri nilam, menunjukkan hibrida somatic 2 IV/4 dan 9 II/21 serta varietas Girilaya sampai akhir pengamatan tidak menunjukkan gejala penyakit. Sementara itu hibrida somatic 9 II/23; 9 II/35; 9 II/34; 2 IV/9; 9 IV/3; 2 IV/1; 9 IV/6 dan 2 IV/5 menunjukkan gejala awal penyakit dan kematian bibit paling lama. Dengan intensitas penyakit lebih rendah dibanding hibrida somatik lainnya yaitu 0,00- 35,5%. Diikuti dengan penyumbatan pembuluh kayu sangat rendah berkisar 0,00–9,50% pada bagian akar, tetapi pada bagian pangkal batang dan pucuk tidak ada penyumbatan pembuluh kayu. Begitu juga dengan pertumbuhan dan produksi daun basah lebih tinggi dibanding hibrida somatik lainnya dengan tinggi tanaman 75,00–104,00 cm; jumlah tunas 1–9 tunas; jumlah daun 66–112 daun dan produksi daun basah 55,00-99,19 g. Sebaliknya untuk hibrida somatik 9 IV/4; 9 II/23; 9II/33; 9 IV/14; 2 IV/6 dan 2 IV/1 memperlihatkan gejala awal penyakit dan kematian bibit nilam lebih cepat, dan mempunyai intensitas penyakit lebih tinggi Yang Nuryani dkk.(75–100%) dibandingkan hibrida somatik lainnya termasuk varietas sidikalang. Diikuti dengan penyumbatan puluh kayu oleh bakteri patogen sebesar 24,68–31,25% pada bagian akar, 14,49–22,50% pada bagian batang dan 4,17–6,25% pada pucuk. Begitu juga dengan pertumbuhan dan produksi daun basah lebih rendah dibanding hibrida somatik lainnya dengan tinggi tanaman 42,20–50,50 cm ; jumlah tunas 1 ; jumlah daun 24-37 daun dan produksi daun basah 18,00-27,11 g. Berdasarkan hasil penelitian ini terpilih 6 nomor hibrida somatik terbaik yang tahan terhadap bakteri patogen yaitu 2 IV/4; 9 II/21; 9 IV/6; 9 IV/3; 9II/34 dan 2 IV/6, selanjutnya digunakan untuk pengujian ketahanan terhadap penyakit layu bakteri nilam di lapangan.

KARAKTERISASI DAN EVALUASI PLASMA NUTFAH TANAMAN PEGAGAN ( Centella asiatica ( L.) Urban) Nurliani Bermawie, Susi Purwiyanti dan Dono Wahyuno

ABSTRAK

Pegagan ( Centella asiatica L.) merupakan tanaman obat yang banyak digunakan dalam industri jamu, sehingga perlu didukung oleh budidaya yang terstandar, antara lain menggunakan benih unggul. Untuk mendapatkan benih unggul telah dilakukan karakterisasi dan evaluasi, yaitu 1) karakterisasi dan evaluasi hasil dan mutu 18 aksesi pegagan dan 2) evaluasi ketahanan 5 nomor pegagan terhadap bercak daun Septoria. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik morfologi, potensi hasil dan mutu 18 aksesi plasma nutfah pegagan pada 3 agroklimat dengan dan tanpa naungan dan mengetahui tingkat ketahahan 5 nomor pegagan terhadap cendawan Septoria. Penelitian ini dilaksanakan Januari-Desember 2007. Untuk karakterisasi digunakan rancangan split plot dengan 2 faktor, faktor utama adalah naungan 0 dan 25% dan anak petak adalah aksesi (18), diulang dua kali. Sampel pengamatan sebanyak 10% dari total populasi 100 tanaman dengan jarak tanam 30 x 40 cm, yang ditentukan secara random. Analisa varian dilakukan untuk masing-masing lokasi. Parameter yang diamati meliputi karakter morfologi kuantitatif dan kualitatif pada umur 1,2 dan 3 BST, produksi dan mutu panen simplisia dari dua kali panen umur 3,5 dan 5,5 BST. Untuk evaluasi ketahanan aksesi terhadap bercak daun Septoria diskoring dengan tingkat ketahanan 1-7. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pegagan yang tumbuh di bawah naungan memperlihatkan pertumbuhan yang lebih vigor, warna daun lebih hijau namun kadar bahan aktif yang lebih rendah. Terdapat variasi sifat morfologi, hasil terna dan mutu antar aksesi. Aksesi CASI 003 dan CASI 014 memiliki bentuk daun yang berbeda dengan aksesi lain. Kadar bahan aktif terbaik pada kondisi ternaungi maupun tidak di dataran rendah adalah aksesi CASI 003 sedangkan untuk dataran tinggi dan menengah adalah aksesi CASI 008. Berat terna segar dan kering per rumpun terbaik untuk kondisidi bawah naungan ataupun tanpa naungan di 3 dataran adalah CASI 003 dengan berat segar dan berat kering per rumpun tertinggi. Produksi terna basah dan kering terbaik pada kondisi ternaungi ataupun tidak di dataran menengah adalah CASI 005 sedangkan di dataran tinggi adalah CASI 003. Produksi terna segar terbaik untuk dataran rendah adalah CASI 010, sedangkan produksi terna kering adalah CASI 003.Produktivitas kadar bahan aktif tertinggi di dataran menengah adalah aksesi CASI 003 yang ternaungi sedangkan di dataran tinggi adalah aksesi CASI 007 tanpa naungan. Identifikasi patogen penyebab bercak daun pada pegagan di Indonesia adalah Septoria hydrocotilla. Tingkat ketahanan lima aksesi pegagan yang diuji terhadap Septoria relatifsama . CASI 010 mempunyai jumlah stomata yang lebih banyak, cenderung lebih peka dibanding lainnya sedangkan CASI 008 lebih tahan dari akses lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pegagan dapat dibudidayakan di dataran rendah sampai tinggi pada kondisi ternaungi maupun tidak, namun untuk hasil and mutu terbaik perlu dipilih aksesi yang paling sesuai untuk masing-masing agroekologi. Kata kunci : Centella asiatica (L.) Urban, naungan, karakter morfologi, hasil, asiatikosida, Septoria hydrocotilla , ketahanan.

PENGEMBANGAN DATABASE PLASMA NUTFAH TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Hobir, Rudi TS dan Susi Purwiyanti

ABSTRAK

Pengembangan database plasma nutfah tanaman obat dan aromatik bertujuan untuk menginventarisasi, melengkapi dan memperbaharui data koleksi plasma nutfah yang tersebar di 4 kebun percobaan lingkup Balittro (Cimanggu, Cicurug, Manoko, dan Gunung Putri), data koleksi yang dikonservasi secara in vitro, penambahan data paspor koleksi plasma nutfah hasil eksplorasi di Kalimantan Selatan yang dilakukan tahun 2006, serta penambahan data paspor, karakterisasi, dan evaluasi ( descriptor list) dari tanaman hasil karakterisasi tahun 2006 (pegagan, meniran, cabe jawa, mengkudu). Data dientri dan divalidasi dengan menggunakan software Microsoft Access 2000. Pada tahun 2007, database plasma nutfah tanaman obat dan aromatik telah menampung sebanyak 2560 record/aksesi dengan 1315 spesies. Jumlah koleksi plasma nutfah yang telah terdokumentasikan di KP. Cimanggu (79 spesies, 227 aksesi ), KP. Cicurug (159 spesies, 405 aksesi), KP Manoko (146 spesies, 279 aksesi), danKP Gunung Putri (83 spesies, 98 aksesi), in vitro (63 spesies, 81 aksesi), rumah kaca (172 spesies, 782 aksesi), eksplorasi Kalimantan Tengah dan Jawa (123 spesies, 431 aksesi), eksplorasi di Irian Jaya Barat (134 species, 154 aksesi) dan eksplorasi di Kalimantan Selatan (139 species, 180 aksesi). Dokumentasi lebih lanjut perlu dilakukan baik berupa penambahan data baru, pembaharuan (update) maupun perbaikan (validasi) data.
Kata kunci : Database, microsoft access, tanaman obat, tanaman aromatik

