KUMPULAN ABSTRAK HASIL PENELITIAN TAN. OBAT DAN AROMATIK 2009

001. BERMAWIE, NURLIANI
Karakterisasi 22 Aksesi Lengkuas Mendukung Pelepasan Varietas Unggul Dengan Produktivitas 30 Ton/ha Rimpang Basah Dan Kadar Minyak 2/ Nurliani Bermawie; Sri Suhesti;Susi Purwiyanti. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010) p.75-103.

22 AKSESI; LENGKUAS; Alpinia galanga L., profil GCMS. PELEPASAN VARIETAS UNGGUL; RIMPANG BASAH; KADAR MINYAK.

ABSTRAK
Lengkuas (Alpinia galanga L.) merupakan tanaman obat yang banyak digunakan dalam pengobatan tradisional. Permasalahan dalam pengembangan produk obat yang berasal dari bahan alam adalah tidak adanya jaminan pasokan bahan baku dan mutu serta kandungan bahan aktif yang sesuai. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan standar operasional prosedur budidaya yang antara lain meliputi penggunaan varietas unggul. Program untuk menghasilkan varietas unggul ditentukan oleh tersedianya plasma nutfah yang diketahui karakter morfologi, potensi produksi dan mutunya. Penelitian untuk mengetahui karakter morfologi, produksi dan mutu koleksi plasma nutfah tanaman lengkuas dilaksanakan mulai bulan Januari – Desember 2009 di Kebun Percobaan (KP) Cicurug (550 m dpl), Sukabumi, Jawa Barat. Dua puluh dua nomor lengkuas ditanam dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap diulang 2 kali. Setiap plot ditanam 10 tanaman dengan jarak tanam 1m x 1m. Pengamatan dilakukan pada saat tanaman berumur 3, 7 dan 9 bulan setelah tanam. Parameter yang diamati meliputi parameter kualitatif yaitu bentuk daun, warna daun tua dan muda, warna kulit rimpang, warna daging rimpang dan parameter kuantitatif meliputi jumlah anakan, tinggi tanaman, tinggi batang, diameter batang, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, ratio panjang dan lebar daun serta parameter produksi (berat segar dan kering rimpang per rumpun, panjang, lebar dan tinggi rimpang, panjang, lebar dan jumlah propagul) dan analisa kandungan bahan aktif (GCMS). Data dianalisis menggunakan analisis varians yang dilanjutkan dengan uji nilai tengah pada taraf uji 5% untuk membedakan antar aksesi. Hasil menunjukkan bahwa terdapat keragaman yang cukup tinggi pada morfologi 22 aksesi lengkuas. Pertumbuhan terbaik terdapat pada lengkuas putih LP 6 dan lengkuas merah LM 7. Warna daun tua tergolong menjadi 3 kelompok besar yaitu Green Group 137 A (9 aksesi), Green Group 137 B (10 aksesi) dan Green Group 137 C (3 aksesi). Warna daun muda lengkuas sama untuk semua aksesi yaitu Yellow Green Group 144 A dengan bentuk daun bangun lanset (lanceolatus) untuk semua aksesi kecuali LM 3 yang mempunyai bentuk daun memanjang (oblongus). Warna kulit rimpang dan daging rimpang bervariasi antar aksesi lengkuas. Hasil analisis GCMS rimpang lengkuas umur 7 bulan dan 9 bulan terdeteksi bahwa komponen penyusun ekstrak lengkuas umur 7 bulan terdiri dari 15 sampai 28 bahan aktif dengan komponen penyusun utama diatas 5% terdiri dari 2-7 bahan aktif, tetapi pada umur 9 bulan terjadi penurunan macam komponen bahan aktif penyusun lengkuas menjadi 8 sampai 17 dan komponen penyusun utama ekstrak lengkuas menjadi 2 – 6 penyusun utama. Komponen penyusun utama ekstrak lengkuas umur 7 bulan yaitu Benzoic acid, 2,4-dimetyl-,me; Benzoic acid, 2,6-dimethyl-, (CA…; Hexadecanoic acid (CAS) $$ Palm..; Indenol; Benzaldehyde, ethenyl- (CAS) $$…; Quinoline, 1, 2, 3, 4 – tetrahydro-, sedangkan pada umur 9 bulan yaitu Benzoic acid, 2,4-dimethyl-, (CA…; Benzaldehyde, ethenyl- (CAS) $$…; Benzoic acid, 2,4-dimethyl-, me..; p-Carbomethoxybenzaldehyde $$ B …; 2-(methylsulphonylmethyl)-2,3-d….; Chroman-4-ol; 2,2 Dideuterio-1-tetralol $$ 1-… Pada umur 7 BST, sebagian besar aksesi lengkuas mempunyai komponen penyusun utama Benzoic acid, 2,4-dimetyl-,me sedangkan pada umur 9 BST didominasi oleh Benzoic acid, 2,4-dimethyl- (CA…

ABSTRACT
Galanga (Alpinia galanga L.) is one of the medicinal plants commonly used in traditional medication. Constraints in the use of plant based natural products is the inconsistence supply of raw material and quality. To solve the propblem it is necessary to provide the Standard Operationa Procedure for cultivation, in which include the provision of superior variety. The success of breeding for superior varity depend on the availability of galangal germplasm with known morpohological characteritics, yield and quality. Research to support breeding of galanga by characterization of galangal germplasm, based on morphology, yield and quality was undertaken from January – December 2009 in Cicurug experimental Garden, Sukabumi, west java with 22 accessions planted in randomized Block Design replicated 2 times. Each plot consisted of 10 plants in 2 rows with 1m x 1 m plant spacing. Observations were made at 3, 7 and 9 months after planting. Parameters observed were leaf shape, leaf colour, colour of rhizome, colour of rhizome flesh, number of clump, plant height, stem height, stem diameter, number of leaf, lef length, leaf width, leaf length and width ratio, fresh and dry rhizome weight, rhizome length, width and height, number and size of fingers. and quality analysis using GCMS. Data were analysed using analysis of variance at probability 5%. There were large variation in mophological characters among 22 of galangan accessions. The best growth performance was shown by LP 6 and LM 7. Colour of mature leaf was grouped into three categories, i.e Green Group 137 A (9 accessions), Green Group 137 B (10 accessions) and Green Group 137 C (3 accessions). Colour of young leaf of all accessions was Yellow Green Group 144 A, Leaf shape was lanceolatus, except LM 3 which was oblong. Colour of rhizome and flesh vary from broken white to pink and red. GCMS analyses on 7 months and 9 months rhizome detected that compounds of galangale ekstract on 7 months were 15 – 28 compounds with main compounds have area above 5% were 2-7 compounds, but on 9 months, compounds of galangale were decreased become 8-17 compounds with main compounds have area above 5% were 2-6 compounds. Chemical compounds with area above 5 % (on 7 months) were Benzoic acid, 2,4-dimetyl-,me; Benzoic acid, 2,6-dimethyl-, (CA; Hexadecanoic acid (CAS) $$ Palm; Indenol; Benzaldehyde, ethenyl- (CAS) $$.; Quinoline, 1, 2, 3, 4 – tetrahydro-, whereas on 9 months were Benzoic acid, 2,4-dimethyl-, (CA…; Benzaldehyde, ethenyl- (CAS) $$…; Benzoic acid, 2,4-dimethyl-, me..; p-Carbomethoxybenzaldehyde $$ B …; 2-(methylsulphonylmethyl)-2,3-d….; Chroman-4-ol; 2,2 Dideuterio-1-tetralol $$ 1-…. On 7 months, among of galangale accession have main compounds were Benzoic acid, 2,4-dimetyl-,me whereas on 9 months have dominated with Benzoic acid, 2,4-dimethyl- (CA…

002. DASWIR
Teknik Introduksi Tanaman Serai Wangi Untuk Lahan Konservasi / Daswir; Yudarfis; Yayak Rubaya; Nelvi. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010) p.251-262.

TEKNIK INTRODUKSI; SERAIWANGI; LAHAN KONSERVASI KRITIS.

ABSTRAK
Untuk mendukung pengembangan tanaman seraiwangi di Indonesia maka peningkatan produktifitas tanaman melalui pemanfaatan lahan-lahan kritis perlu dilakukan. Namun, managemen lahan kritis perlu memperhatikan tingkat erosi dan kesuburan lahannya. Tujuan penelitian adalah menguji teknik konservari lahan dengan tanaman serai wangi dan rumput untuk mengurangi erosi sekaligus meningkatkan kakao. Penelitian dilakukan pada lahan kritis yang ditanami kakao di Desa Aripan, Kabupaten Solok, ketinggian 460 m dpl. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari sampai Desember tahun 2009. Rancangan yang digunakan adalah Acak Kelompok, 5 perlakuan jarak tanam serai wangi, 4 ulangan. Kelima perlakuan jarak tanam yang diuji adalah: perlakuan A (jarak tanam 1,0 m), perlakuan B (jarak tanam 0,8 m), perlakuan C (jarak tanam 0,6m), perlakuan D (jarak tanam 1,0 m tanaman rumput ternak), dan perlakuan E (kontrol). Ukuran plot 30 x 10 m. Luas seluruh plot percobaan sekitar 1,0 hektar. Jumlah sampel pengamatan per plot sebanyak 12 rumpun (10% populasi). Parameter yang diamati adalah pertumbuhan dan produksi, meliputi jumlah anakan, panjang daun, lebar daun, produksi per rumpun, dan rendemen minyak serta kadar citronellal dan total geraniol. Juga dilakukan pengamatan terhadap erosi tanah, seperti bobot tanah, volume air, dan kadar hara yang tererosi. Di camping itu, juga dilakukan pengamatan terhadap perkembangan buah kakao pada masing-masing plot (5 pohon kakao/plot) dan analisis biaya usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa introduksi tanaman seraiwangi dan rumput ternak pada pertanaman kakao menunjukkan pertumbuhan tanaman seraiwangi yang baik pertumbuhannya sampai panen pertama (umur 6 bulan). Produksi seraiwangi terbaik pada panen pertama berasal dari perlakuan B (jarak tanam 0,8 m) sebanyak 12.576 kg/ha/th, lebih baik dibanding dari perlakuan lainnya. Mutu minyak seraiwangi terbaik yang dihasilkan dari panen ke-6 berasal dari perlakuan B (jarak tanam 0.8 m), yaitu kadar citronellal 50,1%. Perlakuan A juga menghasilkan rendemen minyak paling tinggi, yaitu sebanyak 47,9%, dan terendah berasal dari perlakuan perlakuan C (42,8%). Dari segi konservasi lahan, introduksi serawangi dapat mengurangi tingkat erosi tanah dan unsur hara tanah. Perlakuan B dan C paling baik dalam menahan erosi tanah, yaitu sebanyak 64,5kg/th/plot dibanding perlakuan D (rumput ternak) maupun perlakuan kontrol (112 kg/th/plot). Pengaruh perlakuan tanaman seraiwangi terhadap kematian /kekeringan buah kakao kecil (pentil) cukup baik, yaitu sebesar 12%, lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan kontrol tanpa seraiwangi (45%). Analisa keuntungan dari introduksi tanaman seraiwangi sampai panen ke 6 (2 tahun) belum menunjukkan hasil yang nyata, tetapi besarnya kerugian pada perlakuan B menunjukkan paling kecil dibanding dengan perlakuan lainnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan konservasi lahan kakao dengan seraiwangi dapat menekan erosi tanah >30% dan dapat mempertahankan kesuburan tanah. Dengan demikian teknologi konservasi yang diuji dapat dijadikan rekomendasi.

ABSTRACT
In supporting the development of lemon grass crops in Indonesia can be achieved by utilizing marginal land for cultivation of lemongrass. However, management of marginal land should consider erosion and soil degradation. The research was aimed to study the effect of soil conservation by cultivating lemongrass in cocoa platation in marginal land. The study was conducted in Aripan, Solok, 460 m above sea level on 1.0 hectare area having Red Yellow Podzolic soil type. The reasearch is conducted from January to December 2009. The experimental design is Randomized Complete Design (CRD), 5 treatments of planting distances of lemongrass, 4 replications. The first treatment was planting distance 1.0 m, the second treatment was 0.8 m planting distance, the third was palting distance 0.6 m of lemon grass. The forth was planted with king grass at 1.0 m planting distance, and the control treatment was only cacao trees without neither lemongrass nor king king grass. The plot size was 10 x 30 m with 44 trees of cacao. Total acreage of experimental area was 1.0 ha of cacoa plantations. Number of samples per plot was 12 clumps lemon grass (10%) per plot. Parameters observed were numbers of stalks, length of the largest leaves, production of lemongrass per plot, and lemon grass oil content, as well as content of citronelal and total geraniol. Parameters observed for conservation effects were number of soil erotion and soil nutrition status. The results showed that both lemongrass and king grass grew well under cocoa plantation. Lemongrass production at first harvest (6 cuttings after planting) from the treatment B (distance 0.8 m) is the best i.e 12.576kg/ha/th with the percentage of oil grde citronella was 50,1 % and geraniol total was 82- 85,4%, better that other treatments. Plantings of lemon grass at 0.8 m distance and 0.6 m distance showed the best on soil conservation as indicated from the lowest number of soil eroded (64.5 kg soil/th/plot) compared to the other treatments (112,6 kg/th/plot). Introduction of lemon grass also reduced the number of drying ccocoa fruits. This study indicates that soil conservation with lemon grass under cacao trees at marginal land reduce soil erotion, therefore this conservation technique may be recommended.