INDUKSI KETAHANAN JAHE TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI
Otih Rostiana, Siti Fatimah Syahid, Supriadi, Sri Yuni Hartati, Rita Harni, Wawan Haryudin, Sri Koerniati, Siti Aisyah, Dedi Surahman, Nuri Karyani

ABSTRAK

Serangan bakteri layu pada jahe yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum, sampai saat ini masih merupakan kendala besar yang belum dapat diatasi. Beberapa usaha pengendalian masih belum efektif, terutama karena belum ada nomor-nomor jahe yang tahan terhadap R. solanacearum. Terbatasnya sumber gen ketahanan dan hambatan fisiologis karena adanya sifat inkompatibilitas sendiri serta rendahnya fertilitas polen, menjadi kendala dalam upaya memperoleh varietas jahe tahan penyakit. Pendekatan yang dapat dilakukan adalah menginduksi keragaman genetik varietas unggul jahe berproduksi tinggi melalui seleksi in vitro dengan menggunakan medium selektif serta transformasi gen penginduksi mutasi yang telah disisipkan kedalam plasmid kemudian dapat dipindahkan kedalam genom tanaman melalui vektor. Untuk memperoleh kalus jahe tahan, didalam penelitian ini digunakan filtrat R. solanacearum, bakteri endofit Pseudomonas sp. dan Acibenzolar-S-methyl (ASM) sebagai agen seleksi, juga penyisipan gen penginduksi mutasi melalui transformasi dengan menggunakan A. tumefaciens. Hasil penelitian menunjukkan,penggunaan filtrat bakteri patogen, non patogen dan elisitor kimia didalam medium, menurunkan kualitas pertumbuhan kalus jahe baik bobot kalus maupun diameter sertaperkembangan embrio somatik dengan tingkat yang berbeda, juga menimbulkan gejala nekrosis pada sel-sel perifer (kalus bagian luar). Konsentrasi ASM yang cukup optimal untuk menginduksi ketahanan kalus jahe adalah > 20 µM, filtrat bakteri pathogen ( R. solanacearum) dengan kisaran konsentrasi 0,4–2% pada seleksi tahap I dan 4-20% pada seleksi tahap II, dan aplikasi bakteri endofit (Pseudomonas sp.) dengan konsentrasi filtrat pada tahap I 0,3-0,5%, dan tahap II 3-5. Pada kisaran konsentrasi tersebut, terjadi penurunan kualitas pertumbuhan kalus, serta peningkatan kadar asam salisilat yang cukup signifikan didalam sel, tetapi masih mampu berdiferensiasi pada tahap perkembangan selanjutnya. Diantara tiga jenis agens seleksi yang digunakan, perkembangan embrio didalam medium selektif ASM, lebih cepat dibanding medium kontrol.

Kata kunci: Zingiber officinale., seleksi in vitro, R. solanacearum, Pseudomonas sp., filtrat bakteri, Acibenzolar-S-Methyl.

PEMANFAATAN PUPUK BIO DAN AGENS HAYATI UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU PADA JAHE
Supriadi, Sri Yuni Hartati, Gusmaini, Rita Harni, Otih Rostiana, Nur Maslahah, Nuri Karyani dan Wahyu Gumelar

ABSTRAK

Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum telah lama menjadi kendala budidaya pada tanaman jahe. Berbagai usaha telah dilakukan, tetapi belum ada yang efektif terutama karena tidak adanya varietas jahe yang resisten.Pemanfaatan mikroba antagonis untuk mengendalikan R. solanacearum walaupu keberhasilannya di lapang tidak konsisten. Tujuan penelitian adalah menguji keefektifan bakteri antagonis dan penginduksi ketahanan untuk mengendalikan R. solanacearum pada tanaman jahe. Pengujian dilakukan dalam skala terbatas di lapang menggunakan rancangan Split-split Plot, 12 perlakuan dengan 3 ulangan. Plot utama adalah pupuk kandang (Ao) dan biotriba (A1), dengan anak petak bakteri antagonis (Co), bakteri endofit 1 (C1) dan bakteri endofit 2 (C2). Pengamatan yang dilakuan adalah persentase serangan penyakit dan hasil rimpang. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan bakteri antagonis dan bakteri endofit tidak berpengaruh nyata terhadap intensitas serangan penyakit layu bateri. Namun, pengaruh pupuk kandang yang diolah dengan BIOTRIBA dapat menekan intensitas penyakit secara nyata (8,83%) dibanding perlakuan dengan pupuk kandang biasa (19,23%). Hasil panen dari semua perlakuan yang diuji tidak ada perbedaan yang nyata, berkisar antara 153-232 g/rumpun. Hasil penelitian ini mengindikasikan potensi penggunaan pupuk kandang yang diolah dengan BIOTRIBA untuk mengendalikan penyakit layu bakteri. Salah satu kendala dalam penggunaan pupuk kandang BIOTRIBA adalah harganya jauh lebih mahal dibanding pupuk kandang biasa.
Kata kunci: Zingiber oficinale, Ralstonia solanacearum, agens hayati

UJI MULTI LOKASI NOMOR-NOMOR HARAPAN TEMULAWAK PADA BERBAGAI KONDISI AGROEKOLOGI
Rudi T. Setiyono, Chandra Indrawanto, Ermiati, dan E. Rini Pribadi

ABSTRAK

Pembentukan dan pelepasan varietas unggul merupakan langkah awal untuk mendukung keberhasilan pengembangan pertanaman temulawak nasional. Pada tahun 2005 mulai dilaksanakan penelitian uji multilokasi 6 nomor harapan temulawak hasil karakterisasi dan penelitian evaluasi 20 nomor plasma nutfah temulawak koleksi Balittro. Penelitian dilakukan di tiga lokasi sentra produksi temulawak di Jawa Barat dan Jawa Tengah yang mewakili kondisi agroekologi yang berbeda, yaitu dua lokasi di Jawa Barat (Desa Cipenjo, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor yang mewakili dataran rendah (200 m dpl.), dan di Desa Ganjar Resik, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang yang mewakili dataran tinggi (800 m dpl). Satu lokasi berada di Jawa Tengah yaitu di Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali yang mewakili dataran sedang (450 m dpl). Sampel tanah di tiap lokasi penelitian dianalisis di laboratorium Tanah Balittro. Penelitian tahun pertama dirancang menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 ulangan. Perlakuan terdiri atas 6 nomor harapan temulawak hasil karakterisasi Balittro dan 1 varietas lokal. Setiap unit percobaan terdiri atas petak berukuran 4 x 3,75 m. Jarak tanam yang digunakan 0,75×0,50 m sehingga setiap petak terdiri atas 40 tanaman. Jarak antar petak 1 m dan jarak antar ulangan 1,5 m. Secara keseluruhan di tiap lokasi penelitian diperlukan lahan seluas 1000 m2. Bahan tanaman terdiri atas rimpang samping ditanam satu rimpang per lubang tanam. Semua perlakuan dipupuk dengan 20 ton pupuk kandang per ha, 200 kg Urea/ha, 200 kg SP36/ha, dan 200 kg KCl/ha. Pupuk kandang, SP36 dan KCl diberikan pada saat tanam. Pupuk Urea diberikan 3 kali yaitu pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanam (BST) masing-masing sepertiga agihan (67 kg/ha/agihan). Penelitian tahun kedua dilakukan tahun 2006/2007 dengan RAK, 4 ulangan. Perlakuan terdiri atas 6 nomor harapan temulawak, dan 2 varietas lokal. Setiap unit percobaan terdiri dari petak yang berukuran 5 x 6 m. Jarak tanam yang digunakan 0,75 x 0,50 m sehingga setiap petak terdiri dari 80 tanaman. Jarak antar petak 1 m dan jarak antar ulangan 1,5 m. Secara keseluruhan ditiap lokasi penelitian diperlukan lahan seluas 2000 m2. Bahan tanaman terdiri atas rimpang primer ditanam satu rimpang per lubang tanam. Jenis dan dosis pupuk sama seperti pada tahun pertama. Produksi rata–rata rimpang nomor harapan A,B,D,E dan F memberikan hasil lebih tinggi dibanding varietas temu lawak lokal.

Kata kunci: Curcuma xanthorhiza Roxb, uji multilokasi, agroekologi

RESPON NOMOR HARAPAN TEMULAWAK TERHADAP KOMBINASI PEMUPUKAN NITROGEN, FOSFAT DAN KALIUM
Mono Rahardjo, Rosita SMD, Endjo Djauhariya, Nurliani Bermawie, E. Rini Pribadi, Hera Nurhayati, Kosasih dan Enjang

ABSTRAK

Temulawak ( Curcuma xanthorhiza Roxb) merupakan tanaman obat asli Indonesia, disebut juga Curcuma javanica. Temulawak merupakan salah satu tanaman obat yang banyak dimanfaatkan oleh industri obat tradisional. Produksi rata-rata nasional rimpang masih rendah dan mutunya sangat bervariasi. Pemupukan yang seimbang terutama hara makro N, P dan K dapat meningkatkan produksi dan mutu rimpang, oleh karena itu dilakukan penelitan kearah ini. Tujuan penelitian adalah memperoleh dosis kombinasi pupuk nitrogen, fosfat dan kalium yang seimbang sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan, produksi dan mutu rimpang terutama kurkuminoid dan xanthorhixol. Kegiatan penelitian dilakukan di KP. Sukamulya dimulai tahun 2006 berakhir tahun 2007. Penelitian dilakukan secara bertahap, tahap pertama tahun 2006 yaitu pelaksanaan tanam sampai memperoleh data pertumbuhan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang disusun secara faktorial diulang tiga kali. Perlakuan yang diuji adalah satu nomor harapan temulawak dan kombinasi pupuk Urea, SP36 dan KCL masing-masing terdiri dari tiga dosis; 100, 200, dan 300 kg/ha, Jarak tanam yang digunakan adalah 75 x 50 cm. Populasi tanaman sebanyak 40 tanaman/petak, dengan ukuran petak 3,75 x 4 m. Rancangan respon terdiri dari peubah komponen pertumbuhan merupakan hasil penelitian tahun 2006. Tahun 2007 peubah yang diamati meliputi akumulasi biomas, produksi rimpang, serapan hara N, P dan K, mutu simplisia (minyak atsiri, kadar pati, kadar serat, kadar abu, kadar sari yang larut dalam air dan sari yang larut dalam alkohol) dan bahan aktif (kurkuminoid dan xanthorhixol). Tingkat serangan hama dan penyakit tanaman diamati pada fase generatif di rimpang tahun 2007, serta analisis sosial ekonomi akan dikaji setelah panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan Urea sebanyak 300 kg/ha pada tanah yang kandungan hara N nya rendah berpengaruh nyata terhadap meningkatnya komponen pertumbuhan tanaman temulawak, biomas, hasil rimpang segar dan simplisia kering per tanaman. Pemupukan SP36 dan KCl dengan dosis masing-masing 200 kg/ha pada kondisi lahan yang mengandung P dan K sedang, telah cukup untuk mendukung terhadap pertumbuhan tanaman dan hasil rimpang segar pertanaman. Kombinasi pemupukan Urea 300 kg/ha, SP36 dan KCl masing-masing 200 kg/ha, pada kondisi lahan dengan kandungan N total rendah, P dan K sedang menghasilkan rimpang segar tertinggi 25,46 ton/ha, yang diikuti oleh mutu simplisia yang telah memenuhi standar MMI. Selain produksi yang tinggi juga menghasilkan B/C ratio dan nilai keuntungan bersih tinggi dibanding perlakuan lainnya. Untuk menghasilkan rimpang tersebut tanaman memerlukan hara N, P dan K masing-masing sebanyak 193,44 kg, 21,05 kg dan 221,34 kg/ha. Mutu simplisia dari 27 kombinasi perlakuan pemupukan, seluruhnya telah memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh MMI.

Kata kunci : Curcuma xanthorhiza Roxb, pemupukan, produksi dan mutu

EFISIENSI PENGGUNAAN BENIH NOMOR HARAPAN TANAMAN TEMU LAWAK ( Curcuma xanthorrhiza Roxb)

Sukarman, Mono Rahardjo, Devi Rusmin, Melati, Repianyo dan Kosasih

ABSTRAK

Untuk mendukung pelepasan varietas Temulawak ( Curcuma Xanthorhiza Roxb), maka penelitian efisiensi penggunaan benih dari nomor-nomor harapan perlu dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan efisiensi penggunaan benih nomor harapan Temulawak. Peneltian di lakukan di KP. Sukamulya Januari sampai Desember, 2007 Percobaan dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan disusun dalam rancangan acak kelompok (RAK). Perlakuan tersebut adalah 1) benih berasal dari rimpang cabang, 2) benih berasal dari rimpang induk utuh, 3) benih berasal dari rimpang induk dibelah dua, 4) benih berasal dari rimpang induk dibelah empat, 5) benih berasal dari ripang induk dibelah delapan. Parameter yang diamati adalah daya tumbuh dan pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tumbuh benih tidak berbeda nyata antar perlakuan, daya tumbuh masih diatas 80%. Pertumbuhan tanaman (tingggi tanaman, jumlah anakan, diameter pangkal batang,) tertinggi didapatkan pada tanaman yang berasal dari rimpang induk tanpa dibelah, sedangkan yang terendah didapatkan pada tanaman yang berasal dari rimpang induk yang dibelah delapan
Kata kunci : Temulawak, penggunaan benih, efisiensi.

ISOLASI, KARAKTERISASI DAN FORMULASI MINYAK ATSIRI
Ma’mun, Endang Hadipoetyanti, Shinta Suhirman, Abdul Gani, Eni Hayani, Wahyudiono, dan Dedi Kustiwa

ABSTRAK

Minyak atsiri tersusun dari berbagai persenyawaan kimia yang berbeda sifatnya satu sama lain. Beragamnya konstituen dalam minyak atsiri tersebut memungkinkan minyak atsiri bersifat multiguna, antara lain sebagai bahan anti mikroba, anti nyamuk dan sebagai pengawet. Penelitian isolasi, karakterisasi dan formulasi minyak atsiri telah dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, pada bulan Januari sampai Desember 2007. Tujuan penelitian terdiri dari 1). Untuk mengetahui kandungan minyak atsiri dalam tanaman obat dan aromatik, sebanyak 20 jenis minyak atsiri, yaitu minyak sereh wangi, minyak sereh dapur, minyak kayu manis, minyak daun cengkeh, minyak biji pala, minyak kenanga, minyak akar wangi, minyak nilam, minyak kayu putih, minyak adas, minyak lada, minyak jahe, minyak lengkuas, minyak kunyit, minyak temu lawak, minyak massoi, minyak daun jeruk purut, minyak daun salam, minyak bangle dan minyak rosemary. 2). Mengidentifikasi karakteristik fisika-kimia minyak atsiri, karakteristik minyak meliputi parameterparameter berat jenis, indeks bias, putaran optik, kelarutan dalam alkohol, bilangan asam dan bilangan ester, serta komposisi senyawa-senyawa kimia didalam minyak atsiri. 3). Membuat formula dari minyak atsiri untuk bahan pengawet ikan. Isolasi minyak atsiri dilakukan dengan metode penyulingan air dan uap. Karakterisasi untuk mengetahui sifat fisika kimia minyak menggunakan metode analisis menurut Standar Nasional Indonesia dan identifikasi senyawa-senyawa penyusun minyak atsiri menggunakan metode kromatografi gas spectrum massa (GCMS). Minyak-minyak atsiri hasil isolasi dan telah dikarakterisasi, selanjutnya digunakan untuk uji anti bakteri (dilakukan oleh peneliti penyakit tanaman), uji anti nyamuk (dilakukan oleh peneliti hama tanaman). Formulasi untuk bahan pengawet menggunakan 5 jenis minyak atsiri yang terpilih, yaitu minyak kayu manis, minyak sereh dapur, minyak daun cengkeh, minyak daun salam dan minyak rosemary. Pembuatan formula dari minyak minyak atsiri tersebut dilakukan dengan mencampurkan minyak atsiri dengan bahan pengemulsi dan air sebagai pelarut dengan konsentrasi 0,10; 0,50 dan 1,0%. Disamping kegiatankegiatan tersebut, minyak-minyak atsiri yang telah dikarakterisasi tersebut juga dimaksudkan untuk membuat suatu koleksi minyak atsiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan minyak atsiri dalam 20 jenis tanaman obat dan aromatik tersebut berbeda-beda. Karakteristik minyak-minyak atsiri hasil isolasi berbeda satu sama lain dan dapat memenuhi persyaratan mutu Standar Nasional Indonesia. Formula dari 5 jenis minyak atsiri dapat digunakan untuk pengawet ikan. Kata kunci: minyak atsiri, isolasi, karakterisasi, formulasi