003. DJAZULI, MUHAMAD
Pengendalian Alelopati Tanaman Nilam Melaui Aplikasi Zeoloit dan Pupuk Organik / Muhammad Djazuli; Setiawan. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010) p.193-202.

ALELOPATI; NILAM; Pogostemon cablin Benth; APLIKASI ZEOLIT; PUPUK ORGANIK.

ABSTRAK
Produktivitas tanaman nilam masih tergolong rendah dan beragam antar sentra produksi di bawah potensi varietas unggul nilam yang mampu menghasilkan minyak nilam di atas 300 kg minyak/ha/tahun. Rendahnya kesuburan lahan, adanya serangan penyakit budog, senyawa alelopati, dan rendahnya input teknologi oleh petani menyebabkan produksi nilam rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan paket teknologi aplikasi pembenah tanah yang mampu menekan adanya senyawa yang bersifat racun dari proses alelopati sekaligus menekan tingkat serangan penyakit budog pada tanaman nilam. Sebuah penelitian lapang untuk menguji efektivitas sembilan kombinasi pembenah tanah terhadap pertumbuhan, produksi, mutu nilam, dan tingkat serangan penyakit budog. Penelitian dilaksanakan di desa Sumurwiru, Kecamatan Cibeureum. Pada umur 3-4 bulan terjadi kekeringan di lokasi penelitian, sehingga pertumbuhan dan perkembangan tanaman menjadi terhambat dan beberapa tanaman mati. Pada umur 5-6 BST hujan cukup tinggi disertai munculnya serangan penyakit budog. Secara umum produktivitas nilam pada percobaan ini tergolong rendah. Terjadinya cekaman kekeringan menyebabkan pertumbuhan nilam pada stadia pertengahan mengalami stagnasi bahkan beberapa tanaman mengalami kematian. Perlakuan pembenah tanah berpengaruh nyata terhadap bobot basah daun nilam, bobot basah cabang, dan bobot basah akar + batang nilam. Kombinasi perlakuan zeolit dan pupuk kandang dengan pembenah tanah lainnya (kaptan dan dolomit) mampu menghasilkan produksi biomas terna dan akar nilam yang tinggi. Persentase serangan penyakit budog yang tergolong rendah dijumpai pada perlakuan pupuk kandang, dan pukan yang dikombinasikan dengan zeolit dan dolomit. Kandungan asam kumarat di dalam akar dan batang bawah nilam terlihat beragam antar perlakuan dengan kisaran antara 86,65 sampai dengan 192,45 ppm.

ABSTRACT
Productivity of patchouli in Indonesia is classified low and was vary among production center. The average productivity is lower than the potential production which able to produce more than 300 kg patchouli oil/ha. Low fertility, diseases, alelopatic compound, and limited input technology applied, promote low production of patchouli. Objective of this experiment is to find out a package of soil amelioration which able to reduce some toxic compound related to alelopathy process and to eliminate budog disease attack. For those purposes, a field experiment was conducted for evaluating the affectivity of nine combination treatment of soil amelioration to growth, productivity, quality and level attack of budog disease. A field experiment was conducted in Sumur wiru village, Kuningan Regency. During 3-4 MAP, all patchouli plant were suffered by drought stress. Accordingly, the growth was stagnant, even some plants were died. During rainy season at 5-6 MAP, budog disease was appeared. Drought stress during medium growth stage promoted low productivity of patchouli. The effect of Soil amelioration treatments to shoot, and root production were significant. Application of zeolit and manure combination treatment produced high shoot and root biomass production. The percentage of budog disease were relatively low at manure and combination of manure and zeolit/dolomite treatments. P-Coumaric acid content in the roots were vary among treatments, with range from 86,65 to 192,45 ppm.

004. DJAZULI, MUHAMAD
Perakitan Teknologi Budidaya Nilam Spesifik Agroekologi Sumatera Barat/ Muhamad Djazuli; Endang Hadipoentyanti; Sukamto; Nur Maslahah. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010)p.243-250.

BUDIDAYA NILAM; SPESIFIK AGREOKOLOGI; SUMATERA BARAT.

ABSTRAK
Nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan komoditas minyak atsiri potensial di Propinsi Sumatra Barat. Produktivitas nilam di tingkat petani masih beragam dan rendah, sebaliknya luas lahan kritis di Sumatra Barat terus bertambah. Untuk meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman nilam di sentra produksi nilam di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatra Barat, dilakukan kegiatan sosialisasi sistem prosedur operasional (SOP) budidaya nilam. Kegiatan dilaksanakan dari bulan Januari sampai Desember tahun 2009, di 3 lokasi yaitu desa Au Kuniang kecamatan Pasaman, kecamatan Talamau dan kecamatan Luhak nan Duo. Kegiatan yang telah dilakukan adalah sosialisasi kegiatan diseminasi budidaya nilam di Pasaman Barat dan diskusi antara penanggung jawab kegiatan dengan anggota kelompok tani dan tim dari Dinas Perkebunan Kabupaten Pasaman Barat. Dari hasil pengamatan secara visual terlihat bahwa pertumbuhan benih nilam cukup cepat, sehingga pada umur 35 HSS ada beberapa benih yang agak tinggi. Selanjutnya untuk menghindari patah dan rebah, maka setiap benih ditunjang dengan ajir. Setelah tanaman sudah kuat dan tegar maka ajir dilepas kembali. Pada umur 4 BST terlihat pertumbuhan tanaman nilam varietas Sidikalang nampak subur, seragam, dan tidak terlihat adanya serangan penyakit utama Budog dan layu bakteri yang bisa menimbulkan kerusakan parah dan kematian bagi tanaman nilam. Kadar dan mutu minyak nilam yang dipanen pada saat panen stek untuk benih pada umur 4 BST cukup tinggi dan memenuhi standar ekspor SNI 06-2385-2006.

ABSTRACT
Patchouli (Pogostemon cablin Benth) are kind of potential essential oil crops in West Sumatra. Productivity of patchouli at farmers level are vary and low. On the contrary, the critical land area in Indonesia especially in West Sumatra are continually increasing. The objective of the activities are to promote some cultivation technology of patchouli to local farmer in the West Sumatra. In the dissemination activities activities of patchouli a permanent farming will be conducted. The activity is promoting cultivation technique of Standard Operational Procedure of patchouli. For increasing land productivity and patchouli in the patchouli production centre in Pasaman Barat Regency, West Sumatra, promoting and socializing a Standard Operational Procedure of patchouli cultivation will be conducted. In the activity, the patchouli varieties of Sidikalang palnted in the seed grower at Pasaman district and at Talamau and Luhak nan Duo districts in the demonstration plot. The activity was carried out from January to December 2009. From the observation results of the first activity it was showed that var. Sidikalang was grow well at Pasaman district and the farmers group was able to produce and to sale more than 32.000 patchouli seeds of varietas Sidikalang at 4 month after planting. The oil content and patchouli alcohol at 4 MAP were high and it was qualified as Indonesian export standard of SNI 06-2385-2006.

005. DJIWANTI, SETYOWATI RETNO
Jahe Putih Toleran (60-70) Terhadap Serangan Nematoda Meloidogyne sp. Dan Hubungan Ketahanannya Terhadap Layu Bakteri Dengan Produktifitas 20 Ton/Hektar/ Setyowati Retno Djiwanti; Nurliani Bermawi. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro ISSN 0853-9456 (2010)p.13-21

JAHE PUTIH; Zingiber officinale Rosc SERANGAN NEMATODA; MELOIDOGYNE SP; LAYU BAKTERI.

ABSTRAK
Dalam rangka memperoleh varietas jahe tahan atau toleran layu bakteri, dilakukan kegiatan penelitian “Jahe putih toleran (60-70%) terhadap serangan nematoda Meloidogyne sp. dan hubungan ketahanannya terhadap layu bakteri dengan produktivitas > 20 ton/ ha”. Penelitian dilakukan di laboratorium dan rumah kaca Balittro, Bogor pada tahun 2009. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi ketahanan 12 aksesi plasma nutfah jahe terhadap nematoda buncak/puru akar Meloidogyne sp. dan hubungan ketahanannya terhadap bakteri layu. Dua belas aksesi jahe diinokulasi dengan bakteri layu Ralstonia solanacearum (1 x 107 spora/ ml) yang sebelumnya telah atau tanpa diinokulasi dengan nematoda (1000 larva/ tanaman). Dua belas aksesi jahe yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Jahe Merah (JM Pengaron, JM Dambung HPH, JM A), Jahe Putih Kecil (JPK A, , JPK C, JPK D, JPK E, JPK G, JPK H, JPK I, JPK X), dan Jahe Gajah/Jahe Putih Besar (Cimanggu 1). Parameter pengamatan adalah insiden gejala layu dan tingkat serangan nematoda. Infeksi nematoda dapat mematahkan tingkat ketahanan jahe terhadap bakteri layu. Aksesi JPK D resisten/tahan terhadap bakteri layu (insiden layu 0,0%) dan relatif toleran terhadap nematoda puru akar (insiden puru relatif rendah). Infeksi nematoda menyebabkan tingkat ketahanan aksesi JPK D terhadap bakteri layu menjadi 20,0% (relatif tahan terhadap bakteri layu). Aksesi JPK H dan aksesi JM Pengaron relatif toleran terhadap bakteri layu (berturut-turut insiden layu 30,0% dan 33,33%), tetapi peka/rentan terhadap nematoda (insiden puru akar tinggi). Infeksi nematoda dapat mematahkan tingkat toleransi JPK H dan JM Pengaron terhadap bakteri layu menjadi rentan (insiden layu 71,43% dan 60,0% berturut-turut). Skrining ketahanan aksesi jahe terhadap bakteri layu, perlu disertai pula dengan skrining ketahanannya terhadap nematoda Meloidogyne sp., dan perlu dilakukan pengujian lebih lanjut pada aksesi JPK D, JPK H dan JM Pengaron terhadap bakteri layu di lapang pada berbagai lokasi yang mempunyai sejarah serangan layu bakteri dan nematoda puru akar.

ABSTRACT
In obtaining the ginger variety which resistant or tolerant against bacterial wilt, research concerning “White ginger tolerant (60-70%) against nematode Meloidogyne sp and its relation to resistancy against bacterial wilt with productivity >20 ton/ha” were carried out in laboratory and green house of Balittro in 2009. Aim of this research was to evaluate the resistency of 12 germplasm accesion of ginger against nematode Meloidogyne sp. and their relation of resistency against bacterial wilt. Twelve accession were inoculated with bacterial wilt (1 x 107 spora/ ml) which had been or had not been inoculated with nematode Meloidogyne larvae (1000 vermiforms/ plant). Twelve accession which were evaluated: red ginger (JM Pengaron, JM Dambung HPH, JM A), small white ginger (JPK A, , JPK C, JPK D, JPK E, JPK G, JPK H, JPK I. JPK X), big white ginger “Cimanggu 1”. Observation parameters were wilt symptom level and nematode infection level. Nematode infection brokedown the resistancy of ginger accession tested. Accession JPK D was resistant to bacterial wilt (wilt incidence 0,0%) and relatively tolerant to nematode infection (gall incidence low). Nematode infection caused the accession JPK D become relatively resistant to bacterial wilt (wilt incindence 20,0%). Accession JPK H and JM Pengaron relatively tolerant to bacterial wilt (wilt incidence 30,0% and 33,33%), but susceptible to nematode (gall incidence high). Nematode infection caused the accession JPK H and JM Pengaron become susceptible to bacterial wilt (wilt incindence 71,43% and 60,0%). Resistance screening of ginger accession against bacterial wilt was neccesary followed by screening against root-knot nematode, and further evaluation of accessions JPK D, JPK H and JM Pengaron against bacterial wilt in the field in several locations which had bacterial wilt and nematode disease history were needed.
Keywords: Zingiber officinale Rosc, bacterial wilt, parasitic nematode, resistency screening.

006. HADIPOENTYANTI, ENDANG
Smaklon Dan Hibrida Somatik Nilam Toleran (60)Terhadap Penyakit Layu Bakteri Dengan Produktivitas 250 Kg/Ha/ Endang Hadipoentyanti; Nasrun; Amalia; Nursalam; Sri Yuni H.; Sri Suhesti. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010)p.167-184.

SOMAKLON; HIBRIDA; SOMATIK; NILAM; LAYU BAKTERI; Pogostemon cablin; R. solanacearum.

ABSTRAK
Serangan penyakit layu bakteri pada nilam menyebabkan kerugian 60-95%. Tidak tersedianya varietas tahan, karena rendahnya ragam genetik akibat perbanyakan vegetatif dengan setek dan sulitnya persilangan konvensional karena nilam Aceh tidak berbunga. Induksi mutasi secara in vitro yang dikombinasikan dengan teknik irradiasi merupakan cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan ragam genetik nilam melalui induksi variasi somaklonal. Tujuan penelitian adalah (a). mengevaluasi ketahanan 17 somaklon nilam terhadap penyakit layu bakteri di rumah kaca (Bogor); (b) Mengevaluasi ketahanan 5 hibrida somatik nilam terhadap penyakit layu bakteri di lapang (Situak Ujung Gading, Pasaman Barat), dengan kadar dan kualitas minyak yang tinggi. Evaluasi ketahanan somaklon di kamar kaca dilakukan dengan inokulasi suspensi R.solanacearum pada konsentrasi 0, 105, 107 dan 109 sel/ml, menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Parameter yang diamati pertumbuhan dan perkembangan tanaman dan intensitas penyakit. Perlakuan pada sub kegiatan Evaluasi ketahanan hibrida somatik di lapang dilakukan di daerah endemik, dengan Rancangan Acak Kelompok, 3 ulangan. Parameter yang diamati masa inkubasi penyakit dan kematian tanaman serta intensitas penyakit, pertumbuhan tanaman dan produksi daun basah. Hasil penelitian menunjukkan 8 somaklon dan 1 varietas pembanding toleran terhadap R. solanacearum di rumah kaca; Hasil penelitian di lapang, hibrida somatik 2 IV /4 dan 9 IV/3 tahan terhadap infeksi penyakit layu bakteri dengan masa inkubasi gejala penyakit lebih panjang yaitu 162,5 dan 158,5 hari setelah tanam, dan intensitas penyakit lebih rendah yaitu 16,8 dan 22,5%, sedangkan varietas pembanding (Sidikalang) memperlihatkan masa inkubasi gejala penyakit 130,4 HST dan kematian tanaman 148 HST (lebih pendek) dan intensitas penyakit 68,5%, lebih tinggi dari hibrida somatik. Pertumbuhan tanaman dan produksi daun basah dan tinggi tanaman terbaik ditunjukkan oleh hibrida somatik 2 IV/4 dan 2 IV/9. Berdasarkan hasil penelitian ini hibrida somatik nilam terbaik yang toleran terhadap penyakit layu bakteri adalah 2 IV /4 dan 2 IV/9. Dari hasil ini dapat dikembangkan hibrida somatik yang tahan terhadap penyakit layu bakteri nilam untuk mengatasi masalah penyakit layu bakteri dan meningkatkan produksi nilam.
Kata kunci:

ABSTRACT
Bacterial wilt disease infection in patchouli cultivation has caused production lost of 60%- 95%. Unavailability of resistant variety due to the lack of genetic variability related to its continuous vegetative propagation and the difficulty in conventional breeding due to the lack of flower initiation of Aceh patchouli. Therefore, in vitro culture-induced mutation combined with irradiation technique could be sufficient to increase genetic variability of patchouli through somaclonal variation. The objective of research were (a) to evaluate resistance of 17 somaclones to bacterial wilts infestation, at the green house level (Bogor); (b) to evaluate resistance of 5 somatic hybrids to bacterial wilts infestation, in the field (Situak Ujung Gading, Pasaman Barat), with the high production and oil yield. Evaluation of somaclones at the green house were performed by innoculation of R.solanacearum suspension at different concentrations e.g. 0, 105, 107 dan 109 cell/ml, arranged in completely randomized block design. Parameters observed were plant growth and development and intensity of pathogen. Treatments of the experiment on somatic hybrids resistance to bacterial wilts were conducted at the endemic area of bacterial wilts disease, using randomized block design, with 3 replications. Parameters observed were time to disease incubation, plant death, and disease intensity, plant growth and fresh weight of leaves. The results showed that, 8 somaclones and control plant (Sidikalang) found to be tolerants to R. solanacearum at the green house level. Further, 2 somatic hybrid, 2 IV /4 and 9 IV/3, were tolerants to bacterial wilts in the field with a longer period of incubation time to disease symptom, 162,5 and 158,5 days, and a lower disease infestation, 16,8 and 22,5%. Control plant (Sidikalang vareity) has an incubation time to disease symptom of about 130,4 days, and plant death after148 days (shorter than others), disease intensity of about 68,5%, higher then somatic hybrids. The besat plant growth and production were shown by somatic hybrids 2 IV/4 and 2 IV/9. Based on this research, two somatic hybrids, 2 IV /4 and 2 IV/9, could be recommended as promissing lines to be developed as a resistant line for increasing patchouli production.

007. JANUWATI, M.
Jamu Untuk Meningkatkan Produktivitas (20) Dan Imunitas (75) Ayam Terhadap Penyakit Flu Burung/ M. Januwati; M. Syakir; Nurliani Bermawie; Nurmaslahah; Desmayati Z. Ening Wiedosari; Agus Setiyono. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010) p.105-118.

JAMU; IMUNITAS; PENYAKIT FLU BURUNG. Avian Influenza, virus H5N1.

ABSTRAK
Beberapa tanaman obat seperti temu-temuan, sirih-sirihan, sambiloto dan meniran memiliki aktivitas sebagai imunomodulator dan bersifat anti virus sehingga berpotensi untuk pengendalian penyakit flu burung yang disebabkan virus Avian Influenza Tipe A, strain H5N1. Penyakit flu burung telah menimbulkan kerugian besar pada ternak unggas dan mulai merebak menyerang manusia. Penanggulangan penyakit flu burung dengan tanaman obat diarahkan kepada peningkatan sistim imun atau bersifat sebagai immunomodulator. Penelitian ini merupakan penelitian tahun kedua yang dimulai sejak 2008. Tujuan penelitian adalah menguji formula jamu ternak berbasis tanaman obat sebagai anti viral terhadap penyakit flu burung pada unggas. Pengujian formula dilakukan pada kandang Biosafety level -3 (BSL-3) dan laboratorium FKH-IPB, Bogor pada Januari – Desember 2009. Ayam diberi perlakuan 7 formula (6 formula Balittro + 1 kontrol), cara pemberiannya dicampur dalam air minum (ad libitum), kemudian dikelompokkan kedalam ayam diberi vaksin A.I. dan non vaksin A.I. Semua ayam mendapat vaksin N.D. dan gumboro. Pada umur 4 minggu dilakukan uji tantang dengan virus H5N1 strain Legok (0.1 ml 106 EID50) di BSL-3. Parameter yang diamati adalah titer anti bodi ND dan AI menggunakan uji serologi HI (Haemaglutination Inhibition), dan pengamatan hispatologi serta gejala klinis yang timbul selama 10 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua formula jamu yang diuji efektif meningkatkan imunitas ternak ayam melalui titer antibodi darah A.I dalam darah. Namun, berdasarkan nilai titer AI tertinggi dan perubahan patologi paling ringan maka formula terbaik adalah formula F6.

ABSTRACT
Some herbal crops such as Zingiberaceae, Piperaceae, King of bitter (andrographis) and Phyllanthus are known as immunomodulator, therefore they could be used as antiviral against Avian Influenza A (H5N1). Nowaday, Avian Influenza A (H5N1) is epizootic (animal outbreak) in Indonesia on domestic poultry in many areas causes millions of poultry died. Recently, the virus is also threaten human being. Study on herbal medicinal crops are directedly on their potential as immunostimulator to improve the immune system against virus infection. This research was the second year started in 2008. The research is aimed to test the antiviral of herbal medicine formula especially in inducting immunity against Avian Influenza A (H5N1) on broiler chicken. The researchs are conducted in a Biosafety level -3 (BSL-3) laboratory and in an ordinary laboratorium (FKH-IPB labortaory) during January – December 2009. The tested chickens were treated with 7 herbal formulas (6 formulas of Balittro + 1 control) via ad libitum (mingled in drinking water), then they were treated with vaccine A.I. or not treated. All the chickens were then treated with vaccine Newcastle Disease (N.D.) and Gumboro. At age 4 weeks, the treated chickens were challenged with H5N1 strain Legok (0.1 ml 106 EID50) in Biosafety level -3 (BSL-3) during 10 day. Parameters observed was titer of anti bodies (ND and AI) using a serological test (Haemaglutination Inhibition), as well as histopathology and clinical symptoms. The results showed that all the formula tested were effective in improving the chicken’s immunity based on their titer of A1 antibody in the blood. However, based on the highest A1 antibody and the mild pathological change in the treated chickens, formula F6 was the best.

008. KRISTINA, NOVA NATALINI
Konservasi 125 Jenis Di Rumah Kaca Dan 30 Jenis In Vitro Plasma Nutfah Tanaman Obat Dan Aromatik/ Natalini Nova Kristina; Wawan Haryudin; Sitti Fatimah Syahid; Siti Aisyah; Dedi Surachman; Totong Sugandi; Suryatna. Laporan Teknis Penelitian 2009. Balittro ISSN 0853-9456 (2010) p.203-221.

RUMAH KACA; PLASMA NUTFAH ;TANAMAN OBAT DAN AROMATIK; KONSERVASI; IN VITRO

ABSTRAK
Kegiatan konservasi tanaman obat dan aromatik terdiri atas 2 sub kegiatan yaitu 1) Konservasi 125 jenis tanaman obat dan aromatik di rumah kaca dan 2) Konservaisi 30 jenis tanaman obat dn aromatik secara in vitro. Kegiatan konservasi tanaman obat dan aromatik di rumah kaca bertujuan untuk memelihara dan memperbanyak tanaman hasil ekplorasi maupun tanaman yang sudah ada. Kegiatan konservasi in vitro dilakukan meliputi pemeliharaan, perbanyakan, penyimpanan minimal, perakaran dan aklimatisasi tanaman, telah dilakukan pada 30 jenis tanaman obat dan aromatik. Hasil dari kegiatan konservasi tanaman obat di rumah kaca, adalah telah dilakukan perbanyakan terhadap tanaman temu-temuan sebanyak 8 jenis 34 akskeksi, sedangkan perbanyakan tanaman obat dan aromatik asal setek sebanyak 15 jenis 51 aksesi. Sampai dengan akhir kegiatan tanaman dapat dipertahankan 125 jenis dengan 402 aksesi, yang meliputi hasil ekplorasi maupun tanaman yang sudah ada. Tanaman yang tumbuh baik di rumah kaca telah di distribusikan ke kebun percobaan lingkup Balittro diantaranya KP. Manoko, KP. Gunung Putri, KP. Cicurug dan KP. Cimanggu. Untuk kegiatan konservasi in vitro adalah terpeliharanya 30 jenis tanaman obat dan aromatik, dengan penambahan beberapa aksesi dan juga didapat data multiplikasi tunas, perakaran, dan aklimatisasi. Untuk kegiatan induksi rimpang mikro, masih pada tahap pembentukan bulu akar yang lebat.

ABSTRACT
Conservation of medicinal and aromatic plants consist of 2 sub-activities, namely 1) 125 conservation of medicinal plants and aromatic in the green house and 2) 30 kinds of medicinal plants and aromatic in vitro conservation. Conservation activities and aromatic herbs in green house aims to maintain and grow the plants and the exploration of existing plants. Conservation activities carried out in in vitro include maintenance, propagation, minimal storage, rooting and acclimatization of plants, have been conducted on 30 types of medicinal and aromatic plant. The result of conservation activities of medicinal plants in a green house, is already done to plant propagation meeting of zingiberaceae 8 of 34 accesion, while the multiplication of medicinal and aromatic plants from cuttings as many as 15 types of 51 accessions. Until the end of the plant can be maintained with 125 types of 402 accessions, which include the result of exploration and existing plants. Plants that grow well in green houses has been distributed to the experimental garden of which the scope Balittro KP Manoko, KP Gunung Putri, KP Cicurug and KP Cimanggu. For in vitro conservation activities is the maintenance of 30 types of medicinal and aromatic plants, with the addition of saveral accessions and also the data obtained bud multiplication, rooting and acclimatization. For micro rhizome induction activities, is still in its formative stage dense root hairs.