EVALUASI KARAKTERISTIK MINYAK ATSIRI DARI TANAMAN OBAT DAN
AROMATIK YANG BERPOTENSI SEBAGAI ANTI MIKROBA
Supriadi, Sri Yuni Hartati dan Nuri Karyani

ABSTRAK

Minyak atsiri banyak digunakan dalam industri makanan dan minumam serta kesehatan, antara lain karena bersifat anti mikroba. Minyak atsiri Indonesia dijual masih dalam bentuk hasil primer (utuh sebagai minyak). Usaha untuk mencari alternative penggunaan minyak atsiri, terutama untuk pengendalian mikroba, sangat dibutuhkan karena keterbatasan dari produk-produk pestisida sintetik yang tidak ramah terhadap lingkungan. Langkah awal untuk menuju itu antara lain dengan menguji keefektifan minyak atsiri secara invitro terhadap beberapa mikroba patogen atau pencemar. Hasil pengujian menggunakan mikroba Escherisia coli dan Bacillus cereus (pencemar makanan), dan Ralsltonia solanacearum, patogen tanaman, menunjukkan bahwa 10 jenis minyak atsiri yang diuji, yaitu kayumanis, daun cengkeh, serai wangi, nilam, serai dapur, kunyit, laos, temulawak, jahe dan adas menunjukkan aktivitas antibakteri. Dengan demikian maka semua jenis minyak atsiri tersebut berpotensi dikembangkan lebih lanjut, baik dalam bentuk tunggal maupun kombinasi, untuk keperluan pengendalian mikroorganisme. Diharapkan pengembangan produk berbasis minyak atsiri untuk pengendalian mikroorganisme akan berdampak positif terhadap penyelesaian masalah mikroba.

Kata kunci: minyak atsiri, anti bakteri, Ralstonia solanacearum, Escherisia coli, Bacillus cereus
PENGUJIAN PEMANFAATAN MINYAK ATSIRI SEBAGAI ANTI NYAMUK
Agus Kardinan, Ma’mun, Betty S. Tarigan, Tri Eko Wahyono dan Ahyar

ABSTRAK

Penyakit demam berdarah yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti merupakan masalah yang serius di Indonesia yang kejadiannya hampir dapat dipastikan setiap tahun pada awal musim penghujan. Berbagai usaha telah dilakukan, salah satu diantaranya adalah dengan penggunaan lotion anti nyamuk yang berbahan aktif bahan kimia dietil toluamide, yang apabila penggunaannya kurang benar akan membahayakan konsumen, khususnya bagi anak-anak. Telah dilakukan serangkaian penelitian untuk merakit suatu formula anti nyamuk berbahan aktif minyak atsiri di Balai Tanaman Obat dan Aromatik. Bebarapa jenis minyak atsiri telah diperoleh dan dianalisis kandungan bahan aktifnya, yaitu adas ( Foeniculum vulgare), cengkeh ( Syzigium aromaticum) dan nilam ( Pogostemon cablin). Telah dirakit sebanyak 18 jenis formula dari ketiga jenis minyak atsiri tersebut, untuk selanjutnya diuji daya proteksinya terhadap nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes aegypti telah diperbanyak/dibiakkan di laboratorium Entomologi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua formula anti nyamuk yang diuji mempunyai daya tolak (repellent) terhadap nyamuk Aedes aegypti, walaupun dengan daya proteksi yang beragam. Pada umumnya daya proteksi maksimal berlangsung sekitar dua jam setelah aplikasi, setelah itu daya proteksi menurun sejalan dengan waktu. Walaupun semua formula anti nyamuk selama enam jam tidak ada yang memiliki daya proteksi 90% atau lebih (menurut ketentuan Komisi Pestisida, disebut efektif apabila mempunyai daya proteksi minimal 90% selama 6 jam), namun mengingat bahan aktifnya terdiri dari bahan alami, maka formula ini sudah dianggap baik dan berpeluang untuk dikembangkan, karena hingga saat ini hanya formula anti nyamuk yang berbahan aktif bahan kimia sintetislah yang mampu bertahan selama 6 jam dengan daya proteksi minimal 90%.

Kata kunci: minyak atsiri, anti nyamuk

PENGUJIAN PEMANFAATAN MINYAK ATSIRI SEBAGAI PENGAWET IKAN
Rita Noveriza, Ma’mun, Nur Maslahah, Nuri Karyani, Sutrasman dan Zulhisnain

ABSTRAK

Minyak atsiri bersifat antibakteri dan anti jamur baik yang menjadi patogen pada hewan atau manusia atau bakteri yang dapat menyebabkan keracunan pada pangan. Minyak atsiri kayumanis mempunyai efek antibakteri terhadap Escherichia coli lebih kuat dibanding antibiotik standar. Sementara ini bahan alami yang bisa digunakan oleh nelayan untuk mengawetkan ikan segar adalah es dan bahan kimia formalin. Nelayan yang berasal dari daerah terpencil, untuk mendapatkan es bukanlah sesuatu yang mudah dan formalin sangat berbahaya buat kesehatan manusia. Dengan adanya kelemahan penggunakan es dan bahaya formalin sebagai pengawet ikan segar, maka dicari inovasi baru yang dapat menggantikan es dan formalin sebagai pengawet ikan segar. Penggunaan minyak atsiri oleh nelayan untuk pengawet ikan, berdampak positip terhadap meningkatnya nilai jual minyak atsiri. Telah dilakukan penelitian pengawetan ikan kembung dengan perendaman selama 60 menit dalam minyak atsiri kayumanis, sereh dapur, cengkeh dan rosemary masing-masing dengan konsentrasi 0,1; 0,5 dan 1% dan disimpan disuhu kamar sampai ikan menjadi busuk. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penyakit Balittro Januari sampai dengan Nopember 2007. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa ikan yang diberi perlakuan minyak atsiri kayumanis dosis 0,5% dan sereh dapur 0,5%, maupun kombinasi antara kedua minyak tersebut secara organoleptik masih dapat mempertahankan kesegaran ikan sampai penyimpanan 24 jam pada suhu kamar, lebih lama 12 jam dibandingkan kontrol (tanpa perlakuan). Selanjutnya perlakuan minyak atsiri tersebut di atas dapat menekan perkembangan bakteri pembusuk pada ikan kembung. Masih perlu diteliti lebih lanjut sampai berapa lama minyak atsiri tersebut dapat mempertahankan kesegaran ikan kembung.