009. LABA, I WAYAN
Produk Pestisida Nabati Efektif Menekan Serangan OPT (75) Pada Jahe, Padi, Lada dan Kakao/ I Wayan Laba; Warsi, R.A; Michelia Darwis; Rodiah Balfas; Molide Rizal; Nurmansyah; Mahrita Willis; Siswanto; Jamilus. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010)p.129-146.

PESTISIDA NABATI; JAHE; PADI; LADA; KAKAO.

ABSTRAK
Beberapa jenis tanaman obat dan aromatik diketahui berpotensi untuk mengendalikan hama, seperti hama jahe (Aspidiella hartii dan Mimegralla coeruleifrons), Keong Mas, pengisap buah lada (Dasynus piperis), Helopeltis antonii serta hama dan penyakit pada buah kakao. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan 2-3 jenis tanaman obat dan aromatik yang efektif sebagai pestisida nabati untuk pengendalian hama dan penyakit tersebut di atas. Ada 5 sub kegiatan yang dilakukan. Penelitian dilaksanakan sejak Januari – Desember 2009 di Laboratorium, Rumah Kaca Hama dan Penyakit, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik di Bogor, KP. Laing di Kabupaten Solok, Sumatera Barat serta di lapangan (BPTP Bangka Belitung). Bahan tanaman yang diuji bervariasi tergantung target hama dan penyakitnya, antara lain temu-temuan (jahe, temulawak, lempuyang, jeringau, lengkuas, legundi), tanaman minyak atsiri (cengkeh, serai wangi, serai dapur, akar wangi, kayu manis, nilam), tanaman obat (mahkota dewa, sembung, sambiloto, bubuk lada hitam, kemukus, patah tulang) dan tanaman lainnya (babadotan, legundi, mimba, cente, glirisidia, biji mahoni, tembakau, akar tuba, eceng gondok, cabai merah, CNSL, jarak). Penelitian menggunakan Rancangan Faktorial, Acak Kelompok, dan Acak Lengkap. Jumlah ulangan 3-4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak temulawak dan seraiwangi efektif untuk perlakuan benih jahe yang terserang kutu A. hartii. Serai wangi mempunyai efek penolakan peletakan telur lalat rimpang. Ekstrak tembakau menunjukkan kinerja sebagai pestisida nabati terhadap keong mas. Ekstrak tembakau mampu membunuh 100% keong uji dalam waktu 72 jam setelah aplikasi dengan cara perendaman selama 5 jam. Hasil pengujian beberapa jenis tanaman obat dan aromatik terhadap pengisap buah lada, hanya 6 tanaman yang mempunyai prospek untuk diuji di lapang yaitu : cengkeh, jeringau, lengkuas, bawang putih, jahe dan sirih terhadap pengisap buah Lada. Insektisida nabati nilam dan lada hitam konsentrasi 3,2% tingkat kematian H. antonii tertinggi masing-masing mencapai 60,33% dan 56,66%. Formulasi pestisida nabati minyak seraiwangi dengan aditif minyak daun zeylanikum mempunyai efektifitas yang lebih baik dibanding formulasi pestisida minyak seraiwangi tanpa aditif.

ABSTRACT
Some of medicinal and aromatic crops have a botanical pesticide potential effect in controlling of several pest and diseases on ginger, rice, black pepper, and cacao such as Aspidiella hartii and Mimegralla coeruleifrons, golden snail, sucking insect (Dasynus piperis), Helopeltis antonii and pod rot disease (Phytophthora palmivora) respectivelly. The aim of this research to find out 2 to 3 kinds of medicinal and aromatic crops as a botanical pesticides and effective to control pest and diseases above. Five sub-activities has been done. The experiment were conducted in the Laboratory, Green house of Pest and Diseases Department, Research Institute for Medicinal and Aromatic Crops in Bogor, Research Station in Laing, Solok district West Sumatera and in the field of Research Asessment and Application of Technology in Bangka Belitung Province, since January 2009 to December 2009. Plant material were examined depend of the pest and disease target such as ginger, Curcuma xanthorrhiza, lempoyang plant, jerangau, ginger root, vitex trifolia, aromatic oil plants (clove, serai wangi, fragrant grass, Andropogon ziznioides, cinnamon, patchouli plant), medicinal crops (mahkota dewa, Blumea balsamifera, Andrographis peniculata, dust of black pepper, cubeb, patah tulang) and other plants (babadotan, vitex trifolia, Azadirachtin, cente, glirisidia, mahogany seed, tobacco, akar tuba, Eichornia crassipes, red pepper, CNSL, castor oil plant). Experiments were conducted using factorial experiment design with a randomized block design and a completely randomized design and 3 to 4 replications were used. The result showed that Curcuma xanthorrhiza oil and seraiwangi effective to control A. Hartii on ginger as a seed treatment. Serai wangi has repellent effect for lay egg of A. hartii. Tobacco extract effective to control golden snail on rice plant. Tobacco extract was able to kill of golden snail reached 100% mortality at 72 hours after application, under water method for 5 hours. Research result of several medicinal and aromatic crops to pod sucking insect pest of black pepper indicated that 6 plants such as clove, jeringau, ginger root, garlic, ginger and Piper betle have potential as a botanical pesticide to sucking insect pest on black pepper. Patchouli plant and black pepper with 3,2% concentrations effective to H. antonii with 60.33 and 56.6% mortality respectively. Botanical pesticide formulation to pod rot disease (Phytophthora palmivora) with zeylanicum oil addition to give more effective to pod rot disease (Phytophthora palmivora) compared than serai wangi without zeylanicum oil addition.

010. MA’MUN
Identifikasi Dan Formulasi Tanaman Obat Sebagai Pangan Fungsional Antioksidan/ Ma’mun; Bagem Sofianna S.; Feri Manoi; Shinta Suhirman; Eni Hayani; May Sukmasari; Senen Wahyudiono. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro; ISSN 0853-9456 (2010) p.119-128.

FORMULASI TANAMAN OBAT ;PANGAN FUNGSIONAL; ANTIOKSIDAN.

ABSTRAK
Proses metabolisme didalam tubuh dapat menghasilkan senyawa kimia radikal bebas yang sangat reaktif. Senyawa reaktif tersebut dapat mengoksidasi sel-sel didalam tubuh sehingga menimbulkan kerusakan pada jaringan tubuh serta menimbulkan penyakit-penyakit degeneratif, seperti jantung koroner, diabetes, darah tinggi, penuaan dini dan sebagainya. Salah satu tindakan untuk mencegah atau mengurangi aktivitas radikal bebas tersebut adalah dengan mensuplai bahan-bahan yang dapat mereduksi aktivitas radikal bebas tersebut kedalam tubuh. Bahan-bahan tersebut merupakan senyawa-senyawa kimia yang digolongkan sebagai tannin, fenolik, flavonoid dan terpenoid, bersifat antioksidan dan banyak terkandung didalam tumbuhan termasuk tanaman obat. Penelitian ini menggunakan beberapa tanaman obat, yaitu lengkuas, pegagan, mengkudu, kulit manggis dan ashitaba, bertujuan untuk mempelajari karakteritik kimiawi dari bahan-bahan tersebut, aktivitas antioksidan dan pembuatan formula minuman fungsional yang berkhasiat antioksidan dari bahan tanaman obat tersebut. Penelitian meliputi karakterisasi bahan baku, ekstraksi, identifikasi komponen kimia, uji aktivitas antioksidan serta pembuatan minuman fungsional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan tanaman obat mengandung berbagai senyawa kimia, diantaranya bersifat antioksidan. Sifat antioksidan pada masing-masing bahan berbeda dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik genetik, lingkungan maupun perlakuan pengolahan. Daya antioksidan dari pegagan, lengkuas, mengkudu, ashitaba dan manggis masih lebih rendah bila dibandingkan dengan antioksidan komersial, yaitu Butil hidroksi toluena (BHT). Produk minuman fungsional antioksidan yang dibuat dari bahan alam, mutunya sangat dipengaruhi oleh perlakuan-perlakuan diantaranya pengeringan dan pemanasan, walaupun secara organoleptik masíh dapat diterima.

ABSTRACT
Metabolic processes within the body can produce free radical chemical compounds which are highly reactive. These reactive chemicals can oxidize the cells in the body that cause damage to body tissues and cause degenerative diseases, such as coronary heart disease, diabetes, hypertension, premature aging and so on. Any effort to prevent or reduce the free radical activity is to supply the materials that can reduce the activity of free radicals into the body. These materials are chemical compounds act as antioxidant agent, such as as tannins, phenolic, flavonoids and terpenoids, and are found in many plants including medicinal plants. This study uses several medicinal plants, namely galangal, Centella asiatica, nony, mangosteen skin and ashitaba, aims to study the chemical characteristics of these materials, antioxidant activity and the formulation of a functional beverage antioxidant formula from medicinal plant materials. The research includes characterization of raw materials, extraction, identification of chemical components, test and formulation of antioxidant functional beverages. The results showed that medicinal plant materials contain various chemical compounds, including antioxidants. Antioxidant properties of each material is different and influenced by various factors, such as genetic and environmental aspects, and processing treatment. Antioxidant activity of Centella asiatica, galangal, nony, ashitaba and mangosteen are lower than commercial antioxidants, such as Butyl hydroxytoluene (BHT). The quality of functional antioxidant beverage products made from natural materials is strongly influenced by the treatments including drying and heating, however it is organoleptically acceptable.

011. RAHARDJO, MONO
Pengembangan Kelembagaan Perbenihan Tanaman Obat Dan Aromatik/ Mono Rahardjo; Sukarman; Sri Wahyuni ; Deliah Seswita; Tri Lestari M.; Repianyo; Enjang. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010)p.281-287

PRODUKSI BENIH SUMBER; PENANGKAR BENIH; TANAMAN OBAT DAN AROMATIK

ABSTRAK
Balittro telah memiliki benih penjenis dari berbagai varietas, baik yang sudah dilepas maupun yang segera dilepas. Sampai saat ini benih untuk pengembangan tanaman obat dan aromatik masih dipasok dari pertanaman petani (varietas lokal), dan sering berasal dari varietas yang tidak jelas asalnya, istilah lainnya adalah benih asalan (kladestin seed) sehingga produktivitas tanaman di tingkat petani masih rendah. Oleh karena itu perlu dibina penangkar benih yang dapat memproduksi benih tanaman obat di tingkat petani. Tujuan penelitian adalah mendapatkan 3 petani penangkar yang andal untuk benih nilam, jahe, kencur, kunyit dan temulawak. Pembinaan terhadap petani penangkar benih dilakukan melalui pemberian sumbangan benih dan saprodi (pupuk), sosialisasi SOP produksi benih dan diharapkan melalui pembinaan tersebut akan diperoleh petani penangkar benih yang andal. Teknologi budidaya seperti cara tanam, pemeliharaan tanaman dan pengendalian organisme pengganggu akan dilakukan berdasarkan standar operasioanal prosedur (SOP) budidaya untuk masing-masing komoditas. Hasil penelitian adalah telah dibina 6 orang penangkar benih, terdiri atas tiga penangkar benih nilam (dua di Sukabumi dan satu di Bandung), satu penangkar benih kunyit dan kencur di Cileungsi, satu penangkar benih jahe putuh besar dan jahe putih kecil di Sumedang dan satu penangkar jahe merah di Sukabumi.

ABSTRACT
Balittro has breeder seeds of various plant varities that has been released or soon will be released. Up to now, seeds for developing medicinal and aromatic plants are still supplied from farmer plantation (local variety), and often comes from variety not known its source, another term is kladestin seed, so that productivity in farmer level is still low. Therefore, breeding of mother seeds must be carried out truely, and needed supevising seed grower farmers. The objectives of research were to obtain 3 trained grower farmers for seeds of patchouli, ginger, Indian galanga, turmeric and temulawak. Supervising seed grower farmers of patchouli, ginger, Indian galanga, turmeric and temulawak. Supervising to seed grower farmers is conducted through provision of seed and fertilizer donation, sosialization SOP of seed production and expected through that supervising, trained seed grower farmer will be obtained. Cultivation technology such as method of planting, maintenance of plants and control of plant disturbing organisms will be carried out base on cultivation standar operasional procedure (SOP) for each commodity. The results of rtesearch were six trained grower farmers, three trained grower farmers for seeds of patchouli (Bandung and Sukabumi), one trained grower farmers for turmeric and indian galanga (Cileungsi), one trained grower farmers for ginger (Sumedang), one trained grower farmers for red ginger (Sukabumi).

012. RAHARDJO, MONO
Produksi Benih Sumber Tanaman Obat Dan Aromatik/ Mono Rahardjo; Sukarman; Sri Wahyuni; Deliah Seswita; Tri Lestari M.; Repianyo; Enjang. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010) p.263-279.

PPRODUKSI BENIH SUMBER; Cymbopogon nardus; Pogostemon cablin; Zingiber officinale; Kaempferia galangal; Curcuma domestica; Curcuma xanthorriza; Centella asiatica L.; Mentha sp.; dan Artemisia annua L.;

ABSTRAK
Balittro telah memiliki benih penjenis dari berbagai varietas, baik yang sudah dilepas maupun yang segera dilepas. Sampai saat ini benih tanaman obat dan aromatik masih dipasok dari pertanaman petani (varietas lokal) yang sering berasal dari varietas yang tidak jelas asalnya (benih asalan; kladestin seed) sehingga produktivitas tanaman di tingkat petani masih rendah. Oleh karena itu perlu disediakan benih sumber yang berkualitas tinggi memenuhi kriteria mutu genetik, fisiologis dan fisik, agar produktivitas tanaman meningkat. Tujuan penelitian adalah menghasilkan benih sumber (kelas benih dasar sampai benih sebar) beberapa tanaman obat dan aromatik seperti jahe, nilam, kencur, kunyit, temulawak, pegagan, mentha, dan artemisia, serta benih sumber tanaman obat dan aromatik berkualitas tinggi dan sehat di Emplasement Cimanggu. Kegiatan produksi benih sumber nilam varietas Sidikalang dilakukan di KP. Cicurug dan Cimanggu masing-masing 0,5 ha, serta di KP. Cibinong 0,25 ha; benih sumber kencur (Galesia 1, 2, dan 3) seluas 0,3 ha di KP. Cibinong; benih sumber JPB Cimanggu 1 seluas 1 ha, JM seluas 0,3 ha dan JPK seluas 0,30 di KP. Cicurug; kunyit (Turina 1, 2 dan 3) seluas 0,30 ha di KP. Cibinong, 3 calon varietas temulawak seluas 0,6 ha di KP. Cibinong; calon benih sumber pegagan 0,10 ha di KP. Cibinong, dan artemisia 0,05 ha di KP. Gunung Putri, mentha 0,10 ha di KP. Cicurug. Selain kegiatan tersebut, juga akan dilakukan pemeliharaan kebun emplasemen nilam, serai wangi, temu lawak, jahe, kunyit dan kencur di Cimanggu. Hasil penelitian diperoleh benih nilam di tiga lokasi KP. Cicurug, Cimanggu dan Cibinong kurang berhasil dengan baik dihasilkan 10.000 setek, dan rencana ditanam di KP. Manoko (2010). Kondisi tanaman jahe pada masa vegetatif sangat baik, tetapi menjelang panen terjadi hujan terus-menerus sehingga produksi rimpang jahe putih besar (7.881 kg), jahe putih kecil 140 kg di KP Cicurug hasil rimpangnya tidak layak sebagai benih karena banyak rusak dan tumbuh kembali. Sedangkan jahe merah 250 kg, kencur sebanyak 430.5 kg, terdiri dari G1 (132,5 kg), G2 (128 kg) dan G3 (170 kg). Hasil kunyit dari tiga varietas dari KP Cibinong diperoleh sebanyak 3.690 kg, setelah dilakukan sortasi diperoleh sebanyak 340 kg rimpang tidak layak untuk benih, dan sebanyak 640 kg rimpang induk. Temulawak dan jahe merah tidak dipanen karena tidak ada yang memerlukan dan diharapkan bisa dipertahanlan hidup kembali untuk tahun berikutnya. Tanaman seraiwangi tetap dipertahankan di lapang, demikian juga pegagan, mentha dan arthemisia.

ABSTRACT
Balittro has breeder seeds of various plant varities that has been released soon will be released. Up to now, seeds for developing medicinal and aromatic plants are still suppied from farmer plantation (local variety), and often comes from variety not known its source, another term is kladestin seed, so that productivity in farmer level is still low. Therefore, high quality mother seeds fulfill genetic quality criteria, physiolgic and physic need to be provided in order to increase plant production. The objectives of research were to produce mother seeds (class of foundation seed to extention seed) of medicinal and aromatic plants i.e ginger, patchouli, indian galanga, turmeric, javanese turmeric, Centella asiatica, mint and arthemisia and mother seeds of high quality and healthy medicinal and aromatic plants in Cimanggu Emplacement. Production mother seeds of patchouli variety of Sidikalang conducted in Cicurug and Cimanggu, each 0.5 ha, and in Cibinong 0.25 ha, mother seeds of indian galanga (Galesia 1, 2 and 3) 0.3 ha in Cibinong, mother seeds of Big White Ginger (JPB – Cimanggu 1) aproximately 1 ha, Red Ginger (JM) aproximately 0.3 ha and Small White Ginger (JPK) aproximately 0.3 in Cicurug, mother seeds of turmeric (Turina 1, 2 and 3) aproximately 0.3 ha in Cibinong, mother seeds of 3 candidates of temulawak variety 0.6 ha in Cibinong, mother seed candidates of Centella asiatica 0.1 ha in Cibinong, and arthemisia 0.05 ha in Kp Gunung Putri, mint 0,1 ha in Cicurug. Beside those activities, maintenance of emplacement garden of patchouli, citronella, temulawak, ginger, turmeric and Indian galanga in Cimanggu will be carried out. Production patchouli seeds in three locations KP Cicurug, Cimanggu and Cibinong less successs, only produced 10.000 cuttings, and plan will be planted in KP Manoko. Condition of ginger plant in vegetative stage was very good. However, approaching harvest time, rain happened continously so that rhizome of big white ginger, small white ginger in KP Cicurug grew again, so that production of ginger rhizomes were not reasonable as seeds. Production of big white ginger 7.8881 kg, after wind dried, sorted from the damage so that became 4.625 kg, rhizomes damage 328 kg and the loss 33.27% or 2.928 kg. While production of small white ginger reached 140 kg and red ginger 250 kg. Production of Indian galanga 430.5 kg, consisted of G1 (132,5 kg), G2 (128 kg) and G3 (170 kg). Results of turmeric from three varieties from KP Cibinong 3.690 kg, after sorted, 340 kg of rhizomes not suitable for seed were obtained, and 640 kg mother rhizomes. Temulawak and red ginger were not harvested because of no request, and the plants can rejuvinate in the field. Citronella plants were maintained in the field, also Centella asiatica, mint and arthemisia plants.

013. ROSTIANA, OTIH
Somaklon Jahe Putih Besar 60-70 ToleranTerhadap Layu Bakteri/ Otih Rostiana; Siti Fatimah S.; Supriadi ;Wawan Haryudin; Dedi Surahman; Siti Aisyah; Nuri Karyani. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010) p.1-11.

SOMAKLON; JAHE PUTIH BESAR; LAYU BAKTERI; Zingiber officinalle Rosc.; SELEKSI in vitro; R. solanacearum,; FILTRAT BAKTERI; Acibenzolar-S-Methyl,

ABSTRAK
Penyakit bakteri layu pada jahe yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum, sampai saat ini masih merupakan kendala besar yang belum dapat diatasi. Beberapa usaha pengendalian masih belum efektif, terutama karena belum ada varietas jahe yang tahan terhadap R. solanacearum. Terbatasnya sumber gen ketahanan dan hambatan fisiologis pada tanaman jahe karena adanya sifat inkompatibilitas sendiri serta rendahnya fertilitas polen, menjadi kendala dalam upaya memperoleh varietas jahe tahan penyakit. Alternatif pendekatan lain adalah menginduksi keragaman genetik varietas unggul jahe berproduksi tinggi melalui seleksi in vitro pada tingkat kalus dengan menggunakan medium selektif. Tujuan penelitian adalah memperoleh kalus jahe tahan terhadap R. solanacearum menggunakan filtrat R. solanacearum, bakteri endofit Pseudomonas sp. dan Acibenzolar-S-methyl sebagai agen seleksi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Plasma Nutfah dan Pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Hasil penelitian menunjukkan, penggunaan filtrat R. solanacearum dan filtrat bakteri non patogen, serta elisitor kimia Acibenzolar-S-methyl di dalam medium dapat menurunkan pertumbuhan kalus jahe (bobot kalus maupun diameter serta perkembangan embrio somatik dengan tingkat yang berbeda, juga menimbulkan gejala nekrosis pada sel-sel kalus bagian luar). Sifat pertumbuhan kalus hasil seleksi yang lambat tersebut berlanjut pada fase regenerasi. Daya regenerasi kalus hasil seleksi, lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan asal kultur in vitro tanpa tekanan seleksi. Selain itu, kemampuan adaptasinya pada lingkungan in vivo juga lebih rendah dari planlet pada sistem regenerasi jahe tanpa media selektif. Namun, dari masing-masing populasi yang berhasil diaklimatisasi menunjukkan bahwa beberapa di antaranya dapat tumbuh lebih baik, yaitu vigor tanaman yang lebih kokoh. Hal ini menunjukkan bahwa sifat ketahanan di dalam jaringan telah terinduksi. Hasil inokulasi terhadap tanaman di kamar kaca terlihat bahwa populasi somaklon AC-1 yang berasal dari medium selektif mengandung 30% Acibenzolar-S-methyl menunjukkan gejala layu paling tinggi (29,63%) pada 24 hari setelah inokulasi, sedangkan populasi somaklon FA yang berasal dari medium selektif mengandung filtrat R. solanacearum 3%, tidak menunjukkan gejala layu sama sekali (0%) dengan vigor tanaman sehat dan kuat. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa induksi ketahanan kalus jahe melalui seleksi in vitro menggunakan filtrat R. solanacearum dan elicitor kimia (ASM) berpeluang untuk memperoleh varian jahe baru (somaklon) yang lebih toleran terhadap layu bakteri, yaitu pada populasi somaklon FA, FIPLA, FB dan AC-1.

ABSTRACT
Bacterial wilt caused by R. solanacearum is the main constraint in ginger cultivation. Various experiments had been carried out to control the disease, but until now effective method for controlling the disease has not been achieved due to unavailability of resistant variety. Limited genetic variability and physiological constraint i.e. low pollen fertility and self-incompatibility are the main problems in creating disease resistant variety of ginger. The study was aimed to improve genetic resistant of ginger callus through in vitro selections by using selective medium supplemented with ellisitors such as filtrates of the pathogen (R. solanacearum) and non pathogenic bacteria (Pseudomonas sp.), as well as using chemical agent (Acybenzolar-S-methyl). The study was conducted in the laboratory of Genetic Resources and Breeding of the Indonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institute. The results showed that, the use of filtrates of pathogen and non pathogen bacteria as well as chemical agents, decreased the growth of calli, i.e. callus weight and diameter and the development of somatic embryo, and the necrotic response were also observed at the periphery cell. Slow growth characteristics of selected calli were persisted on their regeneration phase. Their regeneration capacity remained lower than that of usual ginger calli grown on medium without selection pressure, as well as their ability to be acclimatized. However, some of those acclimatized plantlets shown better growth and vigor. Suggesting that resistant characteristic has been induced on the ginger tissue derived from in vitro selection. Based on R. solanacearum suspension inoculation to somaclones and their control plants (JPB and JM), AC-1 population, somaclones derived from selective medium consisted of 30% Acibenzolar-S-methyl, showed the highest (29.63%) wilted shoots symptom at 24 days after inoculation. Meanwhile, all FA populations, somaclones derived from selective medium consisted of 3% R. solanacearum filtrate, remained strong and shown good vigor, without any wilted shoots symptom. The study implies that there is a possibility to obtain novel variant of ginger (somaclones) in the FA, FIPLA, FB and AC-1 populations which are tolerant to bacterial wilt through in vitro selection by using R.solanacearum filtrate and chemical elicitor (ASM).

014. SALEH, ARSIL
Diseminasi Inovasi Dan Informasi Hasil Penelitian Tanaman Obat Dan Aromatik /Arsil Saleh; Molide Rizal; Tri Eko Wahyono; Ireng Darwati; Rushendi. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010)p.289-305.