Kata kunci: minyak atsiri, pengawet ikan

PENINGKATAN KADAR ARTEMISININ DENGAN PERBAIKAN GENETIK TANAMAN Artemisia annua L.
Hobir, Susi Purwiyanti, Melati, dan Nurliani Bermawi

ABSTRAK

Artemisia annua L merupakan tanaman penghasil senyawa artemisinin, yang dipergunakan sebagai bahan baku obat penyakit malaria. Penelitian peningkatan kadar artemisinin melalui perbaikan genetik dilakukan untuk mendapatkan varietas unggul untuk menunjang pengembangan tanaman artemisia di Indonesia. Penelitian dilakukan di KP. Manoko, pada tahun 2006 s/d 2007. Perbaikan genetik diawali dengan meningkatkan keragaman genetik melalui radiasi sinar gamma. Penelitian dilakukan dalam 2 generasi, (1) generasi pertama ditanam Desember 2006 dipanen Juli 2007, (2) generasi kedua ditanam Desember 2007 Juli 2008. Percobaan disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang disusun secara faktorial. Perlakuan yang di uji terdiri atas dua faktor, Faktor pertama adalah 4 populasi (aksesi) Artemisia dan faktor ke dua adalah 3 dosis perlakuan irradiasi benih artemisia, sehingga terdapat 12 perlakuan kombinasi. Hasil percobaan seri pertama menunjukkan adanya pengaruh intraksi antara perlakuan populasi dengan dosis radiasi terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang sekunder dan bobot kering batang. Setiap populasi memberikan respon yang berbeda terhadap dosis radiasi dalam parameter tersebut. Hasil analisis koefisien keragaman genetik dan heritabilitas terhadap komponen pertumbuhan dan produksi menunjukan bahwa komponen pertumbuhan (tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang primer, jumlah cabang sekunder, jumlah daun pada cabang primer dan jumlah daun pada cabang sekunder), koefisien keragamannya agak rendah sampai rendah, sedang untuk komponen produksi (bobot segar dan kering total, bobot segar dan kering batang, bobot segar dan kering daun, serta kadar artemisinin), koefisien keragaman genetiknya tinggi sampai sangat tinggi. Heritabilitas sifat-sifat jumlah cabang sekunder, jumlah daun pada cabang primer termasuk sedang, jumlah daun pada cabang sekunder termasuk rendah, namun kadar artemisinin termasuk tinggi. Dengan tingginya koefisien keragaman genetik dan heritabilitas pada komponen produksi, terutama kadar artemisinin, peluang meningkatkan kadar dan produksi artemisinin pada Artemisia annua cukup luas. Dari pengamatan fenotipik komponen pertumbuhan, produksi dan kadar artemisinin terdapat satu populasi yang pertumbuhannya menonjol cukup baik, yaitu populasi asal Kimia Farma, yang menghasilkan terna sekitar 3 ton/ha dengan artemisinin sekitar 17 kg/ha, sedangkan kisaran produksi normal di negara-negara produsen artemisin adalah berkisar antara 10-25 kg/ha.

Kata kunci : Artemisia Annua, variabilitas genetik, heritabilitas, artesiminin

PENGUJIAN ADAPTASI ARTEMISIA ANNUA PADA BERBAGAI AGROKLIMAT
Gusmaini, Nurliani Bermawie, Molide Rizal, Agus Sudiman dan Hera Nurhayati

ABSTRAK

Malaria merupakan penyakit yang cukup serius untuk segera diatasi karena sebagian daerah di Indonesia merupakan daerah endemik bagi penyakit malaria yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Anopheles sp. Penggunaan pil kina pada pengobatan malaria secara terus menerus selama lebih dari 20 tahun telah menyebabkan Plasmodium falciparum (penyebab penyakit malaria) menjadi resisten. Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan tanaman Artemisia annua L. yang mengandung bahan aktif artemisinin dan telah terbukti efektif mengatasi penyakit malaria. A. annua L. merupakan tanaman introduksi dari daerah sub tropis, karena itu terdapat beberapa permasalahan apabila akan dikembangkan di daerah tropis antara lain produksi dan kadar artemsinin yang rendah. Untuk mendukung pengembangan A. annua L di Indonesia diperlukan penelitian awal yaitu menguji daya adaptasi A. annua L. pada beberapa agroklimat yang berbeda. Pengujian ini akan diperoleh informasi lingkungan dan aksesi tanaman yang cocok tumbuh dan berkembang di Indonesia. Selain itu juga diharapkan mampu berproduksi dengan kandungan artemisinin yang tinggi. Penelitian dilaksanakan di dua lokasi yaitu KP Gunung Putri (1500 m dpl) dan KP Manoko (1200 m dpl). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 6 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah empat jenis aksesi artemisia, (A) Ad3, (B) Ad6, (C) Ad7, dan (D) Ad8. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga aksesi (Ad3, Ad6, dan Ad7) yang cepat berbunga dengan produksi rendah dan satu aksesi (Ad8) yang lambat berbunga menghasilkan produksi dan kadar artemisinin yang cukup tinggi di dua lingkungan agroklimat KP Gunung Putri dan KP Manoko. Aksesi Ad8 pada daerah ketinggian tempat 1500 m dpl (produksi herba segar yang dihasilkan 2,8 kg/tan (22,25 kg/plot) dan produksi herba kering 1,25 kg/tan (10 kg/plot) dengan kadar artemsinin 0,55%) menghasilkan produksi herba lebih tinggi dibanding pada ketinggian 1200 m dpl (produksi herba segar yang dihasilkan 2,6 kg/tan (20,64 kg/plot) dan produksi herba kering 1,01 kg/tan (9,07 kg/plot) dengan kadar artemsinin 0,54%.

Kata kunci: Artemisia annua L , adaptasi, agroklimat, produksi, artemisinin

PENGGUNAAN PUPUK DAN MIKROBA SEBAGAI GROWTH PROMOTING AGENT UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI DAN KADAR ARTEMISININ PADA Artemisia annua L.

Muhamad Djazuli, Gusmaini, Nur Maslahah dan Hera Nurhayati

ABSTRAK

Tanaman Artemisia annua L. mengandung bahan aktif artemisinin yang efektif mengatasi strain parasit Plasmodium malaria yang kebal terhadap obat antimalaria konvensional. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dosis pupuk yang optimal dan mikroba yang mampu meningkatkan pertumbuhan, produksi dan mutu Artemisia. Penelitian ini terdiri dari dua sub kegiatan: (1) Penelitian pemupukan untuk meningkatkan produksi dan kadar artemisinin dan (2) Penggunaan mikroba endofit sebagai Growth Promoting Agent untuk meningkatkan produksi kadar artemisinin. Kedua kegiatan penelitian ini dilaksanakan di KP Gunung Putri (1500 m dpl), mulai Januari s/d Desember 2007. Pada sub kegiatan pertama (1) digunakan Rancangan Acak Kelompok yang disusun secara faktorial dengan 3 ulangan. Penelitian ini menggunakan polybag dengan berisi tanah sebanyak 10 kg/polybag. Faktor pertama adalah 3 dosis pupuk N, faktor kedua 3 dosis P, dan faktor ketiga 3 dosis pupuk K. Pada sub kegiatan kedua (2) digunakan RAK faktorial dengan 4 ulangan. Faktor pertama, 2 jenis artemisia yaitu: diperoleh dari BPTO (A1) dan dari Kimia Farma (A2). Faktor kedua konsorsium mikroba endofit: tanpa mikroba (M0), konsorsium mikroba dari tanaman artemisia BPTO (M1), konsorsium mikroba dari artemisia Kimia Farma (M2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya tingkat kesuburan pada tanah, khususnya N menyebabkan pengaruh pemupukan tidak nyata terhadap tinggi dan jumlah cabang. Bobot segar daun pada umur 4 BST cukup tinggi berkisar 157,7–624,8 g/tan. Aplikasi pemupukan P mampu meningkatkan produksi daun artemisia secara nyata, sedangkan pemupukan N dan P berkorelasi positip terhadap peningkatan kadar hara didalam jaringan tanaman. Pemupukan dengan taraf N dan P yang tinggi menurunkan kadar artemisinin didalam daun. Kadar artemisinin didalam daun beragam dari 0,25-0,87%. Pertumbuhan dan produksi artemisia asal BPTO (M1) lebih tinggi dibanding artemisia asal Kimia Farma (M2). Mikroba endofit dari tanaman Artemisia mampu meningkatkan produksi bobot kering daun 34,4–37,1%, dan bobot kering total biomas 31,9-36,8%. Pemberian mikroba endofit mampu meningkatkan kadar artemisinin. Kandungan artemisinin tertinggi yaitu 0,40% terdapat pada artemisia asal Kimia Farma dengan perlakuan pemberian mikroba endofit yang terdapat pada artimisia Kimia Farma. Mikroba endofit dari tanaman artemisia tersusun dari bakteri Bacillus sp., yang paling dominan dari species Bacillus cereus, yang mengandung fitohormon IAA, GA3, dan Kinetin masing-masing sebesar 125,08, 182,35, 72,54 ppm.