DISEMINASI; INOVASI; INFORMASI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK

ABSTRAK
Berbagai produk penelitian tanaman obat dan aromatik (TOA) yang telah banyak dihasilkan oleh Balittro belum mampu dioptimalkan oleh para pelaku usahatani TOA. Salah satu penyebabnya adalah masih rendahnya tingkat penyerapan teknologi hasil penelitian di tingkat pengguna/petani karena komunikasi yang belum lancar antara Balittro sebagai penghasil teknologi dengan pengguna. Untuk memperlancar dan mempercepat arus informasi dari penghasil ke pengguna teknologi, perlu upaya penyebaran informasi hasil penelitian dengan mempertimbangkan kelompok sasaran yang hendak dicapai, bentuk dan isi pesan yang akan disampaikan, serta cara dan bentuk media diseminasi yang akan digunakan. Diseminasi hasil penelitian TOA dilaksanakan melalui 6 kegiatan, yaitu: 1) Ekspose, pameran, dan Open House; 2) Publikasi hasil penelitian, 3) Kerjasama; 4) Koordinasi Alih Teknologi (KAT); 5) Penyelenggaraan perpustakaan; dan 6) Seminar Rutin. Hasil kegiatan yang telah dicapai adalah: 1) Mengikuti dan melaksanakan 10 kali ekspose dan pameran, 2) Penerbitan Buletin TRO Vol 20 dan Perkembangan Teknologi TRO Vol 21, 3) Publikasi dalam bentuk media elektronik dan pengembangan website, 4) Melaksanakan 9 kali seminar rutin, 5) Terwujud 11 judul kegiatan penelitian kerjasama (2 RIT dan 9 KKP3T); 6) MoU dengan PT SOHO dan PT Sinergi Alam Bersama, serta MU pemanfaatan lahan dengan petani; 7) Melaksanakan 7 kali pelatihan dan magang alih teknologi; 8) Fotocopy bahan pustaka dan penjilidan buku koleksi, sosialisasi pendokumentasian bahan pustaka, tambahan koleksi 66 judul buku; 56 judul laporan/prosiding; 97 judul majalah (321 ekspl); entri data database perpustakaan; dan 9) pelaksanaan sebanyak 9 kali seminar rutin.

ABSTRACT
Various research products relating to medicinal and aromatic crops (TOA) produced by IMACRI still could not be maximised by the farmers of TOA. It is caused by low level in technology adoption by the user/farmer due to communication that has not yet been fluent between Balittro as the producer and the user. To speed up the information flow (from the producer to the user of technology) of the information, it is needed to consider the target group to be reached, content of information, as well as the method and the format of the dissemination media to be used. Dissemination programs were carried out through 6 activities: 1) Expose/exhibition and Open House; 2) Publication of the research results, 3) Research Colaboration; 4) Coordination of Technology Transfer; 5) Library Service; and 6) the Routine Seminar. Results achieved by the above activities were: 1) Carried out and took part in 10 exhibition events, 2) Publication of the TRO Bulletin Vol 20 and the Technology Development of TRO Vol 21, 3) Produced electronic publication and maintenance and development of website, 4) carried out 9 times of the routine seminar, 5) implementation of 11 titles of collaborative research; 6) Signed MoU with PT SOHO and PT Sinergi Alam Bersama, as well as land rent agreement with farmers; 7) carried out 7 training activities in the technology transfer; 8) Photocopy the book material and binding of the collection book, the socialisation of the documenting of the book material, addition of titles of collection book; 56 titles of report/prosiding; 97 titles of magazine (consisting of 321 exemplar); data entry of the library’s database; and 9) the implementation totalling 9 times of the routine seminar.

015. SESWITA, DELIAH
Uji Adaptasi Varietas Unggul Akar Wangi Produksi Tinggi ( 40 Kg/HA Minyak) Dan Mutu Tinggi (Kadar Vetiverol 50) Pada Tiga Agroklimat/Deliah Seswita; Cheppy Syukur; Endang Hadipoentyanti; Repianyo; Suryatna; T. Sugandi. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010) p.33-44.

VARIETAS UNGGUL; AKAR WANGI; Vetiveria zizamiodes Stapf; UJI ADAPTASI; KARAKTER MORFOLOGI; PRODUKSI; KADAR MINYAK

ABSTRAK
Balittro telah memiliki beberapa nomor harapan akarwangi hasil seleksi yang perlu diuji multi lokasi untuk persiapan pelepasan varietas. Penelitian uji adaptasi dilakukan pada tiga agroklimat berbeda. Kegiatan tahun 2009 merupakan pengamatan terhadap pertanaman yang ditanam tahun 2008 dan kegiatan penanaman kedua tahun 2009. Penelitian dilaksanakan mulai Januari sampai Desember 2009. Penelitian dilakukan di Kabupaten Garut pada tiga lokasi dengan kondisi agroekologi berbeda, yaitu di Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang; Desa Pada Awas, Kecamatan Pasir Wangi; dan Desa Cinta Negara, Kecamatan Cigedug. Di setiap lokasi ditanam lima nomor calon varietas unggul akarwangi, yaitu nomor M1, M2, M3, M4 dan PW, serta varietas lokal (L) sebagai pembanding. Jarak tanam 70 x 50 cm, populasi per petak 50 tanaman masing-maisng dengan 3 anakan. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok yang diulang 5 kali. Parameter pertumbuhan yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah anakan, karakter daun, rendemen minyak dan kualitas minyak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur 9 bulan, daun tanaman akarwangi mulai kuning +45 %, dan pada saat panen (umur 11,5 bulan) kondisi tanaman terlihat sehat dan kuat. Secara umum pertumbuhan dan produksi akarwangi pada percobaan di Desa Sukakarya lebih baik dibandingkan dengan di dua lokasi lainnya, yaitu Desa Pasir Wangi dan Desa Cinta Negara. Akarwangi nomor M2 menunjukkan karakteristik paling baik dari ketiga lokasi pengujian, dan berat kering akar tertinggi, masing-masing 3278,76 kg/ha , 2248,14 kg /ha dan 2365,62 untuk tanaman akar wangi di Desa Samarang, Pasir Wangi dan Cinta Negara Hasil analisis kadar minyak menunjukkan bahwa kadar minyak tertinggi (2,86%) dihasilkan oleh nomor M3 berasal dari Desa Cinta Negara, sedangkan kadar vetiverol tertinggi (60,65%) dihasilkan oleh nomor M3 berasal dari Desa Sukakarya. Dengan demikian maka akar wangi nomor harapan M2 memperlihatkan karakter yang paling unggul dan berpotensi untuk dilepas sebagai varietas unggul.

ABSTRACT
Balittro has several promising lines of vetiver to be tested in multi locations to support its releasing variety. The study was conducted in three different agroecosystems in Garut, such as Village Sukakarya, Sub Distrect Samarang; Village Pada Awas, Sub distrect Pasir Wangi; dan Village Cinta Negara, Sub distrect Cigedug. In each location, it was tested 5 promising lines of vetiver, i.e. M1, M2, M3, M4 and PW, as well as one local variety (L) lins standart line. Plant spacing was 70 x 50 cm, number of population per plot was 50 plants having 3 shoots each. Experimental design was a Randomized Block, 5 replicates. Parameters observed were plant height, number of shoots, characteristics of the leaf, oil content, and physico-chemistry of the oil. The results showed that all the six accessions grown well in all locations. Nine months after planting the leaves became yellowing (+45 %), and 11,5 months old, the plants grew healthy and strong. In general, the growth of M2 performed the best characters, based on its weight i.e, 3278,76 kg/ha , 2248,14 kg /ha and 2365,62 at Samarang, Pasir Wangi and Cinta Negara village, respectively. However, based on the vetiver oil content promising lines grown in Sukakarya village were better than those in others locations . In both locations, M4 from Cinta Negara village was the best in vertiver oil content (2.86%); whereas the highest vetiverol content was shown by M3 (60,65%) grown in Village Sukakarya. M2 line showed the highes performence of most characters observed and it is potential for superior variety releasement.

016. SUKAMTO
Pengendalian Penyakit Budok Pada Tanaman Nilam Dengan Efektifitas 60-70/ Sukamto; Dono Wahyuno; Zulhisnain. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro; ISSN 0853-9456 (2010)p.157-165.

Pogostemon cablin Benth, PENYAKIT, Synchytrium sp. PENGENDALIAN HAYATI

ABSTRAK
Tanaman nilam merupakan tanaman tropik yang banyak dibudidayakan di Indonesia, dan lebih dari 80% dari produksi minyak dunia di pasok dari Indonesia. Masalah utama dalam budidaya nilam di Indonesia adalah adanya serangan hama dan penyakit, dan terjadi alelopati. Beberapa penyakit telah dilaporkan dan menjadi masalah di Indonesia antara lain penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum), nematoda dan penyakit budok. Sampai saat ini varietas tahan terhadap penyakit khususnya budok belum ditemukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komponen pengendalian penyakit budok di lapang. Penelitian dilakukan di desa Sumurwiru, kecamatan Cibeureum, kabupaten Kuningan yang merupakan daerah endemik penyakit budok. Perlakuan terdiri dari 1. Fungisida (bahan aktif benomil), 2. Pestisida nabati, 3. Rhizobakteri (Micrococcus sp. dan Pseudomonas sp.), 4. Fungisida + pestisida nabati, 5. Fungisida + rhizobakteri, 6. pestisida nabati + rhizobakteria, dan 7. Kontrol (tanpa perlakuan). Rancangan perlakuan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan.
Hasil penelitian pertama mengindikasikan bahwa Penggunaan komponen pengendalian fungisida (bahan aktif benomil), pestisida nabati (minyak cengkeh dan seraiwangi), agensia hayati (Mirococcus sp. dan Pseudomonas sp.) dapat menekan intensitas penyakit berturut-turut 23,15%, 19,10% dan 28,45%. Sedangkan perpaduan beberapa komponen tersebut dapat menekan penyakit budok sebesar 35,50% – 47,97%. Serangan penyakit budok berkembang dengan pesat pada saat musim hujan, dan serangan banyak terjadi pada daun muda/tunas baik pada bagian bawah maupun atas tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian penyakit seharusnya dilakukan dengan memperhatikan epidemiologi penyakit.

ABSTRACT
The patchouli plant is tropical crop and areas of commercial cultivation are located mainly in Indonesia, which accounts for over 80% of world’s patchouli oil production. The main problem in patchouli oil cultivated in Indonesia are the present of pest dan diseases, and occurence of allelopathy. Patchouli oil plants in Indonesia has been reported to be affected by wilt disease (Ralstonia solanacearum), nematode and “budok” disease (Synchytrium sp.). Up to present, resistant varieties of patchouli against plants disease especially for budok disease is not available yet in Indonesia. The objectivity of research was to control of budok disease by several component technology with efficiency up to more than 70%.The research was conducted in Sumurwiru village, Cibeureum district, Kuningan Regency as an endemic area for budok disease. The treatment of activities were 1. Fungicide (benomil active ingredients), 2. Botanical pesticide (clove oil and Citronella oil), 3. Rhizobacteria (Mirococcus sp. dan Pseudomonas sp.), 4. Fungicide + botanical pesticide, 5. Fungicide + rhizobacteria, 6. Botanical pesticide + rhizobacteria, and 7. Control. The treatment were arranged in in Block Randomiced Design with 4 replications. The parameters observed were incubated period showed the symptoms disease and plant died, also diseases intensity. The results of experiment indicated that fungicide (benomil active ingredients), botanical pesticide, and rhizobacteria can suppress the disease intensity of budok with 23.15%, 19.10% and 28.45% respectively. While the combination of several components were better in suppressing disease intensity of budok (35.50% – 47.97%). Budok disease / develop well during the rainy season, and many attacks occur in young leaves/shoots either at the bottom or top of plants. This indicate that the disease control techniques should be followed budok diseases epidemiology pathogen.

017. SYAHID, S. FATIMAH
Uji Adaptasi Calon Varietas Unggul Kunyit Dengan Produksi 20 Ton/ha, Kandunagn Kurkumin 7 Toleran Naungan/ Sitti Fatimah S.; Cheppy Syukur; Natalini Nova K.; Joko Pitono; Dono Wahyuno; Mahrita; Idris; Ermiati; Wawan Lukman; Pujo Hasapto; Totong Sugandi. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro ISSN 0853-9456 (2010) p.61-74.