Kata kunci: Artemisia annua L , pemupukan, mikroba endofit, produksi, artemisinin

KARAKTERISASI NOMOR-NOMOR KOLEKSI PURWOCENG
Otih Rostiana, W. Haryudin, Rosita SMD, Siti Fatimah Syahid, Siti Aisyah dan Nasrun

ABSTRAK

Purwoceng ( Pimpinella pruatjan) merupakan tanaman obat asli Indonesia berkhasiat afrodisiak, tumbuh di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, yang dikategorikan sebagai species langka. Kandungan bahan aktif dan pemanfaatannya didalam pemeliharaan kesehatan sudah banyak diteliti, namun informasi bahan tanaman unggul dengan karakteristiknya belum tersedia. Karakterisasi nomor-nomor koleksi purwoceng dilaksanakan mulai Januari sampai Desember 2007, di KP. Gunung Putri Cipanas. Penelitian bertujuan untuk memperoleh populasi hasil pemurnian generasi pertama dengan data pendukungnya (karakteristik morfologi dan komponen hasil) dari nomor-nomor koleksi purwoceng. Perlakuan yang diuji adalah enam nomor koleksi purwoceng yaitu Pipru 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Pemurnian benih dilakukan dengan metode observasi langsung terhadap individu dari setiap nomor aksesi yang dikelompokkan kedalam 2 populasi yaitu populasi merah dan hijau. Masing-masing populasi dari setiap aksesi ditanam 50 individu didalam polibag berdiameter 50 cm. Dari setiap individu dipilih 3-4 tangkai bunga untuk dikerodong. Jarak antar polibag (antar tanaman) 1 x 1 m, jarak antar aksesi 3 m, dengan jumlah populasi 100 tanaman per aksesi (50 merah dan 50 hijau). Hasil penelitian menunjukkan, diameter tajuk, jumlah daun, panjang daun dan panjang tangkai daun dari enam nomor aksesi yang diuji, populasi Hijau dari Pipru-01, -02 dan -03 lebih tinggi dari populasi Merah pada nomor aksesi yang sama. Bobot terna tertinggi (50,10 g) diperoleh dari Pipru-04 populasi Merah dan berbeda nyata dengan kelima nomor aksesi lainnya. Sedangkan bobot akar tertinggi (11,11 g) ditunjukkan oleh Pipru-05 dari populasi Hijau. Keenam aksesi purwoceng, baik terna maupun akarnya, mengandung empat komponen berkhasiat utama. Kandungan sitosterol tertinggi (15,9 ppm) diperoleh dari akar Pipru- 06, stigmasterol (13,6 ppm) dari akar Pipru-03, saponin (18,8 ppm) dari terna Pipru-06, bergapten (6,9 ppm) dari terna Pipru-03, kadar sari larut air dan alkohol tertinggi (22,06 dan 7,58%) dari terna Pipru-04 dan kadar sari larut air tertinggi (22,61%) dari akar Pipru-04, sedangkan kadar sari larut alkohol tertinggi (8,15%) dari akar Pipru-02.

Kata kunci: Pimpinella pruatjan Molk., plasma nutfah, karakterisasi, pemurnian benih.

PENGARUH STRES KEKERINGAN TERHADAP PEMBENTUKAN BAHAN AKTIF PADA PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk.)
Octivia Trisilawati, Joko Pitono, Emmyzar, Iim Rohimat, Nasrun dan Noviar

ABSTRAK

Pembudidayaan dan pengembangan Purwoceng masih terbatas di dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah dan belum tersedia teknologi budidayanya diantaranya aspek untuk meningkatkan mutu simplisia Purwoceng dengan pengaturan ketersediaan air/cekaman air bagi tanaman. Penelitian bertujuan untuk mengklarifikasi adanya hubungan stress kekeringan dengan pembentukan bahan aktif penting pada purwoceng. Sasaran penelitian adalah hubungan stres kekeringan dengan pembentukan bahan aktif pada Purwoceng. Penelitian dilakukan di KP. Gunung Putri, pada kegiatan penelitian ini dilakukan 2 model pengujian: I. Respon pembentukan bahan aktif terhadap peningkatan level stres kekeringan pada tiga fase pertumbuhan tanaman (3, 5, dan 7 bulan), dan II. pola kandungan bahan aktif purwoceng pada kondisi tingkat ketersediaan air tanah dilevel 80% KL (S0), 60% KL (S1), 50% KL (S2), dan 40% KL (S3) menggunakan rancangan acak kelompok dengan ulangan 6 kali di bawah naungan paranet 55%. Hasil sementara kegiatan penelitian ini sebagai berikut:a). Periode stres kekeringan berpengaruh terhadap pembentukan bahan aktif purwoceng pada 3-4 BST, b). 21-24 hari periode stres kekeringan menghasilkan kandungan Stigmasterol dan sitosterol tinggi, diikuti oleh periode 33 hari stress kekeringan, c). 21 hari periode stres kekeringan menghasilkan kandungan saponin tertinggi diikuti 33 hari periode stres kekeringan, 4). 33 hari periode stres kekeringan menghasilkan kandungan bergaptan tertinggi.

Kata kunci : Pimpinella pruatjan, stres kekeringan, bahan aktif

STANDARISASI MUTU PURWOCENG
Ma’mun, Fery Manoi, Anna Sofiana Sembiring, May Sukmasari, Kurniati dan Dedi Kustiwa

ABSTRAK

Standar Nasional Indonesia (SNI) mutu bahan baku herba purwoceng sampai saat ini belum ada, padahal informasi ini sangat penting untuk pembuatan sediaan simplisia. Tujuan penelitian adalah merumuskan bahan rancangan standar mutu purwoceng sebagai salahsatu bahan usulan bagi penyusunan SNI. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengujian Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Januari sampai Desember 2007. Bahan yang digunakan adalah simplisia purwoceng yang diperoleh dari berbagai sumber yang mewakili petani (yaitu petani purwoceng di daerah sentral di Dataran Tinggi Dieng), pengolah tingkat industri rumah tangga (yaitu di Wonosobo dan Banjarnegara Jawa Tengah), dan industri besar (yaitu industri jamu PT. Nyonya Meneer dan PT. Sido Muncul). Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Analisis parameter-parameter mutu menurut metode SNI dan Materia Medika Indonesia (MMI), yang terdiri atas warna simplisia, kadar air, kadar bahan asing, kadar abu, kadar sari dalam air, sari dalam alkohol, kadar saponin, kadar sitosterol, kadar stima sterol dan kadar bergapten. Analisis dilakukan dengan 3 ulangan. Hasil yang diperoleh sebagai berikut: Kadar air 9,0–14,0%; Kadar abu 8,90–23,0%; Kadar sari dalam air17,10–32%; Kadar sari dalam alkohol 6,50–18 0%; Kadar Sitosterol 0,03-16%; Kadar Stigmasterol 0,06-0,16%; Kadar Saponin 0,14–0,20%; Kadar Bergapten 0,02–0,06%. Rumusan tersebut perlu diajukan ke Badan Standarisasi Nasional sebagai salah satu bahan untuk menentukan standar baku mutu purwoceng.