CALON VARIETAS UNGGUL; KUNYIT; KANDUNGAN KURKUMIN. Curcuma domestica; UJI ADAPTASI; PERTUMBUHAN; PRODUKSI

ABSTRAK
Uji adaptasi calon varietas unggul kunyit dengan produksi > 20 ton/ha dengan kandungan kurkumin > 7 % toleran naungan, dilaksanakan mulai bulan Januari sampai Desember 2009 pada tiga lokasi di Jawa Tengah yaitu Beringin, Kabupaten Semarang, Nogosari dan Simo Kabupaten Boyolali. Sebanyak 8 calon varietas unggul kunyit dan satu nomor lokal petani di tanam di bawah tegakan jati. Jarak tanam kunyit yang digunakan 50 x 50 cm dan populasi dalam plot sebanyak 48 tanaman. Rancangan yang digunakan adalah Acak kelompok dengan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah 8 calon varietas unggul dan satu nomor lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman umur 5,5 bulan bervariasi antara setiap lokasi dan pertumbuhan vegetatif paling maksimal diperoleh pada lokasi Nogosari Kabupaten Boyolali. Di lokasi ini sebagian besar calon varietas unggul Balittro mampu beradaptasi dengan baik. Di lain pihak, di lokasi Beringin dan Simo sebagian besar tanaman masih dalam taraf adaptasi di bawah tegakan jati sehingga pertumbuhan dan produksi belum maksimal. Kandungan kurkumin kunyit bervariasi dari ketiga lokasi. Secara keseluruhan, calon varietas unggul 08 terlihat unggul dalam kadar kurkumin di dua lokasi (Semarang dan Simo). Analisis mutu bervariasi. Secara umum, semua calon varietas unggul kunyit memiliki kadar minyak atsiri sesuai standar mutu obat (> 3%). Produksi rimpang untuk tahun pertama rendah di dua lokasi (Semarang dan Simo) dan sedang di lokasi Nogosari. Penanaman tahun ke-dua sudah dilakukan untuk semua calon varietas unggul kunyit pada awal November 2009 di ketiga lokasi.

ABSTRACT
Adaptation test for shade tolerant tumeric with rhizome yield of 20 ton per Ha and curcumin content more than 7% was conducted from January to December 2009 at three locations in Central Java (Beringin, Semarang district, Nogosari and Simo, Boyolali district). Eight promising lines of turmeric and one local variety were used as plant materials planted under six years old teak plantation. Plant spacing used was 50 x 50 cm with 48 plants/plot. Experiment was arranged in Randomized Block Design with three replications. The result showed that plant growth component at 5.5 month after planting were varied, and the maximal plant growth were found at Nogosari (Boyolali). At these location, all of the turmeric promising lines grown well. On the other hand, most of the plants planted in Beringin and Simo still being adapted to the teak plantation environment. So than their growth and rhyzome production were not beable to be better then the expectasion. Curcumine content were varied between three locations. Superior candidate of 08 showed the highest curcumine content (>7%) at two locations. Quality of the nine tested lines were also varied, however all of the superior lines shown a high oil content > 3% . At the first year, rhyzome yield at Beringin and Simo locations were low, but higher at Nogosari. All of the turmeric promising lines were replanted in the same location on November 2009 for the second years planting season.

018. SYAKIR, M.
Pemupukan Kalium Untuk Meningkatkan Ketahanan Tanaman Nilam Terhadap Organisme Pengganggu Tanaman Utama/ M. Syakir; Gusmaini; Sukamto; Nur Maslahah; M. Rizal. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro ISSN 0853-9456 (2010) p.185-192.

KALIUM; HASIL; HAMA; PENYAKIT; NILAM

ABSTRAK
Tanaman nilam merupakan tanaman yang sudah lama dibudidayakan namun produktivitas dan mutu yang dihasilkan masih rendah. Rendahnya produktivitas dan mutu minyak tersebut antara lain disebabkan teknologi budidaya yang masih sederhana, dan berkembangnya penyakit, seperti penyakit layu bakteri dan budog, serta hama yang disebabkan oleh nematoda. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh sumber dan dosis kalium yang tepat di dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman nilam, serta tahan nilam terhadap organisme pengganggu tanaman. Kegiatan ini merupakan penelitian lapang yang dilakukan di Kuningan Jawa Barat, dari bulan Januari hingga Desember 2009. Rancangan yang digunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap, faktor tunggal, 9 perlakuan dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari: 1) kontrol, 2) dosis KCl sebesar 4,5 g/tan, 3) dosis KCl sebesar 9 g/tan, 4) dosis KCl sebesar 13,5 g/tan, 5) dosis KCl sebesar 18 g/tan, 6) dosis K2SO4 sebesar 4,5 g/tan, 7) dosis K2SO4 sebesar 9 g/tan, 8) dosis K2SO4 sebesar 13,5 g/tan, 9) dosis K2SO4 18 g/tan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa jenis dan dosis kalium meningkatkan pertumbuhan dan produksi secara nyata. Perlakuan dengan dosis 9 g KCl/tanaman memberikan pertumbuhan tinggi tanaman terbaik sebesar 37,3 cm. Namun untuk produksi tertinggi baik bobot segar maupun kering, serta serapan hara N, P dan kadar minyak atsiri dihasilkan dari perlakuan pemberian 4,5 g K2SO4/tanaman. Kadar patchouli alkohol tertinggi yaitu 35,76% diperoleh dengan pemberian 13,5 g KCl/tanaman. Pengaruh pemupukan kalium terhadap hama dan penyakit tanaman belum dapat diambil kesimpulan karena kondisi iklim yang kering.

ABSTRACT
Patchouli Plant is a plant that has long been cultivated, but the productivity and quality of the resulting low. The low productivity and the quality of the oil partly due to cultivation technology that is still simple, and the development of diseases, such as bacterial wilt disease and budog, and pests caused by nematodes. This study aims to obtain the source and the appropriate dosage of potassium in increasing plant growth and production of patchouli, as well as organisms resistant to patchouli plant. This field research was conducted in Kuningan West Java, from January to December 2009. This experiment used block random design, a single factor, 9 treatments with 3 replications. Treatment consists of: 1) control, 2) 4.5 g KCl/plant, 3) 9 g KCl/plant, 4) 13.5 g KCl/plant, 5) 18 g KCl/plant, 6) 4.5 g K2SO4/plant, 7) 9 g K2SO4/plant, 8) 13.5 g K2SO4/plant, 9) 18 g K2SO4/plant. Research results showed that the type and dosage of potassium increase the growth and production significantly. The treatment with a dosage of 9 g KCl/plant provides the best plant growth for high 37.3 cm. The highest production of fresh and dry weight, and absorption of nutrients N, P and levels of essential oil produced from the 4.5 g K2SO4/plant. Patchouli alcohol highest levels (35.76%) obtained by giving KCl 13.5 g/plant. The influence of potassium fertilization on plant pests and diseases can not be concluded due to the dry climate conditions.

019. SYUKUR, CHEPPY
Dokumentasi 1.700 Record Database Plasma Nutfah Tanaman Obat Dan Aromatik / Cheppy Syukur; Sri Wahyuni; Sri Suhesti; Ermiati; Rudiana Bakti; Jajat Darajat. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010)p.223-242.

DOKUMENTASI; PLASMA NUTFAH; TANAMAN OBAT DAN AROMATIK; LEMPUYANG; SEREH DAPUR; KARAKTERISASI
ABSTRAK
Kegiatan dokumentasi record database plasma nutfah tanaman obat dan aromatik terdiri dari kegiatan Karakterisasi dan Dokumentasi. 12 Aksesi Lempuyang dan 25 aksesi sereh dapur ditanam di kebun percobaan Cicurug. Kegiatan dokumentasi mencakup seluruh data koleksi dari kebun-kebun koleksi lingkup Balittro. Dilakukan dari Januari – Desember 2009. Karakterisasi lempuyang dilakukan terhadap parameter kualitatif. Sosok beberapa aksesi lempuyang mirip satu sama lain, seperti nomor aksesi 3, 4 dan 5 ; nomor aksesi 90, 229, 88 dan 135-1. Penampilan warna daun semua aksesi berkisar pada warna green group sampai yellow green group colour chart RHS (Royal horticulture Science). Sedang variasi aroma daunnya sekitar dari aroma wangi sedang sampai wangi agak menyengat. Aksesi Hikun mempunyai berat rimpang tertinggi, sedangkan terendah adalah aksesi 138. Ukuran rimpang aksesi Hikun relatif besar, rimpang agak keras dan jumlah rimpang primer, sekunder dan tersier relatif banyak. Aksesi 138 ukuran rimpangnya kecil-kecil. Untuk aksesi serai dapur, berat batang per rumpun tertinggi dimiliki oleh aksesi Cyci 0024 (1380 gram) dengan jumlah anakan rata-rata 202 anakan ; rata-rata tinggi batang semu sekitar 21,51 cm. Analisa mutu dari hasil panen sereh dapur umur 6 bulan, diperoleh sitral yang tinggi dari batang-batang semu (rata-rata diatas 65%). Sitral tertinggi dihasilkan oleh aksesi Cyci 0004 (87,12%) melebihi klasifikasi yang dijadikan standar ekspor antara 65% – 85%, diikuti aksesi Cyci 0019 sebesar 83,32%, aksesi Cyci 0016 sebesar 81,56%, aksesi Cyci 0012 sebesar 81,24%, aksesi Cyci 0002 sebesar 80,82%, aksesi Cyci 0003 sebesar 80,33%, aksesi Cyci 0009 sebesar 80,18%, dari aksesi Cyci 0010 sebesar 80,04%. Sedangkan aksesi lainnya, kandungan sitralnya antara 65% – 79%. Record data koleksi plasma nutfah lingkup Balitro dan hasil rekapitulasi data koleksi sampai akhir tahun 2009 tercatat sebanyak 707 jenis dengan 2158 aksesi. Untuk masing-masing kebun, entry data telah dilakukan sampai akhir tahun 2009. Di KP. Cimanggu tercatat (170 spesies dengan 326 aksesi) ; di KP. Cicurug 183 spesies, 846 aksesi ; di KP Manoko 173 spesies, 268 aksesi, dan di KP Gunung Putri 59 spesies, 123 aksesi. Sedang koleksi in vitro terdiri atas 30 spesies, 30 aksesi, dan di rumah kaca sebanyak 127 spesies, 420 aksesi.

ABSTRACT
Documentation activities of the genetic databases and aromatic herbs consists of characterization and documentation of 12 accessions lempuyang and 25 accessions of lemongrass (Cymbopogon citratus). These accessions were planted at the experimental garden Cicurug. Documentation activities included data collection from all collection gardens of Balittro. The studies were conducted from January to December 2009. Lempuyang characterization included assesment qualitative parameters. Shape of plants of some accessions are similar ; within the accession numbers 3, 4 and 5 ; the accession numbers 90, 229, 88 and 135-1. Leaf color appearance of all accessions ranged in color green to yellow green group color chart group RHS (Royal horticulture Science). Variation of the leaves scent varied from strong to mild sting. The rhizome accession Hikun of the highest weight, while the lowest is the accession number 138. Rhizome size Hikun accession is relatively large, rather rhizome and numbers of primary, secondary and tertiary rhizome are relatively large. The highest rhizome weight was found the accession Cyci 0024 (1380 grams/clump) with average shoot number was 202 and plant heigh was 21.51 cm. The quality of lemongrass harvested at age 6 months contained high sitral (65%). The highest sitral conted was found in the Cyci 0004 (87.12%) exceeded the standard export (65 % – 85%), followed by accession Cyci 0019 (83.32%), accession Cyci 0016 for 81.56%, accession Cyci 0012 for 81.24%, accession Cyci 0002 (80.82%), accession Cyci 0003 (80.33%) , accession Cyci 0009 (80.18%) and accessions Cyci 0010 (80.04%). The other accessions contained citral ranged 65% – 79%. Records of germplasm collection data ; Balittro are 1700 records and recapitulation of data collection until the end of the year 2009 707 species with the 2158 accessions. Data entry from each garden collections (KP) until the end of the year 2009 was recorded i.e. in the KP.Cimanggu were (170 species with 326 accessions), KP. Cicurug were (183 species, 846 accessions), KP Manoko were (173 species, 268 accessions), and KP Gunung Putri were (59 species, 123 accessions), in vitro were (30 species, 30 accessions), and greenhouse were (127 species, 420 accessions ).

020. TRISILAWATI, O.
Dosis Pupuk N, P Dan K Yang Dapat Meningkatkan Produktivitas Dan mutu Akar Wangi (40 kg Minyak/ha Kadar Minyak 2,5, Vetiverol 50) Dan Mentha (60-90 Kg Minyak/ha/th dan Total menthol 50)/ O. Trisilawati; Rosihan Rohman; Ekwasita Rini P.; M. Yusron; Wawan Lukman; Setiawan; Nana Mahdi. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro. ISSN 0853-9456 (2010)p.45-59.