Kata kunci: Pimpinella pruatjan Molk, standardisasi mutu, SNI

OPTIMASI LAHAN PERTANAMAN PURWOCENG MELALUI SISTEM POLA TANAM
M. Djazuli, Nur Maslahah, E. Rini Pribadi, M. Syakir, Nasrun, dan Kosasih

ABSTRAK

Purwoceng ( Pimpinella pruatjan) merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia berkhasiat aprodisiak yang hanya dapat ditemui di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Untuk pengembangan sentra produksi baru purwoceng, penggunaan sistem pola tanam purwoceng dengan tanaman sayur yang sudah ada di dataran tinggi Cipanas, Cianjur lebih mudah diterima oleh petani dibandingkan dengan pola tanam Monokultur. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan sistem pola tanam berbasis purwoceng yang optimal untuk meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. Perlakuan yang diberikan antara lain : 1). Purwoceng Monokulturkultur, 2). Bawang daun Monokulturkultur, 3). Selada bokor Monokultur kultur, 4). Pak coi Monokultur kultur, 5). Pola tumpang sari purwoceng + bawang daun, 6). Pola tumpang sari purwoceng + selada bokor, 7). Pola tumpang sari purwoceng + pak coi, 8). Pola tumpang sari purwoceng + 2 bawang daun, 9). Pola tumpang sari purwoceng + 2 selada Bokor, 10). Pola tumpang sari purwoceng + 2 pak coi. Hasil peneltian menunjukkan bahwa produksi biomas tanaman sela pada pola monokultiur terlihat paling tinggi diikuti pola tanam dengan tanaman sayuran 2 baris dan 1 baris. Produksi bahan segar pada panen pertama dan harga bawang daun saat ini terlihat paling tinggi dan pola tanam purwoceng dengan bawang daun memberikan prospek yang paling baik. Bobot basah purwoceng pada pola tanam monokultur pada umur 4BST terlihat lebih tinggi dibanding pola tanam lainnya

Kata kunci : Purwoceng (Pimpinella pruatjan), pola tanam, pertumbuhan, produktivitaslahan

PERBANYAKAN BEBERAPA SOMAKLON NILAM TAHAN KEKERINGAN
Ika Mariska dan Ragapadmi Purnamaningsih
Balai Besar Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

ABSTRAK
Nilam ( Pogostemon cablin Benth.) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri. Indonesia adalah produsen terbesar minyak nilam di dunia, dimana permintaan minyak nilam mencapai 90%. Kekeringan merupakan masalah utama pada tanaman nilam yang dapat menyebabkan penurunan produksi/hasil. Teknik kultur in vitro merupakan salah satu metode alternatif untuk memperoleh tanaman nilam toleran terhadap kekeringan. Metode induksi mutasi dikombinasikan dengan seleksi in vitro telah terbukti dapat menghasilkan tanaman–tanaman unggul dengan sifat atau karakter tertentu. Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan induksi mutasi pada tanaman nilam dengan menggunakan sinar gamma dan selanjutnya populasi sel-sel mutan yang dihasilkan diseleksi dengan menggunakan PEG sehingga diperoleh beberapa nomor tanaman yang toleran terhadap kekeringan. Nomor-nomor yang telah diperoleh harus diuji di rumah kaca dan di lapangan. Untuk itu tanaman-tanaman tersebut harus diperbanyak terlebih dahulu dan selanjutnya diaklimatisasi di rumah kaca untuk pengujian selanjutnya. Multiplikasi tunas dilakukan dengan menggunakan media dasar MS dengan penambahan BA atau kinetin pada beberapa taraf konsentrasi, sedangkan induksi perakaran dilakukan dengan menggunakan IAA. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 15 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat respon yang berbeda dari masing-masing nomor yang diuji terhadap perlakuan untuk induksi multiplikasi, sedangkan induksi perakaran lebih baik dilakukan tanpa menggunakan zat pengatur tumbuh.

Kata kunci : Pogostemon cablin, induksi mutasi, kekeringan, kultur jaringan

SELEKSI KETAHANAN TERHADAP STRES KEKERINGAN PADA BEBERAPA NOMOR SOMAKLON NILAM
Joko Pitono, Ika Mariska, M. Syakir, Ragapadmi, Hera Nurhayati, Setiawan, Kuswadi, Zaenuddin dan Teguh Santoso

ABSTRAK

Varietas unggul nilam tahan kekeringan sangat diperlukan pada program pengembangan nilam nasional. Penelitian sebelumnya, irradiasi somaklon dan uji kekeringan pada media kultur dengan PEG, mendapatkan 6 nomor berindikasi toleran kekeringan. Tujuan penelitian adalah mengklarifikasi apakah terdapat variasi kemampuan kontrol transpirasi saat mengalami stres kekeringan, diantara keenam nomor somaklon (BIO-1, BIO-2, BIO-3, BIO-4, BIO-5, BIO-6, dan varietas Tapak Tuan sebagai tanaman kontrol). Kondisi stres kekeringan diciptakan melalui penghentian pemberian air. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi genetik pada control transpirasi. Nomor BIO-3 dan BIO-4 memperlihatkan kemampuan kontrol transpirasi lebih baik daripada nomor somaklon lain, baik pada saat kecukupan air maupun saat kekeringan. Mengingat kemampuan kontrol transpirasi berkorelasi dengan kemampuan menghemat cadangan air tanah dengan resiko kegagalan sistim transportasi di jaringan xylem yang lebih rendah, mengindikasikan BIO-3 dan BIO-4 adalah toleran kekeringan, namun uji lanjut pada skala lapangan masih diperlukan.

Kata Kunci: nilam, somaklon, kontrol transpirasi, toleran kekeringan

PENINGKATAN KERAGAMAN GENETIK NILAM MELALUI INDUKSI MUTASI IN VITRO DAN IRRADIASI
Endang Hadipoentyanti, Sri Yuni Hartati, Amalia, Nursalam Sirait, Dedi Surachman, Nuri Karyani dan Suryatna

ABSTRAK

Masalah utama budidaya nilam di Indonesia adalah penyakit layu bakteri, dengan kerugian bisa mencapai 60-95%. Sampai saat ini belum ada varietas yang tahan terhadap penyakit layu bakteri. Varietas Sidikalang diindikasikan mempunyai sifat agak toleran terhadap penyakit tersebut. Keterbatasan sumber genetik merupakan factor pembatas dalam pemuliaan tanaman nilam karena tanaman nilam tidak berbunga/berbiji dan selalu diperbanyak secara vegetatif dengan setek. Salah satu upaya yang efektif untuk menambah keragaman genetik adalah dengan cara induksi mutasi, in vitro dan irradiasi dengan memanfaatkan variasi somaklonal. Tujuan penelitian untuk mendapatkan 10-25 kalus hasil induksi mutasi in vitro pada media (kosentrasi zpt) terbaik dan irradiasi. Penelitian dilakukan di laboratorium kultur jaringan Balittro Bogor. Bahan yang digunakan sebagai eksplan adalah daun muda dari tanaman nilam varietas Sidikalang. Perlakuan yang digunakan untuk induksi kalus adalah konsentrasi zpt 2,4 D (0; 0,1; 0,5; 1 mg/l) secara tunggal dan kombinasi dengan BAP (0; 0,1; 0,5; 1 mg/l) yang ditambahkan pada media dasar MS. Menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) masing-masing perlakuan 10 botol dan masing-masing botol terdiri atas 3 potongan eksplan. Parameter yang diamati adalah waktu inisiasi, diameter, warna dan sifat kalus. Hasil menunjukkan bahwa induksi kalus terbaik pada media MS dengan penambahan zpt tunggal 2,4 D dengan konsentrasi 0,1 mg/l dengan diameter kalus 1,37 cm, warna kalus putih kecoklatan dan sifat kalus remah. Sedangkan menggunakan zpt kombinasi yang terbaik adalah konsentrasi 0,1 mg/l 2,4 D + 0,1 mg/l BAP dengan diameter kalus 1,98 cm, warna kalus putih kehijauan dan sifat kalus remah. Irradiasi berpengaruh terhadap penampilan kalus, diameter kalus dan warna kalus. Semakin tinggi dosis irradiasi yang diberikan pertumbuhan kalus terhambat karena sel-sel meristem rusak.