Vetiveria zizanioides Stapf.; Mentha arvensis L.; PUPUK, PRODUKSI; MENTHOL TOTAL

ABSTRAK
Akar wangi (Vetiveria zizanioides) dan mentha (Mentha arvensis) merupakan tanaman aromatik penghasil minyak vetiver dan minyak mentha (minyak cornmint atau Japanese mint), yang belum dapat dibuat secara sintetis. Budidaya kedua tanaman tersebut sampai saat ini masih menghadapi kendala, yaitu rendahnya produksi dan mutu minyak. Perbaikan teknik budidaya melalui pemupukan diharapkan dapat meningkatkan produksi dan mutu minyaknya. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan dosis pupuk NPK yang optimal, dapat meningkatkan produktivitas dan mutu akar wangi (>40 kg minyak/ha, kadar minyak > 2,5%, Vetiverol >50%) dan mentha (60-90 kg minyak/ha/th dan total Menthol ≥ 50%). Penelitian dilaksanakan di Garut dan KP. Cicurug dari bulan Januari sampai Desember 2009 dengan menggunakan 2 nomor harapan M. arvensis (Mear 0010 dan Mear 0012). Rancangan yang digunakan adalah Acak Kelompok, disusun faktorial, dengan 3 ulangan. Sub kegiatan akar wangi menggunakan 9 perlakuan : Kontrol, 100 kg SP-36 + 75 kg KCl, 100 kg ZA + 75 kg KCl, 100 kg ZA + 50 kg SP-36 + 75 kg KCl, 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl, 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl, 100 kg ZA + 100 kg SP-36, 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl dan 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl. Sub kegiatan mentha menggunakan 7 perlakuan, yaitu: Kontrol, 69 kg N + 54 kg P2O5 + 94,5 kg K2O, 69 kg N + 72 kg P2O5 + 94,5 kg K2O, 69 kg N + 90 kg P2O5 + 94,5 kg K2O, 92 kg N + 90 kg P2O5 + 126 kg K2O, 92 kg N + 72 kg P2O5 + 126 kg K2O, dan138 kg N + 90 kg P2O5 + 126 kg K2O. Hasil penelitian pada pemupukan akar wangi menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan 100 kg ZA + 50 kg SP-36 + 75 kg KCl, 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl dan 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap tinggi tanaman maupun jumlah anakan dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Perlakuan 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl menunjukkan hasil terbaik pada jumlah anakan dan berbeda dibanding perlakuan pemupukan lainnya. Hasil pada sub kegiatan pemupukan mentha adalah pemupukan 92 kg N + 72 kg P2O5 + 126 kg K2O/ha atau setara dengan 200 kg Urea+ 200 kg SP-36 + 200 kg KCl/ha pada tanaman M. arvensis, menghasilkan bobot kering terna (50,4 g/tan., kadar minyak (2%), kadar menthol total (59,7%) dan hasil minyak mentha yang baik (40 kg/sekali panen).

ABSTRACT
Vetiveria zizanioides and Mentha arvensis are aromatic plants, produced vetiverol oil and cornmint oil or Japanese mint, that can not be made synthetically. The obstacles of vetiver and mentha cultivation are low herb yield and oil quality. Improvement of cultivation technique by fertilizer was expected to increase the oil production and quality of vetiver and mentha. The objective of the experiment were to obtain the optimal dosages of N, P and K fertilizers, for increasing the yield and oil quality of vetiver (>40 kg oil/ha, oil content > 2,5%, Vetiverol >50%) and mentha (60-90 kg oil/ha/year and Menthol total ≥ 50%). The experiment were conducted in Garut (farmer’s field) and Cicurug Research Garden, West Java from Januari to December 2009, by using 2 promising numbers of M. arvensis (Mear 0010 and Mear 0012) and 1 promising numbers of vetiver. The experiment were arranged in Randomized Block Design with three replications. The vetiver research used 9 treatments: a). control, b). 100 kg SP-36 + 75 kg KCl, c). 100 kg ZA + 75 kg KCl, d). 100 kg ZA + 50 kg SP-36 + 75 kg KCl, e). 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl, f). 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl, g). 100 kg ZA + 100 kg SP-36, h). 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl and i). 200 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl. The mentha research used 7 treatments, they were: a). control, b). 69 kg N + 54 kg P2O5 + 94,5 kg K2O, c). 69 kg N + 72 kg P2O5 + 94,5 kg K2O, d). 69 kg N + 90 kg P2O5 + 94,5 kg K2O, e). 92 kg N + 90 kg P2O5 + 126 kg K2O, f). 92 kg N + 72 kg P2O5 + 126 kg K2O, and g). 138 kg N + 90 kg P2O5 + 126 kg K2O. The results on vetiver research showed that application of 100 kg ZA + 50 kg SP-36 + 75 kg KCl, 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 75 kg KCl and 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl respectively, resulted better effect to the plant height and tiller numbers compared with other fertilizer treatments. Besides, the application of 100 kg ZA + 100 kg SP-36 + 150 kg KCl/ha showed the highest tiller numbers. The results on mentha research showed that application of 92 kg N + 72 kg P2O5 + 126 kg K2O/ha equivalent to 200 kg Urea+ 200 kg SP-36 + 200 kg KCl/ha to M. arvensis, resulted better dry weight of herb (50,4 g/plant)., oil content (2%), total menthol content (59,7%) and oil yield (40 kg/first harvest) compared with other fertilizer treatments.

021. WAHYUNO, DONO
Komponen Teknologi Pengendalian Bercak Daun Jahe Yang Mampu Menekan Serangan Penyakit 80-90/ Dono Wahyuno; Dyah Manohara; N.Bermawie; Susi Purwiyanti; Miftakhurohmah. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittr.o ISSN 0853-9456 (2010)p.23-32

TEKNOLOGI PENGENDALIAN; BERCAK DAUN; JAHE; SERANGAN PENYAKIT. Pyricularia sp.; KETAHANAN JAHE, FUNGSISIDA; SEBARAN INANG.

ABSTRAK
Penyakit bercak daun pada tanaman jahe telah menjadi kendala yang serius karena sebarannya sudah luas pada pertanaman jahe di Indonesia. Ada empat jenis cendawan penyebab bercak daun pada jahe, satu di antaranya adalah Pyricularia sp. Pyricularia sp. telah dilaporkan ditemukan pada pertanaman jahe di Jepang, Thailand dan Australia. Usaha untuk menekan serangan Pyricularia sp. dapat dilakukan dengan menggunakan fungisida, varietas tahan dan cara budidaya yang benar. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat ketahanan aksesi jahe yang ada terhadap Pyricularia sp., mengetahui jenis fungisida yang efektif untuk menekan Pyricularia sp. dan mengengetahui sebaran inang Pyricularia sp. pada Zingiberaceae. Hasil penelitian yang diperoleh hingga saat ini adalah, cara perbanyakan Pyricularia sp. dan cara memacu patogen untuk membentuk konidia dalam jumlah yang banyak untuk bahan inokulasi buatan. Media Oat Meal Agar dan Agar Kentang dekstrosa (AKD) merupakan media terbaik untuk pertumbuhan koloni. Konidia Pyricularia sp. dapat dipacu dengan menumbuhkan koloni pada potongan daun jahe yang diletakkan pada media Oat Meal Agar yang diinkubasi di bawah cahaya selama 3 hari. Mankozeb, klorotalonil dan fungisida nabati dengan bahan aktif minyak cengkeh dan serai wangi efektif untuk menekan pertumbuhan koloni pada konsentrasi 400 ppm, dan 100 ppm untuk perkecambahan. Untuk kegiatan penelitian lainnya, seperti pengujian sebaran inang patogen dan pengujian ketahanan aksesi jahe belum dilakukan karena menunggu ketersediaan bahan tanaman yang akan diuji. Persiapan bahan tanaman yang diperlukan sudah dimulai.

ABSTRACT
Leaf spot disease of ginger becomes important disease on ginger because it has been found widely throughout ginger plantations in Indonesia. Four species of fungi cause the disease, on of them is Pyricularia sp. The fungus has been reported in several ginger producing countries, i.e. Japan, Thailand and Australia. Fungicides application, planting resistant variety of ginger and proper cultivation methods are considered to be the best way for eliminating the patogen. The objectives of the current study are to observe the disease resistance of existing ginger accessions, to find the effective fungicides and to test the host range of Pyricularia sp. on several Zingiberaceae. The results show that agar media (Oat Meal Agar and Potato Dextrose Agar) are the best artificial media for vegetative growth of Pyricularia sp. However, the fungus did not sporulate well on these agar media. To induce sporulation, the fungus should be grown on a piece of ginger leaf laid on top of the Oat Meal Agar in a Petri dish, incubated at room temperature for 4 days, and subsequently be exposed under tube light (± 400 lux) for three days. Efficacy test of fungicides to the fungus shows that mancozeb, chlorotalonil, and botanical pesticide containing clove and citronella oil are effective in inhibiting the fungal colonies growth at 400 ppm, however fungal germination can be halted at 100 ppm. Other activities such as host resistance and host range of the pathogen has not been done because of limited accessions available. However, all necessary prepatation has been initiated.

022. WIRATNO
Pemanfaatan Limbah Tanaman Aromatik Sebagai Repelen Hama (30) Dan Pupuk Organik (2 Kadar N)/ Wiratno; Sondang SLT; Endang Sugandi. Laporan Teknis Penelitian 2009 Balittro ISSN 0853-9456 (2010)p.147-155.

LIMBAH; MULSA; TANAMAN ATSIRI; HAMA; PUPUK ORGANIK

ABSTRAK
Dengan semakin meningkatnya permintaan minyak atsiri maka semakin banyak limbah yang dihasilkan. Pemanfaatan limbah yang kurang bijaksana dapat mencemari lingkungan sehingga perlu difikirkan alternatif pemanfaatannya. Salah satu cara pemanfaatan limbah yang menjanjikan adalah sebagai mulsa. Penelitian dilaksanakan dengan melakukan baseline studi terhadap keadaan pemanfaatan limbah hasil penyulingan serta dengan melakukan penelitian laboratorium manfaat mulsa terhadap pertumbuhan tanaman dan preferensi serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum mulsa masih belum dimanfaatkan secara optimal. Pada beberapa lokasi survey diketahui limbah umumnya hanya dibakar atau dibuang ke alam melalui saluran air. Khusus di Purwokerto ditemukan satu lokasi dimana limbah dimanfaatkan sebagai mulsa dan pengusir lalat pada tempat pembuangan akhir. Hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa limbah tanaman atsiri mampu meningkatkan performa tanaman dan mempengaruhi imago untuk tidak meletakkan telur sehingga kedepannya limbah atsiri cukup prospektif untuk dikembangkan manfaatnya sebagai mulsa.

ABSTRACT
Increase demand on essential oils affects volume of waste products. Meanwhile unwisely waste management causes environmental pollution, so that waste should be managed properly. One of promising methods is utilizing waste products as mulch in cultivation activities. Studies were conducted in two steps i.e. baseline study followed by green house experiments. Results of the experiments indicating that generally wastes have not been utilized wisely. Most of them are burned or thrown away to the environment via such as ditches. In Purwokerto, however, waste has been used as mulch and repel flies at wastes disposal. Laboratory experiments shows that waste is able to encourage plant growth at the same time influences adults of D. polibete not to hatch their eggs on the treated plants. These imply that waste has a good prospect to be used as mulch.

Tentang Perpustakaan Balittro

Pustakawan Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Jl. Tentara Pelajar No. 3 Bogor 16111
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

5 Balasan ke KUMPULAN ABSTRAK HASIL PENELITIAN TAN. OBAT DAN AROMATIK 2009

  1. Yani Baehaki berkata:

    Pak, ini laporan penelitian semuanya…mau bertanya Pak? kaloo. daftar prosiding bisa ditampilkan nggak, di Blog.

  2. Yani Baehaki berkata:

    Bagus pak, Information Value…hasil penelitian rempah dan obat…

  3. Yani Baehaki berkata:

    Mau Tanya kembali? Kita cuma copy paste dari data winisis kita yach….utk menampilkan data ini di Blog.

  4. Pak Baehaki!! terima kasih saranya, untuk mebuat bibliografi, tingal sorting sj dr winisis kok,
    salam
    hendy

  5. iyan berkata:

    hendy…klo bisa lebih lengkap lagi bibliographinya…bermanfaat banget lho. thank yous sobat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s