Kata kunci : Pogostemon cablin, induksi mutasi, kalus, in vitro, irradiasi.

PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Muchamad Yusron, JT. Yuhono, M. Januwati, Supriadi, Bagem S. Sembiring dan Imelda

ABSTRAK

Lahan rawa pasang surut merupakan lahan yang cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Sesuai dengan kondisi fisiknya, sampai saat ini lahan rawa pasang surut lebih banyak dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman padi. Untuk mendukung pengembangan ekonomi wilayah, pola pemanfaatan lahan usahatani tersebut perlu dikembangkan, tidak hanya berorientasi pada pendekatan produksi tetapi lebih mengarah pada pendekatan pendapatan. Hasil pengujian budidaya temu-temuan di lahan pasang surut menunjukkan hasil yang cukup baik. Tujuan kegiatan penelitian ini adalah untuk mendapatkan teknologi budidaya temu-temuan spesifik lahan pasang surut. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari tahun 2005 yang meliputi pengamatan keragaan teknologi bekerjasama dengan petani, termasuk evaluasi respon petani terhadap teknologi yang sedang diuji. Pada tahun 2007 ini dilakukan pengamatan meliputi (1) Tingkat kesesuaian teknologi yang diuji pada kondisi lingkungan setempat dan (2) Tingkat produktivitas dan mutu temu-temuan. Hasil penelitian penting antara lain (1) Pertumbuhan jahe jelek akibat serangan Phylosticta, sedangkan pertumbuhan kunyit dan temulawak cukup baik, (2) Petani cukup antusias untuk memperoleh pengetahuan tentang teknik pasca panen dan pengolahan temu-temuan, (3) Analisis usahatani tanaman jahe, kunyit dan temulawak atas dasar produksi dan harga saat panen diperoleh pendapatan yang negatif (merugi), dan (4) Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani adalah melalui pengolahan lanjutan dari ” primary product” menjadi produk antara atau produk akhir.

PRODUKSI BENIH SUMBER TANAMAN OBAT DAN AROMATIK
Maharani Hasanah, Sukarman, Sri Wahyuni, Devi Rusmin, Melati dan Repianyo

ABSTRAK

Salah satu permasalahan dalam pengembangan tanaman obat dan aromatika (OA), adalah kurang tersedianya benih sumber dari komoditas OA. Untuk mengatasi masalah tersebut sejak tahun 2002 telah dilakukan kegiatan produksi benih sumber tanaman obat dan aromatika (OA). Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk membuat kebun induk yang dapat memasok benih sumber kencur, kunyit, jahe gajah, jahe emprit, jahe merah, temu lawak, nilam dan serai wangi kepada para pengguna. Untuk mencapai tujuan dan sasaran dari kegiatan tersebut sejak tahun 2002 telah dilakukan kegiatan produksi dan pemeliharaan benih sumber. Selama tahun 2007, pengelolaan benih yang telah dilakukan adalah kegiatan pemeliharaan kebun induk/kebun benih, serta produksi benih. Pemeliharaan kebun induk meliputi komoditas nilam seluas 1 ha. Untuk pemeliharaan kebun benih berupa komoditas kencur seluas 1 ha, Jahe Putih Besar (JPB) (Cimanggu 1), Jahe Putih Kecil (JPK) dan Jahe Merah (JM) seluas 1 ha dan Kunyit seluas 1 ha di Sukamulya. Penanaman kemali dilakukan untuk kebun benih jahe (JPB, JPK, dan JM) dengan total luasan 0,75 ha, Lokasi di KP. Cicurug – Sukabumi –t, Kencur seluas 0,5 ha dan Kunyit seluas 0.25 ha di KP Cibinong, temulawak seluas 0,30 ha di K.P. Cibinong. Teknologi budidaya seperti cara tanam, pemeliharaan tanaman dan pengendalian organisme pengganggu akan dilakukan berdasarkan standar prosedur operasioanal (SOP) budidaya untuk masing-masing komoditas. Produksi benih berkaitan dengan sertifikasi untuk menjaga mutu benih yang dihasilkan. Komoditas tanaman obat (jahe, kencur, kunyit, temulawak), sertifikasi dilakukan oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH). Benih yang lolos sertifikasi mendapatkan label sesuai dengan klas benih yang diproduksi. Hasil panen benih setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas sertifikasi, didistribusikan ke konsumen bila ada permintaan, selebihnya benih disimpan dalam gudang penyimpanan.

Kata kunci: Produksi benih, Cymbopogon nardus, Pogostemon Cablin, Zingiber officinale, Curcuma domestica, Curcuma xanthorhiza, Kaemperia galanga)

PENYULUHAN DAN PENYEBARAN INFORMASI
Taryono, Agus Ruhnayat, Molide Rizal, Natalini Nova Kristina, Rushendi dan Sukamto

ABSTRAK

Hasil-hasil penelitian tanaman obat dan aromatik (TOA) telah banyak diperoleh, namun belum memberikan hasil yang optimal bagi pelaku usahatani TOA. Salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya tingkat penerapan teknologi hasil penelitian ditingkat pengguna/petani karena tidak lancarnya komunikasi antara penghasil dan pengguna teknologi. Untuk memperlancar dan mempercepat arus informasi dari penghasil ke pengguna teknologi, perlu upaya penyebaran informasi hasil penelitian dengan memperhatikan kelompok sasaran yang hendak dicapai, bentuk dan isi pesan yang akan disampaikan serta cara dan bentuk media diseminasi yang akan digunakan. Desiminasi hasil penelitian TOA dilaksanakan melalui 6 kegiatan, yaitu: 1) Publikasi hasil penelitian, 2) Ekspose, pameran dan seminar nasional, 3) Seminar TOA, 4) Komersialisasi Teknologi, 5) Kerjasama, dan 6) Penyelenggaraan perpustakaan. Hasil kegiatan yang telah dicapai adalah: 1) Buletin TRO dan Perkembangan Teknologi TRO masing-masing 2 nomor, 2) Publikasi dalam bentuk elektronik sebanyak 3 buah (1 website dan 2 CD rom budidaya TOA), 3) Mengikuti dan melaksanakan 8 kali ekspose dan pameran, 5) Melaksanakan dan dihasilkan rumusan Seminar Nasional dan Pameran Pameran Perkembangan Teknologi Tanaman Obat dan Aromatik, 6) Melaksanakan 4 kali seminar tanaman obat dan aromatik, 7) Terjalin 3 kerjasama penelitian dengan pihak ketiga (Insentif terapan, KKP3T dan P4MI) dan 5 kerjasama dengan pihak swasta dan penakar benih, 7) Sertifikat hak paten bagi alat perontok dan pengupas lada, 8) Melaksanakan 12 kali pelatihan dan magang bagi petugas pertanian dari berbagai daerah, dan 9) 145 eksemplar majalah ilmiah, 54 eksemplar buku dan 3 jenis majalah.

Kata kunci : Desiminasi, tanaman obat, tanaman aromatik

Pemesanan softcopy artikel : email : library_rismc@yahoo.co.id, call 085695050165

Tentang Perpustakaan Balittro

Pustakawan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Jl. Tentara Pelajar No. 3 Bogor 16111
Pos ini dipublikasikan di 1. Tandai permalink.

Satu Balasan ke ABSTRAK PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK TAHUN 2007

  1. martha berkata:

    saya minta abstrak mengenai pemuliaan jahe baik itu jahe badak,putih kecil,atau jahe merah.mengenai heritabilitas,kergaman genetik dll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s